SURVIVAL
VS REVIVAL
Survival
x Revival Day 9 – Tujuan Tuhan Bagi Manusia Lebih Besar.
Makin besar pergumulan yang kita pernah/sedang hadapi maka lebih
besarlah mukjizat yang akan kita hadapi. Karena di 2 Korintus 4:8-9,
“8Dalam
segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal,
namun tidak putus asa; 9kami
dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun
tidak binasa.” Masa
gagal kita “sudah habis”/”sudah berakhir”, kita semua sudah
pernah melewati masa-masa gagal dan kita pun bukan saja sudah
menjalaninya/survive,
tetapi sebagai pahlawan-pahlawan yang gagah berani (bangkitlah &
alamilah KEBANGUNAN) dengan segala kekuatanmu, Tuhan menyertai engkau
(Hakim-Hakim 6:12-14). Ada hal-hal yang harus kita lalui agar kita
dapat tiba di suatu tujuan... Kita semua adalah prajurit Allah yang
gagah perkasa, bertindaklah dengan kuasa yang sudah Tuhan berikan.
Amin. Jadilah anak-anak Tuhan yang tidak hanya survive, tetapi juga
Revive/Bangkit
karena ada Tujuan Tuhan yang lebih besar dari kehancuran manusia .
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SurvivalXRevivalSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Ulangan 8,9&10
PB:
Kisah Para Rasul 13:1-25
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Bp.
Peter – WCS
DICARI:
MOTIVASI PELAYANAN YANG BENAR Oleh: Peter B, MA (Sambungan dari
artikel KELEDAI AJAIB?). “Lalu Bileam mengucapkan sanjaknya,
katanya:…Bagaimanakah aku menyerapah yang tidak diserapah Allah?
Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN?” -(Bil.
23:7-8)- “Selain dari orang-orang yang mati terbunuh itu, merekapun
membunuh juga raja-raja Midian…juga Bileam bin Beor dibunuh mereka
dengan pedang” -(Bil. 31:8)- Hal kedua yang dapat kita pelajari
dari kisah keberangkatan Bileam ke Moab adalah bahwa seperti Bileam,
kita dapat melayani Tuhan dengan hati yang keliru dan sesat. Seperti
Bileam, kita dapat mempersembahkan suatu pelayanan kepada Tuhan
tetapi hati dan hidup kita melawan Tuhan; kita dapat melakukan
pekerjaan seperti seorang hamba Tuhan tetapi motivasi dan isi hati
kita sepenuhnya bertentangan dengan kehendak Tuhan. Bileam berangkat
untuk menunaikan tugas dan jabatan pekerjaannya sebagai seorang nabi
tetapi jauh di dalam hatinya ia tidak melakukan hal itu karena
perintah dan kehendak dari pemberi Tugas Agung itu tetapi ia
melakukannya semata-mata karena ia hendak mencari keuntungan bagi
dirinya sendiri. Mari kita melihat diri kita masing-masing. Adakah
motivasi-motivasi yang tidak sejalan dengan kerinduan dan hati Tuhan
memenuhi hati kita saat kita melayani Dia? Atau kita pernah berpikir
bahwa tidak akan ada yang tahu apa yang ada di dalam hati kita saat
kita melayani Dia? Memang benar tidak ada orang yang tahu tetapi…
TUHAN selalu tahu. Bukankah Dia Allah yang menguji batin dan hati?
(Yer. 17:10). Bukankah Dia Allah yang cinta ketulusan, bukan sesuatu
yang ditutup-tutupi? Dan bukankah Dia juga Allah yang menyukai
kemurnian, bukan kepalsuan? Mungkin juga Anda berkata dalam hati,
“Ah, tetapi pelayananku berhasil dan aku dipakai Tuhan. Banyak
orang merasakan berkat melalui pelayananku ini”. Memang tidak
salah. Jika kita mengamati kisah Bileam selanjutnya, kita akan
terkejut bahwa ternyata pelayanan Bileam tidak ada yang buruk dan
salah dipandangan mata TUHAN. Keberhasilan Dalam Pelayanan? Tuhan
memerintahkan Bileam supaya hanya menyampaikan apa saja yang
disuruhNya untuk disampaikan dan kenyataannya semua perkataan yang
diberikan Tuhan itu sepenuhnya diucapkan oleh Bileam. Hasilnya Israel
tidak jadi dikutuki melainkan diberkati. Bileam yang dipanggil dan
diminta oleh Balak untuk mengutuki akhirnya mengucapkan berkat
sebagaimana yang ditetapkan Tuhan untuk dikatakan atas umat Israel.
Dengan kata lain, Bileam menunaikan tugas pelayanannya dengan baik,
mungkin juga dengan sangat baik, apalagi jika kita memperhatikan
bahwa semua kata-kata nubuatan Bileam itu ditulis dan dimuat sebagai
bagian Firman Tuhan dalam Alkitab kita. Tugasnya sebagai seorang nabi
dikerjakannya sesuai dengan aturan dan prinsip-prinsip pelayanan
kenabian. Sudah berhasilkah Bileam? Dapatkah pelayanannya disebut
baik terlebih lagi dianggap sebagai pelayanan yang berhasil? Mungkin
kita harus menilai ulang standard kita mengenai pelayanan yang
berhasil dihadapan Tuhan. Bileam melayani dengan baik sekali. Jika Ia
melayani sekarang ini, tidak mungkin akan ada yang menyangka bahwa ia
melakukan suatu kesalahan. Ini menunjukkan bahwa pelayanan kita bisa
saja baik dan memenuhi standard-standard suatu tugas pelayanan di
gereja, tetapi seperti Bileam pula kita dapat melayani dengan baik
(atau berhasil menurut ukuran manusia) tetapi sesungguhnya TUHAN sama
sekali tidak berkenan! Bukankah ini mengherankan? Tetapi …
bagaimana kita tahu TUHAN tidak berkenan kepada Bileam? Bukankah ia
sudah mengerjakan segala hal yang diperintahkan Tuhan? Untuk
mengetahuinya kita harus melihat pada bagian Alkitab yang lain: Bil.
31:8, Bil. 13:16; dan Wahyu 2:14. Pada saat bangsa Israel berperang
melawan bangsa Midian, kemenangan besar dialami pihak Israel.
Sepulang dari perang, mereka membawa jarahan perang, termasuk di
dalam jarahan itu adalah perempuan-perempuan dan anak-anak Midian.
Sewaktu Musa melihat itu maka ia menjadi gusar dan berkata, “Kamu
biarkankah semua perempuan hidup? Bukankah perempuan-perempuan ini,
atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia
tehadap TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat
TUHAN” (Bil. 31:15-16). Hal ini dikuatkan dalam perjanjian Baru
oleh peringatan Kristus sendiri kepada jemaat di Pergamus mengenai
ajaran Bileam ”… yang memberi nasihat kepada Balak untuk
menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan
berbuat zinah” (Wahyu 2:14). Jelas di sini bahwa pada dasarnya
memang Bileam melaksanakan tugas kenabian dibebankan Tuhan kepadanya,
tetapi sesungguhnya di dalam hati Bileam yang busuk itu tersimpan
suatu hati yang merencanakan untuk melawan Allah sendiri. Bileam
memang seorang pelayanan dan hamba Tuhan tetapi seluruh hati dan
hidupnya sesungguhnya tidak tertuju kepada Tuhan; ia memberikan
nasihat sesat kepada Balak yang merupakan siasat untuk dapat
menghancurkan umat Tuhan. Apa motivasi Bileam? Tentu saja upah dan
harta yang besar sebagaimana yang dapat diberikan Balak. Pertanyaan
yang penting adalah bagaimana mungkin seorang nabi dan hamba Tuhan
dapat memiliki pandangan yang tidak sama bahkan bertentangan dengan
TUHAN yang adalah tuannya? Memang sulit dimengerti tetapi itulah
kenyataannya. Memang tidak dapat dipercaya tetapi tidak sedikit
hamba-hamba Tuhan yang seringkali bersikap seperti Bileam. Mereka
mengiring dan melayani TUHAN tetapi memiliki maksud, misi dan
keinginan tersembunyi yang berbeda bahkan berlawanan dengan kehendak
Tuhan. Bagaimana TUHAN akan berkenan kepada seseorang yang memiliki
pandangan dan prinsip yang berlawanan dengan kebenaran dan
sifat-sifatNya sendiri? Bagaimana mungkin Tuhan setuju dengan saran
Bileam yang mengajarkan untuk berzinah dan menyembah berhala? Jadi
perlu ditegaskan di sini: TUHAN tidak pernah berkenan akan Bileam.
