Sunday, 26 March 2017

26 Maret 2017

SURVIVAL VS REVIVAL




Survival x Revival Day 26 – BANGKIT: WaktuNya Membangun Rumah Tuhan (Hagai 1: 1-14). Keadaan Bangsa Israel tidak baik saat membiarkan rumah Tuhan menjadi reruntuhan karena mereka masing-masing sibuk dengan rumahnya sendiri. Mereka berkata belum waktunya untuk membangun rumah Tuhan. Akibatnya segala upaya mereka menjadi sia-sia: Menabur banyak, tetapi menuai serba sedikit. Makan banyak tetapi tidak sampai kenyang.Minum banyak tetapi tidak sampai puas. Berpakaian berlapis-lapis namun badannya tidak menjadi panas. Mereka bekerja untuk untuk mendapatkan upah tetapi upahnya segera habis seperti ditaruh di dalam pundi-pundi yang berlubang. Itulah kondisi orang Israel saat itu. Bagaimana Respon Zerubabel bin Sealtiel, Yosua bin Yozadak dan bangsa Israel saat mendengar Firman Tuhan yang disampaikan oleh Nabi Hagai?? Baca ayat 12-14, 12Lalu Zerubabel bin Sealtiel dan Yosua bin Yozadak, imam besar, dan selebihnya dari bangsa itu mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan juga perkataan nabi Hagai, sesuai dengan apa yang disuruhkan kepadanya oleh TUHAN, Allah mereka; lalu takutlah bangsa itu kepada TUHAN. 13Maka berkatalah Hagai, utusan TUHAN itu, menurut pesan TUHAN kepada bangsa itu, demikian: ‘Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN.’ 14TUHAN menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari bangsa itu, maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka.” Amin. Kalau kita bangkit/fokus bekerja untuk membangun rumah Tuhan dan bukan kepada guncangan yang terjadi, maka tujuan dari guncangan yang terjadi agar kekayaan bangsa-bangsa mengalir ke dalam rumah Tuhan (Hagai 2:8). Jadi rumah Tuhan harus bersiap diri untuk menerimanya. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SurvivalXRevivalSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yosua 22, 23, 24
PB: Kisah Para Rasul 23:1-11
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappySunday
#HappyServingGod

Bp. Anto – Citraland
Saya mengajak saudara mengucapkan kata-kata ini hari ini: “I will face my future with faith, for I have God beside me” (Saya akan menghadapi hari esok dengan iman, karena saya mempunyai Allah yang ada di samping saya) --Robert Schuller. Selamat beribadah Minggu Cik SiuSiang.

Bp. Peter – WCS
*MENJADI MURID* Oleh: Peter B, MA.
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/03/menjadi-murid-1.html
Menjadi murid adalah bagian dari mengiring Yesus. Ia menghendaki kita mengikuti teladan-Nya dan menjadi murid-murid-Nya. Kerumunan massa yang banyak itu tidak menarik minat-Nya. Simpatisan yang bergerombol di sekeliling-Nya tak membuat hati-Nya berbunga. Apalagi yang sekedar mencari Dia untuk mendapatkan sesuatu dari-Nya. Ya, Ia berbelas kasihan pada mereka. Siapa saja yang percaya dijamah dan ditolong-Nya. Mujizat-mujizat dilakukan-Nya bagi mereka. Tapi Yesus mencari yang lebih dari itu. Ia mencari pengikut-pengikut. Yang setia dan mau melanjutkan pekerjaan dan meneruskan ajaran-Nya. Ia mencari murid-murid. Keempat Injil menyebutkan sangat banyak mengenai murid-murid. Yesus memanggil secara khusus ke-12 murid-Nya. Dan hampir keseluruhan Injil merupakan catatan mengenai interaksi Yesus dengan para murid-Nya, yang kemudian direkam dan dicatat oleh murid-murid-Nya itu. Melalui murid-murid Yesus pula kita memiliki Injil bahkan Alkitab Perjanjian Baru kita. Dan melalui murid-murid Yesus jugalah berita Injil dengan segala kedalaman serta kemuliaan ajaran Kristus kita terima dan ikuti hingga kini. Murid-murid adalah bagian penting dari kekristenan. Tokoh-tokoh utama dalam kegerakan Tuhan waktu demi waktu hingga akhir segala zaman dan sampai Yesus Kristus datang kedua kalinya. Saya percaya murid-murid Kristus yang sejatilah yang memastikan tempat mereka di sorga sebab seumur hidup mereka telah menjadikan panggilan dan pilihan Tuhan dalam hidup mereka semakin teguh dan tak tergoyahkan (2 Pet. 1:3-11) oleh karena komitmen mereka pada ajaran Kristus dan karena mereka mengikut Dia kemanapun Ia pergi dan berada. Menjadi murid Tuhan ialah salah satu tahap panggilan utama dalam hidup kita. Setiap orang percaya dikehendaki-Nya melangkah lebih lanjut menjadi murid-murid Sang Mesias. Menjadi murid berarti mengambil keputusan untuk mengikut Dia dan meneladani kehidupan-Nya. Menjadi orang yang menetapkan iman dan hatinya untuk meninggalkan segala sesuatu lalu mempercayakan hidup untuk melakukan kehendak Bapa. Mengikuti teladan kehidupan Yesus, hidup para murid tidak pernah sama lagi. Bukan saja menjadi ciptaan baru tetapi benar-benar hidup sebagai manusia-manusia yang baru yang menjalani cara dan hidup yang berbeda dengan dunia yang belum mengenal Allah. Hidup para murid dibaharui sehari demi sehari makin serupa dengan Sang Guru Agung mereka, Yesus Kristus. Patut disayangkan bila kekristenan modern nyatanya cukup puas dengan tahap orang-orang Kristen sebagai “orang percaya”. Meskipun Tuhan menghargai setiap orang yang datang kepada-Nya, namun menerima panggilan Tuhan dan hidup dalam panggilan mengikut Tuhan jelas sesuatu yang berbeda. Percaya pada ketuhanan Kristus dengan mempercayakan diri lalu tunduk pada ketuhanan Kristus bukan satu hal yang sama. Orang-orang percaya melewati berbagai hal dapat kembali menjadi orang-orang yang tidak percaya atau murtad. Namun murid Kristus selangkah lebih maju. Bagaikan akar tanaman yang mendesak masuk lebih dalam menembus ke dalam tanah, begitulah para murid di pemandangan Tuhan. Meskipun