Thursday, 23 February 2017

23 Februari 2017

RICH FAMILY POOR FAMILY SERIES




Rich Family Poor Family – Day 23.
F = Father
A = And
M = Mother
I = I (ai)
L = Love
                          Y = You
Under Pressure (4). Kolose 3:15, “Hendaklah keputusan-keputusanmu ditentukan oleh kedamaian yang diberikan Kristus didalam hatimu, sebab Allah memanggil kalian untuk menjadi anggota 1 tubuh, supaya kalian hidup dalam kedamaian dalam Kristus itu, hendaklah kalian berterima kasih” (BIS). Dibagian ke 4: “Seringkali ketika dalam kondisi tertekan, kalau kita mengambil keputusan yang terjadi adalah “sering salah keputusan”. Oleh karenanya saat kita dalam tekanan mungkin kita tidak cepat-cepat mengambil keputusan bila memang keputusan itu bisa ditunda. Penting setiap kita anak-anak Tuhan punya damai sejahtera didalam hati kita, bukan hal lain yang mengisi/memerintah hati kita, tetapi “Damai Kristus/FirmanNya” itulah yang selalu ada didalam hati & hidup kita sehingga kita dimampukan untuk punya keputusan yang tepat. Filipi 4:9, “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah SUMBER DAMAI SEJAHTERA akan menyertai kamu.” Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#RichFPoorFSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Bilangan 5&6
PB: Kisah Para Rasul 4:23-37
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

Xavier Quentin Pranata
KECURIGAAN bisa dihapus dari kehidupan keluarga dengan KEJUJURAN dan KEPERCAYAAN.” Xavier Quentin Pranata.

Ibu Caroline – Bandung
Kamis, 23 Februari 2017. Bacaan: Lukas 6:37-42. Setahun: Bilangan 23-25. Nas: Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Lukas 6:38). Siapa Lebih Dulu? “Wanita membutuhkan kasih, sedangkan pria membutuhkan penghargaan,” kata seorang pembicara di mimbar. Di bangku jemaat, sepasang suami-istri saling colak-colek. “Tuh dengar, Pak,” bisik sang istri, “Bapak mesti mengasihi aku dulu.” Sang suami membalas, “Ibu yang harusnya menghormati aku dulu, baru aku bisa mengasihi ibu.” Pertanyaan siapa yang harus melakukan lebih dulu, suami mengasihi istri atau istri menghormati suami, kira-kira sama dengan bertanya mana yang ada lebih dulu, ayam atau telur. Menurut saya pertanyaan yang tepat adalah, “Siapa yang mau terlebih dahulu memberi?” Jika kita berfokus pada siapa yang harus lebih dahulu memberi, hasilnya hanyalah perdebatan, pro dan kontra, tanpa ujung. Kita perlu mengalihkan fokus dengan menyadari bahwa barangsiapa yang ingin mendapatkan, hendaklah ia yang lebih dahulu memberi. Artinya, jika Anda seorang istri dan mengharapkan suami mengasihi Anda, berikanlah dulu penghargaan kepadanya. Sebaliknya, jika Anda seorang suami dan mengharapkan penghargaan dari istri, kasihilah dulu istri Anda. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk tidak berfokus pada apa yang bisa kita terima, melainkan pada apa yang bisa kita berikan. Ketika kita memberi, kita akan menerima buahnya (Luk. 6:38). Hal ini bisa diterapkan dalam seluruh kehidupan kita, bukan hanya dalam hubungan dengan pasangan saja. Pertanyaannya, maukah kita memberi dan bukannya menuntut diberi? --DP. HENDAKLAH KITA TIDAK MENUNTUT UNTUK DIBERI, MELAINKAN BERINISIATIF UNTUK MEMBERIKAN TERLEBIH DAHULU.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
DENGARKAN HATI NURANI. Belajarlah untuk MELIHAT KEBAIKAN semua orang lain, & MEMAAFKAN KEKURANGAN orang lain. Belajarlah untuk MEMAHAMI, karena tak ada orang yang sempurna di dunia ini. Tak ada orang yang senang melakukan Kesalahan. Tak ada orang yang terlahir dengan takdir menjadi Pelaku Kesalahan. Tak ada seorang pun yang merasakan KEDAMAIAN & KETENANGAN HATI NURANI dengan Kesalahan-Kesalahan yang diperbuatnya. Sesungguhnya jauh di dasar HATI NURANI, semua orang mendambakan HIDUP yang MULIA, PENUH KASIH, KEARIFAN & KEBAIKAN, sebab semua orang merasa DAMAI & BAHAGIA atas PERBUATAN BAIK, & merasakan Ketidak-tenangan, Ketiada-heningan & Ketidak-damaian atas Kesalahan yang dilakukan. Namun karena KEBODOHAN, KEBENCIAN & KESERAKAHAN, membuat orang MENGABAIKAN jeritan HATI NURANI & TERUS MELAKUKAN Kesalahan, akhirnya menjadi MATI RASA & tak lagi merasakan protes hati nurani. Meski demikian, HATI NURANI tetap berbicara & terus berbicara. Sungguh Luar Biasa!!! Kalau kita mau MENDENGARKAN HATI NURANI, kita akan MELIHAT BANYAK KEBENARAN & MENJAUHI BANYAK KESALAHAN. SESUNGGUHNYA TAK ADA yang MENIKMATI & BANGGA AKAN KESALAHAN, SEBAB MELAKUKAN KESALAHAN BUKANLAH KODRAT HATI NURANI. Ibrani 10:22, “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.” God bless you all.

