SURVIVAL
VS REVIVAL
Survival
x Revival Day 6 – Hancurkan Mental Gagal (1).
Hakim-Hakim 6:12-14, “12Malaikat
TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian:
‘TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.‘ 13Jawab
Gideon kepada-Nya: ‘Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa
semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan yang
ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika
mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir?
Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam
cengkeraman orang Midian.‘ 14Lalu
berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: ‘Pergilah dengan
kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang
Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!‘”
Dalam hidup ini pasti ada pergumulan dan tantangan, bagaimana kita
menyikapi pergumulan dan tantangan yang ada? Sikap kita menyikapi
pergumulan dalam hidup menentukan HASIL dalam hidup ini .
Gideon adalah seorang penakut, tetapi saat ia berjumpa dengan Tuhan,
Gideon tidak hanya survive
tetapi mengalami revival/kebangkitan.
Demikian juga dengan kita, kita tidak dibangun untuk menjadi generasi
yang gagal atau juga tidak hanya survive
tetapi kita adalah generasi yang mengalami kebangkitan/revival.
Kepuasan hari ini adalah perangkap hari esok dan apa yang kita
toleransikan dalam hidup ini menjadikan diri kita .
Saat ini bagaimana dengan kita: apakah kita orang yang selalu “gagal”
dan membatasi pikiran kita bahwa kita adalah orang yang selalu gagal?
Atau kita hanya “bertahan”/survive
(lewat
dari masa kegagalan). Atau kita adalah orang-orang yang sudah
BANGKIT/mengalami kebangunan dari setiap kegagalan kita?
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SurvivalXRevival
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Ulangan 1dan 2
PB:
Kisah Para Rasul 10:24-48
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Ibu
Caroline – Bandung
Senin,
6 Maret 2017. Bacaan: Kisah Para Rasul 9:1-18. Setahun: Ulangan
14-16. Nas: Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?” Kata-Nya, “Akulah
Yesus yang kauaniaya itu” (Kisah Para Rasul 9:5). Teraniaya Bersama
Kita. “Mengapa Tuhan tidak turun tangan ketika saya dirampok,
dikeroyok, difitnah, dilecehkan? Bukankah Dia Mahakuasa dan Mahatahu?
Sangat tidak adil! Di mana Tuhan ketika saya dianiaya begitu keji?
Apakah Dia hanya menonton?”. Jeritan hati semacam ini merupakan
reaksi normal dari rasa sakit yang ada kalanya tak tertahankan. Mari
kita renungkan dialog antara Saulus dengan Tuhan. Saat itu, Saulus
terjatuh oleh pancaran cahaya dari langit di tengah perjalanannya ke
Damsyik dalam upayanya menangkap dan menganiaya lebih banyak lagi
murid-murid Tuhan. Ketika Saulus bertanya tentang identitas Tuhan,
Tuhan pun memperkenalkan diri-Nya sebagai Yesus yang Saulus aniaya.
Ajaib. Tuhan bukan sekadar berdiri di sana menonton kita dianiaya.
Yesus pun teraniaya dan turut menderita bersama kita. Tuhan
mengetahui betapa pedihnya hati dan nyerinya tubuh kita karena Dia
telah menjalani semua penderitaan yang kita alami. Mengetahui bahwa
Tuhan turut menderita benar-benar merupakan penghiburan dan kekuatan
buat kita. Tuhan ingin kita bertumbuh dan bukannya terpuruk.
Kemuliaan tersedia bagi kita yang meneladani Kristus ketika
menghadapi penderitaan (2 Kor. 4:17). Saulus yang kemudian dikenal
sebagai Paulus pun sangat memahami makna penderitaan. Sebab dia
sendiri banyak sekali menderita (2 Kor. 11:23-28).Namun justru oleh
penderitaannya, Paulus dibentuk menjadi pribadi yang rendah hati (2
Kor. 11:30), mampu merasakan penderitaan orang lain dan menghibur
mereka (2 Kor. 11:29), serta memuliakan Kristus (Fil. 1:20) –HEM.
KRISTUS BERSAMA KITA DALAM PENDERITAAN KITA. TUHAN MENGUATKAN DAN
MENDEWASAKAN KITA MELALUI PENDERITAAN.

No comments:
Post a Comment