RICH
FAMILY POOR FAMILY SERIES
Rich
Family Poor Family – Day 23.
F =
Father
A =
And
M =
Mother
I =
I
(ai)
L =
Love
Y =
You
Under
Pressure (4).
Kolose 3:15, “Hendaklah
keputusan-keputusanmu ditentukan oleh kedamaian yang diberikan
Kristus didalam hatimu, sebab Allah memanggil kalian untuk menjadi
anggota 1 tubuh, supaya kalian hidup dalam kedamaian dalam Kristus
itu, hendaklah kalian berterima kasih”
(BIS). Dibagian ke 4: “Seringkali ketika dalam kondisi tertekan,
kalau kita mengambil keputusan yang terjadi adalah “sering salah
keputusan”. Oleh karenanya saat kita dalam tekanan mungkin kita
tidak cepat-cepat mengambil keputusan bila memang keputusan itu bisa
ditunda. Penting setiap kita anak-anak Tuhan punya damai sejahtera
didalam hati kita, bukan hal lain yang mengisi/memerintah hati kita,
tetapi “Damai Kristus/FirmanNya” itulah yang selalu ada didalam
hati & hidup kita sehingga kita dimampukan untuk punya keputusan
yang tepat. Filipi 4:9, “Dan
apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa
yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku,
lakukanlah itu. Maka Allah SUMBER DAMAI SEJAHTERA akan menyertai
kamu.”
Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#RichFPoorFSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Bilangan 5&6
PB:
Kisah Para Rasul 4:23-37
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Xavier
Quentin Pranata
“KECURIGAAN
bisa dihapus dari kehidupan keluarga dengan KEJUJURAN dan
KEPERCAYAAN.” Xavier Quentin Pranata.
Ibu
Caroline – Bandung
Kamis,
23 Februari 2017. Bacaan: Lukas 6:37-42. Setahun: Bilangan 23-25.
Nas: Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang
dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke
dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan
diukurkan kepadamu (Lukas 6:38). Siapa Lebih Dulu? “Wanita
membutuhkan kasih, sedangkan pria membutuhkan penghargaan,” kata
seorang pembicara di mimbar. Di bangku jemaat, sepasang suami-istri
saling colak-colek. “Tuh dengar, Pak,” bisik sang istri, “Bapak
mesti mengasihi aku dulu.” Sang suami membalas, “Ibu yang
harusnya menghormati aku dulu, baru aku bisa mengasihi ibu.”
Pertanyaan siapa yang harus melakukan lebih dulu, suami mengasihi
istri atau istri menghormati suami, kira-kira sama dengan bertanya
mana yang ada lebih dulu, ayam atau telur. Menurut saya pertanyaan
yang tepat adalah, “Siapa yang mau terlebih dahulu memberi?” Jika
kita berfokus pada siapa yang harus lebih dahulu memberi, hasilnya
hanyalah perdebatan, pro dan kontra, tanpa ujung. Kita perlu
mengalihkan fokus dengan menyadari bahwa barangsiapa yang ingin
mendapatkan, hendaklah ia yang lebih dahulu memberi. Artinya, jika
Anda seorang istri dan mengharapkan suami mengasihi Anda, berikanlah
dulu penghargaan kepadanya. Sebaliknya, jika Anda seorang suami dan
mengharapkan penghargaan dari istri, kasihilah dulu istri Anda.
Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk tidak berfokus pada apa
yang bisa kita terima, melainkan pada apa yang bisa kita berikan.
Ketika kita memberi, kita akan menerima buahnya (Luk. 6:38). Hal ini
bisa diterapkan dalam seluruh kehidupan kita, bukan hanya dalam
hubungan dengan pasangan saja. Pertanyaannya, maukah kita memberi dan
bukannya menuntut diberi? --DP. HENDAKLAH KITA TIDAK MENUNTUT UNTUK
DIBERI, MELAINKAN BERINISIATIF UNTUK MEMBERIKAN TERLEBIH DAHULU.
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
DENGARKAN
HATI NURANI. Belajarlah untuk MELIHAT KEBAIKAN semua orang lain, &
MEMAAFKAN KEKURANGAN orang lain. Belajarlah untuk MEMAHAMI, karena
tak ada orang yang sempurna di dunia ini. Tak ada orang yang senang
melakukan Kesalahan. Tak ada orang yang terlahir dengan takdir
menjadi Pelaku Kesalahan. Tak ada seorang pun yang merasakan
KEDAMAIAN & KETENANGAN HATI NURANI dengan Kesalahan-Kesalahan
yang diperbuatnya. Sesungguhnya jauh di dasar HATI NURANI, semua
orang mendambakan HIDUP yang MULIA, PENUH KASIH, KEARIFAN &
KEBAIKAN, sebab semua orang merasa DAMAI & BAHAGIA atas PERBUATAN
BAIK, & merasakan Ketidak-tenangan, Ketiada-heningan &
Ketidak-damaian atas Kesalahan yang dilakukan. Namun karena
KEBODOHAN, KEBENCIAN & KESERAKAHAN, membuat orang MENGABAIKAN
jeritan HATI NURANI & TERUS MELAKUKAN Kesalahan, akhirnya menjadi
MATI RASA & tak lagi merasakan protes hati nurani. Meski
demikian, HATI NURANI tetap berbicara & terus berbicara. Sungguh
Luar Biasa!!! Kalau kita mau MENDENGARKAN HATI NURANI, kita akan
MELIHAT BANYAK KEBENARAN & MENJAUHI BANYAK KESALAHAN.
SESUNGGUHNYA TAK ADA yang MENIKMATI & BANGGA AKAN KESALAHAN,
SEBAB MELAKUKAN KESALAHAN BUKANLAH KODRAT HATI NURANI. Ibrani 10:22,
“Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus
ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah
dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh
dengan air yang murni.” God bless you all.
Ibu
Caroline – Bandung
Kamis,
23 Februari 2017. Bacaan: Lukas 6:37-42. Setahun: Bilangan 23-25.
Nas: Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang
dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke
dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan
diukurkan kepadamu (Lukas 6:38). Siapa Lebih Dulu? “Wanita
membutuhkan kasih, sedangkan pria membutuhkan penghargaan,” kata
seorang pembicara di mimbar. Di bangku jemaat, sepasang suami-istri
saling colak-colek. “Tuh dengar, Pak,” bisik sang istri, “Bapak
mesti mengasihi aku dulu.” Sang suami membalas, “Ibu yang
harusnya menghormati aku dulu, baru aku bisa mengasihi ibu.”
Pertanyaan siapa yang harus melakukan lebih dulu, suami mengasihi
istri atau istri menghormati suami, kira-kira sama dengan bertanya
mana yang ada lebih dulu, ayam atau telur. Menurut saya pertanyaan
yang tepat adalah, “Siapa yang mau terlebih dahulu memberi?” Jika
kita berfokus pada siapa yang harus lebih dahulu memberi, hasilnya
hanyalah perdebatan, pro dan kontra, tanpa ujung. Kita perlu
mengalihkan fokus dengan menyadari bahwa barangsiapa yang ingin
mendapatkan, hendaklah ia yang lebih dahulu memberi. Artinya, jika
Anda seorang istri dan mengharapkan suami mengasihi Anda, berikanlah
dulu penghargaan kepadanya. Sebaliknya, jika Anda seorang suami dan
mengharapkan penghargaan dari istri, kasihilah dulu istri Anda.
Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk tidak berfokus pada apa
yang bisa kita terima, melainkan pada apa yang bisa kita berikan.
Ketika kita memberi, kita akan menerima buahnya (Luk. 6:38). Hal ini
bisa diterapkan dalam seluruh kehidupan kita, bukan hanya dalam
hubungan dengan pasangan saja. Pertanyaannya, maukah kita memberi dan
bukannya menuntut diberi? --DP. HENDAKLAH KITA TIDAK MENUNTUT UNTUK
DIBERI, MELAINKAN BERINISIATIF UNTUK MEMBERIKAN TERLEBIH DAHULU.
Xavier
Quentin Pranata
“KECURIGAAN
bisa dihapus dari kehidupan keluarga dengan KEJUJURAN dan
KEPERCAYAAN.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment