Saturday, 18 March 2017

18 Maret 2017

SURVIVAL VS REVIVAL




Survival x Revival Day 18 – To Experience Revival: Berlari dengan TUJUAN. Tentunya ketika kita dipanggil, ada sebuah TUJUAN yang ditetapkan bagi kita, yaitu untuk hidup berpadanan dengan panggilanNya. Efesus 4:1, “Tentang semuanya ini, inilah yang aku mau kamu lakukan. Saat aku terkunci disini, sebagai tahanan bagi Tuhan, aku mau kamu pergi keluar, berjalan lebih baik lagi, BERLARI! Di jalan yang Allah tetapkan bagimu untuk dilalui. Aku tidak mau seorangpun daripadamu duduk berpangku tangan, Aku tidak mau ada yang berjalan-jalan tanpa TUJUAN” (terjemahan The Message). Bagaimana kita dapat sukses BERLARI dalam TUJUAN yang Allah berikan bagi kita: fokuskan pandangan kita karena itu kita perlu belajar memFOKUSkan pandangan kita saat kita berusaha untuk mencapai TUJUAN Allah bagi kita. Amin . Ketika kita berFOKUS pada Tuhan dan segalanya yang kita miliki didalam DIA, maka harta kita yang paling berharga sekalipun tak akan terlalu memikat hati kita. Ke mana fokus kita tertuju hari ini?

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SurvivalXRevivalSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Ulangan 32, 33 & 34
PB: Kisah Para Rasul 18
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappyWeekend
#HappyWithUrFam

