Monday, 15 August 2016

15 Agustus 2016

INFLUENCED






Lemah tetapi kuat (Ester 8:1-17). Kisah kehidupan Ratu Ester bukan saja tampak dalam penyelamatan bangsanya dari kebinasaan tetapi juga dalam menjamin keamanan dan kehormatan mereka di negeri asing. Ini membuktikan bahwa “seorang yang lemah” menurut orang awam dapat dipakai secara kuat untuk membawa dampak bagi bangsanya. Tuhan bisa memakai siapapun kita untuk menjadi dampak dimanapun kita berada baik pria wanita tua muda. Jadilah pribadi yang selalu siap untuk semakin dekat dengan Tuhan sehingga kita mengerti akan setiap rencanaNya. Amin.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
PIKIRAN yang POSITIF. Ada seorang kakek yang mendapati pohon pepaya di depan rumahnya telah berbuah. Walaupun hanya 2 buah, namun telah menguning & siap dipanen. Ia berencana memetik buah itu di keesokan hari. Namun tatkala pagi tiba, ia mendapati satu buah pepayanya hilang dicuri orang. Kakek itu begitu bersedih hingga istrinya merasa heran, “Masa hanya karena sebuah pepaya saja engkau demikian murung?” “Bukan itu yang aku sedihkan. Aku kepikiran betapa sulitnya orang itu mengambil pepaya kita. Ia harus sembunyi-sembunyi di tengah malam agar tidak ketahuan orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan susah payah untuk bisa memetiknya. Maka dari itu, saya akan pinjam tangga, & saya taruh di bawah pohon pepaya, mudah-mudahan ia datang kembali malam ini & tidak kesulitan lagi mengambil yang satunya.” Namun saat pagi kembali hadir, ia mendapati pepaya yang tinggal sebuah itu tetap ada beserta tangganya tanpa bergeser sedikitpun. Di sore harinya, sang kakek kedatangan seorang tamu yang menenteng 2 buah pepaya besar di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut. Setelah berbincang lama, saat hendak pamitan tamu itu dengan amat menyesal mengaku bahwa ia yang telah mencuri pepayanya, “Sebenarnya di malam berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang tersisa. Namun saat saya menemukan ada tangga di sana, saya sadar & sejak itu bertekad untuk tidak mencuri lagi. Untuk menebus kesalahan, saya hadiahkan pepaya yang baru saya beli di pasar untuk Anda.” Pesan Moral dari kisah di atas adlh tentang KEIKHLASAN, KESABARAN, KEBAJIKAN, & CARA PANDANG POSITIF TERHADAP KEHIDUPAN. Dengan pikiran yang POSITIF disamping kita mendapatkan berkat yang lebih, kita juga dapat mengubah seseorang menjadi lebih baik. Mampukah kita tetap bersikap/berpikir POSITIF saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan Ikhlas & mencari sisi baiknya serta melupakan sakitnya suatu “musibah”? Filipi 4:9, “Dan apa yang telah kamu pelajari & apa yang telah kamu terima, & apa yang telah kamu dengar & apa yang telah kamu lihat pada-Ku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” God bless you.

Xavier Quentin Pranata
“TANGGAPAN paling efektif untuk MENANGGAPI gosip adalah TIDAK MENANGGAPINYA sama sekali.” Xavier Quentin Pranata.

Tante Elisabeth – NTT
Ya amin! Tuhan kita yang SETIA memberikan kekuatan untuk membangkitkan generasi-generasi penerus. Eternal (kekal) apapun yang Tuhan kerjakan selalu dari generasi ke generasi artinya apapun yang kita tidak bisa lakukan pada generasi kita, Tuhan akan tetap kerjakan secara terus menerus kepada generasi berikut, itulah kekekalan. Apa yang kita terima & jamah dari Tuhan mungkin bukan kita yang akan mengerjakan tapi Tuhan selalu menyiapkan generasi berikut untuk menerima & melakukan... Ada generasi yang dibangkitkan Tuhan, kita tidak sendiri. Happy Monday. Happy day. JBU all.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 15 Agustus 2016. Kehendak Terbaik. Ambillah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki (Markus 14:36). Getsemani berarti “tempat pemerasan minyak”. Di taman itu Yesus menghadapi tantangan paling sulit dalam hidup-Nya; seolah-olah diperas habis untuk mendapatkan minyak yang murni. Dia merasa “sangat takut dan gentar” (ay. 33), menyiratkan kepedihan yang teramat menyakitkan. Di tengah kesesakan itu, Yesus merebahkan diri-Nya ke tanah. Yang dimaksud dengan “merebahkan diri” adalah seakan-akan terjatuh dengan kedua lutut terhempas lebih dahulu ke tanah. Ralph Earle, dalam Beacon Bible Commentary, mengartikan kalimat ini dengan, ”berjalan seperti terhuyung-huyung, tersandung, dan terjatuh, kemudian larut dalam kesedihan dan ketakutan jiwa-Nya.” Langkah selanjutnya yang Yesus lakukan adalah berdoa. Yesus tahu kepada siapa Dia patut berdoa, yaitu kepada Bapa-Nya. Dia sangat mengenal dan percaya bahwa kuasa Bapa-Nya akan sanggup menolong-Nya. Sebagai manusia sejati, Yesus sangat takut dan gentar menghadapi kematian-Nya yang mendekat sehingga Dia berharap agar diri-Nya dijauhkan dari kematian. Tapi, iman-Nya tidaklah tergantung pada hasil doa-Nya. Iman-Nya diwujudkan melalui ketaatan dan penyerahan total-Nya pada kehendak Bapa-Nya. Yesus taat agar kehendak Bapalah yang dimuliakan atas hidup-Nya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga mau taat melakukan kehendak Bapa meskipun kehendak-Nya kadang-kadang tidak sama dengan kehendak kita? Apakah kita akan tetap taat pada kehendak-Nya walaupun kehendak-Nya membawa kita pada suatu ujian iman? —SYS. WUJUDKAN IMAN KITA MELALUI KETAATAN TOTAL KEPADA KEHENDAK TUHAN. Selamat pagi. Semangat awal hari. Tuhan Yesus memimpin. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment