Lukas
16:10, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam
perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil,
ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”
Orang
yang setia adalah orang yang terus berada di sana untuk melakukan lebih
baik & lebih baik lagi! Minta tuntunan Tuhan agar ketika kita mencoba untuk
berubah baik sikap maupun
gaya hidup, jangan mudah menyerah, teruslah mencoba & memperbaiki,
sehingga orang melihat ada perubahan yang lebih baik, amin! “Setia”lah terhadap
apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kita! Niscaya Tuhan percayakan Perkara
Besar.
Respon 1 :
Maz 113:7, “TUHAN menegakkan orang yang hina dari dalam debu
dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur.” TUHAN sanggup menolong kita,
alami mujizat-NYA sekarang ini!
--Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 2 :
Lukas 16:10, Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil,
ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara
kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Kalau dalam perkara kecil aja
kita sudah
nggak setia alias gampang menyerah... Gimana kita bisa
menikmati perkara-perkara besar? Butuh kegigihan dalam berusaha dan nggak gampang
menyerah. Firman Tuhan berkata orang benar jatuh 7x dan dia bisa bangkit
kembali. Bukan tentang kenapa kok gagal tapi tentang bagaimana bangkit kembali,
itu butuh kesetiaan. Setia untuk kembali mencoba, dan libatkan Tuhan di dalam
setiap usaha kita.
Respon 3 :
SAAT TEDUH. Kamis, 4
September 2014. PUSH. Mintalah, maka akan diberikan kepa-damu; carilah, maka
kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7)
P.U.S.H atau Pray Until Something Happened (berdoalah terus sampai sesuatu
terjadi). Pernyataan yang sederhana, tetapi dalam, memperlihatkan keyakinan
yang kuat. Pertanyaannya, apa yang kita harapkan untuk terjadi itu? Dalam
berdoa, sering kali kita
tidak bersungguh-sungguh. Bukan dalam arti sikap fisik, melainkan dalam sikap
hati kita terhadap doa. Kesungguhan dalam berdoa kerap disalahartikan sebagai
sikap “memaksa-kan kehendak” kepada Allah dan keinginan untuk mengatur Allah
dalam menjawab doa kita. Injil Matius menyampaikan bahwa janji Allah Bapa itu
tegas dan jelas, yaitu mintalah maka akan menerima, cari maka akan men-dapatkan,
ketuk maka kepadanya pintu akan dibukakan (ay. 7-8). Janji ini harus kita
imani. Tetapi, Matius juga menyampaikan bahwa Allah Bapa tahu betul hal yang
terbaik untuk kita menurut kehendak-Nya (ay. 11b). Kita tentu ingat sewaktu
Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani. Dia meminta supaya cawan penderitaan itu
berlalu, tetapi Bapa memiliki kehendak yang lain, yaitu salib. Dan, keputusan
Allah itulah yang terbaik. Jadi, meskipun kita tetap berdoa sampai sesuatu
terjadi, kita harus sadar bahwa Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk kita.
Kita tidak perlu memaksakan kehendak kita, melainkan untuk
menerima jawaban Allah atas doa kita. Apakah itu “Ya” atau “Tidak” atau
“Nanti” atau jawaban lain yang tidak kita duga. Selain itu, kita perlu sabar
menantikan Allah menjawab doa kita. Segala sesuatunya akan indah pada
waktu-Nya. JANGAN MINTA KEPADA TUHAN APA YANG MENURUT ANDA BAIK; MINTALAH APA
YANG MENURUT DIA BAIK BAGI ANDA. Cao an... Semangat!!! Tuhan Yesus memberkati.
Respon 4 :
What God desires most is that I walk with Him humbly,
quietly & obediently (Phillip Keller). Apa yang sangat Tuhan inginkan
adalah supaya saya berjalan bersamaNya dengan kerendahan hati, ketenangan &
ketaatan (Phillip Keller). Efesus 4:25, “Karena itu buanglah dusta dan
berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Implementasi kejujuran bisa dilihat
dari transparansi kehidupan, sayangnya banyak orang yang hidup dalam
kepura-puraan walau hidupnya penuh dengan kekurangan. Padahal setiap manusia
tidak akan sembuh dengan sendirinya, tetapi butuh orang lain untuk mengubah
kekurangan dalam hidupnya, bisa melalui teguran atau nasihat. Sayangnya kita
lebih suka berbicara kepada orang yang enak diajak ngobrol walau cuma basa basi
dalam kwalitas yang cetek, padahal pembicaraannya tidak pernah menyentuh akar
masalah karena semuanya hanya berkata dusta dimana semua orang berkata
'baik-baik saja'. Kita tidak bisa menjadi apa yang Allah kehendaki atas diri
kita, sebelum kita berada dalam sebuah komunitas persekutuan yang intim dan
jujur. Jika kita serius ingin mengubah masalah-masalah emosi yang terdalam di
dalam hati kita, aib terbesar dalam hidup kita, maka kita akan berhadapan
dengan rasa takut untuk bersikap jujur. Kita harus berhenti berpura-pura dan harus
menyingkirkan dusta dengan menunjukkan pribadi kita yang sebenarnya, karena
kita tidak akan pernah bisa memiliki hidup yang baik jika terus berpura-pura.
Keterbukaan awal dari pemulihan, sebaiknya kepahitan dan beban emosi yang ada
dalam diri kita diangkat dengan menceritakannya secara jujur kepada orang lain
yang kita percayai. Jangan tinggi hati... Kita membutuh-kan nasihat dan masukan
dari orang lain, hanya orang yang rendah hati yang mau melakukannya!
No comments:
Post a Comment