Monday, 27 February 2017

27 Februari 2017

RICH FAMILY POOR FAMILY SERIES




Rich Family Poor Family – Day 27.
F = Father
A = And
M = Mother
I = I (ai)
L = Love
                          Y = You
Intentionally Invest (1). Apakah kita menyadari “setiap minggu” itu berarti (every week is matters). Kalau kita bisa duduk makan bersama-sama dengan keluarga secara intensif seminggu 1x, maka kalau anak-anak kita berusia 10 tahun, hanya ada 416 minggu/416 kali kita bisa makan bersama-sama, dan bila anak kita berusia 20 tahun, maka tidak lebih dari 1000 minggu. Pointnya adalah sudahkah kita menyediakan WAKTU yang ada untuk keluarga / pasangan / anak / orangtua / rekan-rekan dekat kita? Efesus 5:16, “dan PERGUNAKAN WAKTU yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Seperti yang sudah saya sampaikan kemarin (26 Feb). Kita bisa mendapatkan uang dengan WAKTU yang sudah Tuhan sediakan buat kita 24 jam sehari, tetapi dengan uang kita tidak bisa membeli WAKTU yang sudah berlalu. Oleh karenanya PERGUNAKAN WAKTU/exogoraso yang artinya: membeli/menebus. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa membuatnya menjadi milik kita yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Rasul Paulus mengatakan hal ini kepada jemaat di Efesus karena saat itu penyiksaan dari penguasa Romawi sedang berlangsung (1 Petrus 4:12-19). Dengan demikian kita tidak membiarkan WAKTU berlalu begitu saja tanpa membuatnya menjadi milik kita yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Dapatkah kita membayangkan: Tidak banyak WAKTU lagi untuk hidup sebagai Saksi-Saksi Kristus dan membawa jiwa-jiwa bagiNya ditengah-tengah masyarakat yang jahat (ayat 16). Bukankah masyarakat kita saat ini juga demikian? Biarlah kita mau mempergunakan WAKTU kita dengan bijaksana, memperGUNAkannya untuk hidup bagi Tuhan dan melayaniNya, yaitu melalui orang-orang terdekat kita terlebih dahulu: keluarga/pasangan/anak/ortu/sesama kita. Hidup ini bukan soal berapa lama kita hidup tetapi seberapa lama kita hidup dan kita diisi dengan hal-hal yang BERGUNA. Sudahkah kita memprioritaskan WAKTU kita untuk keluarga / pasangan / anak / ortu / sesama kita? Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#RichFPoorFSeries

Note:
Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Bilangan 15dan 16
PB: Kisah Para Rasul 7:1-22
#LoveTheBible

Bp. Sandy Suciawan – PT. Wings Surya
Ayah seorang yang benar akan bersorak-sorak; yang memperanakkan orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia. Biarlah ayahmu dan ibumu bersukacita, biarlah beria-ria dia yang melahirkan engkau (Amsal 23:24-25). Seorang pemuda melamar lowongan posisi manajer di sebuah Perusahaan besar. Dia lulus wawancara awal... Sekarang akan bertemu dengan seorang direktur untuk wawancara akhir. Dari CV-nya sang direktur mengetahui bahwa prestasi akademis pemuda itu sangat baik. Dia bertanya, “Apakah Anda mendapat beasiswa di sekolah...?” Pemuda itu menjawab, “Tidak”. “Siapa yang membayar biaya sekolah...?” “Orang tua,” jawabnya. “Di mana mereka bekerja ...?” “Mereka bekerja sebagai tukang cuci pakaian...” Direktur meminta pemuda itu untuk menunjukkan tangannya... Pemuda itu menunjukkan kedua tangannya yang halus dan sempurna... “Pernahkah Anda membantu orangtua Anda mencuci pakaian?” “Tidak pernah... Orangtua saya selalu ingin saya belajar dan membaca buku lebih banyak. Selain itu, orangtua saya bisa mencuci pakaian lebih cepat dari saya...” Direktur mengatakan, “Saya punya permintaan. Ketika Anda pulang hari ini, pergi dan bersihkan tangan orangtua Anda. Temui saya besok pagi.” Pemuda itu merasa sedih... Ketika ia kembali ke rumah, ia meminta orangtuanya membiarkan dia membersihkan tangan mereka. Orangtuanya merasa aneh. Senang... terharu... tapi dengan perasaan campur aduk, mereka menunjukkan tangan mereka kepada sang anak... Pemuda itu membersihkan tangan mereka perlahan-lahan. Airmatanya meleleh perlahan saat ia melakukan itu. Ini adalah pertama kalinya ia melihat... tangan orang tuanya begitu kusut, dan... begitu banyak lecet di tangan mereka. Beberapa luka lecet itu membuat mereka mengeluh sakit saat ia menyentuhnya. Ini adalah pertama kalinya pemuda itu menyadari bahwa sepasang tangan yang mencuci pakaian setiap hari inilah yang memungkinkan dia untuk membayar biaya sekolah... Lecet-lecet di tangan adalah harga yang harus dibayar orang tuanya untuk pendidikan, kegiatan sekolah dan masa depannya. Setelah membersihkan tangan orangtuanya, pemuda ìtu diam-diam mencuci semua pakaian yang masih tersisa. Malam itu, orangtua dan anak berbincang untuk waktu yang sangat lama. Keesokan paginya, pemuda itu pergi ke kantor direktur. Direktur melihat airmata di mata pemuda itu, ketika ia bertanya: “Apa yang telah Anda lakukan di rumah Anda kemarin...?” Pemuda itu menjawab, “Saya membersihkan tangan orangtua saya, juga mencuci semua pakaian yang tersisa sampai selesai...” *“Pelajaran apa yang Anda peroleh..?”* “Saya sekarang tahu apa artinya cinta dan pengorbanan orang tua saya. Tanpa orang tua saya, saya tidak akan menjadi diri saya hari ini. *Dengan membantu orangtua saya, saya baru menyadari betapa sulit mencapai tujuan kalau dilakukan sendiri..* *Saya menghargai pentingnya saling membantu dalam keluarga..*”. Direktur mengatakan, “Inilah yang saya cari pada diri seorang manajer. Saya ingin merekrut orang yang dapat menghargai bantuan orang lain... Orang yang tahu penderitaan orang lain untuk menyelesaikan sesuatu, orang yang tidak menempatkan uang sebagai satu-satunya tujuan hidup.” *”Anda diterima kerja..”*. Wahai para orang tua... Seorang anak, yang terlalu dilindungi, dimanjakan apa pun yang ia mau, akan mengembangkan, “mentalitas hak” dan akan selalu mengutamakan dirinya sendiri. Dia akan mengabaikan upaya orang tuanya. Jika kita menjadi orang tua yang terlalu melindungi, bukan berati mencintai anak-anak dengan cara yang benar. Bukankah malah menghancurkan mereka...? Boleh membiarkan anak tinggal di sebuah rumah besar, makan makanan yang enak. Tapi ketika Anda membersihkan rumah, ajak mereka juga melakukannya. Setelah makan, biarkan anak-anak mencuci piring dan mangkuk sendiri. Bukan karena tidak punya uang untuk menyewa pembantu, tetapi karena ingin mencintai anak-anak dengan cara yang benar. Agar mereka mengerti, kendati orang tua mampu... Suatu hari kita akan menjadi tua dan tak berdaya... Betapa bahagia mempunyai anak yang mengerti... Didik dan bimbinglah anak Anda agar belajar bagaimana menghargai jerih payah orang tua, juga orang orang lain... Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu. Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut--Amsal 1:8-10.

No comments:

Post a Comment