Ibu Caroline – Bandung
KERENDAHAN HATI DALAM HIDUP. Di suatu negara, hiduplah seorang pengusaha besar yang sederhana, dan takut akan Tuhan. Sebut saja namanya Pak Michael, yang menjadi orang terkaya di negara itu. Pak Michael memiliki holding company, yang terdiri dari 200 perusahaan. Beliau sosok yang “low profile”, sehingga jauh dari kesan pencitraan dari media, dan sangat berbagi bagi sesama, baik karyawan, penyandang difabel, orang tua jompo, anak anak terlantar, dan pelajar tidak mampu. Pak Michael memiliki Yayasan yang membiayai kaum marginal, dan banyak perusahaannya memiliki tenaga kerja difabel serta mantan narapidana. Suatu hari, saat Pak Michael yang akan berusia 75 tahun, ia memutuskan untuk pensiun dini dari jabatannya sebagai “Executive Chairman” dan memutuskan mencari penggantinya dari kalangan perusahaan. Untuk mencari penggantinya, syaratnya hanya satu, yaitu “memiliki kasih kepada sesamanya yang marginal”. Perlu diketahui, beliau memang memiliki 2 anak, tetapi karena kehidupan mereka yang suka berfoya-foya, Pak Michael tidak mau memilih salah satu diantaranya, malah menseleksi dari luar. Setelah berunding dengan asisten yang dipercayanya, maka Pak Michael menyamar sebagai kaum marginal, seperti gelandangan dan pengemis. Ia memulai melakukan penyamaran, dibantu ahli make up wajah, Pak Michael menjelma sebagai gelandangan dan pengemis yang kelaparan. Sasaran yang dituju, yaitu kepada 1000 orang direktur di ke-200 perusahaannya, dan memakan waktu selama 2,5 bulan. Hasilnya nol, 1000 orang direkturnya sama sekali tidak ada yang peduli kepada sesama, semua memperlakukan Pak Michael, yang “dipermak” wajahnya, dengan sangat kasar sekali, ada yang mendorong dan memaki-maki. Adegan penyamaran itu direkam oleh asistennya yang setia. Pak Michael tidak putus asa, regenerasi harus tetap berjalan dengan baik. Ia tertarik dengan salah seorang staff audit internal berusia 33 tahun, bernama Imelda, yang biasa datang ke kantor jam 07.30 dan pulang jam 19.30 (sedangkan karyawan lain datang jam 08.00 dan pulang jam 17.00). Imelda selalu mengucapkan salam dan menuntun Pak Michael saat keluar masuk lift. Sekali lagi, Pak Michael menyamar sebagai pengemis lapar, dan saat Imelda datang diluar gerbang kantor pusat perusahaan itu, beliau menjalankan rencananya. “Ibu, saya lapar, apakah ada sedikit makanan, yang dapat menganjal perut saya?”, kata Pak Michael. Dengan memapahnya, Imelda mengeluarkan bekal sarapannya, “Bapak, silakah makan roti ini”, dan ia juga memberikan sejumlah uang. “Terima kasih, Tuhan pasti memberikan berkat anugerah-Nya kepadamu”, kata Pak Michael. Sebulan berlalu, hari itu bertepatan ulang tahun ke-50 holding company, semua staff dan direksi dikumpulkan di gedung pertemuan. Saat berpidato, Pak Michael berkata, “Sdri. Imelda dimohon maju kedepan”. Setelah maju ke depan, beliau berkata “Sdri. Imelda akan menggantikan saya sebagai Executive Chairman, setelah saya pensiun dan hanya sebagai penanam saham saja”. Mendengar kata kata Pak Michael, seluruh ruangan menjadi gaduh, ada yang berkata tidak adil, semuanya bersungut sungut, dan Imelda pun menjadi bingung. Setelah diputar rekaman, semua direktur holding tersebut menunduk malu, bagaimana memperlakukan “bigbossnya” dengan kasar, dan sebaliknya Imelda dengan penuh cinta kasih. Pak Michael berkata, “50 tahun saya membangun perusahaan ini dengan penuh kasih dan dengan misi visi, menjadi berkat bagi banyak orang, tanpa memandang latar belakangnya, siapapun dia harus diperlakukan dengan kasih, maka hari ini ada staff sederhana bernama Imelda yang lebih peduli kepada sesamanya daripada ke-200 direktur perusahaan ini”. Sesudah itu, Pak Michael menuju rumah Imelda dipinggir ibukota itu, sebuah rumah kontrakan yang kecil. Setelah masuk, terdapat 3 kamar tidur, dimana terdiri dari kamar ibu kandung Imelda yang lumpuh dan dibantu seorang suster. Kamar tidur kedua, dihuni oleh 2 anak yatim piatu, dimana kedua orang tua mereka meninggal karena kecelakaan, dan kamar tidur ketiga milik Imelda. Pak Michael tertarik kepada sebuah ruangan kecil dipojok rumah itu. Setelah dibuka, hanya ada 1 meja, 1 kursi, dan Alkitab besar. Imelda menjelaskan, “Pak Michael, Alkitab ini, saya beli dari gaji pertama, saat saya bekerja di perusahaan milik Bapak, 5 tahun yang lalu”. Imelda juga berkata, “Karena saya harus menanggung biaya pengobatan mama dan biaya sekolah kedua anak itu, tunangan saya meninggalkan saya tepat 2 minggu sebelum pernikahan kami”. Pak Michael berkata dengan rasa haru, “Imelda, saya sangat kagum, engkau seorang pekerja keras, tulang punggung keluarga, dan takut akan Tuhan, pilihanku menjadikanmu penggantiku sudah tepat”. Kemudian Pak Michael menjabarkan semua fasilitas yang diberikan holding company sebagai Executive Chairman, baik gaji, tunjangan, rumah dinas, dan mobil dinas. Pak Michael mengajak Imelda kedua rumah dinas yang sangat mewah, dan strategis di kota itu, lengkap dengan mobil build up. Imelda berkata, “Pak Michael, saya tidak memerlukan semuanya, cukup dengan kebebasan dan rumah kontrakan kecil, kami sangat bersyukur atas anugerah Tuhan”. Pak Michael berkata lagi, “Imelda, semua fasilitas ini sudah ditentukan holding, terimalah.” Imelda yang dipercaya sebagai “Executive Chairman”, menjalankan holding company dengan sangat baik dan Pak Michael dapat menikmati hari tua dengan bahagia. Apa yang dapat kita petik dari kisah diatas?
1. Baik Pak Michael maupun Imelda, walaupun berbeda status sosial, keduanya memiliki karakter rendah hati dan kasih.
2. Dalam Masa Pra Paskah, sangat diperlukan “Pengosongan Diri”, sebab “kedagingan” sangat lemah.
3. Di era saat ini, kesetaraan gender antara pria dan wanita diutamakan, semuanya dapat berperan aktif disegala bidang.
4. Ayat yang mendasari yaitu Filipi 4:12, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun hal kekurangan”.
5. Bagi kita yang lemah tubuh, sakit penyakit, dan hidup dalam kesulitan, yakinlah Tuhan akan selalu menyertai kita dengan Cinta Kasih-Nya yang luar biasa. Tuhan memberkati kita semua. Renungan ini ditulis dalam rangka menyambut Paskah dan Hari Perempuan Sedunia yang diperingati setiap 8 Maret. Thank you Ching dan Ci Yun and morning sisters. Gbu and enjoy your weekend.

