Wednesday, 22 June 2016

22 Juni 2016

I AM BLESSED




Manusia Hidup Bukan dari Roti Saja. Ulangan 8:3, “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.” Tuhan membiarkan umatNya mengalami berbagai ujian dan kesulitan di padang gurun supaya mengajar mereka bahwa kehidupan ini bukan terdiri atas tubuh jasmaniah saja, tetapi bahwa kesejahteraan baik jasmani dan rohani tergantung pada “hubungan” kita dengan Allah dan KeTAATannya kepada firmanNya. Tuhan mengijinkan kesulitan di dalam hidup kita, sebagai suatu bentuk disiplin seperti seorang Bapa kepada anakNya, untuk semakin bergantung kepadaNya dan semakin BERSEDIA menerima firmanNya. Sebab tidak cukup kita hanya makan “makanan jasmani”, roh jiwa kita perlu mendapat Asupan Gizi yang sama yaitu dengan “MAKAN” firmanNya setiap hari. Jadi “MAKAN” untuk kesehatan Roh dan Jiwa kita tidak cukup hanya seminggu sekali (ibadah Minggu) tetapi setiap hari Roh-Jiwa kita butuh asupan yang sama, bahkan dibutuhkan “suplemen”. Bila kita ingin melihat adanya pertumbuhan yang signifikan dalam pertumbuhan kita, baik jasmani dan rohani, yaitu pertumbuhan yang membuat kita semakin Kuat dan dan Dewasa. Amin.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Maz 50:15 – Berserulah kepada-KU pada waktu kesesakan, AKU akan meluputkanmu dan kamu akan memuliakan AKU! YESUS sumber JAWABANku. Mujizat itu nyata. Pasti terjadi. Yes... Ok... Pasti... Puji TUHAN! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Xavier Quentin Pranata
Cara terbaik untuk menghadapi masa depan adalah menjalaninya." Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Rabu, 22 Juni 2016. Bersaksi di Tengah Himpitan. Ya Raja Agripa, aku merasa beruntung, karena pada hari ini aku dapat membela diriku di hadapanmu terhadap segala tuduhan yang diajukan orang-orang Yahudi terhadap diriku (Kisah Para Rasul 26:2). Dewi Septiani, penjual bubur dari Bekasi, menemukan beras yang diduga dari plastik, dan mengunggah temuannya ke media sosial. Segera saja temuan itu menjadi topik pembicaraan ramai. Dewi lalu diminta menjadi saksi oleh pihak kepolisian. Ia sempat merasa tertekan saat diperiksa. Syukurlah, ia kemudian didampingi pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum. Berbeda dengan Paulus yang diadili tanpa didampingi pengacara. Ia dituduh orang Yahudi menyembah Allah yang salah dan dibawa ke hadapan para pemuka agama, dan bahkan raja, untuk di adili. Wajarlah jika dalam keadaan seperti itu Paulus merasa tertekan. Biasanya, ketika seseorang berada dalam situasi genting dan tertindas, jati dirinya akan terlihat. Entah ia marah entah membela diri. Paulus, meskipun dalam keadaan terjepit, tidak mementingkan dirinya sendiri. Paulus malah menggunakan kesempatan itu untuk memberitakan injil. Paulus bercerita tentang pertobatannya kepada Raja Agripa. Selain menceritakan pertobatan dan panggilannya, Paulus juga mengajak Raja Agripa untuk percaya pada Yesus. Kesaksian Paulus tidaklah sia-sia, malah berhasil menggugah hati Raja Agripa (ay. 28). Seperti Paulus yang berani bersaksi, hendaknya kita juga berani memberitakan tentang keselamatan meskipun di tengah himpitan. Namun, bukan hanya bersaksi, melainkan juga setia untuk mendoakan si penerima kesaksian. Ya, seperti Paulus yang berdoa agar Raja Agripa dapat memercayai berita Injil (ay. 29) —MIA. KITA DIUNDANG UNTUK BERSAKSI TENTANG KEBAIKAN TUHAN BAIK KETIKA KEADAAN MENDUKUNG MAUPUN KETIKA KEADAAN MENGUNGKUNG. Selamat pagi. Bersyukur selalu. Tuhan Yesus memberkati.

Bp. Harianto – PKS CL6
Rabu, 22 Juni 2016. Bacaan: Markus 10:32-34. Setahun: Ayub 30-33. Nats: Ia akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh, tetapi sesudah tiga hari Ia akan bangkit (Markus 10:34). Bukan Manusia Super. Manusia cenderung menyukai yang serbasuper, serbahebat, serbadahsyat. Tokoh-tokoh pahlawan dalam komik dan film digambarkan demikian. Semboyan Olimpiade “lebih cepat, lebih kuat, lebih tinggi” secara tersirat mengajak kita bernyanyi, “Jadilah manusia super!” Manusia beranggapan bahwa di tengah kehidupan yang penuh persaingan ini, mereka yang kuatlah yang akan selamat. Tuhan Yesus menyebut diri-Nya “Anak Manusia”. Artinya, Mesias yang taat sepenuhnya pada Bapa, termasuk menanggung penderitaan di kayu salib, demi menyelamatkan umat manusia. Dia bukan Mesias yang memakai kekerasan dan kekuatan, melainkan Mesias yang lemah lembut dan rendah hati, bahkan jatuh ke tangan musuh untuk disiksa dan mati. Para murid Tuhan Yesus pada waktu itu sulit menerima sosok Mesias yang seperti itu. Sebagian orang pada masa kini pun berpendapat demikian. Tetapi, apa artinya menolak Mesias yang seperti itu? Itu berarti menolak karya keselamatan Allah dalam diri Kristus Yesus. Itu berarti melanggengkan jalan kekuatan dan kekerasan. Itu berarti kehilangan hakikat hidup sebagai manusia. Ketika kita menyambut karya keselamatan-Nya, Tuhan Yesus menyediakan kehidupan baru bagi kita. Hidup baru ini tidak selalu nyaman. Ada saatnya kita ditantang untuk berkurban pula, direndahkan dan dihina, demi ketaatan kepada Tuhan dan dalam rangka pelaksanaan tugas dan panggilan sebagai pewarta keselamatan Allah. Syukurlah, Tuhan Yesus akan menyertai dan menguatkan kita menghadapi tantangan tersebut --Herodion Pitrakarya. TUHAN TIDAK MEMERLUKAN MANUSIA YANG HEBAT, MELAINKAN MANUSIA YANG RELA UNTUK MENJALANKAN MISI-NYA.

No comments:

Post a Comment