Thursday, 4 September 2014

4 September 2014 - Mencoba, Memperbaiki, & Meneruskan

Lukas 16:10, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”



Orang yang setia adalah orang yang terus berada di sana untuk melakukan lebih baik & lebih baik lagi! Minta tuntunan Tuhan agar ketika kita mencoba untuk berubah  baik  sikap  maupun  gaya hidup, jangan mudah menyerah, teruslah mencoba & memperbaiki, sehingga orang melihat ada perubahan yang lebih baik, amin! “Setia”lah terhadap apa yang sudah Tuhan percayakan kepada kita! Niscaya Tuhan percayakan Perkara Besar.

Respon 1 :
Maz 113:7, “TUHAN menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur.” TUHAN sanggup menolong kita, alami mujizat-NYA sekarang ini!
--Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 2 :
Lukas 16:10, Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Kalau   dalam   perkara  kecil  aja  kita  sudah nggak setia alias gampang menyerah... Gimana kita bisa menikmati perkara-perkara besar? Butuh kegigihan dalam berusaha dan nggak gampang menyerah. Firman Tuhan berkata orang benar jatuh 7x dan dia bisa bangkit kembali. Bukan tentang kenapa kok gagal tapi tentang bagaimana bangkit kembali, itu butuh kesetiaan. Setia untuk kembali mencoba, dan libatkan Tuhan di dalam setiap usaha kita.
Respon 3 :
SAAT TEDUH. Kamis, 4 September 2014. PUSH. Mintalah, maka akan diberikan kepa-damu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7) P.U.S.H atau Pray Until Something Happened (berdoalah terus sampai sesuatu terjadi). Pernyataan yang sederhana, tetapi dalam, memperlihatkan keyakinan yang kuat. Pertanyaannya, apa yang kita harapkan untuk  terjadi  itu?  Dalam  berdoa, sering kali kita tidak bersungguh-sungguh. Bukan dalam arti sikap fisik, melainkan dalam sikap hati kita terhadap doa. Kesungguhan dalam berdoa kerap disalahartikan sebagai sikap “memaksa-kan kehendak” kepada Allah dan keinginan untuk mengatur Allah dalam menjawab doa kita. Injil Matius menyampaikan bahwa janji Allah Bapa itu tegas dan jelas, yaitu mintalah maka akan menerima, cari maka akan men-dapatkan, ketuk maka kepadanya pintu akan dibukakan (ay. 7-8). Janji ini harus kita imani. Tetapi, Matius juga menyampaikan bahwa Allah Bapa tahu betul hal yang terbaik untuk kita menurut kehendak-Nya (ay. 11b). Kita tentu ingat sewaktu Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani. Dia meminta supaya cawan penderitaan itu berlalu, tetapi Bapa memiliki kehendak yang lain, yaitu salib. Dan, keputusan Allah itulah yang terbaik. Jadi, meskipun kita tetap berdoa sampai sesuatu terjadi, kita harus sadar bahwa Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Kita  tidak  perlu  memaksakan  kehendak  kita,  melainkan  untuk
menerima jawaban Allah atas doa kita. Apakah itu “Ya” atau “Tidak” atau “Nanti” atau jawaban lain yang tidak kita duga. Selain itu, kita perlu sabar menantikan Allah menjawab doa kita. Segala sesuatunya akan indah pada waktu-Nya. JANGAN MINTA KEPADA TUHAN APA YANG MENURUT ANDA BAIK; MINTALAH APA YANG MENURUT DIA BAIK BAGI ANDA. Cao an... Semangat!!! Tuhan Yesus memberkati.

Respon 4 :
What God desires most is that I walk with Him humbly, quietly & obediently (Phillip Keller). Apa yang sangat Tuhan inginkan adalah supaya saya berjalan bersamaNya dengan kerendahan hati, ketenangan & ketaatan (Phillip Keller). Efesus 4:25, “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar  seorang  kepada  yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Implementasi kejujuran bisa dilihat dari transparansi kehidupan, sayangnya banyak orang yang hidup dalam kepura-puraan walau hidupnya penuh dengan kekurangan. Padahal setiap manusia tidak akan sembuh dengan sendirinya, tetapi butuh orang lain untuk mengubah kekurangan dalam hidupnya, bisa melalui teguran atau nasihat. Sayangnya kita lebih suka berbicara kepada orang yang enak diajak ngobrol walau cuma basa basi dalam kwalitas yang cetek, padahal pembicaraannya tidak pernah menyentuh akar masalah karena semuanya hanya berkata dusta dimana semua orang berkata 'baik-baik saja'. Kita tidak bisa menjadi apa yang Allah kehendaki atas diri kita, sebelum kita berada dalam sebuah komunitas persekutuan yang intim dan jujur. Jika kita serius ingin mengubah masalah-masalah emosi yang terdalam di dalam hati kita, aib terbesar dalam hidup kita, maka kita akan berhadapan dengan rasa takut untuk bersikap jujur. Kita harus berhenti berpura-pura dan harus menyingkirkan dusta dengan menunjukkan pribadi kita yang sebenarnya, karena kita tidak akan pernah bisa memiliki hidup yang baik jika terus berpura-pura. Keterbukaan awal dari pemulihan, sebaiknya kepahitan dan beban emosi yang ada dalam diri kita diangkat dengan menceritakannya secara jujur kepada orang lain yang kita percayai. Jangan tinggi hati... Kita membutuh-kan nasihat dan masukan dari orang lain, hanya orang yang rendah hati yang mau melakukannya!

JESUS BLESS

No comments:

Post a Comment