INFLUENCED
Hakim-Hakim
4: 6-7 & 10. Baik tidaknya kehidupan seseorang
tidak ditentukan oleh lamanya ia hidup, tetapi DAMPAK apa yang ia berikan bagi
banyak orang. Bagaimana membangun kehidupan yang memberi kepuasan, penuh arti
dan membawa dampak positif yang maksimal bagi sekeliling kita. Debora salah
satu teladan dari orang-orang yang memberikan pengaruh/maximum impact
yang sangat positif terhadap umat Israel waktu itu Bagaimana dengan kita? Kita
dipanggil untuk memberikan maximum impact yang positif karena ada benih
Ilahi yang ada dalam kehidupan kita. Apakah kita sudah memberi kan dampak yang
maksimal? Amin.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Rabu, 11 Agustus 2016. Hidup bergantung pada TUHAN; Hakim-hakim 7:22.
Perkembangan teknologi komunikasi membawa dampak juga dalam pergaulan dan
interaksi antar personal. Fitur-fitur seperti messenger, sosial media, dan
aplikasi dalam berbagai bidang, hingga aplikasi untuk kesehatan bisa didapatkan
dengan mudah. Akhirnya pengguna ‘malas’ berinteraksi dengan lingkungan
sosialnya dan malah berkutat dengan hpnya. Apakah Anda merasakan hal yang sama?
Nomophobia singkatan dari no-mobile-phone phobia adalah kegelisahan yang
menyerang seseorang karena tidak membawa handphone. Lebih dari bergantung
kepada handphone demikianlah seharusnya setiap orang percaya bergantung kepada
Tuhan. Setiap orang mempunyai keterbatasan dalam menjalani kehidupannya.
Keterbatasan karena kurangnya sumber daya yang dimiliki ataupun adanya rasa
takut dalam hidupnya. Tidak ada jalan yang lebih baik kecuali hidup bergantung
kepada Tuhan yang akan menyebabkan seseorang dapat mengalami kemenangan dan
keberhasilan. Gideon mempunyai keterbatasan dalam iman dan sumber daya yang
tidak sebanding dengan banyaknya musuh yang harus dikalahkan. Tetapi dengan
hidup bergantung kepada Tuhan akhirnya bangsa Israel yang dipimpin oleh Gideon
berhasil bebas dari penindasan bangsa Midian seperti yang tertulis dalam kitab
Hakim-Hakim. Bersyukur kepada Tuhan karena berkenan untuk menolong kita yang
hidup bergantung kepadaNya. Roh Kudus akan menolong kita bergantung kepada
Tuhan sehingga kita dapat dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Mat 8:3 – YESUS:
“AKU mau, jadilah kamu SEMBUH! Seketika itu juga SEMBUHlah orang itu!” Jangan
ragu... YESUS mau kok menolong kita. Sekarang DIA mau menjamahmu. Mujizat pasti
terjadi! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry Malang.
Xavier
Quentin Pranata
“Makin dewasa
iman kita makin cerdas kita membedakan mana yang sementara mana yang kekal.”
Xavier Quentin Pranata.
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
Moto dari
Pegadaian adalah “MENGATASI MASALAH TANPA MASALAH”. Seperti halnya moto
Pegadaian tersebut, kita juga mengharapkan hal yang sama. Masalah di dalam
hidup ini tak pernah ada henti-hentinya, sekecil apapun masalah itu pasti
selalu ada. Yang terpenting adalah respon kita terhadap masalah itu, bagaimana
kita menghadapi masalah—masalah tersebut. Jika kita menghadapi masalah, maka
yang harus kita lakukan adalah kita anggap masalah itu sebagai kesempatan untuk
belajar & bertumbuh. Maz 119:71, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku,
supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-MU.” Ketika kita mendapatkan suatu
masalah kita harus tetap ber-SYUKUR, karena dengan adanya masalah kita akan
belajar mengerti apa maunya TUHAN atas diri kita..., dan kita akan belajar
mengerti apa kehendak atau rencana TUHAN di dalam hidup kita. Ibrani 12:11 -
“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita,
tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan
damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Setiap masalah yang ada adalah
identik dengan duka cita atau penderitaan, tetapi TUHAN menjadikan masalah atau
persoalan itu sebagai ladang yang subur bagi DIA untuk menyatakan kuasaNya
& kasihNya kepada kita. Dan melalui masalah--masalah itu juga TUHAN
berusaha membentuk kita anak--anak-Nya supaya menjadi pribadi--pribadi yang
kuat & tahan uji –BDH. God bless you.
Ibu
Caroline – Bandung
Kamis, 11
Agustus 2016. Bacaan: Keluaran 2:1-10. Setahun: Yesaya 52-57. Nas: Diambilnya
sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu
di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil
(Keluaran 2:3). Melepaskan Masa Depan. Sejak mempunyai anak, saya selalu
berjuang melawan perasaan gelisah setiap kali harus pergi bertugas ke luar
kota. Hati saya merasa sedih sebab terpaksa meninggalkan putra-putri demi
mewujudkan masa depan saya dan keluarga. Bayangkan yang dialami Yokhebed, ibu
Musa. Ia seorang wanita yang harus melepaskan buah hati yang dilahirkan dari
kandungannya sendiri. Setelah tiga bulan penuh merawat dan menyusui Musa, pasti
ada ikatan emosi kuat terjalin di antara mereka. Sebagai ibu orang Ibrani,
dengan berat hati ia terpaksa melepaskan sang buah hati dengan menghanyutkannya
ke sungai Nil, agar bayinya itu tidak mati dibunuh oleh orang-orang Mesir.
Tindakan Yokhebed melepaskan anaknya sepertinya sama dengan “melepas” anaknya
pada masa depan yang tidak jelas arahnya. Yokhebed sebenarnya bukan hanya
“melepas” begitu saja, tetapi ia belajar menyerahkan dan memercayakan
sepenuhnya masa depan anaknya kepada Allah. Dan benar, Allah bekerja saat ia
“melepaskan” masa depan anaknya. Seorang putri Firaun yang sedang mandi di
sungai Nil melihat keranjang bayi Musa tersebut, lalu mengambil dan mengangkat
bayi itu menjadi anaknya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki cita-cita
atau impian yang sedang kita coba raih tanpa menyerahkannya terlebih dahulu
kepada Allah? Ingat, impian kita belum tentu sama dengan impian Allah terhadap
kita. Selaraskan dahulu impian kita dengan impian-Nya, maka Dia akan mewujudkan
impian kita --James Yanuar. LEPASKANLAH IMPIAN KITA KE TANGAN ALLAH, MAKA DIA
AKAN MERANGKAI MASA DEPAN KITA.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Kamis, 11 Agustus 2016. Ketaatan kepada TUHAN. “Segera sesudah Gideon mendengar
mimpi itu diceritakan dengan maknanya, sujudlah ia menyembah. Kemudian
pulanglah ia ke perkemahan orang Israel, lalu berkata: ‘Bangunlah, sebab TUHAN
telah menyerahkan perkemahan orang Midian ke dalam tanganmu‘” (Hakim-Hakim
7:15). Ketika pergi ke Singapura, Anda akan bertemu dengan banyak orang
Indonesia. Orang Indonesia yang berada di Singapura pada umumnya, bahkan hampir
semuanya, akan mengikuti aturan yang ditetapkan oleh pemerintah Singapura.
Tetapi anehnya pada saat kembali ke Indonesia, kebiasaan lama dengan
menyebarang jalan di sembarang tempat akan terulang kembali. Masalahnya bukan
tahu atau tidak melainkan mau mengikuti peraturan atau tidak. Demikian juga
dalam perjalanan kehidupan kekristenan. Orang percaya tahu dengan pasti bahwa
mengikuti kehendak Tuhan akan mendatangkan kebaikan, keberhasilan dan
kebahagiaan. Meskipun tahu bahwa ketaatan kepada Tuhan adalah hal yang mutlak
perlu, banyak orang percaya tidak mau melakukannya. Ada orang percaya yang
lebih mengikuti kemauannya sendiri dibandingkan dengan hidup dalam ketaatan
kepada kehendak Tuhan. Tetapi Gideon menjadi contoh bagi kita, dalam
keterbatasan sumber daya yang dimilikinya, dia memutuskan untuk taat melakukan
kehendak Tuhan. Keterbatasan sumber daya yang dimiliki justru menjadi ujian
ketaatan bagi Gideon untuk melakukan kehendak Allah. Gideon tidak hanya
mengetahui kehendak Tuhan dalam hidupnya, tetapi lebih dari itu dengan segera
melakukan kehendakNya. Bersyukur kepada Tuhan karena berkenan untuk memberkati
kita yang mentaati kehendakNya. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment