Tuesday, 22 August 2017

22 Agustus 2017

MY NEIGHBOUR






My Neighbour (1 Yohanes 3:16-19). Ayat 18: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Ayat 19: “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah.” Kasih yang nyata dapat diwujudkan. Dalam bentuk menolong kebutuhan sesama tidak hanya dapat dilakukan secara material. Tetapi juga, mendengarkan orang lain. Memberikan uluran tangan dll dan yang terpenting kalau kita mengasihi yakni melangkah dan mewujudkan! Makin kita mengasihi makin kita hidup. The more we love, the more we live. Semakin kita berbagi iman, iman kita makin bertambah. Makin berbagi keuangan, makin kita diberkati (contoh kehidupan Hamba Tuhan/pendiri gereja/yang membagi-bagikan berkat Tuhan kepada hamba-hamba Tuhan yang lain). Makin berbagi sukacita, Tuhan akan tambah-tambahkan sukacita! Makin berbagi Firman, Tuhan akan tambah-tambahkan Firman atau kekuatan yang baru dalam diri kita. Lakukan 2 hal ini: sadari bahwa kita dicintai Tuhan maka yang ke 2: berbagilah KASIH kepada sesama.
The more we share. The more we have. The more we love. The more we live. (Leoarand Nimoy)

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#MyNeighbour

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Mazmur 110-112
PB: Lukas 8:26-56

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

Sumber: Bahan Warta Komsel AOC 20 Agustus 2017

GNCC
Semua orang merindukan kebahagiaan dalam pernikahan. Kita berpikir pasangan kita dapat memberi kebahagiaan itu dan seringkali berujung dengan kekecewaan. Kita tidak dapat memberi apa yang kita tidak punya. Kalau kita sendiri tidak bahagia bagaimana dapat memberi kebahagiaan buat orang lain? Sebab itu hanya orang berbahagia yang menikah dengan orang berbahagia menghasilkan pernikahan yang bahagia. Jangan menikah supaya bahagia tapi bahagialah dulu baru menikah. Yesus-lah sumber kebahagiaan. #gncc #maturity #edisikeluarga

Madam Ossy
Selasa, 22 Agustus 2017. Bacaan: Filipi 2:19-3:1. Setahun: Yeremia 29-31. Nas: Sebab ia nyaris mati karena pekerjaan Kristus dan ia mempertaruhkan nyawanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku (Filipi 2:30). Saat Bertukar Peran. Saat Sari berumur 14 tahun, ibunya terkena strok. Sejak itulah terjadi pertukaran peran. Saat ibu sehat, ibu yang mengurusi Sari dan adiknya, mengurusi urusan rumah tangga. Kini Sarilah yang melakukan peran itu. Sebelum berangkat sekolah, ia memandikan adik, menyiapkan sarapan, dan mengurusi ibu. Pulang sekolah, ia mengerjakan tugas rumah tangga, sorenya ia belajar. Saat teman-temannya asyik bermain, Sari mengurusi ibunya. “Aku bersyukur bisa melayani ibu,” kata Sari. Saat seseorang mengasihi, pasti orang itu rela berkorban. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus bercerita tentang Eprafroditus. Eprafroditus sangat mendukung pelayanan Paulus. Ia melayani sampai sakit dan nyaris mati (ay. 27). Betapa besar kasihnya kepada tubuh Kristus. Kita patut menghormati orang-orang yang melayani dengan sepenuh hati baik di keluarga, di gereja, maupun di masyarakat. Mereka rela mengorbankan begitu banyak kepentingan pribadi demi mengasihi seseorang atau banyak orang. Hidup kita saat ini bisa jauh lebih baik atau lebih nyaman karena kasih dan pengorbanan orang lain. Rela berkorban demi kebaikan orang lain adalah salah satu ciri hidup murid Yesus. Jika saat ini kita hanya berfokus pada diri sendiri dan hanya ingin terus-menerus dilayani, apakah beda kita dengan orang dunia? Kristus sudah memberikan teladan tentang pengorbanan; begitu juga banyak orang Kristen di sekitar kita. Pengorbanan apakah yang sudah saya lakukan untuk orang-orang yang mengasihi saya? --RTG. SAAT KITA MENGASIHI KRISTUS PASTI KITA RELA BERKORBAN UNTUK KRISTUS.

No comments:

Post a Comment