Saturday, 4 February 2017

4 Februari 2017

RICH FAMILY POOR FAMILY SERIES




Rich Family Poor Family – Day 4.
F = Father
A = And
M = Mother
I = I (ai)
L = Love
                         Y = You
Hidup Makmur dan Panjang Makmur. Efesus 6:1-3, 1Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2Hormatilah ayahmu dan ibumu-- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” Kita diperintahkan untuk menghormati dan menaati orang tua sebagai perwakilan dari Tuhan di dunia ini. Kalau kita tidak bisa menghormati apa yang kelihatan, maka akan sangat sulit untuk dapat menghormati Tuhan yang “tidak kelihatan”. Ayat 1: Kata TAAT = hupakoute mempunyai kata dasar hupakouo yang berarti mendengar/dengar dengaran,yang berarti mendengar dengan tenang dan penuh perhatian. Tunduk dengan kerelaan. KeTAATan dan hormat kepada orang tua mengandung janji supaya anak-anak berbahagia. Kata berbahagia dalam ayat 3: eu soi genetai yang artinya baik adanya/makmur. Jadi kalau kita sebagai anak-anak TAAT kepada orang tua bukan saja untuk menyenangkan orang tua, tetapi karena hal itu menyenangkan hati Tuhan maka janji Tuhan bagi kita semua adalah (ayat 3) supaya kamu/Siu Siang BERBAHAGIA (baik adanya/Makmur) dan PANJANG UMUR di bumi. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#RichFPoorFSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Keluaran 34,35
PB: Matius 22:23-46
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

#HappyWeekend
#HappyWithYourFamily

Bp. Anto – Citraland
Sabtu 4 Feb 2017. Masih ada HARAPAN. Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang (Amsal 23:17-18). Abraham Lincoln adalah contoh seorang yang ulet dan pantang menyerah. Walau mengalami banyak kegagalan dalam hidupnya, ia bangkit kembali dan tidak putus asa. Lihatlah catatan kehidupannya yang dipenuhi kegagalan:
1816 – Keluarganya diusir dari rumahnya,
1818 – Ibunya meninggal dunia.
1831 – Bisnisnya gagal total.
1833 – Meminjam uang untuk memulai bisnis dan bangkrut pada tahun yang sama. Ia harus melunasi hutangnya selama 17 tahun.
1836 – Mengalami nervous breakdown dan harus berbaring di tempat tidur selama 6 bulan.
1838 – Ingin menjadi Speaker of State Legislature, tapi gagal.
1840 – Ingin menjadi Elector, tapi gagal.
1843 – Ingin menjadi anggota Kongres, tapi gagal.
Gagal dan terus berusaha tapi masih gagal... Namun ia terus melangkah dan tidak pernah menyerah... Dan akhirnya Abraham Lincoln:
1860 – Menjadi Presiden Amerika
Lincoln berkata, “Jalan hidup yang saya lalui memang licin dan saya sering tergelincir. Sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bangkit lagi.” Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara (Mazmur 9:18). Tetap semangat teman. Jangan pernah menyerah. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11). Haleluya... Tuhan Yesus memberkati.

Ibu Caroline – Bandung
Sabtu, 4 Februari 2017. Bacaan: Amsal 3:21-24. Setahun: Imamat 9-10. Nas: Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu... (Amsal 3:21). Kacamata Sheepy. Kemarau itu amat menyiksa. Lombard amat berprihatin. Sheepy, domba kesayangannya, makin lemah. Rumput kering dia tak mau, padahal rumput segar tak lagi bisa didapat. Dalam frustrasi, Lombard memasang kacamata hijau pada Sheepy. Tiba-tiba, di mata Sheepy, rumput kering tampak hijau. Dan, astaga! Sheepy makan dengan lahap. Karena kacamata yang dipakainya, Sheepy tak mengenali warna sebenarnya, rumput kering dikiranya rumput segar, hingga dia lahap memakannya. Anda tahu? Hal serupa bisa terjadi pada kita: karena kacamata yang kita pakai, kita tidak mengenali ihwal sebenarnya, berkesimpulan keliru atas apa yang kita hadapi, lalu melakukan tindakan yang tidak pas. Lihat komentar di media online. Atas berita yang sama, ada yang memuji, ada yang mencaci, ada juga yang geli. Dengan kacamata masing-masing (perasaan, pandangan, kepentingan, dll.), orang memersepsikan sesuatu. Akibatnya? Kesimpulan dan tindakan yang tak selalu pas. Kitab Amsal berpesan, ...janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu. Kata mata mengiaskan kemampuan memersepsikan sesuatu. Dalam memersepsikan apa pun, pertimbangan dan kebijaksanaan harus ada. Tanpa itu, kita gagal mengenali persoalan sebenarnya. Mengritisi kacamata sendiri amatlah penting. Itu bagian dari implementasi pertimbangan dan kebijaksanaan. Bahkan, jika perlu, kita patut bersedia mengganti kacamata kita: ketertutupan diganti dengan keterbukaan, penolakan dengan acceptance, dan kebencian dengan cinta –EE. “DALAM MEMERSEPSIKAN APA PUN, KITA MEMERLUKAN KACAMATA YANG TEPAT. TANPA ITU, KITA GAGAL MENGENALI MASALAH, DAN KELIRU MEMILIH LANGKAH.”

No comments:

Post a Comment