Ibu Caroline – Bandung
Kamis, 23 Februari 2017. Bacaan: Lukas 6:37-42. Setahun: Bilangan 23-25. Nas: Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Lukas 6:38). Siapa Lebih Dulu? “Wanita membutuhkan kasih, sedangkan pria membutuhkan penghargaan,” kata seorang pembicara di mimbar. Di bangku jemaat, sepasang suami-istri saling colak-colek. “Tuh dengar, Pak,” bisik sang istri, “Bapak mesti mengasihi aku dulu.” Sang suami membalas, “Ibu yang harusnya menghormati aku dulu, baru aku bisa mengasihi ibu.” Pertanyaan siapa yang harus melakukan lebih dulu, suami mengasihi istri atau istri menghormati suami, kira-kira sama dengan bertanya mana yang ada lebih dulu, ayam atau telur. Menurut saya pertanyaan yang tepat adalah, “Siapa yang mau terlebih dahulu memberi?” Jika kita berfokus pada siapa yang harus lebih dahulu memberi, hasilnya hanyalah perdebatan, pro dan kontra, tanpa ujung. Kita perlu mengalihkan fokus dengan menyadari bahwa barangsiapa yang ingin mendapatkan, hendaklah ia yang lebih dahulu memberi. Artinya, jika Anda seorang istri dan mengharapkan suami mengasihi Anda, berikanlah dulu penghargaan kepadanya. Sebaliknya, jika Anda seorang suami dan mengharapkan penghargaan dari istri, kasihilah dulu istri Anda. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk tidak berfokus pada apa yang bisa kita terima, melainkan pada apa yang bisa kita berikan. Ketika kita memberi, kita akan menerima buahnya (Luk. 6:38). Hal ini bisa diterapkan dalam seluruh kehidupan kita, bukan hanya dalam hubungan dengan pasangan saja. Pertanyaannya, maukah kita memberi dan bukannya menuntut diberi? --DP. HENDAKLAH KITA TIDAK MENUNTUT UNTUK DIBERI, MELAINKAN BERINISIATIF UNTUK MEMBERIKAN TERLEBIH DAHULU.

Xavier Quentin Pranata
KECURIGAAN bisa dihapus dari kehidupan keluarga dengan KEJUJURAN dan KEPERCAYAAN.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment