RICH
FAMILY POOR FAMILY SERIES
Rich
Family Poor Family – Day 4.
F =
Father
A =
And
M =
Mother
I =
I
(ai)
L =
Love
Y =
You
Hidup
Makmur dan Panjang Makmur.
Efesus 6:1-3, “1Hai
anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah
demikian. 2Hormatilah
ayahmu dan ibumu-- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti
yang nyata dari janji ini: 3supaya
kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.”
Kita diperintahkan untuk menghormati dan menaati orang tua sebagai
perwakilan dari Tuhan di dunia ini. Kalau kita tidak bisa menghormati
apa yang kelihatan, maka akan sangat sulit untuk dapat menghormati
Tuhan yang “tidak kelihatan”. Ayat 1: Kata TAAT = hupakoute
mempunyai kata dasar hupakouo
yang berarti mendengar/dengar dengaran,yang berarti mendengar dengan
tenang dan penuh perhatian. Tunduk dengan kerelaan. KeTAATan dan
hormat kepada orang tua mengandung janji supaya anak-anak berbahagia.
Kata berbahagia dalam ayat 3: eu
soi genetai yang artinya
baik adanya/makmur. Jadi kalau kita sebagai anak-anak TAAT kepada
orang tua bukan saja untuk menyenangkan orang tua, tetapi karena hal
itu menyenangkan hati Tuhan maka janji Tuhan bagi kita semua adalah
(ayat 3) supaya kamu/Siu Siang BERBAHAGIA (baik adanya/Makmur) dan
PANJANG UMUR di bumi. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#RichFPoorFSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Keluaran 34,35
PB:
Matius 22:23-46
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappyWeekend
#HappyWithYourFamily
Bp.
Anto – Citraland
Sabtu
4 Feb 2017. Masih ada HARAPAN. Janganlah hatimu iri kepada
orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa.
Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang (Amsal
23:17-18). Abraham Lincoln adalah contoh seorang yang ulet dan
pantang menyerah. Walau mengalami banyak kegagalan dalam hidupnya, ia
bangkit kembali dan tidak putus asa. Lihatlah catatan kehidupannya
yang dipenuhi kegagalan:
1816
– Keluarganya diusir dari rumahnya,
1818
– Ibunya meninggal dunia.
1831
– Bisnisnya gagal total.
1833
– Meminjam uang untuk memulai bisnis dan bangkrut pada tahun yang
sama. Ia harus melunasi hutangnya selama 17 tahun.
1836
– Mengalami nervous breakdown dan harus berbaring di tempat tidur
selama 6 bulan.
1838
– Ingin menjadi Speaker of State Legislature, tapi gagal.
1840
– Ingin menjadi Elector, tapi gagal.
1843
– Ingin menjadi anggota Kongres, tapi gagal.
Gagal
dan terus berusaha tapi masih gagal... Namun ia terus melangkah dan
tidak pernah menyerah... Dan akhirnya Abraham Lincoln:
1860
– Menjadi Presiden Amerika
Lincoln
berkata, “Jalan hidup yang saya lalui memang licin dan saya sering
tergelincir. Sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bangkit
lagi.” Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan
untuk selamanya hilang harapan orang sengsara (Mazmur 9:18). Tetap
semangat teman. Jangan pernah menyerah. Sebab Aku ini mengetahui
rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah
firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan
kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan
(Yeremia 29:11). Haleluya... Tuhan Yesus memberkati.
Ibu
Caroline – Bandung
Sabtu,
4 Februari 2017.
Bacaan: Amsal 3:21-24.
Setahun: Imamat 9-10.
Nas: “Hai
anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari
matamu, peliharalah itu...”
(Amsal 3:21).
Kacamata Sheepy.
Kemarau itu amat
menyiksa. Lombard amat berprihatin. Sheepy, domba kesayangannya,
makin lemah. Rumput kering dia tak mau, padahal rumput segar tak lagi
bisa didapat. Dalam frustrasi, Lombard memasang kacamata hijau pada
Sheepy. Tiba-tiba, di mata Sheepy, rumput kering tampak hijau. Dan,
astaga! Sheepy makan dengan lahap.
Karena kacamata yang
dipakainya, Sheepy tak mengenali warna sebenarnya, rumput kering
dikiranya rumput segar, hingga dia lahap memakannya. Anda tahu? Hal
serupa bisa terjadi pada kita: karena “kacamata”
yang kita pakai, kita tidak mengenali ihwal sebenarnya, berkesimpulan
keliru atas apa yang kita hadapi, lalu melakukan tindakan yang tidak
pas. Lihat
komentar di media online. Atas berita yang sama, ada yang memuji, ada
yang mencaci, ada juga yang geli. Dengan “kacamata”
masing-masing (perasaan, pandangan, kepentingan, dll.), orang
memersepsikan sesuatu. Akibatnya? Kesimpulan dan tindakan yang tak
selalu pas.
Kitab Amsal berpesan,
“...janganlah
pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu”.
Kata “mata”
mengiaskan kemampuan memersepsikan sesuatu. Dalam memersepsikan apa
pun, pertimbangan dan kebijaksanaan harus ada. Tanpa itu, kita gagal
mengenali persoalan sebenarnya. Mengritisi “kacamata”
sendiri amatlah penting. Itu bagian dari implementasi pertimbangan
dan kebijaksanaan. Bahkan, jika perlu, kita patut bersedia mengganti
“kacamata”
kita: ketertutupan diganti dengan keterbukaan, penolakan dengan
acceptance, dan kebencian dengan cinta –EE.
“DALAM MEMERSEPSIKAN
APA PUN, KITA MEMERLUKAN KACAMATA YANG TEPAT.
TANPA ITU, KITA GAGAL
MENGENALI MASALAH, DAN KELIRU MEMILIH LANGKAH.”

No comments:
Post a Comment