INFLUENCED
Lemah
tetapi kuat (Ester 8:1-17). Kisah kehidupan Ratu Ester bukan saja
tampak dalam penyelamatan bangsanya dari kebinasaan tetapi juga dalam menjamin
keamanan dan kehormatan mereka di negeri asing. Ini membuktikan bahwa “seorang
yang lemah” menurut orang awam dapat dipakai secara kuat untuk membawa dampak
bagi bangsanya. Tuhan bisa memakai siapapun kita untuk menjadi dampak dimanapun
kita berada baik pria wanita tua muda. Jadilah pribadi yang selalu siap untuk
semakin dekat dengan Tuhan sehingga kita mengerti akan setiap rencanaNya. Amin.
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
PIKIRAN yang
POSITIF. Ada seorang kakek yang mendapati pohon pepaya di depan rumahnya telah
berbuah. Walaupun hanya 2 buah, namun telah menguning & siap dipanen. Ia
berencana memetik buah itu di keesokan hari. Namun tatkala pagi tiba, ia
mendapati satu buah pepayanya hilang dicuri orang. Kakek itu begitu bersedih
hingga istrinya merasa heran, “Masa hanya karena sebuah pepaya saja engkau
demikian murung?” “Bukan itu yang aku sedihkan. Aku kepikiran betapa sulitnya orang
itu mengambil pepaya kita. Ia harus sembunyi-sembunyi di tengah malam agar
tidak ketahuan orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan susah payah untuk
bisa memetiknya. Maka dari itu, saya akan pinjam tangga, & saya taruh di
bawah pohon pepaya, mudah-mudahan ia datang kembali malam ini & tidak
kesulitan lagi mengambil yang satunya.” Namun saat pagi kembali hadir, ia mendapati
pepaya yang tinggal sebuah itu tetap ada beserta tangganya tanpa bergeser
sedikitpun. Di sore harinya, sang kakek kedatangan seorang tamu yang menenteng
2 buah pepaya besar di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut.
Setelah berbincang lama, saat hendak pamitan tamu itu dengan amat menyesal
mengaku bahwa ia yang telah mencuri pepayanya, “Sebenarnya di malam berikutnya saya
ingin mencuri buah pepaya yang tersisa. Namun saat saya menemukan ada tangga di
sana, saya sadar & sejak itu bertekad untuk tidak mencuri lagi. Untuk
menebus kesalahan, saya hadiahkan pepaya yang baru saya beli di pasar untuk
Anda.” Pesan Moral dari kisah di atas adlh tentang KEIKHLASAN, KESABARAN,
KEBAJIKAN, & CARA PANDANG POSITIF TERHADAP KEHIDUPAN. Dengan pikiran yang
POSITIF disamping kita mendapatkan berkat yang lebih, kita juga dapat mengubah
seseorang menjadi lebih baik. Mampukah kita tetap bersikap/berpikir POSITIF
saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan Ikhlas & mencari sisi
baiknya serta melupakan sakitnya suatu “musibah”? Filipi 4:9, “Dan apa yang
telah kamu pelajari & apa yang telah kamu terima, & apa yang telah kamu
dengar & apa yang telah kamu lihat pada-Ku, lakukanlah itu. Maka Allah
sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” God bless you.
Xavier
Quentin Pranata
“TANGGAPAN
paling efektif untuk MENANGGAPI gosip adalah TIDAK MENANGGAPINYA sama sekali.”
Xavier Quentin Pranata.
Tante
Elisabeth – NTT
Ya amin! Tuhan
kita yang SETIA memberikan kekuatan untuk membangkitkan generasi-generasi
penerus. Eternal (kekal) apapun yang Tuhan kerjakan selalu dari generasi ke
generasi artinya apapun yang kita tidak bisa lakukan pada generasi kita, Tuhan
akan tetap kerjakan secara terus menerus kepada generasi berikut, itulah
kekekalan. Apa yang kita terima & jamah dari Tuhan mungkin bukan kita yang
akan mengerjakan tapi Tuhan selalu menyiapkan generasi berikut untuk menerima
& melakukan... Ada generasi yang dibangkitkan Tuhan, kita tidak sendiri.
Happy Monday. Happy day. JBU all.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Senin, 15 Agustus 2016. Kehendak Terbaik. Ambillah cawan ini dari hadapan-Ku,
tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki
(Markus 14:36). Getsemani berarti “tempat pemerasan minyak”. Di taman itu Yesus
menghadapi tantangan paling sulit dalam hidup-Nya; seolah-olah diperas habis
untuk mendapatkan minyak yang murni. Dia merasa “sangat takut dan gentar” (ay.
33), menyiratkan kepedihan yang teramat menyakitkan. Di tengah kesesakan itu,
Yesus merebahkan diri-Nya ke tanah. Yang dimaksud dengan “merebahkan diri”
adalah seakan-akan terjatuh dengan kedua lutut terhempas lebih dahulu ke tanah.
Ralph Earle, dalam Beacon Bible Commentary, mengartikan kalimat ini dengan,
”berjalan seperti terhuyung-huyung, tersandung, dan terjatuh, kemudian larut
dalam kesedihan dan ketakutan jiwa-Nya.” Langkah selanjutnya yang Yesus lakukan
adalah berdoa. Yesus tahu kepada siapa Dia patut berdoa, yaitu kepada Bapa-Nya.
Dia sangat mengenal dan percaya bahwa kuasa Bapa-Nya akan sanggup menolong-Nya.
Sebagai manusia sejati, Yesus sangat takut dan gentar menghadapi kematian-Nya
yang mendekat sehingga Dia berharap agar diri-Nya dijauhkan dari kematian.
Tapi, iman-Nya tidaklah tergantung pada hasil doa-Nya. Iman-Nya diwujudkan
melalui ketaatan dan penyerahan total-Nya pada kehendak Bapa-Nya. Yesus taat
agar kehendak Bapalah yang dimuliakan atas hidup-Nya. Bagaimana dengan kita?
Apakah kita juga mau taat melakukan kehendak Bapa meskipun kehendak-Nya
kadang-kadang tidak sama dengan kehendak kita? Apakah kita akan tetap taat pada
kehendak-Nya walaupun kehendak-Nya membawa kita pada suatu ujian iman? —SYS.
WUJUDKAN IMAN KITA MELALUI KETAATAN TOTAL KEPADA KEHENDAK TUHAN. Selamat pagi.
Semangat awal hari. Tuhan Yesus memimpin. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment