Tuesday, 16 August 2016

16 Agustus 2016

INFLUENCED






Kejadian 39:1-23. Seandainya bisa memilih Yusuf tentu tidak ingin menjadi budak di Mesir (ayat 1). Akan tetapi meski diperbudak, Ia berhasil, karena Tuhan MENYERTAI Yusuf (ayat 2), Tuhan bahkan memberkati rumah tuannya/MENJADI BERKAT karena Yusuf (ayat 5). Di dalam penjara pun Ia memperoleh kepercayaan (DAPAT DIPERCAYA) dari kepala penjara (ayat 22), melalui proses kehidupan yang dihadapinya, dari bawah sampai ke puncak (menduduki posisi penting di Mesir), Yusuf tetap mempunyai moral yang baik. Sehingga apapun yang dikerjakannya dibuat Tuhan BERHASIL (ayat 23). Amin. Bagaimana dengan kita? Maukah kita menerima proses yang sedang Tuhan kerjakan? DIA memiliki rencana atas kita semua dimanapun kita ditempatkan untuk memberi dampak melalui kehidupan kita masing-masing. Sudah siapkah kita?

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
SABAR TERHADAP SIAPAPUN. Namanya John, dia adalah pemuda yang sangat sukses di desanya. Kesuksesan itu membuat dirinya menjadi sosok yang sombong, sehingga tidak mau menjalin hubungan dengan orang lain, terkecuali jika ada urusan bisnis. John tak suka mempedulikan orang lain, sehingga orang lain tak ada yang mau memperhatikannya. Sampai pada akhirnya John terperosok ke dalam jurang, & tak ada satu orang pun yang mencari keberadaannya & menolongnya. Kita tidak bisa hidup seorang diri, di mana pun kita berada, kita masih membutuhkan kasih dari orang lain. Kita juga masih membutuhkan banyak hal-hal baru untuk dipelajari dari orang lain. Ketika kita ingin memperoleh kehidupan yang baik, maka kita juga harus bisa berbuat baik dengan semua orang. TUHAN tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang SOMBONG. DIA ingin kita selalu mempedulikan orang lain & mengasihi mereka tanpa terkecuali, terlebih lagi ketika kita memiliki persekutuan di dalam TUHAN secara ber-sama-sama, maka akan tumbuh kebangunan rohani yang luar biasa. Belajar menerima kesalahan orang lain adalah KUNCI yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh & abadi. Ingatlah emosi tak akan pernah menyelesaikan masalah, selalulah BERPIKIR POSITIF. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi? Pasti punya alasannya sendiri... Janganlah kita menjadi orang yang EGOIS yang hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengerti. JANGANLAH MEMINTA SEGALA SESUATU yang SEMPURNA JIKA KITA BLUM PERNAH MENJADI SEMPURNA UNTUK ORANG LAIN. Efesus 4:2, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” God bless you.

Xavier Quentin Pranata
“Ketidaknyamanan adalah cara Tuhan untuk memindahkan kita ke tempat yang lebih nyaman.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 16 Agustus 2016. Keledai Bileam. Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia menyimpang dari hadapan-Ku; jika ia tidak menyimpang dari hadapan-Ku, tentulah engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup (Bilangan 22:33). Salah satu trik untuk mengendalikan kemarahan adalah dengan berhitung dari satu sampai sepuluh di dalam hati. Hal itu menjadikan pikiran lebih rileks. Diharapkan, kita jadi lebih mampu mengendalikan diri sehingga kemarahan kita tidak meluap melalui perkataan atau perbuatan yang bertolak belakang dengan jiwa kristiani yang menjadi jati diri kita. Ketika Bileam berniat menuruti bujukan Balak untuk mengutuki Israel, Tuhan murka. Malaikat Tuhan menghadang Bileam di tengah perjalanan. Melihat malaikat Tuhan menghunus pedang, keledai Bileam menyimpang dari jalan hingga masuk ke ladang. Bileam murka kepada keledainya. Ya, Allah murka kepada Bileam, dan Bileam murka kepada keledai yang telah menyelamatkannya dari murka Allah. Keledai itu menyelamatkannya dari pedang malaikat, tetapi Bileam ingin membunuhnya. Bileam yang tersesat menjadi sukar mendengar. Hatinya yang tidak taat pada kehendak Tuhan menjadikan matanya “buta” sehingga tidak melihat malaikat Tuhan. Bileam kehilangan kepekaan sehingga tidak bisa melihat kebenaran. Kita belajar bahwa pengikut Tuhan yang taat memiliki kepekaan terhadap pimpinan Tuhan. Tetapi, kehadiran-Nya akan dianggap sebagai duri bagi mereka yang tidak mau taat. Jangan jadikan risiko ketaatan ini sebagai alasan untuk melarikan diri dari Tuhan. Terlebih lagi kedaulatan Tuhan atas hidup manusia bersifat mutlak. Kedaulatan Tuhan mampu menjaga orang benar dan menaklukkan segala nafsu jahat manusia --Endang B. Lestari/Renungan Harian. PENGIKUT TUHAN YANG TAAT MEMILIKI KEPEKAAN HATI. TETAPI, KEHADIRAN-NYA MENJADI DURI BAGI YANG MENGERASKAN HATI. Selamat pagi. Selamat beraktivitas. Salam Merdeka. Tuhan Yesus memberkati.

