Monday, 31 July 2017

Tanya Kenapa

YOUR BODY IS A WONDERLAND





HEART #2 – Tanya Kenapa
Your Body is Wonderland Part 6
Alfa Omega Church Sunday Service
July 09th 2017



Intro:
Semua kita pasti punya PERASAAN. Disadari atau tidak, perasaan punya peranan yang sangat penting dalam hidup kita sehari-hari. Kita memutuskan banyak hal, berdasarkan apa yang kita sukai atau tidak sukai. Memilih makanan, memilih perabot rumah, memilih pasangan hidup sekalipun (yang hanya bisa satu seumur hidup), juga pakai perasaan.

Tuhan menciptakan setiap manusia punya perasaan, tapi kita tidak boleh dipimpin oleh perasaan kita. Saat kita tidak mengendalikan perasaan kita, perasaan kita akan mengendalikan hidup kita. Dan saat perasaan kita mengendalikan hidup kita, kita salah mengatur hidup kita.

Yunus 4:1-8

Yunus 1:3 “Ia membayar biaya perjalanannya” setiap kali kita terdominasi perasaan kita, pasti ada harga yang harus dibayar. Entah waktu, uang, hubungan, rasa percaya, apapun! Yunus bayar harga untuk pergi ke tujuan yang salah!

Kemudian Tuhan menurunkan angin ke laut. Dianggap enteng oleh Yunus. Namun angin itu dibarengi badai besar, hingga kapal itu hampir hancur (Yunus 1:5). Saat kita terdominasi perasaan kita, penilaian kita jadi keliru.

Contoh:
Kadang orang bisa jalan melewati kita, lalu mungkin karena orang itu lagi banyak pikiran, mereka melamun dan tidak melihat kita, jadi tidak menyapa kita. Kita menerimanya, orang itu sombong, tidak tahu aturan, tidak sopan, jelas-jelas lihat kok tidak mau menyapa! Sudah terlanjur marah-marah, eh ternyata hanya miskomunikasi dan salah paham.

Yunus 1:5 “…Dan membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya…”
Saat orang yang terdominasi perasaan ada di kapal Anda, Anda harus membuang banyak prinsip & nilai-nilai yang berharga.

Yunus 1:5 “…Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak”! Saat kita terdominasi perasaan, kita tidak peka terhadap akibat perbuatan kita. Dan walaupun kita sendiri sumber dari kekacauan itu, kita nggak peka dan hampir tidak peduli dengan akibatnya, yang menimpa orang lain. Tidak jarang juga, orang lain terdominasi perasaan, bikin kekacauan, eh kita yang harus bereskan masalah yang mereka tinggalkan.

That’s why: Tuhan menciptakan setiap manusia punya perasaan, tapi kita tidak boleh dipimpin oleh perasaan kita. Saat kita tidak mengendalikan perasaan kita, perasaan kita akan mengendalikan hidup kita. Dan saat perasaan kita mengendalikan hidup kita, kita salah mengatur hidup kita.

Kemudian, cerita ini berlanjut. Mereka membuang undi, dan undinya jatuh pada Yunus. Yunus bilang “lemparkan aku ke laut”. Harusnya, Yunus, kalau dia tahu dia adalah sumber masalahnya, ya lompat sendiri dong… masa suruh orang lain?? Saat kita terdominasi perasaan, kita lempar tanggung jawab ke orang lain.

Orang-orang di kapal itu awalnya tidak mau dan berusaha untuk mendayung kembali ke daratan, mengantar Yunus. Tapi badainya tidak memungkinkan mereka untuk balik. Tapi…ada alasan yang lebih kuat daripada sekedar badai yang kelihatannya “menghalangi” mereka.

Tuhan yang sama yang mendatangkan badai, juga Tuhan yang MENYEDIAKAN ikan. Kita biasanya melihat ini sebagai “hukuman”. Tapi NO, NO… Tuhan menyediakan ikan besar bukan sebagai hukuman, tapi sebagai ALAT TRANSPORTASI untuk Yunus!! Dia tetap Tuhan yang peduli!!! Walaupun kita yang salah & bandel, Dia tetap Tuhan yang menjaga & menyediakan bagi kita.

Apa yang terlihat sebagai “hukuman”, ternyata adalah PENYEDIAAN & PERLINDUNGAN Tuhan!!!! God is so good!

Jadi Yunus ada dalam perut ikan 3 hari. Tuhan bukan menghukum, tapi Tuhan ingin Yunus paham, bahwa semua pilihan itu pasti ada konsekuensi. Tuhan ingin Yunus mengerti, bahwa “kamu harus benar-benar mengerti dan mengambil keputusan dalam hatimu bahwa akibatnya ini nggak enak dan kamu nggak akan mau lakukan ini lagi. Setiap kali kamu berpikir untuk mangkir, kamu akan ingat perut ikan ini dan kamu nggak akan mengambil keputusan yang salah lagi.”
Jadi, 3 hari 3 malam, lalu ikan itu memuntahkan Yunus ke darat. Yunus pergi ke Niniwe, orang-orang itu bertobat dan Tuhan selamatkan kota itu. Di pasal 3 kita melihat Yunus sebagai nabi. Di pasal 4 kita lihat Yunus seperti anak kecil. Kekanak-kanakan.

Tuhan menciptakan setiap manusia punya perasaan, tapi kita tidak boleh dipimpin oleh perasaan kita. Saat kita tidak mengendalikan perasaan kita, perasaan kita akan mengendalikan hidup kita. Dan saat perasaan kita mengendalikan hidup kita, kita salah mengatur hidup kita.

Melalui cerita Yunus, Tuhan ingin tunjukkan, saat kita terdominasi perasaan kita:
- ada harga yang harus dibayar
- penilaian kita jadi keliru
- orang lain harus membuang prinsip & nilai-nilai yang berharga karena kita
- kita tidak peka akan akibat dari perbuatan kita
- kita lempar tanggung jawab ke orang lain
- kita jadi kekanak-kanakan

Sehingga, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

Yunus 4:1 Yunus pergi ke tempat itu, khotbah, mereka bertobat, revival terjadi, Tuhan selamatkan kota itu, Yunus marah. Nah alasannya kenapa Yunus marah, karena Niniwe itu ibu kota dari Assyria. Orang-orang Assyria ini musuhnya Israel (bangsanya Yunus). Orang Assyria sering memerangi Israel & menjajah mereka. Sehingga, Yunus jengkel dan marah dan tidak mau melakukan tugas yang dari Tuhan, karena Yunus nggak ingin Tuhan mengampuni orang yang menjajah bangsanya.

Tuhan menyelamatkan Niniwe, Yunus marah, karena dia mendoakan musuhnya tapi asal ngomong saja. Tidak benar-benar. Dia tersenyum dan bilang “Tuhan berkati yaa”, tapi tidak benar-benar dimaknai. Dia bisa bilang “Tuhan tolong ya”, tapi tidak berharap Tuhan menolong.

Ini yang harus kita lakukan:
1. TANYA KENAPA
Hanya karena kita MENGAKUI bahwa kita marah, belum tentu kita self-aware/sadar diri. Sebab, masalah kita bukan sekedar hanya rasa marah itu. Tapi masalah yang lebih dalamnya, KENAPA kita merasa marah? Apa kita hanya MERASA marah/tersinggung, atau apa kita benar-benar disinggung & disalahi?

*Illustrasi kotak
Yunus waktu itu merasa hanya dia yang boleh merasakan anugerah Tuhan. Dia barusan membangkang sama Tuhan, lari dari Tuhan. Tapi Tuhan selamatkan dia, sediakan transportasi, bahkan masih pakai hidupnya mengubah hidup orang lain!

Perasaan kita bukan hanya untuk dirasa-rasakan. Tapi pikirkan. Selidiki. Tanyakan KENAPA saya marah/tersinggung/sakit hati/takut/sedih/…

2. IJINKAN TUHAN MEMPROSES PERASAAN KITA
Seringkali orang tidak mau mengakui dan memproses perasaannya. Bilangnya “Gapapa kok. Aku gapapa. Ya dia memang ngeselin dan nyakitin aku. Tapi aku gapapa kok”.

Sampai muncullah istilah ngetren #AKURAPOPO.

Kalimat ini kelihatannya bercanda, tapi sebenarnya gambaran dari kebiasaan tidak sehat orang hari ini, yang tidak mau memproses perasaannya, dan akhirnya hanya memendam, memendam saja, tapi semakin memakan dan menghancurkan kita dari dalam. Bilang “aku rapopo”, atau “gapapa kok” itu tidak menyelesaikan masalah.

Perasaan yang dipendam dan tidak diproses akan berujung kepada KEPAHITAN.

Mazmur 30:3

No comments:

Post a Comment