Friday, 19 September 2014

19 September 2014 - Persembahan Perpuluhan



(Baca: Malaeakhi 3:8-11) Ayat10: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” 
Apakah kita sudah bebas dalam ikatan persoalan keuangan? Prinsip apa yang harus kita miliki agar kita memiliki Keuangan yang Merdeka?? Setialah mengatur, menerima & memberi (Persepuluhan). Persembahan Perpuluhan adalah meterai bahwa harta kita adalah menjadi milik Allah sepenuhnya, seperti pagar yang melindungi “ladang” kita! Tuhan mau kita hidup dalam keuangan yang merdeka.
Respon 1 :
“Apakah benih masih tinggal tersimpan dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun belum berbuah? MULAI DARI HARI INI AKU  AKAN MEMBERI BERKAT!” (Hagai 2:19) Ketika apa yang sedang kita kerjakan sampai hari ini juga belum ada hasil apa-apa... Jangan putus asa, karena MULAI DARI HARI INI TUHAN akan memberi berkat...
Respon 2 :
SAAT TEDUH. Jumat, 19 September 2014. PERINGATAN YANG MENYELAMAT-KAN. “Mereka tidak memperhatikan perin-tah-perintah-Mu dan peringatan-peringatan-Mu yang Kauberikan kepada mereka.” (Neh 9:34b) Pada 10 Maret 1989, pesawat Fokker F-28 milik Air Ontario jatuh di Dryden, Ontario, Kanada, akibat tumpukan salju dan menewaskan banyak orang. Setelah penyelidi-kan yang dipimpin Virgil P. Moshansky, Air Ontario mendapatkan dua peringatan. Perta-ma, mereka harus meningkatkan manajemen keselamatan. Kedua, para pilot dilatih tentang pencairan es. Tetapi, 15 bulan kemudian Fokker F-28 jatuh lagi. Ternyata peringatan Moshansky  tak  ditindaklanjuti. Setelah kecelakaan kedua dengan jumlah korban lebih banyak ini, barulah peringatan Mohansky mulai diperhatikan. Dalam bacaan kita hari ini, Nehemia mengakui dosa bangsa Israel mulai dari para pemimpin sampai rakyat. Mereka menolak dan mengabaikan peringatan Tuhan yang selalu disampaikan para nabi, dan berulang-ulang melakukan pelanggaran yang mendukakan hati Tuhan. Padahal, tujuan peringatan Tuhan itu tidak lain agar mereka hidup, agar mereka selamat (Neh. 9:29). Akibat kekerasan hati bangsa Israel, mereka akhirnya malah kembali lagi menjadi budak (Neh. 36). Sering kali kita membaca dan mendengar Firman Tuhan yang memperingat-kan kita, tapi kita sering menyepelekannya sampai suatu masalah terjadi. Sering kali setelah kita berulang-ulang terpuruk, setelah kita kehilangan sesuatu yang berharga, atau setelah nama kita tercemar, barulah kita sadar akan betapa seriusnya peringatan Tuhan itu. Janganlah  kita  menunda lagi untuk memperhatikan dan menaati peringatan-Nya. Menga-pa kita harus menunggu sampai hidup kita hancur? MEMPERHATIKAN PERINGA-TAN TUHAN MENJAUHKAN KITA DARI KEHANCURAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
Respon 3 :
Jumat, 19 September 2014. Bacaan: Kejadian 11:1-9. Setahun: Hosea 1-6. Nats: Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi (Kejadian 11:4). MENARA KESOMBONGAN. Saat ini tidak sedikit orang yang berusaha membangun “menara” di dalam hidup mereka melalui berbagai kegiatan sosial atau melakukan hal-hal yang sensasional. Tujuannya mereka ingin agar dilihat, dikenal, dan dikagumi oleh banyak orang. Mereka berusaha menunjukkan bahwa   merekalah   yang  paling  dibutuhkan untuk menjawab berbagai permasalahan yang terjadi dalam masyarakat saat ini. Alih-alih berusaha untuk membuat nama Tuhan dike-nal, umat manusia malah sibuk mengupayakan agar nama dan kehebatan mereka yang dikenal. Mereka berkumpul di Sinear dan berniat membangun sebuah kota dengan menara yang puncaknya mencapai langit, sebagai simbol akan kehebatan mereka (ay. 4). Mereka lupa bahwa Tuhanlah yang lebih hebat. Dialah yang seharusnya dikenal dan mendapatkan kekaguman seluruh manusia. Tuhan tidak menyukai kesombongan umat manusia sehingga Dia pun mengacaubalaukan bahasa mereka (ay. 6-7). Sebagai akibatnya, usaha mereka tidak terwujud. Pembangunan menara Babel terhenti dan mereka terserak ke seluruh bumi (ay. 8). Tidak ada seorang pun yang sanggup melawan Tuhan. Mari kita periksa kembali segala aktivitas yang kita lakukan. Apakah kita berusaha membangun “menara  kesombongan” melaluinya? Apakah sesungguhnya tujuan kita saat melakukan hal tersebut? Apakah kita berharap untuk menda-patkan pengakuan melaluinya? Mari kita ingat kembali, nama Tuhanlah yang patut dikenal. Kehebatan-Nyalah yang patut dikagumi oleh semua orang. Biarlah karya kita mewartakan hal itu. --Silvia Wiguno. KITA BERKARYA BUKAN UNTUK MENGAGUNGKAN NAMA DIRI, MELAINKAN UNTUK ME-WARTAKAN KEAGUNGAN TUHAN.

JESUS BLESS




No comments:

Post a Comment