seorang murid dapat undur, namun prosesnya tidak semudah mereka yang sekedar mengaku percaya. Menjadi murid adalah langkah awal menikmati sebuah perjalanan penuh petualangan yang baru dan luar biasa di dalam Tuhan. Murid-murid sangat berharga bagi Tuhan dan juga bagi hamba-hamba-Nya yang dahulu pernah dimuridkan. Seperti yang Paulus katakan, “Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi — dan memang sungguh-sungguh demikian — sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya. “Sebab kamu, saudara-saudara, telah menjadi penurut jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu segala sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi. _Sebab siapakah PENGHARAPAN kami atau SUKACITA kami atau MAHKOTA KEMEGAHAN kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu? Sungguh, kamulah KEMULIAAN kami dan SUKACITA kami” (1 Tes. 2:13-14,19-20). Persoalannya, di era penyesatan besar-besaran ini, banyak orang merasa dan memandang dirinya telah menjadi murid Kristus. Beberapa memang murid sejati. Sebagian yang lain adalah murid-murid palsu, yang mengaku-ngaku sebagai murid Tuhan -entah mereka sengaja maupun tidak. Oleh sebab itu, adalah penting untuk memastikan bahwa diri kita adalah murid sejati. Yesaya 50:4 memberikan beberapa petunjuk kepada kita mengenai bagaimana seorang murid itu. “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Ada dua bagian yang disebut murid di sana. Pertama “lidah seorang murid” lalu “mendengar seperti seorang murid”. Apa yang dimaksud dalam nats di atas sebenarnya cukup sulit dipahami. Namun dengan melihat beberapa terjemahan Alkitab yang lain, pesannya akan terlihat makin terang. Seperti misalnya Terjemahan Lama Bahasa Indonesia menyebutkan “lidah seorang murid” diterjemahkan sebagai “lidah orang fasih” atau “kemampuan menjadi juru bicara Tuhan” (dalam terjemahan New English Translation/NET) dan “lidah orang-orang yang diajar” (dalam terjemahan Authorized Standard Version/ASV). Begitu pula frasa “mendengar seperti seorang murid” diterjemahkan sebagai “mendengar seperti orang yang diajarkan” (TL), “mendengarkan dengan penuh perhatian seperti seorang murid” (NET) dan “mendengar seperti orang-orang yang telah diajar” (ASV). Jadi, “lidah seorang murid” memiliki pengertian: “lidah yang terpelajar, berhikmat, yang perkataan-perkataannya tidak sembarangan dan asal bunyi, yang lahir dari suatu proses diajar dan belajar, yang kemudian perkataan-perkataan itu memberikan kekuatan dan semangat bagi yang letih lesu dalam hidupnya”. Dengan kata lain, inilah perkataan yang membawa berkat, yang membangkitkan jiwa dan roh yang lemah sehingga dikuatkan kembali dalam Tuhan melalui apa yang disampaikannya itu. Lidah yang demikian lahir dan merupakan hasil dari “telinga yang terbuka, terjaga, yang ditajamkan oleh Tuhan; yang mau diajar oleh Tuhan; yang sebelumnya telah menempatkan dirinya tiap-tiap hari sebagai seorang murid”. Sebelum membahas lebih jauh mengenai hubungan frasa-frasa itu, kita dapat melihat poin-poin penting yang dapat kita pelajari di sini:
*1. SEORANG MURID ADALAH SEORANG YANG BELAJAR. DAN MURID TERBAIK ADALAH MURID YANG PALING GIAT BELAJAR.*
Setelah menjadi percaya, kita melangkah dalam tahap rohani selanjutnya sebagai murid Yesus. Bahkan masih ada tahap-tahap yang lain setelah itu. Rick Joyner mengatakan bahwa tahapan dalam proses mengikut Yesus ada lima tingkatan: menjadi petobat atau orang percaya, menjadi murid, menjadi hamba, menjadi sahabat Tuhan dan puncaknya menjadi anak yang serupa dengan Bapanya. Ketika kita melangkah maju atau naik dalam tiap tahapan, kita tidak berhenti melakukan tahap sebelumnya. Bagaikan anak tangga yang harus dinaiki setingkat demi setingkat, tahap sebelumnya harus tetap ada (dalam hal ini tetap dikerjakan) karena merupakan dasar bagi tahap selanjutnya. Oleh karena itu, ketika menjadi murid, kita tidak berhenti menjadi orang percaya. Kita tetap orang percaya yang sekarang menjalani kehidupan seorang murid. Dan ketika kita melangkah lebih jauh untuk menjalani kehidupan seorang hamba (bukan menjadi pendeta tapi cara hidup seorang hamba, lihat 1 Korintus 7:22b) kita tidak berhenti menjadi murid tetapi kita kini menjadi murid yang hidup menghamba pada Tuhan. Dan seterusnya. Seorang murid ditandai dengan ciri utama yaitu BELAJAR. Dan selama kita mengikut Kristus, kita yang adalah seorang murid dan tidak pernah berhenti menjadi seorang murid, seharusnya TIDAK PERNAH BERHENTI UNTUK BELAJAR. Menjadi seorang murid berarti memiliki sikap hati dan gaya hidup yang bersedia untuk belajar, diajar, dituntun, diarahkan dan dibimbing oleh Tuhan demi mengenal dan memahami jalan-jalan-Nya. Sikap ini tidak boleh berubah atau mengalami penurunan selagi proses pengenalan kita akan Tuhan terus berlangsung. Dan karena mustahil kita dapat memahami keseluruhan pribadi Tuhan maupun jalan-jalan-Nya, maka sesungguhnya TIDAK AKAN PERNAH ADA KATA CUKUP ATAU SELESAI DALAM HAL MENJADI PEMBELAJAR DAN MURID. Dengan kata lain, tidak boleh terjadi ada orang yang merasa dirinya telah cukup pandai, telah lulus, telah banyak tahu dan paham secara tuntas dalam perkara-perkara rohani yang berhubungan dengan Tuhan kita lalu merasa tidak perlu belajar lagi, tidak perlu mendengarkan pengajaran atau nasihat-nasihat dari orang lain, atau lebih lanjut lagi merasa lebih tahu, lebih mengerti dan lebih paham sehingga menuntut orang lain harus tunduk dan taat pada apa yang diajarkan dan disampaikannya! Kita semua adalah murid Kristus. Hanya saja, pertumbuhan