INFLUENCED
Keluarga seperti
apa yang kita idamkan? Kita semua rindu menjadi bagian dari sebuah keluarga,
dikasihi, diterima. Kerinduan yang sangat wajar. Karena kita diciptakan untuk
memiliki hubungan satu dengan yang lain & itu semua diawali dari keluarga.
Bila dalam keluarga kita belum saling mengampuni, belum saling mengasihi maka
mustahil kita bisa mengasihi orang-orang diluar keluarga kita J. Tuhan
memanggil kita sebagai anak-anakNya & DIA menantikan kita datang untuk
menjadi bagian dari keluargaNya. Ketika kita menerima DIA untuk menjadi bagian
dari keluargaNya, kita menerima ROH yang baru: (Roma 8:1-2, 15) “Demikianlah
sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.
Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa
dan hukum maut. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu
menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak
Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!‘” Dimulai dari keluarga
sebagai komunitas yang kecil, kita bisa bedampak bagi keluarga kita terlebih
dahulu sebelum kita berdampak/menjadi berkat buat orang-orang di sekitar kita.
Madam
Ossy
SAAT TEDUH.
Selasa, 2 Agustus 2016. Kepemimpinan yang Baik. Hati raja seperti batang air di
dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini (Amsal 21:1). Ada banyak
definisi yang dapat kita kumpulkan guna menjelaskan apa dan bagaimana
kepemimpinan yang baik. Banyak penulis juga mengungkap berbagai penjelasan.
Akan tetapi, pemahaman yang sangat saya sukai bersumber dari hikmat Salomo.
“Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya ke mana Ia
ingini” (Ams. 21:1). Dalam Kitab Suci versi The Message, penerjemahnya
menafsirkan demikian: Good leadership is a channel of water controlled by God; He directs it to whatever ends He chooses. Kepemimpinan adalah saluran (kanal)
air yang dikendalikan--hanya oleh--Allah; dan Dia berkuasa mengarahkan
alirannya ke mana pun Dia kehendaki, hingga akhir, sampai bermuara kepada
kemuliaan Allah. Itulah “ujung” yang Dia tentukan; arah aliran yang Dia ingini.
Kita bisa saja memilih aliran kita sendiri, mengendalikan diri sendiri, mencari
dan merangkai berbagai hikmat kepemimpinan yang ada di dunia ini, tetapi itu
bukan kepemimpinan yang baik, yang Tuhan rindu terjadi di dalam dan melalui
kita. Kepemimpinan, mulai dalam lingkup keluarga hingga perusahaan, bahkan
hingga lingkup bangsa, dapat diuji setiap saat. Belajar dari penulis Amsal,
kepemimpinan adalah soal ketundukan--kesadaran bahwa kita hanyalah kanal air
yang dikendalikan Allah. Aliran kita Dia atur untuk membawa pengaruh di segala
tempat dan perjumpaan dengan orang lain di sepanjang perjalanan yang kita
lalui. Maukah kita menjadi kanal air yang memuliakan-Nya? --Abram
Hawari/Renungan Harian. KEPEMIMPINAN YANG BAIK DIAWALI KETUNDUKAN KEPADA ALLAH,
KEPEMIMPINAN YANG BAIK BERUJUNG PADA KEMULIAAN ALLAH. Selamat pagi. Selamat
berkarya. Tuhan Yesus memberkati.
Ibu
Caroline – Bandung
Selasa, 2
Agustus 2016. Bacaan: Hakim-Hakim 6:11-24. Setahun: Yesaya 5-9. Nas: Tetapi apa
yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang
berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa
yang kuat (1 Korintus 1:27). Kekuatan Mengikuti Ketaatan. Jika Tuhan berkata,
“Saya mencari seseorang untuk membantu-Ku mencapai rencana dan memenuhi
tujuan-Ku,” apakah Anda merasa memenuhi syarat? Tidak banyak dari kita akan
mengangkat tangan. Nyatanya, Allah tidak selalu memanggil orang yang pintar dan
berkualitas; Dia juga memanggil orang yang lemah. Ketika Malaikat Tuhan datang
memanggil Gideon untuk menjadi pemimpin tentara Israel, Gideon sedang
bersembunyi di tempat pemerasan anggur untuk mengirik gandum. Ia begitu takut
musuh-musuhnya datang merampas makanan dan mungkin bisa membunuhnya. Malaikat
Tuhan menyapa dan menyebutnya “Pahlawan yang gagah berani” (ay. 12). Kita bisa
membayangkan Gideon menengok ke kiri dan kanan dan bertanya, “Apakah engkau
berbicara dengan saya?” Masakan seorang pahlawan gagah perkasa bersembunyi dari
musuh. Allah tidak melihat seperti kita. Kita cenderung melihat berdasarkan
kekuatan dan kemampuan sendiri, tetapi Allah melihat apa yang bisa kita capai
bersama-Nya di dalam kekuatan-Nya. Yakub seorang penipu. Musa gagap. Sarai
mandul. Daud seorang gembala. Rahab pelacur. Petrus nelayan. Paulus pembunuh.
Meskipun mereka mungkin dipandang sebelah mata oleh dunia, Allah memilih mereka
menjalankan misi ilahi. Allah memilih apa yang lemah bagi dunia untuk
mempermalukan apa yang kuat bagi dunia. Dan inilah berita baik itu: “Segala hal
dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).
--Daniel Korre. DIA MEMILIH ORANG YANG RENDAH DI MATA DUNIA UNTUK MENJADI
ORANG-ORANG YANG TAMPIL MEMBAWA PERUBAHAN
Xavier
Quentin Pranata
“Kecurigaan kita
terhadap orang lain biasanya didasarkan pada pikiran negatif kita sendiri.”
Xavier Quentin Pranata.
Samuel
Sianto-Yestoya Ministry
Kej 30:23b –
...TUHAN menyertai Yusuf dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil!
Yusuf bisa berhasil, kitapun pasti bisa! Kuncinya: disertai YESUS. Andalkan
DIA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

No comments:
Post a Comment