Thursday, 11 August 2016

11 Agustus 2016

INFLUENCED






Hakim-Hakim 4: 6-7 & 10. Baik tidaknya kehidupan seseorang tidak ditentukan oleh lamanya ia hidup, tetapi DAMPAK apa yang ia berikan bagi banyak orang. Bagaimana membangun kehidupan yang memberi kepuasan, penuh arti dan membawa dampak positif yang maksimal bagi sekeliling kita. Debora salah satu teladan dari orang-orang yang memberikan pengaruh/maximum impact yang sangat positif terhadap umat Israel waktu itu Bagaimana dengan kita? Kita dipanggil untuk memberikan maximum impact yang positif karena ada benih Ilahi yang ada dalam kehidupan kita. Apakah kita sudah memberi kan dampak yang maksimal? Amin.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Rabu, 11 Agustus 2016. Hidup bergantung pada TUHAN; Hakim-hakim 7:22. Perkembangan teknologi komunikasi membawa dampak juga dalam pergaulan dan interaksi antar personal. Fitur-fitur seperti messenger, sosial media, dan aplikasi dalam berbagai bidang, hingga aplikasi untuk kesehatan bisa didapatkan dengan mudah. Akhirnya pengguna ‘malas’ berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dan malah berkutat dengan hpnya. Apakah Anda merasakan hal yang sama? Nomophobia singkatan dari no-mobile-phone phobia adalah kegelisahan yang menyerang seseorang karena tidak membawa handphone. Lebih dari bergantung kepada handphone demikianlah seharusnya setiap orang percaya bergantung kepada Tuhan. Setiap orang mempunyai keterbatasan dalam menjalani kehidupannya. Keterbatasan karena kurangnya sumber daya yang dimiliki ataupun adanya rasa takut dalam hidupnya. Tidak ada jalan yang lebih baik kecuali hidup bergantung kepada Tuhan yang akan menyebabkan seseorang dapat mengalami kemenangan dan keberhasilan. Gideon mempunyai keterbatasan dalam iman dan sumber daya yang tidak sebanding dengan banyaknya musuh yang harus dikalahkan. Tetapi dengan hidup bergantung kepada Tuhan akhirnya bangsa Israel yang dipimpin oleh Gideon berhasil bebas dari penindasan bangsa Midian seperti yang tertulis dalam kitab Hakim-Hakim. Bersyukur kepada Tuhan karena berkenan untuk menolong kita yang hidup bergantung kepadaNya. Roh Kudus akan menolong kita bergantung kepada Tuhan sehingga kita dapat dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Mat 8:3 – YESUS: “AKU mau, jadilah kamu SEMBUH! Seketika itu juga SEMBUHlah orang itu!” Jangan ragu... YESUS mau kok menolong kita. Sekarang DIA mau menjamahmu. Mujizat pasti terjadi! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry Malang.

Xavier Quentin Pranata
“Makin dewasa iman kita makin cerdas kita membedakan mana yang sementara mana yang kekal.” Xavier Quentin Pranata.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
Moto dari Pegadaian adalah “MENGATASI MASALAH TANPA MASALAH”. Seperti halnya moto Pegadaian tersebut, kita juga mengharapkan hal yang sama. Masalah di dalam hidup ini tak pernah ada henti-hentinya, sekecil apapun masalah itu pasti selalu ada. Yang terpenting adalah respon kita terhadap masalah itu, bagaimana kita menghadapi masalah—masalah tersebut. Jika kita menghadapi masalah, maka yang harus kita lakukan adalah kita anggap masalah itu sebagai kesempatan untuk belajar & bertumbuh. Maz 119:71, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-MU.” Ketika kita mendapatkan suatu masalah kita harus tetap ber-SYUKUR, karena dengan adanya masalah kita akan belajar mengerti apa maunya TUHAN atas diri kita..., dan kita akan belajar mengerti apa kehendak atau rencana TUHAN di dalam hidup kita. Ibrani 12:11 - “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Setiap masalah yang ada adalah identik dengan duka cita atau penderitaan, tetapi TUHAN menjadikan masalah atau persoalan itu sebagai ladang yang subur bagi DIA untuk menyatakan kuasaNya & kasihNya kepada kita. Dan melalui masalah--masalah itu juga TUHAN berusaha membentuk kita anak--anak-Nya supaya menjadi pribadi--pribadi yang kuat & tahan uji –BDH. God bless you.

Ibu Caroline – Bandung
Kamis, 11 Agustus 2016. Bacaan: Keluaran 2:1-10. Setahun: Yesaya 52-57. Nas: Diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil (Keluaran 2:3). Melepaskan Masa Depan. Sejak mempunyai anak, saya selalu berjuang melawan perasaan gelisah setiap kali harus pergi bertugas ke luar kota. Hati saya merasa sedih sebab terpaksa meninggalkan putra-putri demi mewujudkan masa depan saya dan keluarga. Bayangkan yang dialami Yokhebed, ibu Musa. Ia seorang wanita yang harus melepaskan buah hati yang dilahirkan dari kandungannya sendiri. Setelah tiga bulan penuh merawat dan menyusui Musa, pasti ada ikatan emosi kuat terjalin di antara mereka. Sebagai ibu orang Ibrani, dengan berat hati ia terpaksa melepaskan sang buah hati dengan menghanyutkannya ke sungai Nil, agar bayinya itu tidak mati dibunuh oleh orang-orang Mesir. Tindakan Yokhebed melepaskan anaknya sepertinya sama dengan “melepas” anaknya pada masa depan yang tidak jelas arahnya. Yokhebed sebenarnya bukan hanya “melepas” begitu saja, tetapi ia belajar menyerahkan dan memercayakan sepenuhnya masa depan anaknya kepada Allah. Dan benar, Allah bekerja saat ia “melepaskan” masa depan anaknya. Seorang putri Firaun yang sedang mandi di sungai Nil melihat keranjang bayi Musa tersebut, lalu mengambil dan mengangkat bayi itu menjadi anaknya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki cita-cita atau impian yang sedang kita coba raih tanpa menyerahkannya terlebih dahulu kepada Allah? Ingat, impian kita belum tentu sama dengan impian Allah terhadap kita. Selaraskan dahulu impian kita dengan impian-Nya, maka Dia akan mewujudkan impian kita --James Yanuar. LEPASKANLAH IMPIAN KITA KE TANGAN ALLAH, MAKA DIA AKAN MERANGKAI MASA DEPAN KITA.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 11 Agustus 2016. Ketaatan kepada TUHAN. “Segera sesudah Gideon mendengar mimpi itu diceritakan dengan maknanya, sujudlah ia menyembah. Kemudian pulanglah ia ke perkemahan orang Israel, lalu berkata: ‘Bangunlah, sebab TUHAN telah menyerahkan perkemahan orang Midian ke dalam tanganmu‘” (Hakim-Hakim 7:15). Ketika pergi ke Singapura, Anda akan bertemu dengan banyak orang Indonesia. Orang Indonesia yang berada di Singapura pada umumnya, bahkan hampir semuanya, akan mengikuti aturan yang ditetapkan oleh pemerintah Singapura. Tetapi anehnya pada saat kembali ke Indonesia, kebiasaan lama dengan menyebarang jalan di sembarang tempat akan terulang kembali. Masalahnya bukan tahu atau tidak melainkan mau mengikuti peraturan atau tidak. Demikian juga dalam perjalanan kehidupan kekristenan. Orang percaya tahu dengan pasti bahwa mengikuti kehendak Tuhan akan mendatangkan kebaikan, keberhasilan dan kebahagiaan. Meskipun tahu bahwa ketaatan kepada Tuhan adalah hal yang mutlak perlu, banyak orang percaya tidak mau melakukannya. Ada orang percaya yang lebih mengikuti kemauannya sendiri dibandingkan dengan hidup dalam ketaatan kepada kehendak Tuhan. Tetapi Gideon menjadi contoh bagi kita, dalam keterbatasan sumber daya yang dimilikinya, dia memutuskan untuk taat melakukan kehendak Tuhan. Keterbatasan sumber daya yang dimiliki justru menjadi ujian ketaatan bagi Gideon untuk melakukan kehendak Allah. Gideon tidak hanya mengetahui kehendak Tuhan dalam hidupnya, tetapi lebih dari itu dengan segera melakukan kehendakNya. Bersyukur kepada Tuhan karena berkenan untuk memberkati kita yang mentaati kehendakNya. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment