Monday, 6 March 2017

6 Maret 2017

SURVIVAL VS REVIVAL




Survival x Revival Day 6 – Hancurkan Mental Gagal (1). Hakim-Hakim 6:12-14, 12Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: ‘TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.‘ 13Jawab Gideon kepada-Nya: ‘Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian.‘ 14Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: ‘Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!‘” Dalam hidup ini pasti ada pergumulan dan tantangan, bagaimana kita menyikapi pergumulan dan tantangan yang ada? Sikap kita menyikapi pergumulan dalam hidup menentukan HASIL dalam hidup ini . Gideon adalah seorang penakut, tetapi saat ia berjumpa dengan Tuhan, Gideon tidak hanya survive tetapi mengalami revival/kebangkitan. Demikian juga dengan kita, kita tidak dibangun untuk menjadi generasi yang gagal atau juga tidak hanya survive tetapi kita adalah generasi yang mengalami kebangkitan/revival. Kepuasan hari ini adalah perangkap hari esok dan apa yang kita toleransikan dalam hidup ini menjadikan diri kita . Saat ini bagaimana dengan kita: apakah kita orang yang selalu “gagal” dan membatasi pikiran kita bahwa kita adalah orang yang selalu gagal? Atau kita hanya “bertahan”/survive (lewat dari masa kegagalan). Atau kita adalah orang-orang yang sudah BANGKIT/mengalami kebangunan dari setiap kegagalan kita?

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SurvivalXRevival

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Ulangan 1dan 2
PB: Kisah Para Rasul 10:24-48
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

Ibu Caroline – Bandung
Senin, 6 Maret 2017. Bacaan: Kisah Para Rasul 9:1-18. Setahun: Ulangan 14-16. Nas: Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?” Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kisah Para Rasul 9:5). Teraniaya Bersama Kita. “Mengapa Tuhan tidak turun tangan ketika saya dirampok, dikeroyok, difitnah, dilecehkan? Bukankah Dia Mahakuasa dan Mahatahu? Sangat tidak adil! Di mana Tuhan ketika saya dianiaya begitu keji? Apakah Dia hanya menonton?”. Jeritan hati semacam ini merupakan reaksi normal dari rasa sakit yang ada kalanya tak tertahankan. Mari kita renungkan dialog antara Saulus dengan Tuhan. Saat itu, Saulus terjatuh oleh pancaran cahaya dari langit di tengah perjalanannya ke Damsyik dalam upayanya menangkap dan menganiaya lebih banyak lagi murid-murid Tuhan. Ketika Saulus bertanya tentang identitas Tuhan, Tuhan pun memperkenalkan diri-Nya sebagai Yesus yang Saulus aniaya. Ajaib. Tuhan bukan sekadar berdiri di sana menonton kita dianiaya. Yesus pun teraniaya dan turut menderita bersama kita. Tuhan mengetahui betapa pedihnya hati dan nyerinya tubuh kita karena Dia telah menjalani semua penderitaan yang kita alami. Mengetahui bahwa Tuhan turut menderita benar-benar merupakan penghiburan dan kekuatan buat kita. Tuhan ingin kita bertumbuh dan bukannya terpuruk. Kemuliaan tersedia bagi kita yang meneladani Kristus ketika menghadapi penderitaan (2 Kor. 4:17). Saulus yang kemudian dikenal sebagai Paulus pun sangat memahami makna penderitaan. Sebab dia sendiri banyak sekali menderita (2 Kor. 11:23-28).Namun justru oleh penderitaannya, Paulus dibentuk menjadi pribadi yang rendah hati (2 Kor. 11:30), mampu merasakan penderitaan orang lain dan menghibur mereka (2 Kor. 11:29), serta memuliakan Kristus (Fil. 1:20) –HEM. KRISTUS BERSAMA KITA DALAM PENDERITAAN KITA. TUHAN MENGUATKAN DAN MENDEWASAKAN KITA MELALUI PENDERITAAN.

No comments:

Post a Comment