INFLUENCED
Maz
37:1-8. Coba menyemangati diri sendiri dengan
melakukan hal-hal berikut ini: “Percayalah kepada TUHAN, diamlah di negeri dan
berlakulah setia (ay. 3). Dan bergembiralah karena TUHAN... (ay. 4). Percayalah
kepada-Nya (ay. 5); Berdiam dirilah di hadapan TUHAN, menantikan DIA tidak
berkeluh kesah karena gelisah (ay. 7). Berhentilah marah dan tinggalkanlah
panas hati (ay. 8). Satu-satunya sumber sejati bagi optimisme kita adalah karya
penebusan yang sudah dikerjakan oleh Yesus. Dialah alasan kita untuk tetap
BERHARAP. Tuhan tolong kami untuk menemukan PENGHARAPAN itu didalam Engkau,
karena apa yang telah Tuhan Yesus perbuat untuk kami, kami tahu Engkau selalu
menyertai kami. Amin.
GNCC
Amsal 16:18,
“Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.”
Kesombongan itu seperti penyakit kanker yang membunuh secara perlahan.
Xavier
Quentin Pranata
“Kala cinta
tidak sempurna, kita harus belajar menerima dan membuatnya sempurna.” Xavier
Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Kamis, 4 Agustus 2016. Peganglah Ekornya. Tetapi firman TUHAN kepada Musa:
“Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya” -- Musa mengulurkan tangannya,
ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya (Keluaran 4:4). Lahir
sebagai budak, divonis mati sebelum lahir, Musa diselamatkan ibunya dan
ditemukan putri raja, yang mengangkatnya sebagai anak. Ia mendapatkan
pendidikan sebagai anak raja. Tetapi, pada umur 40 tahun ia melarikan diri,
menyelamatkan nyawanya ke padang gurun, dan menggembalakan kambing domba,
sedangkan orang Israel menanggung perbudakan Mesir. Pada umur 80 tahun, Allah
memanggilnya memulai pelayanan yang mengubah sejarah. Dari dalam nyala api di
semak duri, Tuhan menyuruhnya kembali ke Mesir dan meminta pembebasan bagi orang
Israel. Musa tidak menolak, tetapi ia takut. Ia berkata, “Bagaimana jika mereka
tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku?” Tuhan menyuruh Musa
melemparkan tongkat di tangannya ke tanah. Ia melakukannya dan tongkat itu
menjadi seekor ular. Tuhan berkata, “Peganglah ekornya.” Saat Musa menangkap
ekornya, ular itu kembali menjadi tongkat di tangannya. Ular, suatu ancaman
bagi nyawanya, berubah menjadi alat yang mendatangkan kemenangan ketika ia
menghadapi Firaun yang bengis. Apakah yang membangkitkan keberanian Musa?
“Karena iman Musa... menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang
lebih besar daripada semua harta Mesir” (Ibr. 11:24-26). Ia tahu kesulitan yang
akan muncul, tetapi imannya kepada Tuhan mendorongnya mengulurkan tangan dan
memegang ekor ular itu. Ketika menghadapi perlawanan atau ancaman iman, oleh
kasih karunia Allah, biarlah kita memegang “ekor” persoalan itu dengan berani
—DKR. PEGANGLAH EKOR MASALAH DAN BIARLAH TUHAN MENGUBAHNYA JADI TONGKAT UNTUK
KEMULIAAN-NYA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment