Roma
11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari DIA, dan oleh DIA, dan kepada DIA:
Bagi DIAlah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
Dari awal, hidup kita sudah didesain oleh DIA, apakah kita
sedang dalam proses? atau sudah berhasil sekalipun semuanya hanya untuk
kemuliaan namaNya. Ketika kita dapat mengutamakan DIA, maka DIA akan membawa
kita dari 1 Kemenangan kepada Kemenangan yang lebih besar. Apapun kondisi kita
muliakan Allah dalam setiap aspek hidup kita! (Dari DIA, oleh DIA & untuk
DIA) Amin.
Respon 1 :
Renungan Pagi. Minggu 07 September 2014. Bahan: Hosea 12-14.
Lukas 21:1-4. “Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya,
tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya.” (Lukas 21:4) MEMBERI HINGGA SAKIT. Kak Yanto
adalah penarik becak berusia separuh baya. Biasa mangkal di depan Rumah Sakit
Bethesda, Yogyakarta. Penghasilannya tidak tetap. Kalau sedang sepi, ia
memperoleh sekitar Rp10.000,00 sehari. Kalau sedang ramai, biasanya sehari bisa
sampai Rp25.000,00-Rp30.000,00. Dari penghasilannya itu, selain tentu untuk
menghidupi istri dan tiga orang anaknya di kampung, Pak Yanto juga selalu
menyisihkan untuk memberi persembahan bagi gerejanya yang tengah direnovasi.
Ada dua hal yang membuat sebuah pemberian itu berharga. Pertama, ketulusan yang
mendasari; memberi karena memang mau memberi. Titik. Bukan, misalnya, supaya
mendapat pujian atau berharap ucapan terima kasih. Motivasi tidak tulus akan
mengurangi nilai sebuah pemberian. Kedua, adanya pengorbanan di balik-nya.
Pemberian yang bertolak dari keterbatasan dan kekurangan si pemberi akan jauh lebih bernilai, terlepas besar kecilnya nilai nominal
pemberian itu. Inilah yang dilakukan oleh janda miskin yang kita renungkan hari
ini. Ia memberi banyak justru dalam kekurangannya. Dan dari pemberiannya itu
tercermin pula ketulusan. Ia memberi tanpa berpikir apa yang akan diperolehnya
sebagai balasan; betul-betul sebuah pemberian atas dasar kerelaan dan karena
keinginan untuk memberi yang terbaik. Itulah sebabnya di mata Tuhan,
pemberiannya itu jauh lebih bernilai dari semua pemberian yang lain. Sebuah
pemberian dapat menunjukkan besarnya kasih di baliknya ketika kita melakukannya
tanpa pamrih, dan ketika kita harus berkorban untuk memberikannya. NILAI SEBUAH
PEMBERIAN TERLETAK PADA KETULUSAN DAN PENGORBA-NAN YANG MELANDASINYA. Selamat
beribadah, Tuhan Yesus memberkati.
Respon 2 :
Betapapun banyak, besar dan memberatkan dosa Anda, bersama
Tuhan ada pengampunan yang lebih besar (Mazmur 103:10-12) - Rev. John Hartman.
Respon 3 :
Minggu, 7 September 2014.
Nats: Bersyukur-lah kepada TUHAN, sebab Ia baik! ...Sebab dipuaskan-Nya jiwa
yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan. (Mazmur 107
: 1,9) KAPAN BERSYUKURNYA? Henry Ward Beecher berkata, “Orang sombong jarang
yang tahu bersyukur, sebab ia tidak pernah menganggap dirinya sudah mendapatkan
apa yang sepantasnya ia peroleh.” Penghambat utama rasa syukur adalah anggapan
diri kita cukup baik sehingga pantas menerima pahala. Kalau kebaikan
mengunjungi dirinya, dianggap sudah sepantasnya. Tak ada rasa syukur. Parahnya,
dalam kenyataan ia justru
selalu
merasa dirinya belum mendapatkan hal yang sepantasnya. Serba
belum cukup; selalu kurang. Kapan bersyukurnya? Mazmur 107 mengungkap kebenaran
ini secara lebih jernih. Kebaikan bukan ada pada kita, melainkan pada Tuhan.
Bukan kita yang baik sehingga patut diganjar kebaikan dalam hidup ini. Kala
Anda dituangi atau disirami kebaikan dalam hidup, itu karena Tuhan baik!
Periksalah dengan jujur betapa banyak perkara yang semestinya tak pantas kita
peroleh, namun nyatanya kita dapatkan. Banyak hal dalam hidup sehari-hari yang
datang sebagai karunia, bukan upah kebaikan kita. Semua tersedia dengan indah
dan limpah karena Tuhan itu baik. Maka, jangan sombong dan merasa diri pantas,
melainkan bersyukur-lah! Bersyukur karena kebaikan-Nya! Sadar-kah Anda bahwa
11.000 liter udara kita hirup-hembus setiap hari secara gratis, tidak seperti
asupan oksigen bagi pasien di rumah sakit ? Cahaya mentari yang tak kita upayakan. Langit biru yang bukan buah karya kita. Kicau burung yang tak
kita ciptakan. Uluran tangan sukarela. O, masih banyak lagi curahan
anugerah-Nya yang layak kita syukuri! --(Pipi A Dhali / Renungan Harian).
KESOMBONGAN MEMBUAT KITA SERBA ME-NUNTUT; KERENDAHAN HATI MEM-BUAT KITA SENANTIASA
BERSYUKUR. Happy Sunday & GBU!
No comments:
Post a Comment