Thursday, 4 August 2016

4 Agustus 2016

INFLUENCED





Maz 37:1-8. Coba menyemangati diri sendiri dengan melakukan hal-hal berikut ini: “Percayalah kepada TUHAN, diamlah di negeri dan berlakulah setia (ay. 3). Dan bergembiralah karena TUHAN... (ay. 4). Percayalah kepada-Nya (ay. 5); Berdiam dirilah di hadapan TUHAN, menantikan DIA tidak berkeluh kesah karena gelisah (ay. 7). Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati (ay. 8). Satu-satunya sumber sejati bagi optimisme kita adalah karya penebusan yang sudah dikerjakan oleh Yesus. Dialah alasan kita untuk tetap BERHARAP. Tuhan tolong kami untuk menemukan PENGHARAPAN itu didalam Engkau, karena apa yang telah Tuhan Yesus perbuat untuk kami, kami tahu Engkau selalu menyertai kami. Amin.

GNCC
Amsal 16:18, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” Kesombongan itu seperti penyakit kanker yang membunuh secara perlahan.

Xavier Quentin Pranata
“Kala cinta tidak sempurna, kita harus belajar menerima dan membuatnya sempurna.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 4 Agustus 2016. Peganglah Ekornya. Tetapi firman TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya” -- Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya (Keluaran 4:4). Lahir sebagai budak, divonis mati sebelum lahir, Musa diselamatkan ibunya dan ditemukan putri raja, yang mengangkatnya sebagai anak. Ia mendapatkan pendidikan sebagai anak raja. Tetapi, pada umur 40 tahun ia melarikan diri, menyelamatkan nyawanya ke padang gurun, dan menggembalakan kambing domba, sedangkan orang Israel menanggung perbudakan Mesir. Pada umur 80 tahun, Allah memanggilnya memulai pelayanan yang mengubah sejarah. Dari dalam nyala api di semak duri, Tuhan menyuruhnya kembali ke Mesir dan meminta pembebasan bagi orang Israel. Musa tidak menolak, tetapi ia takut. Ia berkata, “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku?” Tuhan menyuruh Musa melemparkan tongkat di tangannya ke tanah. Ia melakukannya dan tongkat itu menjadi seekor ular. Tuhan berkata, “Peganglah ekornya.” Saat Musa menangkap ekornya, ular itu kembali menjadi tongkat di tangannya. Ular, suatu ancaman bagi nyawanya, berubah menjadi alat yang mendatangkan kemenangan ketika ia menghadapi Firaun yang bengis. Apakah yang membangkitkan keberanian Musa? “Karena iman Musa... menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harta Mesir” (Ibr. 11:24-26). Ia tahu kesulitan yang akan muncul, tetapi imannya kepada Tuhan mendorongnya mengulurkan tangan dan memegang ekor ular itu. Ketika menghadapi perlawanan atau ancaman iman, oleh kasih karunia Allah, biarlah kita memegang “ekor” persoalan itu dengan berani —DKR. PEGANGLAH EKOR MASALAH DAN BIARLAH TUHAN MENGUBAHNYA JADI TONGKAT UNTUK KEMULIAAN-NYA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment