Tuesday, 2 August 2016

2 Agustus 2016

INFLUENCED






Keluarga seperti apa yang kita idamkan? Kita semua rindu menjadi bagian dari sebuah keluarga, dikasihi, diterima. Kerinduan yang sangat wajar. Karena kita diciptakan untuk memiliki hubungan satu dengan yang lain & itu semua diawali dari keluarga. Bila dalam keluarga kita belum saling mengampuni, belum saling mengasihi maka mustahil kita bisa mengasihi orang-orang diluar keluarga kita J. Tuhan memanggil kita sebagai anak-anakNya & DIA menantikan kita datang untuk menjadi bagian dari keluargaNya. Ketika kita menerima DIA untuk menjadi bagian dari keluargaNya, kita menerima ROH yang baru: (Roma 8:1-2, 15) “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!‘” Dimulai dari keluarga sebagai komunitas yang kecil, kita bisa bedampak bagi keluarga kita terlebih dahulu sebelum kita berdampak/menjadi berkat buat orang-orang di sekitar kita.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 2 Agustus 2016. Kepemimpinan yang Baik. Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini (Amsal 21:1). Ada banyak definisi yang dapat kita kumpulkan guna menjelaskan apa dan bagaimana kepemimpinan yang baik. Banyak penulis juga mengungkap berbagai penjelasan. Akan tetapi, pemahaman yang sangat saya sukai bersumber dari hikmat Salomo. “Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini” (Ams. 21:1). Dalam Kitab Suci versi The Message, penerjemahnya menafsirkan demikian: Good leadership is a channel of water controlled by God; He directs it to whatever ends He chooses. Kepemimpinan adalah saluran (kanal) air yang dikendalikan--hanya oleh--Allah; dan Dia berkuasa mengarahkan alirannya ke mana pun Dia kehendaki, hingga akhir, sampai bermuara kepada kemuliaan Allah. Itulah “ujung” yang Dia tentukan; arah aliran yang Dia ingini. Kita bisa saja memilih aliran kita sendiri, mengendalikan diri sendiri, mencari dan merangkai berbagai hikmat kepemimpinan yang ada di dunia ini, tetapi itu bukan kepemimpinan yang baik, yang Tuhan rindu terjadi di dalam dan melalui kita. Kepemimpinan, mulai dalam lingkup keluarga hingga perusahaan, bahkan hingga lingkup bangsa, dapat diuji setiap saat. Belajar dari penulis Amsal, kepemimpinan adalah soal ketundukan--kesadaran bahwa kita hanyalah kanal air yang dikendalikan Allah. Aliran kita Dia atur untuk membawa pengaruh di segala tempat dan perjumpaan dengan orang lain di sepanjang perjalanan yang kita lalui. Maukah kita menjadi kanal air yang memuliakan-Nya? --Abram Hawari/Renungan Harian. KEPEMIMPINAN YANG BAIK DIAWALI KETUNDUKAN KEPADA ALLAH, KEPEMIMPINAN YANG BAIK BERUJUNG PADA KEMULIAAN ALLAH. Selamat pagi. Selamat berkarya. Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
Selasa, 2 Agustus 2016. Bacaan: Hakim-Hakim 6:11-24. Setahun: Yesaya 5-9. Nas: Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat (1 Korintus 1:27). Kekuatan Mengikuti Ketaatan. Jika Tuhan berkata, “Saya mencari seseorang untuk membantu-Ku mencapai rencana dan memenuhi tujuan-Ku,” apakah Anda merasa memenuhi syarat? Tidak banyak dari kita akan mengangkat tangan. Nyatanya, Allah tidak selalu memanggil orang yang pintar dan berkualitas; Dia juga memanggil orang yang lemah. Ketika Malaikat Tuhan datang memanggil Gideon untuk menjadi pemimpin tentara Israel, Gideon sedang bersembunyi di tempat pemerasan anggur untuk mengirik gandum. Ia begitu takut musuh-musuhnya datang merampas makanan dan mungkin bisa membunuhnya. Malaikat Tuhan menyapa dan menyebutnya “Pahlawan yang gagah berani” (ay. 12). Kita bisa membayangkan Gideon menengok ke kiri dan kanan dan bertanya, “Apakah engkau berbicara dengan saya?” Masakan seorang pahlawan gagah perkasa bersembunyi dari musuh. Allah tidak melihat seperti kita. Kita cenderung melihat berdasarkan kekuatan dan kemampuan sendiri, tetapi Allah melihat apa yang bisa kita capai bersama-Nya di dalam kekuatan-Nya. Yakub seorang penipu. Musa gagap. Sarai mandul. Daud seorang gembala. Rahab pelacur. Petrus nelayan. Paulus pembunuh. Meskipun mereka mungkin dipandang sebelah mata oleh dunia, Allah memilih mereka menjalankan misi ilahi. Allah memilih apa yang lemah bagi dunia untuk mempermalukan apa yang kuat bagi dunia. Dan inilah berita baik itu: “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). --Daniel Korre. DIA MEMILIH ORANG YANG RENDAH DI MATA DUNIA UNTUK MENJADI ORANG-ORANG YANG TAMPIL MEMBAWA PERUBAHAN

Xavier Quentin Pranata
“Kecurigaan kita terhadap orang lain biasanya didasarkan pada pikiran negatif kita sendiri.” Xavier Quentin Pranata.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Kej 30:23b – ...TUHAN menyertai Yusuf dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil! Yusuf bisa berhasil, kitapun pasti bisa! Kuncinya: disertai YESUS. Andalkan DIA! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

No comments:

Post a Comment