Ibu Caroline – Bandung
Teguran dan hajaran yang dialami, kiranya tidak membuat ciut hati dan mengeluh bahwa Allah itu tidak adil, sebaliknya bersuka cita dan bersyukurlah, sebab kasihNya sedang mendidik kita agar hidup dalam kebenaranNya »IHT«. Ibrani 12:6 – karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Sudah menjadi tradisi sejak jaman adam dan hawa bahwa manusia sulit untuk mengakui kesalahan dan dosanya, demikian pula kita. Mazmur 66:18 – Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar. Setiap dosa pasti akan menjadi penghalang, karena Tuhan begitu mengasihi kita maka Dia perlu menghajar dan mendidik agar kita hidup dalam kebenaranNya, sehingga Dia bebas untuk menjawab segala doa doa kita. 1 Yohanes 2:2 – Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia. Percaya dan memiliki Yesus, mengubah status kita menjadi anak anak Allah, sebagai anakNya Dia tidak akan segan segan mengajar dan mendidik kita hidup dalam kebenaranNya. 1 Yohanes 2:1 – Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.

Madam Ossy
Sabtu, 18 Maret 2017. Bacaan: 1 Raja-raja 19:19-21. Setahun: Yosua 14-16. Nas: Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia... (1 Raja-raja 19:21). Komitmen Total. Seorang teman ditawari bekerja sebagai pengajar. Membayangkan betapa menyenangkan dihormati oleh para mahasiswa, ia ingin sekali menerima tawaran itu. Tetapi, mengingat honornya yang minim, ia gamang. Ia menjawab, “Saya mau mengajar di luar jam kerja pekerjaan saya yang sekarang!” Rasa takut dan khawatir sering menghantui saat kita harus melakukan hal baru dan meninggalkan kebiasaan lama. Elisa melewati peralihan itu dengan baik. Alih-alih khawatir akan masa depan yang tak jelas bersama Elia, ia menyembelih sapi-sapinya dan menggunakan kayu bajak sebagai kayu api untuk memasak dagingnya. Elisa pun membagi-bagikan daging itu kepada anak buahnya dan memakannya. Kemudian ia mengikut Elia sebagai pelayannya. Dengan komitmen total itu, Elisa merelakan segala miliknya untuk menjalani kehidupan yang baru. Ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh setiap pengikut Kristus. Jika kita mengikuti-Nya berdasarkan luapan emosi, bisa jadi keputusan itu tidak mantap dan berbahaya. Bayangkan, misalnya, seseorang mengikut Tuhan karena ingin diberkati secara jasmani. Atau, orang melayani karena mengira semua warga gereja itu orang baik. Besar kemungkinan ia kecewa, mungkin malah undur dari Tuhan. Untuk berkomitmen total, setiap orang perlu mengalami Tuhan secara pribadi. Kita dapat bersaksi dan memotivasinya, namun orang itu sendiri harus tergerak oleh Roh Kudus. Dengan itu, ia mengenal siapa yang diikuti-Nya dan siap menanggung konsekuensi apa pun –EBL. KETIKA MENERIMA INJIL, SESEORANG PERLU SIAP MENANGGUNG KONSEKUENSINYA.

No comments:

Post a Comment