kita berbeda-beda. Namun semakin pesat pertumbuhan kita, jika kita memang benar-benar murid sejati, maka Roh Kristus itupun seharusnya nyata di dalam kita dan tampak melalui hidup kita. Itulah roh kerendahan hati. Seperti Bapa, Yesus dan Roh Kudus yang mencipta dan berkuasa atas semesta namun memilih menjangkau dan melayani kita, maka roh kerendahan hati yang sama akan dimiliki murid-murid sejati-Nya. Semakin rohani kita bertumbuh secara benar maka semakin nyata rupa Kristus itu dalam hidup kita. Dan sebagai murid kita harus dengan rendah hati bersedia belajar dari siapapun dan apapun yang Tuhan pakai untuk mendidik dan mengajar kita. Entah itu dari orang yang lebih muda, anak-anak sekalipun atau dari seorang pelayan Tuhan yang tampak biasa bahkan dari orang yang baru bertobat sekalipun. Jika kita memilih-milih cara kita belajar dan diajar, jelas hati seorang murid belum terbentuk dalam diri kita. Seorang murid senantiasa membawa hati yang siap dan terbuka untuk diajar. Ia akan belajar dari gurunya melalui berbagai sarana yang dipakai oleh sang guru untuk mendidiknya. Entah belajar dalam kelas atau di luar kelas, di ruang laboratorium atau di lapangan sekolah, mengerjakan PR atau mendengarkan presentasi -semuanya harus diikuti seorang murid dengan seksama supaya ia menyerap ilmu yang sedang diajarkan. Sikap hati seorang murid dalam prakteknya - yang juga merupakan ciri-ciri murid sejati - nyata dalam hal-hal berikut ini: ia tidak merasa dirinya tahu atau telah mampu; ia tidak berpikir untuk membantah atau segera meragukan pelajaran yang diterimanya; ia memberikan telinganya untuk mendengarkan sebaik-baiknya untuk dapat mencerna dan mempelajari apa yang hendak disampaikan kepadanya; ia merendahkan diri sampai pada posisi dimana ia siap untuk diajari, bukan untuk berdebat, berbantah-bantahan atau bahkan balik mengajari gurunya; ia bersedia mengikuti proses belajar dengan penuh kerelaan dan kesungguhan karena ia percaya pada gurunya; ketika ia tidak mengerti atau belum memahami apa yang diajarkan kepadanya, ia akan terus mempelajarinya lebih lanjut. Jika kemudian ia tetap belum menangkap yang dimaksudkan, ia akan bertanya dengan cara yang penuh hormat dan sikap rendah hati penuh penundukan supaya sampai ia terasa menyalahkan atau merendahkan gurunya. Dan guru yang baik akan menjawab dengan senang hati karena guru yang baik bersuka melihat kerinduan untuk belajar dari muridnya itu. Selesai menerima pelajaran, ia tidak berdiam diri melainkan terus memperdalam dengan merenungkan bahkan mempraktekkan apa yang telah dipelajari itu supaya pengetahuan yang diperolehnya menjadi bagian hidupnya dan ia kemudian menjadi sama dengan gurunya. Kerelaan dan semangat kita untuk menerima pengajaran menentukan kualitasnya sebagai seorang murid. Murid yang baik dan yang akan berhasil ialah ia yang menaruh perhatian yang besar pada apa yang diajarkan dan dipelajarinya. Ketaatan dan penundukan diri pada sang guru ialah kunci untuk menjadi murid yang mewarisi pengetahuan, ilmu dan kemampuan dari sang guru. Demikian pula jika kita ingin menjadi seperti Guru Agung kita, maka kesungguhan kita untuk dengar-dengaran akan Dia lalu mengikuti pimpinan dan teladannya harus nyata dalam kehidupan batin yang juga ditampakkan dari sikap hidup sehari-hari yang mencerminkan ajaran dan nilai-nilai yang ada pada pribadi Kristus itu sendiri. Keberhasilan seorang murid ditentukan oleh dua hal. Kualitas sang guru dan kualitas sang murid. Guru yang hebat dengan murid yang malas berakhir dengan kesia-siaan. Guru yang payah tapi mengajari murid yang brillian hanya menghambat kemajuan sang murid saja. Nah, Guru kita bukan saja luar biasa dan hebat. Dia Guru Agung. Tak ada kekurangan pada-Nya sebagai pembimbing kita. Bagaimana sikap kita terhadap Allah yang siap sedia membimbing kita menuju pada keberhasilan? Akankah kita menolak, ragu-ragu, masih pikir-pikir atau setengah hati untuk belajar dari Dia?
*2. MENJADI MURID TUHAN BERARTI MENERIMA PENGAJARAN DAN DIDIKAN DARI TUHAN SENDIRI, BUKAN HANYA MENERIMA DIDIKAN DARI ORANG LAIN.*
Nats Yesaya 50:4 memberikan petunjuk mengenai hal ini: “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Perhatikan. Adalah TUHAN sendiri yang memberikan lidah yang dapat membagi berkat itu. Dia pula yang membangunkan kita untuk belajar serta mempertajam pendengaran kita hingga kita mengerti perkara-perkara dari-Nya. Sesungguhnya Dialah yang mengajar kita. Menuntun kita dan memampukan kita mengerti seluruh kebenaran, pikiran dan jalan-Nya (Yoh. 16:13-15). Tanpa Dia membimbing, pastilah kita sesat dan gagal mengenal Dia (Ef. 1:16-17). Kesalahan fatal dari banyak orang percaya baru ialah bahwa meskipun sebagai bayi-bayi rohani memang benar membutuhkan perawatan, perhatian dan bantuan dari yang sudah lebih dewasa rohaninya akan tetapi setiap orang percaya harus melanjutkan pertumbuhannya untuk dapat berjalan bersama dengan Tuhan secara pribadi, BUKAN TERUS BERGANTUNG PADA FIGUR ROHANI TERTENTU dalam kehidupan rohaninya. Kita menghargai kakak-kakak, senior kita atau bapa-bapa rohani yang ada. Namun ketika kita terus bergantung pada “orang tua” rohani sehingga kita terhalang memiliki pengalaman bergantung secara pribadi dengan Tuhan, maka itu telah menjadi sesuatu yang kurang sehat. Itu berarti pertumbuhan kita tidak normal, terhambat, tidak sesuai dengan yang sewajarnya. Sebab, pernahkah Anda melihat seorang pria berusia 25 tahun masih tidak dapat tidur jika tidak minum susu dari botol bayi dan ditemani tidur ibunya? Apa pendapat Anda tentang orang yang demikian? Akankah kita menyebut hal itu wajar dan normal? Tentu tidak. Serupa itu, kita menjadi abnormal ketika terus menerus menolak untuk memiliki hubungan pribadi dan mandiri secara rohani dengan Tuhan. Bapa rohani sejati mengarahkan anak-anak rohaninya kepada Pribadi Bapa sorgawi, supaya mereka memiliki hubungan yang benar, kuat dan dalam dengan Allah. Bapa rohani palsu menarik orang pada dirinya dan membuat anak-anak didiknya bergantung dan terikat padanya. Kepada para pembimbing semacam ini, kita semestinya waspada. Selagi menolong kita bertumbuh, mereka yang sudah dewasa rohani memberikan teladan dari hidup mereka yang mengikuti jejak Kristus atau setidaknya, mereka memiliki roh yang sama dengan yang ada pada Kristus, yaitu roh kasih dan kerendahan hati. Paulus berkata kepada jemaat Korintus “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (1 Kor 11:1). Ini berarti bahwa hanya mereka yang mengikuti jejak Kristus yang seharusnya kita jadikan pembimbing rohani kita (bukan seseorang yang terlihat rohani atau punya jabatan maupun gelar-gelar rohani saja) dan bahwa pembimbing sejati PADA AKHIRNYA membawa murid-murid-Nya menjadi pengikut Kristus juga oleh karena ia sebelumnya juga telah mengikut Kristus. Pun yang penting dalam hal ini ialah, hanya seseorang yang benar-benar membuktikan bahwa dirinya pengikut Kristus sejati yang dapat meminta yang lain untuk meneladaninya. Jika kita dituntun untuk mengikuti teladan seseorang tetapi tidak dibawa untuk mengalami didikan pribadi dari Tuhan, maka kita sedang menjadi murid dari manusia, bukannya murid Tuhan. Murid Tuhan sejati dilatih dan diajar oleh Roh Kudus sendiri dengan nasihat serta dorongan dari saudara-saudara yang telah lebih dewasa rohaninya. Ada perbedaan ketika kita belajar dari manusia dengan belajar sebagai murid Tuhan sendiri. Belajar dari manusia berarti belajar dari apa yang terbatas. Manusia tidaklah sempurna. Pengetahuannya sedikit dan tidak sebanding dengan hikmat Tuhan semesta alam. Manusia juga seringkali keliru menilai dan mempercayai sesuatu. Baik sang guru atau murid adalah manusia-manusia yang bisa keliru. Guru bisa salah mengajar, murid bisa salah menangkap dan gagal dalam belajar. Pada titik inilah nyata perbedaan saat kita belajar dari Allah Roh Kudus yang telah diutus untuk menjadi guru kita saat ini sebagaimana diungkapkan salam 1 Yohanes 2:27 : “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu — dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta — dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.” Pengurapan itulah Roh Kudus yang berdiam dalam kita dan menyertai kita untuk menuntun kita berjalan pada seluruh kebenaran yang hendak Tuhan ajarkan selama kehidupan kita mengikut Dia. Belajar dari Tuhan sendiri berarti belajar dari Pribadi yang sempurna, yang tidak mungkin keliru, yang tahu segala sesuatu dan tidak ada keraguan dari apa yang diajarkan-Nya. Pengajaran Tuhan itu murni sebab firman-Nya teruji. Ia tidak akan pernah dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan kita ataupun menjadi marah dengan sikap kritis kita. Kelambanan kita tidak melelahkan-Nya. Kesulitan kita dalam belajar tak membuat-Nya putus asa. Salomo justru mengingatkan kita: “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya” (Ams. 3:11) yang menunjukkan bahwa masalah utama dalam hal belajar dan menjadi seorang murid ialah dari kita sendiri. Kitalah yang kerap menolak didikan Tuhan atau menjadi bosan bahkan muak untuk belajar dan diajar. Bagaimana kita dapat belajar dari Tuhan sendiri? Yesus berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat. 11:29). Ada syarat untuk belajar dan menjadi murid Kristus. Sebelum kita memikul kuk yang Ia berikan maka kita sukar belajar dari Dia. Kuk adalah kayu yang dibebankan atau diletakkan pada punggung sapi yang hendak dikerahkan menarik bajak untuk menggemburkan tanah sawah. Kegunaan kuk adalah untuk memudahkan mengarahkannya berjalan pada jalur tanah yang akan dibajak sehingga selanjutnya memudahkan penanaman bibit padi atau gandum. Serupa dengan itu Tuhan mengumpamakan kita belajar pada-Nya. Bersedia memikul kuk berarti kerelaan untuk menerima beban dan pengendalian atasnya. Tidak lagi memberontak tetapi bersedia untuk taat. Tak lagi melawan tapi tunduk dan ikut. Hanya hati yang telah direlakan untuk taat pada petunjuk dan pengajaran Tuhan bahkan pada pimpinan Tuhan sendiri, maka kita akan dengan cepat belajar hidup dalam jalan-jalan-Nya. Taat berarti memilih untuk melakukan perintah dan ketetapan Tuhan daripada mengikuti keinginan apalagi hawa nafsu sendiri. TIAP-TIAP HARI Tuhan akan hadir dan membimbing kita UNTUK TAAT DI JALAN-NYA. Jika kita mendengarkan bimbingan dan tuntunan yang disampaikan lewat hati (nurani) kita itu dan melangkah dalam kepatuhan, maka kita sedang menjadi murid-murid-Nya selagi Tuhan menuntun kita langkah demi langkah dalam kehidupan kita. Misalkan, saat hati kita terluka dan ingin melakukan pembalasan, kita akan diantar untuk mengampuni. Seorang murid yang baik akan merelakan dirinya untuk mengampuni sesuai ajaran dan teladan gurunya daripada bertindak menurut caranya sendiri. Begitupun dalam hidup sehari-hari, sesukar apapun seorang murid akan tetap mengikuti ajaran dan pedoman yang diberikan guru kehidupannya, baik dalam hal berkata-kata, bertindak, sampai dalam hal berpikir dan merasa. Murid sejati meneladani gurunya dalam segala hal karena ia rindu menjadi sama dengan sang guru.
*3. SEBAGAI MURID TUHAN, KITA BELAJAR SETIAP HARI DIMANA DUNIA MENJADI RUANG KELASNYA DAN URUSAN-URUSAN HIDUP SEHARI-HARI SEBAGAI MATA PELAJARANNYA*
Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid” (Yes. 50:4). Setiap pagi merujuk pada setiap hari baru. Dan seperti itulah kita belajar. Setiap hari yang baru, Tuhan akan menuntun kita masuk ruang kelas-Nya dan mengajari kita hikmat-Nya. Mengenang kembali masa-masa sekolah dasar dan menengah yang sekarang juga sedang dijalani anak-anak saya, setiap pagi apapun kondisinya, jika ia murid sekolah maka ia harus memaksa dirinya untuk bangun, mendisiplin dirinya untuk mandi, bersiap, mengambil perlengkapan sekolah dan mengikuti pelajaran berjam-jam lamanya. Itu tidak berhenti jika siang harinya ada pelajaran tambahan atau kursus. Terkadang itupun masih berlanjut dengan pekerjaan rumah maupun tugas-tugas sekolah untuk individu maupun kelompok. Bagi anak-anak usia sekolah, hampir seluruh waktu digunakan untuk belajar. Sayangnya, ketika masa-masa sekolah berakhir proses belajar ikut terhenti pula. Mungkinkah itu juga yang terjadi setelah kita merasa cukup tahu yang sedikit itu tentang Tuhan dan pribadi-Nya? Sesungguhnya proses belajar, lebih-lebih belajar dari Tuhan, untuk memperoleh hikmat-Nya merupakan proses yang tak ada batas akhirnya. Tuhan itu terlalu luas, besar, tinggi dan dalam untuk dapat dipahami dengan kemampuan otak manusia yang terbatas ini. Memahami yang tersurat dalam Alkitab, mungkin saja tak pernah habis sepanjang usia kita. Walau ribuan buku dan tafsir telah dibuat, kedalaman hikmat Tuhan dalam firman-Nya tak terselami seluruhnya. Itu belum ditambah bahwa Dia masih bekerja hingga hari ini dan terlibat aktif dalam kehidupan anak-anak dan hamba-hamba-Nya, tak sedikitpun berkurang campu tangan-Nya sejak hamba-hamba-Nya di zaman Kejadian hingga abad ke-21 ini. Dia tetap akan memberikan hikmat dan pimpinan menghadapi segala tantangan yang berbeda di tiap zaman yang dihadapi umat-Nya di tiap generasi. Kita tidak akan pernah dapat berkata 'cukup' untuk belajar dari-Nya! Sayangnya, karena kurang menyadari atau mungkin malah tiada berniat menjadi murid Tuhan, maka kita seringkali memasuki hari baru seperti orang-orang yang sombong. Kita merasa tahu yang akan kita lakukan, memiliki tujuan dan cita-cita yang akan kita tuju, merasa mampu mengejar target bahkan menepuk dada dengan bangga bahwa kita adalah manusia-manusia yang unggul, hebat, penuh kreatifitas dan akan meraih hal-hal yang besar. Atau, seperti sebagian yang lain, kita merasa cukup kuat dengan bakat kita, profesi kita, pekerjaan kita, kepandaian kita atau mungkin juga harta kita, sehingga kita bersikap seperti seorang yang banyak tahu dan kerap meremehkan orang lain yang kita pikir kurang keadaannya dari kita. Sikap-sikap demikian bukanlah sikap murid Kristus. Orang-orang paling berhasil menurut ukuran dunia merupakan orang-orang yang tidak lelah dan tidak surut untuk belajar. Mereka terus mendalami minat, bidang dan profesi mereka sehingga menjadi orang yang ahli dan mumpuni melebihi yang lainnya. Sampai-sampai karena itu, mereka memperoleh harta yang tidak sedikit. Ini pun berlaku dalam kehidupan rohani. Pengikut-pengikut Kristus yang berhasil adalah murid-murid-Nya yang terbaik, yang tidak pernah berhenti atau menyerah mengejar hikmat dan menyelami jalan-jalan Tuhan. Sebaliknya, murid-murid yang malas akan tinggal kelas, tetap tinggal dalam kebodohan dan menjalani kehidupan yang sukar di kemudian hari. Hari yang baru ialah kelas yang baru bagi murid-murid Tuhan. Sebaiknya kita menyambut dengan riang gembira dan penuh semangat sebab Sang Guru Agung siap dan penuh harap dalam mendidik kita. Masukilah ruang kelas Anda dengan penuh kesungguhan untuk belajar. Selama jam-jam dan waktu-waktu yang berlalu, berilah telinga Anda dan mintalah supaya senantiasa tetap peka akan bimbingan Tuhan. Tangkaplah dan catatlah di relung hati Anda (dan jika perlu di catatan harian Anda) pelajaran hikmat-Nya. Tanyakanlah yang belum jelas dan teruslah renungkan. Anda akan menemukan begitu banyak harta yang berharga jauh melampaui emas perak menjadi milik Anda saat perkataan demi perkataan Guru Besar itu mengisi hati dan pikiran Anda. Orang-orang yang kita temui, peristiwa yang kita lihat, kita rasakan dan alami, bersama-sama dengan pengetahuan atau berita yang kita terima serta tugas yang kita kerjakan -di dalam semuanya itu terkandung pelajaran-pelajaran kehidupan yang terselip dari Tuhan, yang hanya akan kita tangkap jika kita memiliki hati seorang murid. Tantangan-tantangan dalam kehidupan merupakan pekerjaan rumah dan latihan untuk menjadi semakin bijak di dalam Tuhan. Persoalan hiduo yang sedang yang terjadi adalah ujian. Masalah yang kita hadapi ialah sebuah tes apakah kita telah cukup memahami ajaran Tuhan sehingga kita lulus dan mendapat nilai yang baik saat mempraktekkannya. Begitu seterusnya hingga tanpa sadar, jika kita tekun belajar dan menjadi seorang murid, kita naik kelas dan berada pada level berikutnya dalam kelas-kelas kehidupan sejati. Kata kuncinya di sini ialah “disiplin”. Dari sanalah kata “disciple” atau murid itu berasal. Kata “discipline” dalam bahasa Inggris menurut kamus Webster mengandung arti antara lain “suatu cara bersikap yang menunjukkan kerelaan untuk mematuhi aturan atau perintah”; kebiasaan yang dinilai dari seberapa baik dalam hal mengikuti serangkaian aturan atau perintah; “penguasaan diri”. Dan orang yang berdisiplin ialah mereka yang mengikuti perintah dengan baik, mengikuti latihan yang mengoreksi, membentuk dan menyempurnakan diri sesuai standar yang diberikan gurunya. Jadi, sejauh mana kita mau mendisiplinkan diri atau rela didisiplinkan Tuhan dalam kelas-kelas dan session-session kehidupan, sebanyak itulah keberhasilan kita sebagai murid-murid Kristus. Sejauh mana kita memandang dan menjadikan hari-hari kita sebagai ajang untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, sejauh itu pula keberhasilam kita untuk menjadi semakin matang sebagai murid Tuhan.
*4. TUJUAN DARI MENJADI MURID TUHAN IALAH SUPAYA HIDUP KITA MENJADI BERBUAH, MENJADI SALURAN BERKAT YANG MENOLONG DAN MEMBERKATI ORANG BANYAK, SEPERTI HIDUP KRISTUS*
“…supaya dengan perkataan, aku dapat memberi semangat baru kepada orang-orang yang letih lesu” (Yes. 50:4) adalah salah satu tujuan dan hasil yang Tuhan rindukan terjadi dalam hidup kita saat kita telah bertumbuh sebagai seorang murid yang baik. Sebagaimana guru kita demikianlah seharusnya kita sebagai murid-murid-Nya. Ia yang penuh kasih dan kemurahan, senang memberi dan memberkati dalam kekayaan kemuliaan-Nya, Ia pun ingin supaya setiap murid-Nya memiliki hati dan pikiran seperti yang ada pada-Nya. Bertumbuh dan berubah menjadi pribadi-pribadi yang sarat belas kasih dan selalu ingin membagikan apa yang ada di hidupnya khususnya bagi dunia yang membutuhkan jamahan dari sorga ini, merupakan tujuan Tuhan melatih para murid dan pengikut-Nya. Seperti Yesus yang mengundang mereka yang letih lesu dan berbeban berat, kita dipanggil dan dibentuk supaya melalui perkataan-perkataan kita, perbuatan-perbuatan kita bahkan hidup kita menyalurkan dan melepaskan kelegaan yang Tuhan sediakan bagi mereka yang mau datang kepada-Nya. Air yang melimpah membutuhkan pipa atau alat penyalur supaya berguna bagi kebutuhan banyak orang. Kitalah penyalur-penyalur berkat Tuhan itu. Kitalah yang hendak dipakai-Nya menjadi sarana pembagi, pembawa, penyampai serta pengimpartasi kekayaan dan kehidupan ilahi itu kepada mereka yang membutuhkan. Itu nyata dari kehidupan Kristus yang saat kita mengetahui ini seharusnya melahirkan suatu tekad di hati kita untuk melayani banyak orang: “Karena Anak Manusia juga datang BUKAN UNTUK DILAYANI, melainkan UNTUK MELAYANI...” (Mark. 10:45). Sebagai murid-murid Tuhan, sudah seharusnya kita memiliki jiwa melayani dan rindu membagi-bagikan apa yang telah kita peroleh dari Tuhan secara melimpah sebagai murid-murid Tuhan. Murid sejati cepat atau lambat, disadari sepenuhnya atau tidak, bertumbuh makin serupa dengan gurunya. Sepanjang pelayanan-Nya, Yesus telah menunjukkan bagaimana Ia mengajar secara luar biasa. Tidak ada yang dapat mengajar seperti Yesus. Sudah seharusnya pula dimulai dari setidaknya PERKATAAN-PERKATAAN KITA, banyak yang beroleh jamahan kuasa Tuhan. Kesaksian para penulis Injil menggambarkan kesan pendengar setelah menerima pengajaran Yesus seperti ini: “Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, TAKJUBLAH orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Mat. 7:28-29). “Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka TAKJUB MENDENGAR PENGAJARAN-NYA, sebab perkataan-Nya penuh kuasa” (Luk. 4:31-32). “Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka TAKJUB MENDENGAR PENGAJARAN-NYA, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mrk. 1:21-22). Kita akan dinilai berhasil menjadi murid-murid Yesus ketika apa yang kita sampaikan dalam komunikasi kita sehari-hari membuat orang takjub akan hikmat Tuhan, menjadi disegarkan dan dikuatkan kembali rohnya dan dibawa dalam pengenalan lebih lanjut pada Pribadi Tuhan. Perkataan Yesus BUKAN SEMATA-MATA ujaran-ujaran yang bernuansa rohani, mengutip ayat atau fasih dalam berbicara. Ada kuasa dalam perkataan Yesus. Terasa kasih dan ketulusan di dalamnya. Khotbahnya bukan biasa dan rata-rata apalagi membuat pendengarnya jenuh dan tersiksa mendengarnya. Yesus menyegarkan jiwa pendengar-Nya, membawa-Nya pada kerohanian sejati dan pengenalan yang benar akan Bapa. Pengajaran-Nya memukau karena itu masuk ke setiap hati orang dan menjawab kebutuhan jiwa mereka. Ia bukan sekedar memberi pelajaran, Ia mengajar dan menunjukkan pada orang-orang dengan cara sedemikian rupa sehingga kuasa Tuhan menembus masuk di hati setiap pendengarnya. Seperti Yesus yang membawa pesan dan kuasa sorgawi, demikianlah Tuhan ingin kita menjadi. Perkataan hikmat keluar dari mulut kita. Kebijaksanaan nyata dari setiap ucapan dan pembicaraan kita. Melalui itu, terasa sungguh Tuhan bekerja. Kata-kata itu menjadi berkat dan kekuatan bagi setiap pendengarnya sebab memang “…lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan” (Ams. 15:2) dan “…mendatangkan kesembuhan” (Ams. 12:18). Kebenaran ini sekaligus menunjukkan seberapa banyak perkataan kita boleh menjadi berkat bagi orang dengan membawa mereka pada sumber Air kehidupan itu, sejauh itulah kualitas kita sebagai murid Tuhan. Perkataan yang sembrono, asal diucapkan lebih-lebih ujaran-ujaran jahat yang menyakiti dan merendahkan orang apalagi sampai menghancurkan orang lain dengan fitnah dan tuduhan yang keji menyingkapkan secara tidak langsung dari siapa dan apakah yang telah mendidik jiwa kita sebenarnya selama ini.
*5. LIDAH YANG MENDATANGKAN BERKAT, YANG MENJADI PENYAMPAI SUARA TUHAN DAN YANG PENUH HIKMAT TIDAK MUNGKIN KITA MILIKI JIKA KITA SEBELUMNYA TIDAK PERNAH MENJADI MURID SEJATI KRISTUS*
TUHAN ALLAH telah mengaruniakan kepadaku lidah seorang murid (seorang yang telah belajar dan diajari)…” (Yes. 50:4) Bagian terakhir yang tak boleh diremehkan sebagai pelajaran bagi kita ialah bahwa sebelum kita benar-benar menjadi seorang murid, hidup sebagai murid, bertumbuh dalam pengenalan dan pengenalan akan Tuhan serta jalan-jalan-Nya, MUSTAHIL kita memiliki suatu lidah yang menyalurkan berkat Tuhan. Perkataan kita tidak akan pernah berasal dari hati dan pikiran Tuhan. Semuanya akan lagi-lagi bersumber dari pikiran dan hati kita sendiri. Yang dibesarkan dan dididik oleh hikmat duniawi dan melakukan segala sesuatu dengan kekuatan manusiawi. Akhir zaman disebut sebagai hari-hari yang jahat (2 Tim. 3:1). Salah satu alasan utamanya ialah manusia semakin bebas berbuat jahat. Mereka semakin berani bersikap sombong dan angkuh. Dan banyak yang bersikap demikian karena memiliki sarana-sarana untuk melakukan dan memamerkan kecongkakan mereka. Media sosial ialah salah satunya. Melalui media sosial yang mengaktualisasi kepribadian orang, semua orang merasa berhak unjuk diri. Yang mempunyai kelebihan fisik dan rupa, yang dahulu bersikap biasa dan paling-paling hanya menyimpan pujian-pujian dari sekitarnya dalam hati, kini melalui media sosial mereka bisa menjadi pusat perhatian sedunia. Yang pendiam dan biasa merenung sendiri tanpa berani berkata-kata atau berkomentar dalam suatu pembicaraan, di masa kini oleh karena merasa tak diketahui identitasnya, menjadi berani mengeluarkan pikiran dan perasaannya secara bebas. Mereka membully, menghina, mencaci maki, merendahkan bahkan menyebarkan fitnah yang lahir dari kebencian-kebencian yang bercokol di hati mereka. Bahkan mereka bangga disebut sebagai “haters” dan merasa hebat disebut sebagai “hoaxers”. Media sosial, dengan segala keuntungan dan manfaatnya, kembali menjadi sarana yang digunakan bagi keburukan dan kejahatan oleh karena sifat manusia yang telah rusak. Melalui media sosial, orang tanpa sadar semakin digiring untuk menjadi para komentator, pengamat, penilai dan hakim atas orang lain. Ini ekses atau dampak yang tidak dapat dihindari. Beberapa orang berhenti menggunakan media sosial saat merasa lebih banyak dampak buruk yang mereka rasakan telah meracuni jiwa mereka. Meski demikian, bukan berarti kita harus anti terhadap kemajuan teknologi yang sebenarnya memberikan manfaat yang tidak sedikit ini. Agar terhindar dari jebakan kuasa gelap ini, maka kita semestinya menggunakan MEDIA SOSIAL SEBAGAI TEMPAT BELAJAR DAN BERBAGI BERKAT ROHANI. Dimana satu sama lain dapat berbagi dengan banyak saudara yang lain akan apa yang Tuhan taruh di hati mereka sebagai murid-murid Tuhan. Jika kita semua murid sejati Kristus, kita akan sama-sama belajar dari sesama saudara dalam iman. Kesalahan terbesar orang-orang Kristen hari ini dalam pergaulan dunia maya ialah dengan menggunakannya sebagai sarana memamerkan kepandaian mereka atau lebih buruk menyampaikan pendapat mereka SEBELUM BENAR-BENAR PERNAH MENJADI ORANG YANG BELAJAR. Saat ini terjadi begitu masif, maka tidak mengherankan apabila kini terjadi kekacauan informasi dan provokasi yang hampir tanpa batas oleh karena orang-orang yang tidak pernah benar-benar belajar akan perkara-perkara yang benar apalagi yang berasal dari Tuhan saling mengomentari, saling berargumen, saling menyerang bahkan saling menghujat satu sama lain. Dari kualitas dan isi perkataan merekalah, kita tahu siapa murid Tuhan sejati dan yang bukan. Dari apa yang disampaikan lambat laun kita mengenal roh apa yang sedang bekerja dan membuat setiap orang mengeluarkan berbagai ucapan yang disampaikan di media-media sosial itu. Pastinya, seorang murid sejati akan memiliki lidah yang menjadi berkat bagi banyak orang. Tidak melemahkan atau menghancurkan orang lain melalui kata-kata kasar, kotor, tuduhan atau fitnah tapi membangun dan menyembuhkan jiwa-jiwa yang lain melalui hikmat yang Tuhan berikan padanya. Lebih dari itu, melalui pesan mengenai pemuridan ini, seharusnya kita menyadari dengan benar bahwa tidak akan ada orang berhikmat, yang lidah bibirnya mengucapkan perkataan-perkataan yang mendatangkan berkat dan penuh hikmat SEBELUM IA MERENDAHKAN DIRI DAN MENJALANI PROSES SEORANG MURID. Seseorang bisa saja merasa dirinya seorang yang ahli, berpengalaman, tahu banyak akan bidangnya bahkan telah menjadi guru, dosen, pendidik atau profesor sekalipun AKAN TETAPI hikmat Tuhan pertama-tama akan diberikan kepada orang-orang yang mau merendahkan diri dan cukup rendah hati menjadi seorang murid lebih dahulu. Sungguh, “Hikmat ada pada orang yang rendah hati” (Ams. 11:2), dan orang yang rendah hati ialah yang akan menjadi murid sejati Tuhan. Mereka yang tidak menjadi murid dan berhenti menjadi murid Tuhan, tidak akan mampu menyampaikan pikiran, pendapat dan pandangan yang tepat sesuai pikiran dan hati Tuhan. Begitu pula yang sekedar menjadi murid manusia yang lain. Mereka hanya akan menyuarakan ajaran panutan atau guru (manusia) mereka itu. Hanya mereka yang berjalan bersama Tuhan dan mengikut Dia serta belajar dari-Nya akan mendapatkan hikmat sejati, yang perkataannya menjadi berkat dan membawa orang lain pada perjumpaan dan pengenalan akan Tuhan. Lalu, bagaimana kita tahu bahwa kita sekarang masih dan memang seorang murid Tuhan? Untuk menjawab ini, kita harus jujur pada diri dan kepada Tuhan. Kita harus memeriksa hati kita apakah kita masih mengikuti sekolah-Nya setiap hari atau tidak. Mulailah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sejujur-jujurnya. Apakah kita memberikan telinga untuk mencari Dia dan belajar dari-Nya melalui apapun di sekitar kita? Adakah kita lebih cepat meragukan dan mempertanyakan sebuah informasi, pesan atau ajaran rohani ketimbang mencari tahu, menguji dan menyelidiki lebih lanjut apakah benar demikian? Apakah kita lebih cenderung membantah dan berpandangan sendiri saat menerima masukan, nasihat atau bahkan teguran di hati kita terkait pendirian kita yang mungkin salah selama ini? Apakah kita sering bersikap keras hati ataukah bersikap aktif memeriksa dan mengoreksi diri melalui perenungan yang mendalam? Juga apakah kita lebih banyak melakukan introspeksi diri atau justru sepanjang hari lebih sering menilai dan mengoreksi orang? Adakah kita bertanya dan mencari tahu lebih lanjut melalui penyelidikan firman atau berdiskusi dengan sesama rekan kita apabila terasa ada sesuatu yang belum jelas dalam hal-hal rohani atau lebih condong merasa tidak ada masalah dengan kerohanian kita? Termasuk, bagaimana kita dalam menilai diri kita sebagai orang yang merasa lebih tahu, lebih kaya, lebih tua, lebih berpengalaman dan memiliki jabatan atau posisi rohani atau status sosial yang tinggi di masyarakat? Apabila kita mengukur semua itu sebagai dasar untuk kita tidak mendengarkan yang lain dan belajar dari Tuhan, sesungguhnyalah kita bukan murid sejati-Nya. Pertanyaan-pertanyaan di atas harus dijawab dengan jujur sebelum kita mendapatkan jawaban yang benar apakah kita masih terbilang sebagai murid Yesus atau bukan. Dari sana semestinya kita tahu, sejauh mana kita bisa mengukur diri jika kita bermaksud menasihati atau mengajar orang lain. Guru-guru sejati yang dipanggil Tuhan tidak lain sebelumnya adalah murid-murid sejati. Hanya mereka yang telah belajar dengan benar akan dapat mengajarkan kebenaran Tuhan dengan benar, tepat sesuai hati-Nya. Mereka yang tak pernah menjadi murid sejati, sebaliknya, akan menjadi guru-guru yang sesat dan berbahaya karena mereka mengajarkan pendapat dan pikiran mereka sendiri, bukan yang dari Tuhan. Mereka akan seperti yang dikatakan rasul Yudas mengenai guru-guru palsu: “Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus.” Akan tetapi mereka menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui dan justru apa yang mereka ketahui dengan nalurinya seperti binatang yang tidak berakal, itulah yang mengakibatkan kebinasaan mereka. Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah. Mereka inilah noda dalam perjamuan kasihmu, di mana mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan dirinya sendiri; mereka bagaikan awan yang tak berair, yang berlalu ditiup angin; mereka bagaikan pohon-pohon yang dalam musim gugur tidak menghasilkan buah, pohon-pohon yang terbantun dengan akar-akarnya dan yang mati sama sekali. Mereka bagaikan ombak laut yang ganas, yang membuihkan keaiban mereka sendiri; mereka bagaikan bintang-bintang yang baginya telah tersedia tempat di dunia kekelaman untuk selama-lamanya. _Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan” (Yudas 4,10-13,16). Ayat 11 menyimpulkan siapa guru-guru yang bukan dari Tuhan ini: mereka mengikuti jalan Kain, menceburkan diri dalam kesesatan Bileam dan durhaka hingga binasa seperti Korah. Persamaan dari ketiganya telah jelas. Mereka semua bukan murid-murid Tuhan. Mereka tidak pernah mau belajar jalan-jalan Tuhan tapi menempuh jalan mereka sendiri hingga berbuat durhaka melawan kehendak dan jalan-jalan Tuhan itu sendiri. *PENUTUP : DICARI MURID SEJATI*
Lee Camp dalam bukunya, Pemuridan Yang Murni: Kekristenan Radikal di Dunia Yang Memberontak, mengatakan: “Yesus dari Nazaret selalu meminta murid-murid-Nya untuk mengikut Dia -bukan sekedar “menerima Dia”, bukan hanya “percaya pada Dia”, bukan semata “menyembah Dia” tetapi untuk mengikut Dia: orang harus mengikut Dia atau tidak mengikut Dia. Tidak ada pengkotak-kotakan iman; tiada wilayah, tidak ada tempat, tiada bisnis, tada politik dimana ketuhanan Kristus dikecualikan. Kita harus menjadikan Dia Tuhan atas segala tuhan, atau kita menolaknya sebagai Tuhan dari apapun.” Dan memang demikian adanya, jika kita mengaku sebagai pengikut-Nya dan murid-Nya, kita sudah seharusnya mempraktekkan prinsip dan ketetapan-Nya dalam setiap bidang kehidupan. Tanpa terkecuali. Dalam hal penyerahan hidup kita untuk mengasihi Tuhan dan mengamalkan ajaran-Nyalah kita akan DIKENAL SEBAGAI MURID KRISTUS YANG SESUNGGUHNYA. Selagi banyak yang berpikir bahwa “cukup percaya saja” sebagai orang Kristen, saya ingin menyampaikan bahwa menjadi Kristen, - dimana bahkan istilah Kristen itu itu sendiri- adalah bermakna mengikut Kristus. Sebelum kita benar-benar menjadi murid-murid Yesus, sesungguhnya kita belum sampai kepada iman sejati, yang menyelamatkan. Iman sejati ialah iman yang hidup, yang nyata dalam perbuatan-perbuatan kita. Dan perbuatan-perbuatan itu ialah HIDUP SEBAGAI MURID-MURID-NYA: hidup dalam penundukan diri di hadapan-Nya, tiap-tiap hari taat dan menjadi pelaku hukum-hukum Kerajaan Allah, menolak kompromi dan mendalami perkara-perkara dunia namun mencari dan memikirkan perkara-perkara yang di atas, bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan jalan-jalan-Nya sampai kehendak dan rencana-Nya makin terang dalam hidup kita. Dan dengan demikian kita tidak menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan tetapi mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (Fil. 2:12). Jika Anda telah menerima kasih karunia Tuhan melalui iman dan percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dan Tuhan bagi kehidupan Anda, Ia menyediakan KASIH KARUNIA YANG LEBIH BESAR LAGI BAGI ANDA hari ini. Ia memanggil Anda menjadi murid-Nya, mengikut Dia menempuh jalan terbaik yang telah disiapkan-Nya bagi Anda. Menolak pangglan ini akan menjadi kerugian besar bagi Anda dan mendukakan hati-Nya yang sangat mengasihi Anda. Hidup Anda terancam kembali terhilang atau sesat jalan ditelan kehampaan yang besar karena hidup tanpa makna. Sebaliknya, menerima panggilan ini akan membawa sukacita di hati Tuhan dan Ia akan melimpahkan yang terbaik bagi Anda sepanjang perjalanan hidup Anda di dunia yang sekarang hingga upah kekal bagi Anda di sorga nanti. Ambillah waktu sejenak tanpa ada suara apapun yang lainnya selain suara hati Anda dan bisikan Roh Tuhan di hati Anda. Pikirkan kesempatan terbaik dalam hidup Anda ini. Untuk belajar dari Guru Terbaik yang pernah ada dan hidup dalam hidup terbaik yang bisa Anda jalani. Tidakkah Anda mendengar suara-Nya memanggil, “Ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Akankah Dia mendengar Anda berkata, “Mengikut Yesus keputusanku, ku tak akan menoleh ke belakang dan berbalik lagi pada dunia?” SALAM REVIVAL! Indonesia penuh kemuliaan Tuhan.

Madam Ossy
Minggu, 26 Maret 2017. Bacaan: Kejadian 13: 7-13. Setahun: Hakim-Hakim 10-11. Nas: Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu... (Kejadian 13:11). Yang Paling Bernilai. Abram menawarkan penyelesaian konflik (ay. 9), dan Lot menyetujui. Sikap itu memberi kesan bahwa Lot berbudi luhur. Tetapi, langkah Lot berikutnya menampilkan watak aslinya. Sebagai wujud respek kepada Abram, paman dan pemimpinnya, Lot mestinya menyilakan Abram yang menentukan. Tetapi, begitu Abram selesai berbicara, Lot menatap kawasan subur Lembah Yordan (ay. 10), dan langsung memilih area itu untuknya (ay. 11). Lot tahu, penduduk lembah itu hidup bergelimang dosa (ay.13). Itu alasan serius untuk menjauh dari sana. Tetapi, Lot menafikan fakta itu. Baginya, bisnis ternaklah yang terpenting. Apa yang kita lihat? Bagi Lot, hal yang utama bukan respek kepada pemimpin, melainkan diri sendiri. Bukan pertimbangan moral, melainkan keuntungan finansial. Dari kisah Lot, kita melihat bahwa tindakan seseorang selalu didorong oleh (dan secara tepat menunjukkan) apa yang oleh orang itu dipandang paling bernilai. Hal itu berlaku atas kita semua. Ketika seorang rekan dirawat di rumah sakit, saya memilih bermain futsal, bukan menengoknya. Artinya, having fun saya anggap lebih bernilai ketimbang kepedulian dan persahabatan. Tiap kali ada peluang, saya melakukan manipulasi. Jelas, kejujuran tidak penting bagi saya. Undangan sekolah (untuk berkonsultasi tentang anak saya) saya keluhkan sebagai gangguan. Dapatkah saya berkata bahwa anak saya penting bagi saya? Rupanya, membina diri-agar nilai-nilai yang baik menjadi yang utama, yang mendorong tiap tindakan kita-adalah langkah penting yang tak boleh ditawar –EE. PILIHAN YANG KITA AMBIL MENUNJUKKAN APA YANG KITA YAKINI PALING PENTING DAN PALING BERNILAI.

No comments:

Post a Comment