INFLUENCED
Kejadian
39:1-23. Seandainya bisa memilih Yusuf tentu
tidak ingin menjadi budak di Mesir (ayat 1). Akan tetapi meski diperbudak, Ia
berhasil, karena Tuhan MENYERTAI Yusuf (ayat 2), Tuhan bahkan memberkati rumah
tuannya/MENJADI BERKAT karena Yusuf (ayat 5). Di dalam penjara pun Ia
memperoleh kepercayaan (DAPAT DIPERCAYA) dari kepala penjara (ayat 22), melalui
proses kehidupan yang dihadapinya, dari bawah sampai ke puncak (menduduki
posisi penting di Mesir), Yusuf tetap mempunyai moral yang baik. Sehingga
apapun yang dikerjakannya dibuat Tuhan BERHASIL (ayat 23). Amin. Bagaimana
dengan kita? Maukah kita menerima proses yang sedang Tuhan kerjakan? DIA
memiliki rencana atas kita semua dimanapun kita ditempatkan untuk memberi
dampak melalui kehidupan kita masing-masing. Sudah siapkah kita?
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
SABAR TERHADAP
SIAPAPUN. Namanya John, dia adalah pemuda yang sangat sukses di desanya.
Kesuksesan itu membuat dirinya menjadi sosok yang sombong, sehingga tidak mau
menjalin hubungan dengan orang lain, terkecuali jika ada urusan bisnis. John
tak suka mempedulikan orang lain, sehingga orang lain tak ada yang mau
memperhatikannya. Sampai pada akhirnya John terperosok ke dalam jurang, &
tak ada satu orang pun yang mencari keberadaannya & menolongnya. Kita tidak
bisa hidup seorang diri, di mana pun kita berada, kita masih membutuhkan kasih
dari orang lain. Kita juga masih membutuhkan banyak hal-hal baru untuk
dipelajari dari orang lain. Ketika kita ingin memperoleh kehidupan yang baik,
maka kita juga harus bisa berbuat baik dengan semua orang. TUHAN tidak pernah
mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang SOMBONG. DIA ingin kita selalu mempedulikan
orang lain & mengasihi mereka tanpa terkecuali, terlebih lagi ketika kita
memiliki persekutuan di dalam TUHAN secara ber-sama-sama, maka akan tumbuh
kebangunan rohani yang luar biasa. Belajar menerima kesalahan orang lain adalah
KUNCI yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat,
bertumbuh & abadi. Ingatlah emosi tak akan pernah menyelesaikan masalah,
selalulah BERPIKIR POSITIF. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi? Pasti punya
alasannya sendiri... Janganlah kita menjadi orang yang EGOIS yang hanya mau
dimengerti, tapi tidak mau mengerti. JANGANLAH MEMINTA SEGALA SESUATU yang
SEMPURNA JIKA KITA BLUM PERNAH MENJADI SEMPURNA UNTUK ORANG LAIN. Efesus 4:2,
“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu
dalam hal saling membantu.” God bless you.
Xavier
Quentin Pranata
“Ketidaknyamanan
adalah cara Tuhan untuk memindahkan kita ke tempat yang lebih nyaman.” Xavier
Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Selasa, 16 Agustus 2016. Keledai Bileam. Ketika keledai ini melihat Aku, telah
tiga kali ia menyimpang dari hadapan-Ku; jika ia tidak menyimpang dari
hadapan-Ku, tentulah engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan
hidup (Bilangan 22:33). Salah satu trik untuk mengendalikan kemarahan adalah
dengan berhitung dari satu sampai sepuluh di dalam hati. Hal itu menjadikan
pikiran lebih rileks. Diharapkan, kita jadi lebih mampu mengendalikan diri
sehingga kemarahan kita tidak meluap melalui perkataan atau perbuatan yang
bertolak belakang dengan jiwa kristiani yang menjadi jati diri kita. Ketika
Bileam berniat menuruti bujukan Balak untuk mengutuki Israel, Tuhan murka.
Malaikat Tuhan menghadang Bileam di tengah perjalanan. Melihat malaikat Tuhan
menghunus pedang, keledai Bileam menyimpang dari jalan hingga masuk ke ladang.
Bileam murka kepada keledainya. Ya, Allah murka kepada Bileam, dan Bileam murka
kepada keledai yang telah menyelamatkannya dari murka Allah. Keledai itu
menyelamatkannya dari pedang malaikat, tetapi Bileam ingin membunuhnya. Bileam yang
tersesat menjadi sukar mendengar. Hatinya yang tidak taat pada kehendak Tuhan
menjadikan matanya “buta” sehingga tidak melihat malaikat Tuhan. Bileam
kehilangan kepekaan sehingga tidak bisa melihat kebenaran. Kita belajar bahwa
pengikut Tuhan yang taat memiliki kepekaan terhadap pimpinan Tuhan. Tetapi,
kehadiran-Nya akan dianggap sebagai duri bagi mereka yang tidak mau taat.
Jangan jadikan risiko ketaatan ini sebagai alasan untuk melarikan diri dari
Tuhan. Terlebih lagi kedaulatan Tuhan atas hidup manusia bersifat mutlak.
Kedaulatan Tuhan mampu menjaga orang benar dan menaklukkan segala nafsu jahat
manusia --Endang B. Lestari/Renungan Harian. PENGIKUT TUHAN YANG TAAT MEMILIKI
KEPEKAAN HATI. TETAPI, KEHADIRAN-NYA MENJADI DURI BAGI YANG MENGERASKAN HATI. Selamat
pagi. Selamat beraktivitas. Salam Merdeka. Tuhan Yesus memberkati.
Tante
Elisabeth – NTT
Ya amin! Prince
of peace (Raja Damai). Kita punya damai maka kita punya segalanya, peningkatan
dalam hidup kita. Minta dalam setiap domain, Tuhan berkati mataku & bukakan
mataku untuk melihat hal yang jauh dari pada hal natural & hal dari roh dan
menerobos dari segala kedagingan. Untuk dapat melihat hal-hal yang indah. Semua
hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin karena kekuatan kita ada di dalam
Dia, Tuhan yang berkuasa. Setelah kita menerima, mendengarkan, kita harus
percaya Tuhan yang memberi damai. Tuhan membuka mata kita supaya bisa melihat
strategi didalam roh. Hidup dalam firmanNya itu adalah posisi kita, itu adalah
tempat kita, karena itu kita punya Bapa punya Anak dan Roh Kudus. Jangan iman
kita menjadi gugur, kita harus terus menguatkan saudara-saudara kita ini adalah
kuncinya bagaimana membawa mandat kerajaan, kuatkan saudara yang lain,
peengaruhi orang lain, perkenalkan damai kepada orang lain. Amin... Selamat
pagi, selamat beraktivitas, Tuhan menyertai. JBU all.
Ibu Susan – DPT
JANGAN SAMPAI
MEMADAMKAN ROH. Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Agustus 2016.
Baca: 1 Tesalonika 5:12-22. “Janganlah padamkan Roh,” 1 Tesalonika 5:19. Tak bisa
disangkal lagi, hari-hari ini dunia sedang menuju kepada kesudahannya; salah
satu tandanya adalah kejahatan manusia yang semakin menjadi-jadi. Berita
tentang kejahatan, seperti pembunuhan, perampokan, pencabulan atau pemerkosaan,
adalah menu sehari-hari. Bahkan kejahatan seksual di Indonesia sudah mencapai
tingkat yang mengawatirkan semua pihak. Ngeri sekali! Ini menunjukkan banyak
orang lebih memilih memuaskan keinginan dagingnya (hawa nafsunya) daripada melakukan kehendak Tuhan. Keadaan
ini sudah disampaikan Tuhan: “Dan sama
seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari
Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai
kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan
mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan
minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada
hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari
langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di
mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya” (Lukas 17:26-30). Situasi manusia di
zaman Nuh dan Lot benar-benar sama dengan situasi zaman kita sekarang ini.
Bahkan ada banyak orang percaya, yang seharusnya memiliki kehidupan 'berbeda'
dengan dunia, justru ikut terbawa arus.
Mereka gagal hidup dalam pimpinan Roh Kudus, suara Roh Kudus terus
diabaikan dan tidak lagi dianggap.
Tindakan demikian itu sama artinya mendukakan Roh Kudus, padahal
firman-Nya jelas memperingatkan: “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus
Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan” (Efesus 4:30),
dan “Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah
dengan pikirannya yang sia-sia” (Efesus 4:17).
GNCC
Kuatir yang
berlebihan artinya sedang menggantikan kedudukan Allah dan mengambil tanggung
jawab Allah. Lukas 12:24, “Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur
dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi
makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu.” #gncc

No comments:
Post a Comment