SURVIVAL
VS REVIVAL
Survival
x Revival Day 13 – To Experience Revival.
Hakim-Hakim 6:12, “Malaikat
TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian:
‘TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.’”
TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani (ayat 12b).
Seringkali kita anak-anak Tuhan belum menemukan apa IDENTITAS kita
sendiri, seringkali kita tidak “ngeh”
dengan tujuan hidup yang sudah Tuhan taruh dihati kita masing-masing.
Seringkali kita belum mendapatkan PENCERAHAN sehingga kita bingung
dalam menjalani kehidupan ini .
Temukan IDENTITAS diri kita/temukan bahwa kita diciptakan SERUPA
dengan BAPA kita disurga dan Gambar diri kita sudah dipulihkan
melalui karya Yesus diatas kayu salib, seperti Gideon kita adalah
“pahlawan” yang gagah berani. Perjumpaan secara pribadi akan
menuntun kita untuk keluar dari Zona Kegagalan, Zona Bertahan dan
kita Bangkit karena kita tahu siapa diri kita yang sebenarnya. Ada
identitas yang baru .
Amin. Galatia 2:20, “namun
aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan
Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang
di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah
mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
2 Korintus 5:17, “Jadi
siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama
sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SurvivalXRevivalSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Ulangan 20, 21 & 22
PB:
Kisah Para Rasul 15:22-41
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
WM
Stars
KOMUNIKASI.
Seringkali dalam hubungan antar pribadi, bila komunikasi tidak
didasari saling percaya, maka dapat menjadi penyebab terjadinya
konflik. Khususnya dalam hubungan suami istri, komunikasi sering
terjadi tarikan dan bila tidak saling percaya dan integritas akan
menjadi sumber penyebab konflik. Tarikan dalam komunikasi yang
dimaksud adalah antara: mengatakan yang sebenarnya dan mengatakan
yang sepatutnya. Maksudnya ingin mengatakan sejujurnya malah menjadi
salah paham. Untuk menghindari konflik orang cenderung mengatakan
yang sepatutnya agar bisa saling menerima. Demi dijaga hubungan yang
harmonis perlu dijaga keseimbangan dalam komunikasi, harus bijaksana
mana yang perlu dipilih mengatakan yang sebenarnya atau sepatutnya?
Oleh sebab itu perlu membangun saling percaya satu sama lainnya dan
menghindarkan pertikaian. Mari mulai kembali hidup saling ramah satu
sama lain dan hidup penuh kasih mesra. Efesus 4:30-32, “30Dan
janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan
kamu menjelang hari penyelamatan.
31Segala
kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah
dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. 32Tetapi
hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra
dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah
mengampuni kamu.”
Bp.
Anto – Citraland
Ada
sepasang suami isteri tergesa-gesa berlari menuju ke sekoci untuk
menyelamatkan diri, pada saat terjadi kecelakaan yang menimpa sebuah
kapal pesiar yang akan tenggelam. Tetapi saat sampai di sana, mereka
menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa.
*Dengan segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk
mendapatkan tempat itu, sementara sang istri hanya bisa menatap
kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum sekoci menjauh
dan kapal itu benar-benar tenggelam.* Guru yang menceritakan kisah
ini bertanya pada murid-muridnya, menurut kalian, apa yang sang istri
itu teriakkan? Sebagian besar murid-murid itu menjawab : *Aku benci
kamu, egois, nggak tanggung jawab, nggak tau malu.* Tapi ada seorang
murid yang hanya diam saja, dan guru itu meminta murid yang diam itu
menjawab, *Kata si murid, saya yakin si istri pasti berteriak...
Tolong jaga anak kita baik-baik.* Guru itu terkejut dan bertanya, apa
kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya? *Murid itu
menggeleng, belum, tapi itu yang dikatakan oleh ibu saya sebelum dia
meninggal karena penyakit kronis.* Guru itu menatap seluruh kelas dan
berkata, *Jawaban ini benar, kapal itu kemudian benar-benar tenggelam
dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian,* dan
bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu
menemukan buku harian ayahnya, *dia menemukan kenyataan bahwa saat
orang tuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa
sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan akan segera meninggal.*
Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil
satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. *Dan dia menulis di
buku harian itu, betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama
denganmu, isteriku sayang, tapi demi anak kita, terpaksa dengan hati
menangis membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah
sana.* Cerita itu selesai, dan seluruh kelas pun terdiam. Guru itu
tahu bahwa murid-muridnya sekarang mengerti hikmah dari cerita
tersebut, *bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak
sesederhana yang kita pikirkan, ada berbagai macam komplikasi dan
alasan dibaliknya yang kadang sulit dimengerti.* Karena itulah jangan
pernah melihat hanya luarnya saja dan kemudian langsung menghakimi,
apalagi tanpa tahu apa-apa. Mereka yang sering membayar untuk orang
lain bukan berarti kaya, *tapi karena lebih menghargai hubungan
daripada uang.* Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh bukan
karena bodoh, *tapi karena lebih menghargai konsep tanggung jawab.*
Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar bukan karena
bersalah, *tapi karena lebih menghargai orang lain.* Mereka yang
mengulurkan tangan untuk menolongmu bukan karena merasa berhutang,
*tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.* Mereka yang sering
mengontakmu bukan karena tidak punya kesibukan, *tapi karena kamu ada
di dalam hatinya.* *JANGAN MUDAH MENGAMBIL KESIMPULAN KARENA ASUMSI*
Ibu
Caroline – Bandung
Senin,
13 Maret 2017. Bacaan: Kisah Para Rasul 5:1-11. Setahun: Yosua 1-3.
Nas: Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?
Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan
pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar (Kisah Para Rasul
5:9). Kucing yang Luka. Saat masih kecil, saya bermain pencukur kumis
milik Ayah. Salah satu jari saya tergores silet dan darahnya tercecer
di meja rias. Waktu Ibu melihat percikan darah di atas meja, ia
bertanya siapa yang berdarah. “Kucingnya luka main silet,” jawab
saya. “Masa iya kucing main silet?” tanya Ibu. Saya tak bisa
menjawab. Dengan lembut Ibu memeriksa tangan saya dan mendapati luka
itu. Ia membersihkan luka itu dan mengolesinya dengan obat. “Lain
kali kalau luka jangan disembunyikan, ya,” kata Ibu. Kebenaran
adalah salah satu sifat Allah. Jadi apabila kita berbohong, kita
menyakiti hati-Nya. Kebohongan menghancurkan hidup kita. Resep
sederhana agar tidak jatuh ke dalam dosa kebohongan adalah berkatalah
jujur. Tidak seorang pun dapat lolos dari dosa berbohong. Ananias dan
Safira mengira mereka bisa membohongi rasul-rasul dan jemaat.
Keduanya menahan sebagian dari hasil penjualan sebidang tanah (ay.
2). Betul Petrus tidak tahu, tapi Roh Kudus tahu. Mereka bukan
mendustai manusia, tetapi mendustai Allah (ay. 4). Tuhan tidak
menyukai kebohongan dan Dia akan menyingkapkannya. Kalau pun
kebohongan itu tidak terbongkar selama kita hidup, kita tetap harus
bertanggung jawab di hadapan Allah saat pengadilan terakhir. Kalau
kita pernah membohongi seseorang atau beberapa orang dengan alasan
tertentu, akuilah hal itu kepadanya dan kepada Tuhan. Ini perlu
kerendahan hati. Percayalah, saat kita mau mengaku kesalahan, kita
akan merasa lega dan dapat melanjutkan langkah untuk hidup secara
jujur –RTG. KEBOHONGAN MENYESAKKAN HATI; KEJUJURAN MENDATANGKAN
KELEGAAN.
Xavier
Quentin Pranata
“Orang
yang suka menyepelekan orang lain biasanya justru orang yang sepele.”
Xavier Quentin Pranata.
Bp.
Peter – WCS
APAKAH
ANDA BERUSAHA MENCARI DAN MENGETAHUI KEHENDAK TUHAN? Oleh: Peter B,
MA. Banyak yang tidak percaya bahwa kita dapat mengetahui kehendak
Tuhan. Di antara orang-orang percaya sekalipun, kehendak Tuhan bagi
kehidupan pribadi merupakan sesuatu yang asing dan sulit dijangkau.
Karena takut keliru dan belum memiliki pemahaman yang benar akan
jalan-jalan Tuhan, banyak yang berpandangan bahwa kehendak Tuhan itu
sesuatu yang umum saja seperti hidup kudus, rajin beribadah dan
memberi persembahan, tidak berbuat yang jahat dan sebagainya.
Intinya, melakukan apa yang baik dan menjauhi yang jahat selama hidup
di dunia. Sayangnya, itu tidak didukung oleh fakta-fakta Alkitab.
Efesus 5:17 memberitahu kita supaya “… itu janganlah kamu bodoh,
tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Begitupun
pesan rasul dalam Roma 12:1-2 kiat mengindikasikan bukan saja kita
mengetahui kehendak Tuhan namun BAHKAN MEMBEDAKAN BERBAGAI-BAGAI
KEHENDAK TUHAN: yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Kehendak
Tuhan ialah apa yang terbaik yang ada dirancang di pikiran-Nya bagi
iita. Mengetahui kehendak Tuhan dan melangkah dalamnya adalah inti
dan makna keberadaan kita. Seperti Yesus yang datang dan hidup
SEMATA-MATA MELAKUKAN KEHENDAK BAPA-NYA. Tidak mengherankan 3,5 tahun
hidup-Nya mempengaruhi dunia daripada puluhan tahun usia para tokoh
dunia lainnya. Dialah manusia paling sukses sepanjang sejarah dimana
saya dengan bangga hari ini menjadi pengikut dan pelayan-Nya. Adalah
kerelaan dan persekutuan-Nya dengan Bapalah, yang membuat Yesus
mengetahui dan melaksanakan dengan tepat setiap kehendak ilahi.
Melampaui tokoh² agama dan pemimpin rohani di zaman itu, Yesus
berjalan dalam kehendak Allah daripada sekedar mengikuti peraturan
dan hukum agama. Sama seperti Yesus dengar-dengaran dan dipimpin
untuk hidup dalam sepenuh kehendak Bapa, begitu juga kita dipanggil
untuk mengenali kehendak Tuhan dalam hidup dan pelayanan kita. Tanpa
mengetahui kehendak Allah, kita akan melakukan kehendak kita sendiri
walaupun kita berpikir sedang melakukan kehendak Tuhan atau sedang
melayani Dia. Dengan mengetahui kehendak Tuhan, jalan kita benar dan
berkenan di hadapan-Nya hingga kita sampai pada hasil pengiringan dan
pelayanan yang benar. Sampai pada kemuliaan yang kekal. Seberapa
banyakkah Anda hidup dalam kehendak Tuhan, menjadikan hidup Anda
berhasil dan bermakna di dunia lalu menerima kemuliaan di tempat
abadi kelak? #IntropeksiDiri #UjiDanCariKehendakTuhan
#JanganPuasDiriRohani #PastikanHidipDalamKehendakNya
#BenarVsHampirBenar

No comments:
Post a Comment