YOUR BODY IS A WONDERLAND
Your Body is A Wonderland – Day 13 – Heart (Perasaan
Galau). Belakangan
semakin sering kita mendengar kata-kata “galau”, istilah yang baru tren
dikalangan kaum muda ini mempunyai arti kira-kira Rasa Khawatir dan bingung
sendiri ketika harus mengambil sebuah pilihan. Sebagai anak-anak Tuhan/orang
percaya boleh nggak sih galau? Sebagai pengikut Kristus arti bergumul adalah
mendekat kepada Tuhan. Bagaimana caranya dekat dengan Tuhan? Kalau kita ingin
dekat dengan seseorang, tentunya kita berusaha PDKT. Yang bisa kita praktekkan
adalah:
1.
Sering-seringlah
bertemu dan berkomunikasi dengan DIA, artinya: bertemulah dengan DIA dalam DOA.
Filipi 4:6, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi
nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan
dengan ucapan syukur.”
2.
Bergaullah
dalam komunitasNya/Komsel. Berkumpullah dengan saudara-saudara seiman (seperti
jemaat mula-mula), kita bisa belajar banyak hal satu dengan yang lain, saling
menyemangati, saling membangun, sehingga Pengenalan kita semakin bertumbuh.
Mendengar nasihat/masukan dari orang-orang yang hidup dekat dengan Tuhan akan
membantu kita mengambil pilihan/keputusan yang tepat dari pada kita mendengar
sembarang nasihat dari orang-orang akan membuat kita semakin galau.
3.
Punyailah
kerinduan untuk semakin dekat dengan DIA. Melalui firmanNya #LoveTheBible
Secara teratur akan sangat membantu kita. Sediakan waktu pribadi untuk bersaat
teduh, kalau kita jarang/belum pernah membaca Alkitab, wajar saja kalau kita
suka galau karena kita tidak banyak tahu tentang DIA. Ada banyak janji-janjiNya
dan berkat-berkatNya yang telah disediakan bagi kita. Amin.
Masihkah saudara galau? Tuhan menciptakan setiap manusia
punya perasaan, tetapi kita tidak boleh dipimpin oleh perasaan kita (terutama
perasaan galau: perasaan khawatir dan bingung sendiri).
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#UrBodyIsAWonderland
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Mazmur 7, 8, 9
PB: Filipi 3
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Madam Ossy
Kamis, 13 Juli 2017. Bacaan: 2 Samuel 1:1-27. Setahun:
Mazmur 106-107. Nas: Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu
beria-ria kalau ia terperosok (Amsal 24:17). Haruskah Saya Tertawa? Biasanya
seseorang akan merasa senang kalau musuh atau orang yang selalu menyakitinya
tertimpa kemalangan. Namun ada satu tokoh Alkitab yang bukannya bersukacita
sewaktu mendengar orang yang selalu bersikap jahat kepadanya mati, tetapi malah
menangis dan meratapinya. Tokoh Alkitab tersebut tidak lain adalah Daud. Seorang
tentara Saul dengan pakaian terkoyak dan tanah di atas kepalanya datang kepada
Daud. Tentara itu menyampaikan kabar bahwa Saul dan Yonatan, anaknya, sudah
mati (ay. 2-4). Begitu mendengar kabar tersebut, Daud lalu mengoyakkan
pakaiannya, meratap, serta menangisi kematian mereka (ay. 11-12, 17-27). Wajar
bagi Daud untuk meratapi Yonatan karena Yonatan adalah sahabatnya, tetapi
meratap bagi Saul tampak seperti suatu keganjilan. Bagaimana mungkin Daud
bersedih untuk seseorang yang selalu mengejar dan ingin membunuhnya karena
takut posisinya sebagai raja diambil oleh Daud? (1 Sam 19, 21-24, 26-27). Daud
tidak membalas kepada Saul setimpal dengan kejahatannya. Daud bahkan menyebut
Saul sebagai orang yang diurapi Tuhan (ay. 14). Tindakan Daud memberikan teladan
tentang kasih dan pengampunan. Seperti Daud, kita tidak perlu memikirkan
bagaimana cara membalas dendam. Mengapa? Sebab kita memiliki Allah sebagai
Pembela, yang akan menyatakan keadilan tepat pada waktu-Nya. Bagian kita
hanyalah belajar menaati perintah Yesus yakni mengasihi musuh kita dan berdoa
bagi mereka yang menganiaya kita (Mat 5:44) –LIN. KITA HARUS MENUNJUKKAN KEPADA
DUNIA BAHWA KASIH DAN PENGAMPUNAN BEKERJA LEBIH KUAT DARIPADA KEBENCIAN DAN
DENDAM!
