YOUR BODY IS A WONDERLAND
Your Body is A Wonderland – Day 4 – Heart (Hati yang
Mengampuni #1). Kebencian
membuat kita tinggal dalam tingkatan yang sama dengan orang yang menyakiti
kita. Lebih dari itu kebencian adalah racun yang seseorang simpan dalam dirinya
tetapi pengampunan melepaskan racun tersebut dari hidup kita. Mengampuni harus
berulang kali. Matius 18:21, “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada
Yesus: ‘Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia
berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?’” Ayat 22: “Yesus berkata
kepadanya: ‘Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan
sampai tujuh puluh kali tujuh kali.’” Lukas 17:4, “Bahkan jikalau ia
berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali
kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”
Mengampuni adalah tugas kita, pembalasan adalah Hak Allah. Roma 12:19, “Saudara-saudaraku
yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat
kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah
yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” Jadi mengampuni adalah
perbuatan terpuji. Amsal 19:11, “Akal budi membuat seseorang panjang sabar
dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.” Amin. Orang yang lemah
tidak dapat mengampuni, mengampuni adalah ciri orang yang kuat (Mahatma
Gandhi). Alasan yang paling kuat mengapa kita harus mengampuni adalah dosa-dosa
kitapun telah diampuni, sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni kamu
(Efesus 4:32).
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#UrBodyIsAWonderland
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Ayub 28-29
PB: Efesus 1
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Bp. Anto – Citraland
RENUNGAN PAGI: Hati yang gembira adalah obat yang manjur,
tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22). Ayat ini sering
diucapkan ketika melayani orang sakit baik di rumah maupun di rumah sakit
Memang tepat sekali apa yang dikatakan Salomo pada ayat di atas, karena antara
tubuh dan pikiran kita ada korelasi yang erat, kondisi pikiran kita sangat
berpengaruh terhadap kesehatan tubuh kita. Makanya tidak heran, ada penyakit
yang dikenal sebagai “psikosomatis”, dan kalau diamati, sebenarnya tubuhnya
sehat-sehat saja, namun karena pikirannya, maka keluhannya terasa pada
tubuhnya. Di bagian lain, kitab Amsal juga menuliskan, “Hati yang gembira
membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat”, terlihat
dengan jelas orang yang penuh kegembiraan akan tampak pada raut wajahnya,
demikian juga sebaliknya, apabila kita sedang stress, sedih, maka wajah kita
akan terlihat murung. Kegembiraan, sukacita adalah suatu pilihan dan tidak
bergantung pada kenyamanan hidup atau keadaan kita, tetapi bergantung pada
sikap kita dalam menyikapi situasi dan kondisi yang kita alami. Memang tidak
mudah untuk bergembira ketika hidup kita dalam tekanan, baik tekanan keuangan,
rumah tangga, sakit penyakit, namun kita memiliki Allah yang hidup yang
mengundang kita untuk datang kepada-Nya, “Marilah kepada-Ku semua yang letih
lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Dia tahu arti
berbeban berat, Dia tahu apa itu dukacita, Dia mengerti kepenatan kita dan Dia
mau memberi kelegaan sehingga kita bisa memiliki sukacita. Paulus dalam
pelayanannya begitu banyak mengalami kesulitan dan bahkan penderitaan dan
dipenjara, namun dia bisa menasehati jemaat di Filipi untuk bersukacitalah
senantiasa dalam Tuhan. Jadi belajarlah untuk bersukacita dalam keadaan apa pun
dan biarkan Roh Kudus yang menolong kita memberi penghiburan di kala kita
sedang mengalami kesedihan dan jangan biarkan kita larut dalam kesedihan tetapi
serahkanlah segala masalah, beban kita kepada-Nya. Selamat pagi, Tuhan Yesus
memberkati.
Madam Ossy
Selasa, 4 Juli 2017. Bacaan: Roma 10:1-3. Setahun: Mazmur
52-59. Nas: Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka bahwa mereka
sungguh berapi-api untuk Allah, tetapi tanpa pengertian (Roma 10:2). Berjuang
Sesuai Kebenaran. Saulus sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa
pengertian yang benar. Ia membela agamanya dengan menggunakan kekerasan. Ia
menindas “Jalan Tuhan”, mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan (Kis. 9:1-2).
Saulus merasa sedang membela kebenaran, tetapi tanpa disadari ia sebenarnya
menganiaya Tuhan. Setelah bertemu dengan Tuhan Yesus secara pribadi, Saulus
mengalami jamahan-Nya dan hidupnya pun berubah. Ia kemudian dikenal sebagai
Paulus. Dalam suratnya kepada jemaat Roma, Rasul Paulus memberi kesaksian
tentang bangsa Israel bahwa mereka pun sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi
tanpa pengertian yang benar. Mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan berusaha
untuk mendirikan kebenaran sendiri sehingga mereka tidak takluk kepada
kebenaran Allah (ay. 2-3). Nabi Hosea menyatakan, “Umat-Ku binasa karena tidak
mengenal Allah” (Hos. 4:6). Janganlah kita giat bagi Allah dengan pengertian
yang salah. Banyak orang sungguh-sungguh giat membela “Tuhan” dengan
menggunakan kekerasan, bahkan sampai mengorbankan nyawanya dan nyawa orang
lain. Giat bagi Allah tanpa pengertian yang benar bisa membawa kepada
kebinasaan. Orang seperti itu berusaha mendirikan kebenarannya sendiri dan
tidak takluk kepada kebenaran Allah. Kebenaran Allah ada dalam Yesus dan hanya
melalui Yesus saja kita diselamatkan (Yoh. 14:6, 1:17). Janganlah kita
bergantung kepada kebenaran pribadi. Hanya karena kasih karunia kita
diselamatkan oleh iman, bukan oleh usaha atau upah melakukan sesuatu (Ef.
2:8-9) –IN. MENEGAKKAN KEBENARAN SENDIRI MENDATANGKAN KEBINASAAN; MENGANDALKAN
KEBENARAN ALLAH MENDATANGKAN KESELAMATAN.
Ibu Caroline – Bandung
Mazmur 118:6, “Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut.
Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Kata takut berarti merasa
gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Rasa
takut yang 'dipelihara' akan menimbulkan dampak yang buruk tidak hanya bagi
diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Ketika hendak berperang melawan
bangsa Midian Tuhan memerintahkan Gideon untuk memisahkan tentara yang takut
dan gentar. Tuhan berkata, “Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang,
enyah dari pegunungan Gilead. Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari
rakyat itu dan tinggallah sepuluh ribu orang” (Hakim-Hakim 7:3a). Mengapa?
Karena ketakutan itu bisa menjalar dan mempengaruhi yang lain. Rasa takut juga
bisa menjadi penghalang utama dalam merebut kemenangan dan janji-janji Tuhan.
Itulah sebabnya tentara yang penakut tidak boleh turut berperang. Mengapa rasa
takut harus dikalahkan? Karena ketakutan adalah salah satu senjata yang
digunakan Iblis untuk menghancurkan kehidupan orang percaya. Karena itu
“...janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:27). Jangan memberi
celah sedikit pun kepada Iblis karena ketika kita berkompromi, Iblis akan
memasuki wilayah kehidupan kita. Kompromi akan membawa kita kepada kekalahan
dan kehancuran karena ketika berada dalam persoalan atau tekanan, rasa takut
membuat orang mudah putus asa, kehilangan semangat dan pada akhirnya akan
menyerah pada keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman! Contoh: menyerah pada
keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman! Contoh: ketika dikejar-kejar oleh
Firaun dan pasukannya, bangsa Israel mengalami ketakutan yang luar biasa
sehingga mereka menjadi putus asa, tidak mau melanjutkan perjalanan dan ingin
kembali saja ke Mesir. Bagaimana kita dapat menang atas ketakutan? Kita harus
mengandalkan Tuhan dalam segala hal. “Waktu aku takut, aku ini percaya
kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku
tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur
56:4-5). Banyak orang Kristen yang mengandalkan kekayaan yang dimiliki, padahal
Alkitab menegaskan bahwa kekayaan itu memiliki sayap dan dapat terbang atau
bisa lenyap sewaktu-waktu. Jangan pernah takut, Tuhan menyertai kita! Gbu.
Xavier Quentin Pranata
“Bahagia sekali jika kita dikelilingi orang-orang yang
peduli.” Xavier Quentin Pranata.
GNCC
Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku
ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.
Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi
bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku (1 Korintus
15:10). Hidup dalam Anugerah tidak membuat kita MALAS ! tetapi justru ANUGERAH
MEMBUAT KITA BEKERJA LEBIH KERAS, bukan dengan kekuatan kita tetapi dengan
KEKUATAN ANUGERAH sehingga kita akan berkata: “SEMUA KARENA ANUGERAHNYA”.
Selamat beraktivitas. #gncc

No comments:
Post a Comment