Meskipun pelayanannya dilakukan dengan benar di hadapan Tuhan? Bukti
lain yang tidak terbantahkan tertulis dalam Bil. 31:8. Dalam kejadian
yang sama ketika Israel menang atas Midian, Bileam turut terbunuh
dengan pedang. Ia mati di tangan umat Tuhan sendiri. Bukan tidak
mungkin adalah kehendak Tuhan supaya Israel sendirilah yang menjadi
alat Tuhan untuk membalaskan perbuatan Bileam yang telah dengan
begitu licik mendatangkan kehancuran atas Israel. Bersambung…
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/03/dicari-motivasi-pelayanan-yang-benar.html
Ibu
Caroline – Bandung
SAAT
TEDUH. Kamis, 9 Maret 2017. KEBAHAGIAAN DIBALIK HAJARAN TUHAN.
Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari
Taurat-Mu (Mazmur 94:12). Seorang anak membuat perahu mainan dan
meletakkannya di danau. Lama-kelamaan, perahu itu terbawa air, tidak
lagi bisa dijangkau tangan mungilnya. Ia meminta tolong kepada
ayahnya. Begitu terkejutnya ia ketika sang ayah mengambil beberapa
batu dan melemparkannya ke air. Si anak menjadi cemas, “Ayah,
perahuku bisa hancur!” Namun, ketika ia perhatikan, lemparan batu
itu selalu melampaui perahunya. Setiap kali batu jatuh di air, timbul
ombak kecil yang mendorong perahunya ke tepi. Tiap lemparan batu
sudah direncanakan hingga si anak dapat menjangkau perahu itu. Setiap
pukulan dan hajaran tentulah menyakitkan. Namun, pemazmur justru
menyatakan sebaliknya. Hajaran Tuhan itu adalah sebuah kebahagiaan!
Pemazmur memiliki beragam pengalaman hidup. Pengalaman yang dibentuk
melalui berbagai penderitaan sebagai bentuk hajaran Tuhan yang akan
membawa kebaikan baginya. Setiap bentuk hajaran yang Tuhan izinkan
bukanlah untuk membuatnya hancur, melainkan disertai kerinduan Tuhan
agar ia kembali pada kebenaran dan dibawa mendekat kepada-Nya. Saat
mengarungi kehidupan ini, tanpa sadar kesibukan dan rasa nyaman telah
menjadi gelombang yang membawa hidup kita jauh dari Tuhan. Pada saat
itulah Tuhan mengingatkan, menegur, bahkan menghajar kita,
anak-anak-Nya. Seperti pemazmur, biarlah kita belajar menerima setiap
“lemparan” dan “hajaran” Tuhan itu dengan sukacita. Karena
kita tahu Dia tidak pernah melukai kita, Dia ingin membawa kita dekat
kepada-Nya. BERBAHAGIALAH KETIKA ALLAH MASIH MENGHAJAR KITA SUPAYA
KITA SADAR DAN KEMBALI PADA JALAN-JALAN YANG DIA KEHENDAKI. Selamat
pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible Baca: Ulangan 8-10 &
Kisah Rasul 13:1-25.
GNCC
Hati
yang terjaga dengan baik sering kali dapat memahami apa yang tidak
dapat dipahami oleh pikiran. Amsal 4:23 – Jagalah hatimu dengan
segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. #gncc
#edisihati #revolusihati

No comments:
Post a Comment