I
AM BLESSED
Manusia
Hidup Bukan dari Roti Saja.
Ulangan 8:3, “Jadi
Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau
makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh
nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup
bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan
TUHAN.”
Tuhan membiarkan umatNya mengalami berbagai ujian dan kesulitan di
padang gurun supaya mengajar mereka bahwa kehidupan ini bukan terdiri
atas tubuh jasmaniah saja, tetapi bahwa kesejahteraan baik jasmani
dan rohani tergantung pada “hubungan” kita dengan Allah dan
KeTAATannya kepada firmanNya. Tuhan mengijinkan kesulitan di dalam
hidup kita, sebagai suatu bentuk disiplin seperti seorang Bapa kepada
anakNya, untuk semakin bergantung kepadaNya dan semakin BERSEDIA
menerima firmanNya. Sebab tidak cukup kita hanya makan “makanan
jasmani”, roh jiwa kita perlu mendapat Asupan Gizi yang sama yaitu
dengan “MAKAN” firmanNya setiap hari. Jadi “MAKAN” untuk
kesehatan Roh dan Jiwa kita tidak cukup hanya seminggu sekali (ibadah
Minggu) tetapi setiap hari Roh-Jiwa kita butuh asupan yang sama,
bahkan dibutuhkan “suplemen”. Bila kita ingin melihat adanya
pertumbuhan yang signifikan dalam pertumbuhan kita, baik jasmani dan
rohani, yaitu pertumbuhan yang membuat kita semakin Kuat dan dan
Dewasa. Amin.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Maz
50:15 – Berserulah kepada-KU pada waktu kesesakan, AKU akan
meluputkanmu dan kamu akan memuliakan AKU! YESUS sumber JAWABANku.
Mujizat itu nyata. Pasti terjadi. Yes... Ok... Pasti... Puji TUHAN!
Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Xavier
Quentin Pranata
“Cara
terbaik untuk menghadapi masa depan adalah menjalaninya." Xavier
Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Rabu, 22 Juni 2016. Bersaksi di Tengah Himpitan. Ya Raja
Agripa, aku merasa beruntung, karena pada hari ini aku dapat membela
diriku di hadapanmu terhadap segala tuduhan yang diajukan orang-orang
Yahudi terhadap diriku (Kisah Para Rasul 26:2). Dewi Septiani,
penjual bubur dari Bekasi, menemukan beras yang diduga dari plastik,
dan mengunggah temuannya ke media sosial. Segera saja temuan itu
menjadi topik pembicaraan ramai. Dewi lalu diminta menjadi saksi oleh
pihak kepolisian. Ia sempat merasa tertekan saat diperiksa.
Syukurlah, ia kemudian didampingi pengacara dari Lembaga Bantuan
Hukum. Berbeda dengan Paulus yang diadili tanpa didampingi pengacara.
Ia dituduh orang Yahudi menyembah Allah yang salah dan dibawa ke
hadapan para pemuka agama, dan bahkan raja, untuk di adili. Wajarlah
jika dalam keadaan seperti itu Paulus merasa tertekan. Biasanya,
ketika seseorang berada dalam situasi genting dan tertindas, jati
dirinya akan terlihat. Entah ia marah entah membela diri. Paulus,
meskipun dalam keadaan terjepit, tidak mementingkan dirinya sendiri.
Paulus malah menggunakan kesempatan itu untuk memberitakan injil.
Paulus bercerita tentang pertobatannya kepada Raja Agripa. Selain
menceritakan pertobatan dan panggilannya, Paulus juga mengajak Raja
Agripa untuk percaya pada Yesus. Kesaksian Paulus tidaklah sia-sia,
malah berhasil menggugah hati Raja Agripa (ay. 28). Seperti Paulus
yang berani bersaksi, hendaknya kita juga berani memberitakan tentang
keselamatan meskipun di tengah himpitan. Namun, bukan hanya bersaksi,
melainkan juga setia untuk mendoakan si penerima kesaksian. Ya,
seperti Paulus yang berdoa agar Raja Agripa dapat memercayai berita
Injil (ay. 29) —MIA. KITA DIUNDANG UNTUK BERSAKSI TENTANG KEBAIKAN
TUHAN BAIK KETIKA KEADAAN MENDUKUNG MAUPUN KETIKA KEADAAN
MENGUNGKUNG. Selamat pagi. Bersyukur selalu. Tuhan Yesus memberkati.
Bp.
Harianto – PKS CL6
Rabu,
22 Juni 2016. Bacaan: Markus 10:32-34. Setahun: Ayub 30-33. Nats: Ia
akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh, tetapi sesudah tiga
hari Ia akan bangkit (Markus 10:34). Bukan Manusia Super. Manusia
cenderung menyukai yang serbasuper, serbahebat, serbadahsyat.
Tokoh-tokoh pahlawan dalam komik dan film digambarkan demikian.
Semboyan Olimpiade “lebih cepat, lebih kuat, lebih tinggi” secara
tersirat mengajak kita bernyanyi, “Jadilah manusia super!”
Manusia beranggapan bahwa di tengah kehidupan yang penuh persaingan
ini, mereka yang kuatlah yang akan selamat. Tuhan Yesus menyebut
diri-Nya “Anak Manusia”. Artinya, Mesias yang taat sepenuhnya
pada Bapa, termasuk menanggung penderitaan di kayu salib, demi
menyelamatkan umat manusia. Dia bukan Mesias yang memakai kekerasan
dan kekuatan, melainkan Mesias yang lemah lembut dan rendah hati,
bahkan jatuh ke tangan musuh untuk disiksa dan mati. Para murid Tuhan
Yesus pada waktu itu sulit menerima sosok Mesias yang seperti itu.
Sebagian orang pada masa kini pun berpendapat demikian. Tetapi, apa
artinya menolak Mesias yang seperti itu? Itu berarti menolak karya
keselamatan Allah dalam diri Kristus Yesus. Itu berarti melanggengkan
jalan kekuatan dan kekerasan. Itu berarti kehilangan hakikat hidup
sebagai manusia. Ketika kita menyambut karya keselamatan-Nya, Tuhan
Yesus menyediakan kehidupan baru bagi kita. Hidup baru ini tidak
selalu nyaman. Ada saatnya kita ditantang untuk berkurban pula,
direndahkan dan dihina, demi ketaatan kepada Tuhan dan dalam rangka
pelaksanaan tugas dan panggilan sebagai pewarta keselamatan Allah.
Syukurlah, Tuhan Yesus akan menyertai dan menguatkan kita menghadapi
tantangan tersebut --Herodion Pitrakarya. TUHAN TIDAK MEMERLUKAN
MANUSIA YANG HEBAT, MELAINKAN MANUSIA YANG RELA UNTUK MENJALANKAN
MISI-NYA.

No comments:
Post a Comment