RICH
FAMILY POOR FAMILY SERIES
Rich
Family Poor Family – Day 27.
F =
Father
A =
And
M =
Mother
I =
I
(ai)
L =
Love
Y =
You
Intentionally
Invest (1).
Apakah kita menyadari “setiap minggu” itu berarti (every
week is matters). Kalau
kita bisa duduk makan bersama-sama dengan keluarga secara intensif
seminggu 1x, maka kalau anak-anak kita berusia 10 tahun, hanya ada
416 minggu/416 kali kita bisa makan bersama-sama, dan bila anak kita
berusia 20 tahun, maka tidak lebih dari 1000 minggu. Pointnya adalah
sudahkah kita menyediakan WAKTU yang ada untuk keluarga / pasangan /
anak / orangtua / rekan-rekan dekat kita? Efesus 5:16, “dan
PERGUNAKAN WAKTU yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”
Seperti yang sudah saya sampaikan kemarin (26 Feb). Kita bisa
mendapatkan uang dengan WAKTU yang sudah Tuhan sediakan buat kita 24
jam sehari, tetapi dengan uang kita tidak bisa membeli WAKTU yang
sudah berlalu. Oleh karenanya PERGUNAKAN WAKTU/exogoraso
yang artinya: membeli/menebus. Jangan biarkan waktu berlalu begitu
saja tanpa membuatnya menjadi milik kita yang harus kita manfaatkan
sebaik-baiknya. Rasul Paulus mengatakan hal ini kepada jemaat di
Efesus karena saat itu penyiksaan dari penguasa Romawi sedang
berlangsung (1 Petrus 4:12-19). Dengan demikian kita tidak membiarkan
WAKTU berlalu begitu saja tanpa membuatnya menjadi milik kita yang
harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Dapatkah kita membayangkan:
Tidak banyak WAKTU lagi untuk hidup sebagai Saksi-Saksi Kristus dan
membawa jiwa-jiwa bagiNya ditengah-tengah masyarakat yang jahat (ayat
16). Bukankah masyarakat kita saat ini juga demikian? Biarlah kita
mau mempergunakan WAKTU kita dengan bijaksana, memperGUNAkannya
untuk hidup bagi Tuhan dan melayaniNya, yaitu melalui orang-orang
terdekat kita terlebih dahulu: keluarga/pasangan/anak/ortu/sesama
kita. Hidup ini bukan soal berapa lama kita hidup tetapi seberapa
lama kita hidup dan kita diisi dengan hal-hal yang BERGUNA.
Sudahkah kita memprioritaskan WAKTU kita untuk keluarga / pasangan /
anak / ortu / sesama kita? Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#RichFPoorFSeries
Note:
Pembacaan
Alkitab kita hari ini:
PL:
Bilangan 15dan 16
PB:
Kisah Para Rasul 7:1-22
#LoveTheBible
Bp.
Sandy Suciawan – PT. Wings Surya
Ayah
seorang yang benar akan bersorak-sorak; yang memperanakkan
orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia. Biarlah ayahmu
dan ibumu bersukacita, biarlah beria-ria dia yang melahirkan engkau
(Amsal 23:24-25). Seorang pemuda melamar lowongan posisi manajer di
sebuah Perusahaan besar. Dia lulus wawancara awal... Sekarang akan
bertemu dengan seorang direktur untuk wawancara akhir. Dari CV-nya
sang direktur mengetahui bahwa prestasi akademis pemuda itu sangat
baik. Dia bertanya, “Apakah Anda mendapat beasiswa di sekolah...?”
Pemuda itu menjawab, “Tidak”. “Siapa yang membayar biaya
sekolah...?” “Orang tua,” jawabnya. “Di mana mereka bekerja
...?” “Mereka bekerja sebagai tukang cuci pakaian...” Direktur
meminta pemuda itu untuk menunjukkan tangannya... Pemuda itu
menunjukkan kedua tangannya yang halus dan sempurna... “Pernahkah
Anda membantu orangtua Anda mencuci pakaian?” “Tidak pernah...
Orangtua saya selalu ingin saya belajar dan membaca buku lebih
banyak. Selain itu, orangtua saya bisa mencuci pakaian lebih cepat
dari saya...” Direktur mengatakan, “Saya punya permintaan. Ketika
Anda pulang hari ini, pergi dan bersihkan tangan orangtua Anda. Temui
saya besok pagi.” Pemuda itu merasa sedih... Ketika ia kembali ke
rumah, ia meminta orangtuanya membiarkan dia membersihkan tangan
mereka. Orangtuanya merasa aneh. Senang... terharu... tapi dengan
perasaan campur aduk, mereka menunjukkan tangan mereka kepada sang
anak... Pemuda itu membersihkan tangan mereka perlahan-lahan.
Airmatanya meleleh perlahan saat ia melakukan itu. Ini adalah pertama
kalinya ia melihat... tangan orang tuanya begitu kusut, dan... begitu
banyak lecet di tangan mereka. Beberapa luka lecet itu membuat mereka
mengeluh sakit saat ia menyentuhnya. Ini adalah pertama kalinya
pemuda itu menyadari bahwa sepasang tangan yang mencuci pakaian
setiap hari inilah yang memungkinkan dia untuk membayar biaya
sekolah... Lecet-lecet di tangan adalah harga yang harus dibayar
orang tuanya untuk pendidikan, kegiatan sekolah dan masa depannya.
Setelah membersihkan tangan orangtuanya, pemuda ìtu diam-diam
mencuci semua pakaian yang masih tersisa. Malam itu, orangtua dan
anak berbincang untuk waktu yang sangat lama. Keesokan paginya,
pemuda itu pergi ke kantor direktur. Direktur melihat airmata di mata
pemuda itu, ketika ia bertanya: “Apa yang telah Anda lakukan di
rumah Anda kemarin...?” Pemuda itu menjawab, “Saya membersihkan
tangan orangtua saya, juga mencuci semua pakaian yang tersisa sampai
selesai...” *“Pelajaran apa yang Anda peroleh..?”* “Saya
sekarang tahu apa artinya cinta dan pengorbanan orang tua saya. Tanpa
orang tua saya, saya tidak akan menjadi diri saya hari ini. *Dengan
membantu orangtua saya, saya baru menyadari betapa sulit mencapai
tujuan kalau dilakukan sendiri..* *Saya menghargai pentingnya saling
membantu dalam keluarga..*”. Direktur mengatakan, “Inilah yang
saya cari pada diri seorang manajer. Saya ingin merekrut orang yang
dapat menghargai bantuan orang lain... Orang yang tahu penderitaan
orang lain untuk menyelesaikan sesuatu, orang yang tidak menempatkan
uang sebagai satu-satunya tujuan hidup.” *”Anda diterima
kerja..”*. Wahai para orang tua... Seorang anak, yang terlalu
dilindungi, dimanjakan apa pun yang ia mau, akan mengembangkan,
“mentalitas hak” dan akan selalu mengutamakan dirinya sendiri.
Dia akan mengabaikan upaya orang tuanya. Jika kita menjadi orang tua
yang terlalu melindungi, bukan berati mencintai anak-anak dengan cara
yang benar. Bukankah malah menghancurkan mereka...? Boleh membiarkan
anak tinggal di sebuah rumah besar, makan makanan yang enak. Tapi
ketika Anda membersihkan rumah, ajak mereka juga melakukannya.
Setelah makan, biarkan anak-anak mencuci piring dan mangkuk sendiri.
Bukan karena tidak punya uang untuk menyewa pembantu, tetapi karena
ingin mencintai anak-anak dengan cara yang benar. Agar mereka
mengerti, kendati orang tua mampu... Suatu hari kita akan menjadi tua
dan tak berdaya... Betapa bahagia mempunyai anak yang mengerti...
Didik dan bimbinglah anak Anda agar belajar bagaimana menghargai
jerih payah orang tua, juga orang orang lain... Hai anakku,
dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu
sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung
bagi lehermu. Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk
engkau, janganlah engkau menurut--Amsal 1:8-10.

No comments:
Post a Comment