Bp. Anto – Citraland
RENUNGAN PAGI: Setiap orang yang membenci saudaranya adalah
seorang pembunuh manusia dan kamu tahu bahwa tidak ada seorang pembunuh yang
tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya (1 Yohanes 3:15). Sekarang ini
sedang marak yang namanya “ujaran kebencian atau hate speech” di media sosial,
yang seringkali memprovokasi orang lain yang sepaham dengannya untuk turut juga
membenci orang yang dimaksud. Repotnya lagi, orang yang menyebarkan ujaran
kebencian ini bertindak atas nama agama atau paling tidak merasa membela
agamanya. Membenci sepertinya hal yang biasa dalam kehidupan antar sesama,
namun Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa membenci disamakan dengan seorang
pembunuh, di bagian lain, dikatakan, orang yang membenci saudaranya, dia berada
dalam kegelapan. Kebencian seringkali dimulai dari rasa iri, lalu timbul
perasaan tidak suka, kemudian lahirlah rasa benci dan kalau kebencian ini
dipupuk terus maka timbullah dendam dan amarah, yang dapat melahirkan perbuatan
jahat. Ingat kisah Kain dan Habel, Kain membenci Habel karena persembahan Habel
diperkenan Tuhan, lalu ujung-ujungnya Kain membunuh Habel. Untuk memupus
kebencian, satu-satunya cara adalah dengan memaafkan dan mengampuni. Kebencian
akan membuat kita kehilangan damai sejahtera dan membuat kita sulit untuk
bersukacita. Perlu kita ingat bahwa jika kita tidak mengampuni orang yang
bersalah kepada kita, maka Bapa kita yang di sorga juga tidak akan mengampuni
kesalahan kita. Belajarlah untuk memupus kebencian dalam diri kita dan biarkan
Roh Kudus berkarya dalam hidup kita, agar terang Kristus boleh nyata dalam
hidup kita dan kita boleh menerangi sekeliling kita yang berada dalam
kegelapan. Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati.
Xavier Quentin Pranata
“Kita sukses bukan karena mencapai apa yang kita inginkan,
tapi apa yang Tuhan tetapkan.” Xavier Quentin Pranata.
Madam Ossy
Kamis, 13 Juli 2017. Bacaan: 2 Samuel 1:1-27. Setahun:
Mazmur 106-107. Nas: Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu
beria-ria kalau ia terperosok (Amsal 24:17). Haruskah Saya Tertawa? Biasanya
seseorang akan merasa senang kalau musuh atau orang yang selalu menyakitinya
tertimpa kemalangan. Namun ada satu tokoh Alkitab yang bukannya bersukacita
sewaktu mendengar orang yang selalu bersikap jahat kepadanya mati, tetapi malah
menangis dan meratapinya. Tokoh Alkitab tersebut tidak lain adalah Daud.
Seorang tentara Saul dengan pakaian terkoyak dan tanah di atas kepalanya datang
kepada Daud. Tentara itu menyampaikan kabar bahwa Saul dan Yonatan, anaknya,
sudah mati (ay. 2-4). Begitu mendengar kabar tersebut, Daud lalu mengoyakkan
pakaiannya, meratap, serta menangisi kematian mereka (ay. 11-12, 17-27). Wajar
bagi Daud untuk meratapi Yonatan karena Yonatan adalah sahabatnya, tetapi
meratap bagi Saul tampak seperti suatu keganjilan. Bagaimana mungkin Daud bersedih
untuk seseorang yang selalu mengejar dan ingin membunuhnya karena takut
posisinya sebagai raja diambil oleh Daud? (1 Sam 19, 21-24, 26-27). Daud tidak
membalas kepada Saul setimpal dengan kejahatannya. Daud bahkan menyebut Saul
sebagai orang yang diurapi Tuhan (ay. 14). Tindakan Daud memberikan teladan
tentang kasih dan pengampunan. Seperti Daud, kita tidak perlu memikirkan
bagaimana cara membalas dendam. Mengapa? Sebab kita memiliki Allah sebagai
Pembela, yang akan menyatakan keadilan tepat pada waktu-Nya. Bagian kita
hanyalah belajar menaati perintah Yesus yakni mengasihi musuh kita dan berdoa
bagi mereka yang menganiaya kita (Mat 5:44) –LIN. KITA HARUS MENUNJUKKAN KEPADA
DUNIA BAHWA KASIH DAN PENGAMPUNAN BEKERJA LEBIH KUAT DARIPADA KEBENCIAN DAN DENDAM!

No comments:
Post a Comment