Tante Elisabeth – NTT
Ya amin! Prince of peace (Raja Damai). Kita punya damai maka kita punya segalanya, peningkatan dalam hidup kita. Minta dalam setiap domain, Tuhan berkati mataku & bukakan mataku untuk melihat hal yang jauh dari pada hal natural & hal dari roh dan menerobos dari segala kedagingan. Untuk dapat melihat hal-hal yang indah. Semua hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin karena kekuatan kita ada di dalam Dia, Tuhan yang berkuasa. Setelah kita menerima, mendengarkan, kita harus percaya Tuhan yang memberi damai. Tuhan membuka mata kita supaya bisa melihat strategi didalam roh. Hidup dalam firmanNya itu adalah posisi kita, itu adalah tempat kita, karena itu kita punya Bapa punya Anak dan Roh Kudus. Jangan iman kita menjadi gugur, kita harus terus menguatkan saudara-saudara kita ini adalah kuncinya bagaimana membawa mandat kerajaan, kuatkan saudara yang lain, peengaruhi orang lain, perkenalkan damai kepada orang lain. Amin... Selamat pagi, selamat beraktivitas, Tuhan menyertai. JBU all.

Ibu Susan – DPT
JANGAN SAMPAI MEMADAMKAN ROH. Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Agustus 2016. Baca: 1 Tesalonika 5:12-22. “Janganlah padamkan Roh,” 1 Tesalonika 5:19. Tak bisa disangkal lagi, hari-hari ini dunia sedang menuju kepada kesudahannya; salah satu tandanya adalah kejahatan manusia yang semakin menjadi-jadi. Berita tentang kejahatan, seperti pembunuhan, perampokan, pencabulan atau pemerkosaan, adalah menu sehari-hari. Bahkan kejahatan seksual di Indonesia sudah mencapai tingkat yang mengawatirkan semua pihak. Ngeri sekali! Ini menunjukkan banyak orang lebih memilih memuaskan keinginan dagingnya  (hawa nafsunya)  daripada melakukan kehendak Tuhan. Keadaan ini sudah disampaikan Tuhan:  “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya” (Lukas 17:26-30). Situasi manusia di zaman Nuh dan Lot benar-benar sama dengan situasi zaman kita sekarang ini. Bahkan ada banyak orang percaya, yang seharusnya memiliki kehidupan  'berbeda'  dengan dunia, justru ikut terbawa arus.  Mereka gagal hidup dalam pimpinan Roh Kudus, suara Roh Kudus terus diabaikan dan tidak lagi dianggap.  Tindakan demikian itu sama artinya mendukakan Roh Kudus, padahal firman-Nya jelas memperingatkan: “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan” (Efesus 4:30), dan “Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia” (Efesus 4:17).

GNCC
Kuatir yang berlebihan artinya sedang menggantikan kedudukan Allah dan mengambil tanggung jawab Allah. Lukas 12:24, “Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu.” #gncc

No comments:

Post a Comment