RICH
FAMILY POOR FAMILY SERIES
Rich
Family Poor Family – Day 6.
F =
Father
A =
And
M =
Mother
I =
I
(ai)
L =
Love
Y =
You
Seasons
of Relationships
(1).
Musim hubungan dalam
sebuah keluarga pasti pernah mengalami permasalahan.
Ada “musim-musim”
yang berbeda dalam
setiap hubungan pernikahan.
Yang pertama adalah
“Musim
Dingin”.
Di
musim dingin semua
tanaman mati,
pohon tinggal
ranting-rantingnya
saja.
Hubungan yang sedang
dalam musim dingin: kaku,
dingin,
kasar diwarnai
kepahitan,
kemarahan,
sakit hati,
bahkan ingin
menghancurkan,
tidak saling berbicara
sebagainya.
“Musim Dingin”
dalam sebuah hubungan
terjadi karena
ketidakmauan untuk menerima cara pandang pasangannya,
tidak mau berusaha
sepakat/kompromi dsbnya.
Musim dingin bukan
segalanya.
Ada jalan keluar,
ada pemgharapan karena pasti akan berganti dengan musim-musim
yang lain.
Markus 2:17,
“Yesus
mendengarnya dan berkata kepada mereka: ‘Bukan
orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang
bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.’”
1 Petrus 4:8,
“Tetapi
yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain,
sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.”
Datang kepada Yesus
maka DIA yang akan memulihkan
“Musim Dingin
Hubungan”
dalam setiap keluarga.
Dan belajar untuk
terus mengasihi pasangannya masing-masing
dengan KASIH yang dari Tuhan sendiri/KASIH yang “walaupun”,
karena
kalau dengan kekuatan sendiri/kasih
yang “karena”
pasti tidak akan mampu. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#RichFPoorFSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Keluaran 39 dan 40
PB:
Matius 23:23-39
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Xavier
Quentin Pranata
“Ucapan
syukur yang luhur justru meluncur dari bibir seorang yang sedang
hancur.”
Xavier Quentin Pranata.
Ibu
Caroline – Bandung
Mazmur
55:23,
“Serahkanlah
kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk
selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.”
Tak bisa dipungkiri,
dunia saat ini dipenuhi berbagai gejolak di segala aspek kehidupan.
Semua orang tanpa
terkecuali merasakan dampak dari situasi yang ada.
Namun tidak seharusnya
hal ini mengejutkan kita orang percaya,
sebab Alkitab sudah
menyatakan bahwa menjelang kedatangan Tuhan kali yang kedua akan
datang masa-masa yang sukar yang merupakan masa yang sangat
menentukan bagi perjalanan kekristenan kita.
Masa-masa sukar adalah
masa ujian bagi kita, masa pemurnian iman, masa penentuan apakah kita
terus melangkah maju atau mengalami kemunduran rohani.
“Sekali kelak
pekerjaan masing-masing orang akan nampak.
Karena hari Tuhan akan
menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana
pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.
Jika pekerjaan yang
dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah”
(1 Korintus 3:13-14).
Menghadapi situasi
berat ini banyak orang berkata,...”Kuatir
itu wajar, sebab sebagai manusia kita pasti punya banyak kelemahan.”
Hal ini pun seringkali
kita jadikan dalih ketika kita sedang merasa kuatir.
“Siapakah di antara
kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada
jalan hidupnya?”
(Matius 6:27).
Kekuatiran tidak dapat
menyelesaikan persoalan, malahan menambah beban hidup kita, menguras
energi dan pikiran, serta membuang waktu kita secara percuma.
“Bukankah hidup itu
lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada
pakaian?”
(Matius 6:25), sebab
“...Kerajaan
Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai
sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”
(Roma 14:17).
Ketika Tuhan masih
memberikan kehidupan ini, Dia jugalah yang akan memelihara kehidupan
kita. Gbu.
Madam
Ossy
Senin,
6 Februari 2017.
Bacaan: Amsal
15:13-15.
Setahun: Imamat 14-15.
Nas: Hati yang gembira
membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat
(Amsal 15:13).
Senjata Tawa.
Pengarang humoris
Amerika ternama, Mark Twain, berkata: ?Umat
manusia memiliki satu senjata paling efektif, itulah tertawa.”
Sebuah penelitian melaporkan, dalam sehari anak-anak rata-rata
tertawa 400 kali, sementara orang dewasa hanya 15 kali. Artinya,
semakin tua semakin kurang tawa kita. Padahal tertawa itu, selain
sehat, menyuburkan semangat. Sayang, rupanya 'senjata' yang satu ini
sering tak terpakai.
Penulis Kitab Amsal
peduli pada hati manusia yang sedang dirundung patah semangat.
Kondisi patah semangat berpengaruh buruk pada fisik seseorang
(17:22). Sedangkan bagi jiwanya, itu amat melumpuhkan, membuat ia
kehilangan daya juang (18:14). Maka, ia mengajukan senjata penawar,
yaitu karunia Allah berupa potensi untuk bergembira. Hati yang
gembira baik bagi badan, layaknya obat (17:22). Baik pula bagi jiwa,
yakni memompa semangat (15:13).
Kapan terakhir kali
Anda tertawa lepas? Hidup ini memang keras, tak jarang
menegangkan-membuat kita kehilangan keceriaan. Berikutnya, dapat
diduga, kita menjadi patah semangat. Jangan biarkan itu terjadi
terus. Redakan ketegangan. Resapilah dan syukurilah kebaikan Tuhan.
Jangan terlalu serius mengasihani diri. Kembangkan rasa humor.
Hiburlah sesama. Tebarkan senyum. Bernyanyilah. Tertawa-rianglah.
Yakinlah, Anda akan dibuatnya lebih kuat dalam menjalani kehidupan
ini –PAD.
KESEDIHAN MELEMAHKAN
SEMANGAT;
KEGEMBIRAAN DAN TAWA
MENJADIKAN KITA KUAT.

No comments:
Post a Comment