SURVIVAL
VS REVIVAL
Survival
x Revival Day 18 – To Experience Revival: Berlari dengan TUJUAN.
Tentunya ketika kita dipanggil, ada sebuah TUJUAN yang ditetapkan
bagi kita, yaitu untuk hidup berpadanan dengan panggilanNya. Efesus
4:1, “Tentang
semuanya ini, inilah yang aku mau kamu lakukan. Saat aku terkunci
disini, sebagai tahanan bagi Tuhan, aku mau kamu pergi keluar,
berjalan lebih baik lagi, BERLARI! Di jalan yang Allah tetapkan
bagimu untuk dilalui. Aku tidak mau seorangpun daripadamu duduk
berpangku tangan, Aku tidak mau ada yang berjalan-jalan tanpa TUJUAN”
(terjemahan The Message). Bagaimana kita dapat sukses BERLARI dalam
TUJUAN yang Allah berikan bagi kita: fokuskan pandangan kita
karena itu kita perlu belajar memFOKUSkan pandangan kita saat kita
berusaha untuk mencapai TUJUAN Allah bagi kita. Amin .
Ketika kita berFOKUS pada Tuhan dan segalanya yang kita miliki
didalam DIA, maka harta kita yang paling berharga sekalipun tak akan
terlalu memikat hati kita. Ke mana fokus kita tertuju hari ini?
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SurvivalXRevivalSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Ulangan 32, 33 & 34
PB:
Kisah Para Rasul 18
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappyWeekend
#HappyWithUrFam
Ibu
Caroline – Bandung
KERENDAHAN
HATI DALAM HIDUP. Di suatu negara, hiduplah seorang pengusaha besar
yang sederhana, dan takut akan Tuhan. Sebut saja namanya Pak Michael,
yang menjadi orang terkaya di negara itu. Pak Michael memiliki
holding company, yang terdiri dari 200 perusahaan. Beliau sosok yang
“low profile”, sehingga jauh dari kesan pencitraan dari media,
dan sangat berbagi bagi sesama, baik karyawan, penyandang difabel,
orang tua jompo, anak anak terlantar, dan pelajar tidak mampu. Pak
Michael memiliki Yayasan yang membiayai kaum marginal, dan banyak
perusahaannya memiliki tenaga kerja difabel serta mantan narapidana.
Suatu hari, saat Pak Michael yang akan berusia 75 tahun, ia
memutuskan untuk pensiun dini dari jabatannya sebagai “Executive
Chairman” dan memutuskan mencari penggantinya dari kalangan
perusahaan. Untuk mencari penggantinya, syaratnya hanya satu, yaitu
“memiliki kasih kepada sesamanya yang marginal”. Perlu diketahui,
beliau memang memiliki 2 anak, tetapi karena kehidupan mereka yang
suka berfoya-foya, Pak Michael tidak mau memilih salah satu
diantaranya, malah menseleksi dari luar. Setelah berunding dengan
asisten yang dipercayanya, maka Pak Michael menyamar sebagai kaum
marginal, seperti gelandangan dan pengemis. Ia memulai melakukan
penyamaran, dibantu ahli make up wajah, Pak Michael menjelma sebagai
gelandangan dan pengemis yang kelaparan. Sasaran yang dituju, yaitu
kepada 1000 orang direktur di ke-200 perusahaannya, dan memakan waktu
selama 2,5 bulan. Hasilnya nol, 1000 orang direkturnya sama sekali
tidak ada yang peduli kepada sesama, semua memperlakukan Pak Michael,
yang “dipermak” wajahnya, dengan sangat kasar sekali, ada yang
mendorong dan memaki-maki. Adegan penyamaran itu direkam oleh
asistennya yang setia. Pak Michael tidak putus asa, regenerasi harus
tetap berjalan dengan baik. Ia tertarik dengan salah seorang staff
audit internal berusia 33 tahun, bernama Imelda, yang biasa datang ke
kantor jam 07.30 dan pulang jam 19.30 (sedangkan karyawan lain datang
jam 08.00 dan pulang jam 17.00). Imelda selalu mengucapkan salam dan
menuntun Pak Michael saat keluar masuk lift. Sekali lagi, Pak Michael
menyamar sebagai pengemis lapar, dan saat Imelda datang diluar
gerbang kantor pusat perusahaan itu, beliau menjalankan rencananya.
“Ibu, saya lapar, apakah ada sedikit makanan, yang dapat menganjal
perut saya?”, kata Pak Michael. Dengan memapahnya, Imelda
mengeluarkan bekal sarapannya, “Bapak, silakah makan roti ini”,
dan ia juga memberikan sejumlah uang. “Terima kasih, Tuhan pasti
memberikan berkat anugerah-Nya kepadamu”, kata Pak Michael. Sebulan
berlalu, hari itu bertepatan ulang tahun ke-50 holding company, semua
staff dan direksi dikumpulkan di gedung pertemuan. Saat berpidato,
Pak Michael berkata, “Sdri. Imelda dimohon maju kedepan”. Setelah
maju ke depan, beliau berkata “Sdri. Imelda akan menggantikan saya
sebagai Executive Chairman, setelah saya pensiun dan hanya sebagai
penanam saham saja”. Mendengar kata kata Pak Michael, seluruh
ruangan menjadi gaduh, ada yang berkata tidak adil, semuanya
bersungut sungut, dan Imelda pun menjadi bingung. Setelah diputar
rekaman, semua direktur holding tersebut menunduk malu, bagaimana
memperlakukan “bigbossnya” dengan kasar, dan sebaliknya Imelda
dengan penuh cinta kasih. Pak Michael berkata, “50 tahun saya
membangun perusahaan ini dengan penuh kasih dan dengan misi visi,
menjadi berkat bagi banyak orang, tanpa memandang latar belakangnya,
siapapun dia harus diperlakukan dengan kasih, maka hari ini ada staff
sederhana bernama Imelda yang lebih peduli kepada sesamanya daripada
ke-200 direktur perusahaan ini”. Sesudah itu, Pak Michael menuju
rumah Imelda dipinggir ibukota itu, sebuah rumah kontrakan yang
kecil. Setelah masuk, terdapat 3 kamar tidur, dimana terdiri dari
kamar ibu kandung Imelda yang lumpuh dan dibantu seorang suster.
Kamar tidur kedua, dihuni oleh 2 anak yatim piatu, dimana kedua orang
tua mereka meninggal karena kecelakaan, dan kamar tidur ketiga milik
Imelda. Pak Michael tertarik kepada sebuah ruangan kecil dipojok
rumah itu. Setelah dibuka, hanya ada 1 meja, 1 kursi, dan Alkitab
besar. Imelda menjelaskan, “Pak Michael, Alkitab ini, saya beli
dari gaji pertama, saat saya bekerja di perusahaan milik Bapak, 5
tahun yang lalu”. Imelda juga berkata, “Karena saya harus
menanggung biaya pengobatan mama dan biaya sekolah kedua anak itu,
tunangan saya meninggalkan saya tepat 2 minggu sebelum pernikahan
kami”. Pak Michael berkata dengan rasa haru, “Imelda, saya sangat
kagum, engkau seorang pekerja keras, tulang punggung keluarga, dan
takut akan Tuhan, pilihanku menjadikanmu penggantiku sudah tepat”.
Kemudian Pak Michael menjabarkan semua fasilitas yang diberikan
holding company sebagai Executive Chairman, baik gaji, tunjangan,
rumah dinas, dan mobil dinas. Pak Michael mengajak Imelda kedua rumah
dinas yang sangat mewah, dan strategis di kota itu, lengkap dengan
mobil build up. Imelda berkata, “Pak Michael, saya tidak memerlukan
semuanya, cukup dengan kebebasan dan rumah kontrakan kecil, kami
sangat bersyukur atas anugerah Tuhan”. Pak Michael berkata lagi,
“Imelda, semua fasilitas ini sudah ditentukan holding, terimalah.”
Imelda yang dipercaya sebagai “Executive Chairman”, menjalankan
holding company dengan sangat baik dan Pak Michael dapat menikmati
hari tua dengan bahagia. Apa yang dapat kita petik dari kisah diatas?
1.
Baik Pak Michael maupun Imelda, walaupun berbeda status sosial,
keduanya memiliki karakter rendah hati dan kasih.
2.
Dalam Masa Pra Paskah, sangat diperlukan “Pengosongan Diri”,
sebab “kedagingan” sangat lemah.
3.
Di era saat ini, kesetaraan gender antara pria dan wanita diutamakan,
semuanya dapat berperan aktif disegala bidang.
4.
Ayat yang mendasari yaitu Filipi 4:12, “Aku tahu apa itu kekurangan
dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala
perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam
hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan
maupun hal kekurangan”.
5.
Bagi kita yang lemah tubuh, sakit penyakit, dan hidup dalam
kesulitan, yakinlah Tuhan akan selalu menyertai kita dengan Cinta
Kasih-Nya yang luar biasa. Tuhan memberkati kita semua. Renungan ini
ditulis dalam rangka menyambut Paskah dan Hari Perempuan Sedunia yang
diperingati setiap 8 Maret. Thank you Ching dan Ci Yun and morning
sisters. Gbu and enjoy your weekend.
Ibu
Caroline – Bandung
Teguran
dan hajaran yang dialami, kiranya tidak membuat ciut hati dan
mengeluh bahwa Allah itu tidak adil, sebaliknya bersuka cita dan
bersyukurlah, sebab kasihNya sedang mendidik kita agar hidup dalam
kebenaranNya »IHT«. Ibrani 12:6 – karena Tuhan menghajar orang
yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai
anak. Sudah menjadi tradisi sejak jaman adam dan hawa bahwa manusia
sulit untuk mengakui kesalahan dan dosanya, demikian pula kita.
Mazmur 66:18 – Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah
Tuhan tidak mau mendengar. Setiap dosa pasti akan menjadi penghalang,
karena Tuhan begitu mengasihi kita maka Dia perlu menghajar dan
mendidik agar kita hidup dalam kebenaranNya, sehingga Dia bebas untuk
menjawab segala doa doa kita. 1 Yohanes 2:2 – Dan Ia adalah
pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja,
tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. Percaya dan memiliki Yesus,
mengubah status kita menjadi anak anak Allah, sebagai anakNya Dia
tidak akan segan segan mengajar dan mendidik kita hidup dalam
kebenaranNya. 1 Yohanes 2:1 – Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan
kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang
berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu
Yesus Kristus, yang adil.
Madam
Ossy
Sabtu,
18 Maret 2017. Bacaan: 1 Raja-raja 19:19-21. Setahun: Yosua 14-16.
Nas: Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu
itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu
sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya,
kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia... (1 Raja-raja
19:21). Komitmen Total. Seorang teman ditawari bekerja sebagai
pengajar. Membayangkan betapa menyenangkan dihormati oleh para
mahasiswa, ia ingin sekali menerima tawaran itu. Tetapi, mengingat
honornya yang minim, ia gamang. Ia menjawab, “Saya mau mengajar di
luar jam kerja pekerjaan saya yang sekarang!” Rasa takut dan
khawatir sering menghantui saat kita harus melakukan hal baru dan
meninggalkan kebiasaan lama. Elisa melewati peralihan itu dengan
baik. Alih-alih khawatir akan masa depan yang tak jelas bersama Elia,
ia menyembelih sapi-sapinya dan menggunakan kayu bajak sebagai kayu
api untuk memasak dagingnya. Elisa pun membagi-bagikan daging itu
kepada anak buahnya dan memakannya. Kemudian ia mengikut Elia sebagai
pelayannya. Dengan komitmen total itu, Elisa merelakan segala
miliknya untuk menjalani kehidupan yang baru. Ada konsekuensi yang
harus ditanggung oleh setiap pengikut Kristus. Jika kita
mengikuti-Nya berdasarkan luapan emosi, bisa jadi keputusan itu tidak
mantap dan berbahaya. Bayangkan, misalnya, seseorang mengikut Tuhan
karena ingin diberkati secara jasmani. Atau, orang melayani karena
mengira semua warga gereja itu orang baik. Besar kemungkinan ia
kecewa, mungkin malah undur dari Tuhan. Untuk berkomitmen total,
setiap orang perlu mengalami Tuhan secara pribadi. Kita dapat
bersaksi dan memotivasinya, namun orang itu sendiri harus tergerak
oleh Roh Kudus. Dengan itu, ia mengenal siapa yang diikuti-Nya dan
siap menanggung konsekuensi apa pun –EBL. KETIKA MENERIMA INJIL,
SESEORANG PERLU SIAP MENANGGUNG KONSEKUENSINYA.

No comments:
Post a Comment