Monday, 13 March 2017

13 Maret 2017

SURVIVAL VS REVIVAL




Survival x Revival Day 13 – To Experience Revival. Hakim-Hakim 6:12, “Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: ‘TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.’” TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani (ayat 12b). Seringkali kita anak-anak Tuhan belum menemukan apa IDENTITAS kita sendiri, seringkali kita tidak “ngeh” dengan tujuan hidup yang sudah Tuhan taruh dihati kita masing-masing. Seringkali kita belum mendapatkan PENCERAHAN sehingga kita bingung dalam menjalani kehidupan ini . Temukan IDENTITAS diri kita/temukan bahwa kita diciptakan SERUPA dengan BAPA kita disurga dan Gambar diri kita sudah dipulihkan melalui karya Yesus diatas kayu salib, seperti Gideon kita adalah “pahlawan” yang gagah berani. Perjumpaan secara pribadi akan menuntun kita untuk keluar dari Zona Kegagalan, Zona Bertahan dan kita Bangkit karena kita tahu siapa diri kita yang sebenarnya. Ada identitas yang baru . Amin. Galatia 2:20, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” 2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SurvivalXRevivalSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Ulangan 20, 21 & 22
PB: Kisah Para Rasul 15:22-41
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

WM Stars
KOMUNIKASI. Seringkali dalam hubungan antar pribadi, bila komunikasi tidak didasari saling percaya, maka dapat menjadi penyebab terjadinya konflik. Khususnya dalam hubungan suami istri, komunikasi sering terjadi tarikan dan bila tidak saling percaya dan integritas akan menjadi sumber penyebab konflik. Tarikan dalam komunikasi yang dimaksud adalah antara: mengatakan yang sebenarnya dan mengatakan yang sepatutnya. Maksudnya ingin mengatakan sejujurnya malah menjadi salah paham. Untuk menghindari konflik orang cenderung mengatakan yang sepatutnya agar bisa saling menerima. Demi dijaga hubungan yang harmonis perlu dijaga keseimbangan dalam komunikasi, harus bijaksana mana yang perlu dipilih mengatakan yang sebenarnya atau sepatutnya? Oleh sebab itu perlu membangun saling percaya satu sama lainnya dan menghindarkan pertikaian. Mari mulai kembali hidup saling ramah satu sama lain dan hidup penuh kasih mesra. Efesus 4:30-32, “30Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. 31Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. 32Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Bp. Anto – Citraland
Ada sepasang suami isteri tergesa-gesa berlari menuju ke sekoci untuk menyelamatkan diri, pada saat terjadi kecelakaan yang menimpa sebuah kapal pesiar yang akan tenggelam. Tetapi saat sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. *Dengan segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu, sementara sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum sekoci menjauh dan kapal itu benar-benar tenggelam.* Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, menurut kalian, apa yang sang istri itu teriakkan? Sebagian besar murid-murid itu menjawab : *Aku benci kamu, egois, nggak tanggung jawab, nggak tau malu.* Tapi ada seorang murid yang hanya diam saja, dan guru itu meminta murid yang diam itu menjawab, *Kata si murid, saya yakin si istri pasti berteriak... Tolong jaga anak kita baik-baik.* Guru itu terkejut dan bertanya, apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya? *Murid itu menggeleng, belum, tapi itu yang dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.* Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, *Jawaban ini benar, kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian,* dan bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya, *dia menemukan kenyataan bahwa saat orang tuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan akan segera meninggal.* Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. *Dan dia menulis di buku harian itu, betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu, isteriku sayang, tapi demi anak kita, terpaksa dengan hati menangis membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.* Cerita itu selesai, dan seluruh kelas pun terdiam. Guru itu tahu bahwa murid-muridnya sekarang mengerti hikmah dari cerita tersebut, *bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita pikirkan, ada berbagai macam komplikasi dan alasan dibaliknya yang kadang sulit dimengerti.* Karena itulah jangan pernah melihat hanya luarnya saja dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa. Mereka yang sering membayar untuk orang lain bukan berarti kaya, *tapi karena lebih menghargai hubungan daripada uang.* Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh bukan karena bodoh, *tapi karena lebih menghargai konsep tanggung jawab.* Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar bukan karena bersalah, *tapi karena lebih menghargai orang lain.* Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu bukan karena merasa berhutang, *tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.* Mereka yang sering mengontakmu bukan karena tidak punya kesibukan, *tapi karena kamu ada di dalam hatinya.* *JANGAN MUDAH MENGAMBIL KESIMPULAN KARENA ASUMSI*

Ibu Caroline – Bandung
Senin, 13 Maret 2017. Bacaan: Kisah Para Rasul 5:1-11. Setahun: Yosua 1-3. Nas: Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar (Kisah Para Rasul 5:9). Kucing yang Luka. Saat masih kecil, saya bermain pencukur kumis milik Ayah. Salah satu jari saya tergores silet dan darahnya tercecer di meja rias. Waktu Ibu melihat percikan darah di atas meja, ia bertanya siapa yang berdarah. “Kucingnya luka main silet,” jawab saya. “Masa iya kucing main silet?” tanya Ibu. Saya tak bisa menjawab. Dengan lembut Ibu memeriksa tangan saya dan mendapati luka itu. Ia membersihkan luka itu dan mengolesinya dengan obat. “Lain kali kalau luka jangan disembunyikan, ya,” kata Ibu. Kebenaran adalah salah satu sifat Allah. Jadi apabila kita berbohong, kita menyakiti hati-Nya. Kebohongan menghancurkan hidup kita. Resep sederhana agar tidak jatuh ke dalam dosa kebohongan adalah berkatalah jujur. Tidak seorang pun dapat lolos dari dosa berbohong. Ananias dan Safira mengira mereka bisa membohongi rasul-rasul dan jemaat. Keduanya menahan sebagian dari hasil penjualan sebidang tanah (ay. 2). Betul Petrus tidak tahu, tapi Roh Kudus tahu. Mereka bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah (ay. 4). Tuhan tidak menyukai kebohongan dan Dia akan menyingkapkannya. Kalau pun kebohongan itu tidak terbongkar selama kita hidup, kita tetap harus bertanggung jawab di hadapan Allah saat pengadilan terakhir. Kalau kita pernah membohongi seseorang atau beberapa orang dengan alasan tertentu, akuilah hal itu kepadanya dan kepada Tuhan. Ini perlu kerendahan hati. Percayalah, saat kita mau mengaku kesalahan, kita akan merasa lega dan dapat melanjutkan langkah untuk hidup secara jujur –RTG. KEBOHONGAN MENYESAKKAN HATI; KEJUJURAN MENDATANGKAN KELEGAAN.

Xavier Quentin Pranata
Orang yang suka menyepelekan orang lain biasanya justru orang yang sepele.” Xavier Quentin Pranata.

Bp. Peter – WCS
APAKAH ANDA BERUSAHA MENCARI DAN MENGETAHUI KEHENDAK TUHAN? Oleh: Peter B, MA. Banyak yang tidak percaya bahwa kita dapat mengetahui kehendak Tuhan. Di antara orang-orang percaya sekalipun, kehendak Tuhan bagi kehidupan pribadi merupakan sesuatu yang asing dan sulit dijangkau. Karena takut keliru dan belum memiliki pemahaman yang benar akan jalan-jalan Tuhan, banyak yang berpandangan bahwa kehendak Tuhan itu sesuatu yang umum saja seperti hidup kudus, rajin beribadah dan memberi persembahan, tidak berbuat yang jahat dan sebagainya. Intinya, melakukan apa yang baik dan menjauhi yang jahat selama hidup di dunia. Sayangnya, itu tidak didukung oleh fakta-fakta Alkitab. Efesus 5:17 memberitahu kita supaya “… itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Begitupun pesan rasul dalam Roma 12:1-2 kiat mengindikasikan bukan saja kita mengetahui kehendak Tuhan namun BAHKAN MEMBEDAKAN BERBAGAI-BAGAI KEHENDAK TUHAN: yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Kehendak Tuhan ialah apa yang terbaik yang ada dirancang di pikiran-Nya bagi iita. Mengetahui kehendak Tuhan dan melangkah dalamnya adalah inti dan makna keberadaan kita. Seperti Yesus yang datang dan hidup SEMATA-MATA MELAKUKAN KEHENDAK BAPA-NYA. Tidak mengherankan 3,5 tahun hidup-Nya mempengaruhi dunia daripada puluhan tahun usia para tokoh dunia lainnya. Dialah manusia paling sukses sepanjang sejarah dimana saya dengan bangga hari ini menjadi pengikut dan pelayan-Nya. Adalah kerelaan dan persekutuan-Nya dengan Bapalah, yang membuat Yesus mengetahui dan melaksanakan dengan tepat setiap kehendak ilahi. Melampaui tokoh² agama dan pemimpin rohani di zaman itu, Yesus berjalan dalam kehendak Allah daripada sekedar mengikuti peraturan dan hukum agama. Sama seperti Yesus dengar-dengaran dan dipimpin untuk hidup dalam sepenuh kehendak Bapa, begitu juga kita dipanggil untuk mengenali kehendak Tuhan dalam hidup dan pelayanan kita. Tanpa mengetahui kehendak Allah, kita akan melakukan kehendak kita sendiri walaupun kita berpikir sedang melakukan kehendak Tuhan atau sedang melayani Dia. Dengan mengetahui kehendak Tuhan, jalan kita benar dan berkenan di hadapan-Nya hingga kita sampai pada hasil pengiringan dan pelayanan yang benar. Sampai pada kemuliaan yang kekal. Seberapa banyakkah Anda hidup dalam kehendak Tuhan, menjadikan hidup Anda berhasil dan bermakna di dunia lalu menerima kemuliaan di tempat abadi kelak? #IntropeksiDiri #UjiDanCariKehendakTuhan #JanganPuasDiriRohani #PastikanHidipDalamKehendakNya #BenarVsHampirBenar

No comments:

Post a Comment