(Baca:
Malaeakhi 3:8-11) Ayat10: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke
dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN
semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan
mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”
Apakah kita sudah
bebas dalam ikatan persoalan keuangan? Prinsip apa yang harus kita miliki agar
kita memiliki Keuangan yang Merdeka?? Setialah mengatur, menerima & memberi
(Persepuluhan). Persembahan Perpuluhan adalah meterai bahwa harta kita adalah
menjadi milik Allah sepenuhnya, seperti pagar yang melindungi “ladang” kita!
Tuhan mau kita hidup dalam keuangan yang merdeka.
Respon 1 :
“Apakah benih masih tinggal tersimpan dalam lumbung, dan
apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun belum berbuah?
MULAI DARI HARI INI AKU AKAN MEMBERI
BERKAT!” (Hagai 2:19) Ketika apa yang sedang kita kerjakan sampai hari ini
juga belum ada hasil apa-apa... Jangan putus asa, karena MULAI DARI HARI INI
TUHAN akan memberi berkat...
Respon 2 :
SAAT TEDUH. Jumat, 19 September 2014. PERINGATAN YANG
MENYELAMAT-KAN. “Mereka tidak memperhatikan perin-tah-perintah-Mu dan
peringatan-peringatan-Mu yang Kauberikan kepada mereka.” (Neh 9:34b) Pada 10
Maret 1989, pesawat Fokker F-28 milik Air Ontario jatuh di Dryden, Ontario,
Kanada, akibat tumpukan salju dan menewaskan banyak orang. Setelah
penyelidi-kan yang dipimpin Virgil P. Moshansky, Air Ontario mendapatkan dua
peringatan. Perta-ma, mereka harus meningkatkan manajemen keselamatan. Kedua,
para pilot dilatih tentang pencairan es. Tetapi, 15 bulan kemudian Fokker F-28
jatuh lagi. Ternyata peringatan Moshansky
tak ditindaklanjuti. Setelah
kecelakaan kedua dengan jumlah korban lebih banyak ini, barulah
peringatan Mohansky mulai diperhatikan. Dalam bacaan kita hari ini, Nehemia
mengakui dosa bangsa Israel mulai dari para pemimpin sampai rakyat. Mereka
menolak dan mengabaikan peringatan Tuhan yang selalu disampaikan para nabi, dan
berulang-ulang melakukan pelanggaran yang mendukakan hati Tuhan. Padahal,
tujuan peringatan Tuhan itu tidak lain agar mereka hidup, agar mereka selamat
(Neh. 9:29). Akibat kekerasan hati bangsa Israel, mereka akhirnya malah kembali
lagi menjadi budak (Neh. 36). Sering kali kita membaca dan mendengar Firman
Tuhan yang memperingat-kan kita, tapi kita sering menyepelekannya sampai suatu
masalah terjadi. Sering kali setelah kita berulang-ulang terpuruk, setelah kita
kehilangan sesuatu yang berharga, atau setelah nama kita tercemar, barulah kita
sadar akan betapa seriusnya peringatan Tuhan itu. Janganlah kita
menunda lagi untuk memperhatikan dan menaati peringatan-Nya. Menga-pa kita harus
menunggu sampai hidup kita hancur? MEMPERHATIKAN PERINGA-TAN TUHAN MENJAUHKAN
KITA DARI KEHANCURAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
Respon 3 :
Jumat, 19 September 2014. Bacaan: Kejadian 11:1-9. Setahun:
Hosea 1-6. Nats: Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah
menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita
jangan terserak ke seluruh bumi (Kejadian 11:4). MENARA KESOMBONGAN. Saat ini
tidak sedikit orang yang berusaha membangun “menara” di dalam hidup mereka
melalui berbagai kegiatan sosial atau melakukan hal-hal yang sensasional.
Tujuannya mereka ingin agar dilihat, dikenal, dan dikagumi oleh banyak orang.
Mereka berusaha menunjukkan bahwa
merekalah yang paling
dibutuhkan untuk menjawab berbagai permasalahan yang terjadi dalam
masyarakat saat ini. Alih-alih berusaha untuk membuat nama Tuhan dike-nal, umat
manusia malah sibuk mengupayakan agar nama dan kehebatan mereka yang dikenal.
Mereka berkumpul di Sinear dan berniat membangun sebuah kota dengan menara yang
puncaknya mencapai langit, sebagai simbol akan kehebatan mereka (ay. 4). Mereka
lupa bahwa Tuhanlah yang lebih hebat. Dialah yang seharusnya dikenal dan
mendapatkan kekaguman seluruh manusia. Tuhan tidak menyukai kesombongan umat
manusia sehingga Dia pun mengacaubalaukan bahasa mereka (ay. 6-7). Sebagai
akibatnya, usaha mereka tidak terwujud. Pembangunan menara Babel terhenti dan
mereka terserak ke seluruh bumi (ay. 8). Tidak ada seorang pun yang sanggup
melawan Tuhan. Mari kita periksa kembali segala aktivitas yang kita lakukan.
Apakah kita berusaha membangun “menara
kesombongan” melaluinya? Apakah sesungguhnya tujuan kita saat melakukan hal tersebut? Apakah
kita berharap untuk menda-patkan pengakuan melaluinya? Mari kita ingat kembali,
nama Tuhanlah yang patut dikenal. Kehebatan-Nyalah yang patut dikagumi oleh
semua orang. Biarlah karya kita mewartakan hal itu. --Silvia Wiguno. KITA
BERKARYA BUKAN UNTUK MENGAGUNGKAN NAMA DIRI, MELAINKAN UNTUK ME-WARTAKAN
KEAGUNGAN TUHAN.
No comments:
Post a Comment