Thursday, 13 July 2017

13 Juli 2017

YOUR BODY IS A WONDERLAND






Your Body is A Wonderland – Day 13 – Heart (Perasaan Galau). Belakangan semakin sering kita mendengar kata-kata “galau”, istilah yang baru tren dikalangan kaum muda ini mempunyai arti kira-kira Rasa Khawatir dan bingung sendiri ketika harus mengambil sebuah pilihan. Sebagai anak-anak Tuhan/orang percaya boleh nggak sih galau? Sebagai pengikut Kristus arti bergumul adalah mendekat kepada Tuhan. Bagaimana caranya dekat dengan Tuhan? Kalau kita ingin dekat dengan seseorang, tentunya kita berusaha PDKT. Yang bisa kita praktekkan adalah:
1.      Sering-seringlah bertemu dan berkomunikasi dengan DIA, artinya: bertemulah dengan DIA dalam DOA. Filipi 4:6, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
2.      Bergaullah dalam komunitasNya/Komsel. Berkumpullah dengan saudara-saudara seiman (seperti jemaat mula-mula), kita bisa belajar banyak hal satu dengan yang lain, saling menyemangati, saling membangun, sehingga Pengenalan kita semakin bertumbuh. Mendengar nasihat/masukan dari orang-orang yang hidup dekat dengan Tuhan akan membantu kita mengambil pilihan/keputusan yang tepat dari pada kita mendengar sembarang nasihat dari orang-orang akan membuat kita semakin galau.
3.      Punyailah kerinduan untuk semakin dekat dengan DIA. Melalui firmanNya #LoveTheBible Secara teratur akan sangat membantu kita. Sediakan waktu pribadi untuk bersaat teduh, kalau kita jarang/belum pernah membaca Alkitab, wajar saja kalau kita suka galau karena kita tidak banyak tahu tentang DIA. Ada banyak janji-janjiNya dan berkat-berkatNya yang telah disediakan bagi kita. Amin.
Masihkah saudara galau? Tuhan menciptakan setiap manusia punya perasaan, tetapi kita tidak boleh dipimpin oleh perasaan kita (terutama perasaan galau: perasaan khawatir dan bingung sendiri).

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#UrBodyIsAWonderland

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Kitab Mazmur 7, 8, 9
PB: Filipi 3

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

Madam Ossy
Kamis, 13 Juli 2017. Bacaan: 2 Samuel 1:1-27. Setahun: Mazmur 106-107. Nas: Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok (Amsal 24:17). Haruskah Saya Tertawa? Biasanya seseorang akan merasa senang kalau musuh atau orang yang selalu menyakitinya tertimpa kemalangan. Namun ada satu tokoh Alkitab yang bukannya bersukacita sewaktu mendengar orang yang selalu bersikap jahat kepadanya mati, tetapi malah menangis dan meratapinya. Tokoh Alkitab tersebut tidak lain adalah Daud. Seorang tentara Saul dengan pakaian terkoyak dan tanah di atas kepalanya datang kepada Daud. Tentara itu menyampaikan kabar bahwa Saul dan Yonatan, anaknya, sudah mati (ay. 2-4). Begitu mendengar kabar tersebut, Daud lalu mengoyakkan pakaiannya, meratap, serta menangisi kematian mereka (ay. 11-12, 17-27). Wajar bagi Daud untuk meratapi Yonatan karena Yonatan adalah sahabatnya, tetapi meratap bagi Saul tampak seperti suatu keganjilan. Bagaimana mungkin Daud bersedih untuk seseorang yang selalu mengejar dan ingin membunuhnya karena takut posisinya sebagai raja diambil oleh Daud? (1 Sam 19, 21-24, 26-27). Daud tidak membalas kepada Saul setimpal dengan kejahatannya. Daud bahkan menyebut Saul sebagai orang yang diurapi Tuhan (ay. 14). Tindakan Daud memberikan teladan tentang kasih dan pengampunan. Seperti Daud, kita tidak perlu memikirkan bagaimana cara membalas dendam. Mengapa? Sebab kita memiliki Allah sebagai Pembela, yang akan menyatakan keadilan tepat pada waktu-Nya. Bagian kita hanyalah belajar menaati perintah Yesus yakni mengasihi musuh kita dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Mat 5:44) –LIN. KITA HARUS MENUNJUKKAN KEPADA DUNIA BAHWA KASIH DAN PENGAMPUNAN BEKERJA LEBIH KUAT DARIPADA KEBENCIAN DAN DENDAM!

Bp. Anto – Citraland
RENUNGAN PAGI: Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia dan kamu tahu bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya (1 Yohanes 3:15). Sekarang ini sedang marak yang namanya “ujaran kebencian atau hate speech” di media sosial, yang seringkali memprovokasi orang lain yang sepaham dengannya untuk turut juga membenci orang yang dimaksud. Repotnya lagi, orang yang menyebarkan ujaran kebencian ini bertindak atas nama agama atau paling tidak merasa membela agamanya. Membenci sepertinya hal yang biasa dalam kehidupan antar sesama, namun Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa membenci disamakan dengan seorang pembunuh, di bagian lain, dikatakan, orang yang membenci saudaranya, dia berada dalam kegelapan. Kebencian seringkali dimulai dari rasa iri, lalu timbul perasaan tidak suka, kemudian lahirlah rasa benci dan kalau kebencian ini dipupuk terus maka timbullah dendam dan amarah, yang dapat melahirkan perbuatan jahat. Ingat kisah Kain dan Habel, Kain membenci Habel karena persembahan Habel diperkenan Tuhan, lalu ujung-ujungnya Kain membunuh Habel. Untuk memupus kebencian, satu-satunya cara adalah dengan memaafkan dan mengampuni. Kebencian akan membuat kita kehilangan damai sejahtera dan membuat kita sulit untuk bersukacita. Perlu kita ingat bahwa jika kita tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita, maka Bapa kita yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita. Belajarlah untuk memupus kebencian dalam diri kita dan biarkan Roh Kudus berkarya dalam hidup kita, agar terang Kristus boleh nyata dalam hidup kita dan kita boleh menerangi sekeliling kita yang berada dalam kegelapan. Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati.

Xavier Quentin Pranata
“Kita sukses bukan karena mencapai apa yang kita inginkan, tapi apa yang Tuhan tetapkan.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
Kamis, 13 Juli 2017. Bacaan: 2 Samuel 1:1-27. Setahun: Mazmur 106-107. Nas: Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok (Amsal 24:17). Haruskah Saya Tertawa? Biasanya seseorang akan merasa senang kalau musuh atau orang yang selalu menyakitinya tertimpa kemalangan. Namun ada satu tokoh Alkitab yang bukannya bersukacita sewaktu mendengar orang yang selalu bersikap jahat kepadanya mati, tetapi malah menangis dan meratapinya. Tokoh Alkitab tersebut tidak lain adalah Daud. Seorang tentara Saul dengan pakaian terkoyak dan tanah di atas kepalanya datang kepada Daud. Tentara itu menyampaikan kabar bahwa Saul dan Yonatan, anaknya, sudah mati (ay. 2-4). Begitu mendengar kabar tersebut, Daud lalu mengoyakkan pakaiannya, meratap, serta menangisi kematian mereka (ay. 11-12, 17-27). Wajar bagi Daud untuk meratapi Yonatan karena Yonatan adalah sahabatnya, tetapi meratap bagi Saul tampak seperti suatu keganjilan. Bagaimana mungkin Daud bersedih untuk seseorang yang selalu mengejar dan ingin membunuhnya karena takut posisinya sebagai raja diambil oleh Daud? (1 Sam 19, 21-24, 26-27). Daud tidak membalas kepada Saul setimpal dengan kejahatannya. Daud bahkan menyebut Saul sebagai orang yang diurapi Tuhan (ay. 14). Tindakan Daud memberikan teladan tentang kasih dan pengampunan. Seperti Daud, kita tidak perlu memikirkan bagaimana cara membalas dendam. Mengapa? Sebab kita memiliki Allah sebagai Pembela, yang akan menyatakan keadilan tepat pada waktu-Nya. Bagian kita hanyalah belajar menaati perintah Yesus yakni mengasihi musuh kita dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Mat 5:44) –LIN. KITA HARUS MENUNJUKKAN KEPADA DUNIA BAHWA KASIH DAN PENGAMPUNAN BEKERJA LEBIH KUAT DARIPADA KEBENCIAN DAN DENDAM!

No comments:

Post a Comment