Tuesday, 4 July 2017

04 Juli 2017

YOUR BODY IS A WONDERLAND






Your Body is A Wonderland – Day 4 – Heart (Hati yang Mengampuni #1). Kebencian membuat kita tinggal dalam tingkatan yang sama dengan orang yang menyakiti kita. Lebih dari itu kebencian adalah racun yang seseorang simpan dalam dirinya tetapi pengampunan melepaskan racun tersebut dari hidup kita. Mengampuni harus berulang kali. Matius 18:21, “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?’” Ayat 22: “Yesus berkata kepadanya: ‘Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.’” Lukas 17:4, “Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” Mengampuni adalah tugas kita, pembalasan adalah Hak Allah. Roma 12:19, “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” Jadi mengampuni adalah perbuatan terpuji. Amsal 19:11, “Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.” Amin. Orang yang lemah tidak dapat mengampuni, mengampuni adalah ciri orang yang kuat (Mahatma Gandhi). Alasan yang paling kuat mengapa kita harus mengampuni adalah dosa-dosa kitapun telah diampuni, sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni kamu (Efesus 4:32).

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#UrBodyIsAWonderland

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Ayub 28-29
PB: Efesus 1

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

Bp. Anto – Citraland
RENUNGAN PAGI: Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22). Ayat ini sering diucapkan ketika melayani orang sakit baik di rumah maupun di rumah sakit Memang tepat sekali apa yang dikatakan Salomo pada ayat di atas, karena antara tubuh dan pikiran kita ada korelasi yang erat, kondisi pikiran kita sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh kita. Makanya tidak heran, ada penyakit yang dikenal sebagai “psikosomatis”, dan kalau diamati, sebenarnya tubuhnya sehat-sehat saja, namun karena pikirannya, maka keluhannya terasa pada tubuhnya. Di bagian lain, kitab Amsal juga menuliskan, “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat”, terlihat dengan jelas orang yang penuh kegembiraan akan tampak pada raut wajahnya, demikian juga sebaliknya, apabila kita sedang stress, sedih, maka wajah kita akan terlihat murung. Kegembiraan, sukacita adalah suatu pilihan dan tidak bergantung pada kenyamanan hidup atau keadaan kita, tetapi bergantung pada sikap kita dalam menyikapi situasi dan kondisi yang kita alami. Memang tidak mudah untuk bergembira ketika hidup kita dalam tekanan, baik tekanan keuangan, rumah tangga, sakit penyakit, namun kita memiliki Allah yang hidup yang mengundang kita untuk datang kepada-Nya, “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Dia tahu arti berbeban berat, Dia tahu apa itu dukacita, Dia mengerti kepenatan kita dan Dia mau memberi kelegaan sehingga kita bisa memiliki sukacita. Paulus dalam pelayanannya begitu banyak mengalami kesulitan dan bahkan penderitaan dan dipenjara, namun dia bisa menasehati jemaat di Filipi untuk bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Jadi belajarlah untuk bersukacita dalam keadaan apa pun dan biarkan Roh Kudus yang menolong kita memberi penghiburan di kala kita sedang mengalami kesedihan dan jangan biarkan kita larut dalam kesedihan tetapi serahkanlah segala masalah, beban kita kepada-Nya. Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati.

Madam Ossy
Selasa, 4 Juli 2017. Bacaan: Roma 10:1-3. Setahun: Mazmur 52-59. Nas: Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka bahwa mereka sungguh berapi-api untuk Allah, tetapi tanpa pengertian (Roma 10:2). Berjuang Sesuai Kebenaran. Saulus sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Ia membela agamanya dengan menggunakan kekerasan. Ia menindas “Jalan Tuhan”, mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan (Kis. 9:1-2). Saulus merasa sedang membela kebenaran, tetapi tanpa disadari ia sebenarnya menganiaya Tuhan. Setelah bertemu dengan Tuhan Yesus secara pribadi, Saulus mengalami jamahan-Nya dan hidupnya pun berubah. Ia kemudian dikenal sebagai Paulus. Dalam suratnya kepada jemaat Roma, Rasul Paulus memberi kesaksian tentang bangsa Israel bahwa mereka pun sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan berusaha untuk mendirikan kebenaran sendiri sehingga mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah (ay. 2-3). Nabi Hosea menyatakan, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah” (Hos. 4:6). Janganlah kita giat bagi Allah dengan pengertian yang salah. Banyak orang sungguh-sungguh giat membela “Tuhan” dengan menggunakan kekerasan, bahkan sampai mengorbankan nyawanya dan nyawa orang lain. Giat bagi Allah tanpa pengertian yang benar bisa membawa kepada kebinasaan. Orang seperti itu berusaha mendirikan kebenarannya sendiri dan tidak takluk kepada kebenaran Allah. Kebenaran Allah ada dalam Yesus dan hanya melalui Yesus saja kita diselamatkan (Yoh. 14:6, 1:17). Janganlah kita bergantung kepada kebenaran pribadi. Hanya karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman, bukan oleh usaha atau upah melakukan sesuatu (Ef. 2:8-9) –IN. MENEGAKKAN KEBENARAN SENDIRI MENDATANGKAN KEBINASAAN; MENGANDALKAN KEBENARAN ALLAH MENDATANGKAN KESELAMATAN.

Ibu Caroline – Bandung
Mazmur 118:6, “Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Kata takut berarti merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Rasa takut yang 'dipelihara' akan menimbulkan dampak yang buruk tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Ketika hendak berperang melawan bangsa Midian Tuhan memerintahkan Gideon untuk memisahkan tentara yang takut dan gentar. Tuhan berkata, “Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang, enyah dari pegunungan Gilead. Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggallah sepuluh ribu orang” (Hakim-Hakim 7:3a). Mengapa? Karena ketakutan itu bisa menjalar dan mempengaruhi yang lain. Rasa takut juga bisa menjadi penghalang utama dalam merebut kemenangan dan janji-janji Tuhan. Itulah sebabnya tentara yang penakut tidak boleh turut berperang. Mengapa rasa takut harus dikalahkan? Karena ketakutan adalah salah satu senjata yang digunakan Iblis untuk menghancurkan kehidupan orang percaya. Karena itu “...janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:27). Jangan memberi celah sedikit pun kepada Iblis karena ketika kita berkompromi, Iblis akan memasuki wilayah kehidupan kita. Kompromi akan membawa kita kepada kekalahan dan kehancuran karena ketika berada dalam persoalan atau tekanan, rasa takut membuat orang mudah putus asa, kehilangan semangat dan pada akhirnya akan menyerah pada keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman! Contoh: menyerah pada keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman! Contoh: ketika dikejar-kejar oleh Firaun dan pasukannya, bangsa Israel mengalami ketakutan yang luar biasa sehingga mereka menjadi putus asa, tidak mau melanjutkan perjalanan dan ingin kembali saja ke Mesir. Bagaimana kita dapat menang atas ketakutan? Kita harus mengandalkan Tuhan dalam segala hal. “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 56:4-5). Banyak orang Kristen yang mengandalkan kekayaan yang dimiliki, padahal Alkitab menegaskan bahwa kekayaan itu memiliki sayap dan dapat terbang atau bisa lenyap sewaktu-waktu. Jangan pernah takut, Tuhan menyertai kita! Gbu.

Xavier Quentin Pranata
“Bahagia sekali jika kita dikelilingi orang-orang yang peduli.” Xavier Quentin Pranata.

GNCC
Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku (1 Korintus 15:10). Hidup dalam Anugerah tidak membuat kita MALAS ! tetapi justru ANUGERAH MEMBUAT KITA BEKERJA LEBIH KERAS, bukan dengan kekuatan kita tetapi dengan KEKUATAN ANUGERAH sehingga kita akan berkata: “SEMUA KARENA ANUGERAHNYA”. Selamat beraktivitas. #gncc

No comments:

Post a Comment