28 Mei 2013
Kerendahan Hati Seorang Pemenang. Kejadian 45:5, “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati
dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk
memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” Kisah Yusuf
dalam kitab kejadian ini memberikan kita pembelajaran bahwa: sebesar apapun BERKAT Tuhan, mengangkat DERAJAT
kehidupan kita, jangan sampai membuat hati kita berubah! Dengan RENDAH HATI bukan saja sesama kita
DIBERKATI, tetapi Tuhan sendiri semakin berkenan kepada kita! Amin. Adakah kita
anak-anakNya yang RENDAH HATI?
Respon 1
Satu hal telah kuminta kepada
TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan
kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. Sebab Ia melindungi aku dalam
pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di
kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu. (Mazmur 27:4-5). Banyak anak
Tuhan bingung waktu tragedy terjadi dalam hidupnya. Mereka bertanya, “Tuhan,
Engkau di mana?” Sesungguhnya Tuhan ada di dekatmu dan besertamu. Melindungimu
dalam pondokNya dan menyembunyikan dalam kemahNya. Tinggallah di dalamNya.
Respon 2
Tetapi sekarang, janganlah
bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini,
sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. Yusuf
adalah salah satu tokoh dalam Alkitab yang aku kagumi dari orang yang sombong
karena merasa dikasihi orang tuanya dan mendapat nubuatan lewat mimpi yang luar
biasa, di diproses Tuhan habis-habisan dan dia bisa melihat proses itu dengan
positif sampai dia bisa mempunyai hati yang bijaksana luar biasa. Yusuf tidak
mengasihi diri saat diproses, dia bisa melihat bahwa apapun yang diijinkan
Tuhan dia alami itu ada di dalam rencana Tuhan dan itu adalah untuk kebaikan.
Itu yang perlu kita teladani. Kita harus PERCAYA bahwa rancangan Tuhan adalah
rancangan damai sejahtera utnuk kita semua bukan rancangan kecelakaan. Seberat
apapun proses yang harus kita lalui itu tidak akan melebihi kekuatan kita itu
janji Tuhan. Dan proses yang kita ajalni akan membentuk hati kita menjadi
manusia yang rendah hati yang dapat melihat bahwa semua yang kita dapat itu
berasal dari DIA dan untuk DIA. Amin.
Respon 3
Selasa, 28 Mei 2013. Waktu aku
takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada
Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia
terhadap aku? (Mazmur 56:4-5). Jadi mengapa hari ini aku mesti hilang harapan?
Mengapa saat ini aku mesti kuatir akan hari depanku? Ah, kalau selama ini tanpa
kusadari aku selalu mengandalkan manusia, aku selalu bergantung pada manusia.
Sehingga mereka berbalik tinggalkan aku, aku merasa habis, aku merasa hari
depanku gelap. Aku lupa, aku masih punya DIA, yang selalu sertai aku, yang
pegang hari esok. TUHAN, aku mau balik, aku mau percaya padaMu. Aku mau
andalkan Engkau. Aku percaya, Engkau tak pernah lupakan aku. Aku tak mau takut
lagi, aku tak mau kuatir lagi. Kejadian 45:5, seratus kali sehari kuingatkan
diriku bahwa kehidupanku bergantung pada hasil kerja orang lain (Albert
Einstein). “Terima kasih Tuhan atas berkat yang Kau berikan pada kami. Hari ini
kami mau mengembalikan segala pujian, hormat, dan kemuliaan hanya bagi namaMu.
Dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin! Tuhan Yesus memberkati.
No comments:
Post a Comment