RICH
FAMILY POOR FAMILY SERIES
Rich
Family Poor Family – Day 3.
F =
Father
A =
And
M =
Mother
I =
I
(ai)
L =
Love
Y =
You
Sebuah
standard yang Allah berikan kepada istri adalah TUNDUK kepada suami
sebagai pemimpin dalam Rumah Tangga. Tunduk berarti hupotasso/bahasa
Yunani (rendahkanlah dirimu) di ayat 21, “Dan
rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan
Kristus.”
Ayat 22: “Hai
isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.”
Tunduk berarti merelakan diri dipimpin demi keteraturan, mendukung
suami, memberi semangat, berterima kasih dsbnya. Tunduk bukan berarti
pasif, tidak berpendapat, tidak punya impian, bahkan tidak punya
identitas diri demi suami. Standard pernikahan anak-anak Tuhan adalah
seperti hubungan Kristus dengan jemaatNya (23-31). Standard KASIH
suami kepada istri atau dalam pernikahan itu seperti apa? Lihat
hashtag di bawah.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#RichFPoorFSeries
#KasihyangtidakEgois(Efesus:25)
#KasihyangSuci(26)
#KasihyangMemberi&MengorbankanDiri(25)
#KasihyangMengasuh&Merawat(29)
#KasihyangMelibatkanKomitmen&Perasaan(31)
#KasihyangMengutamakanIstriDiatasHubunganyangLain(31)
#BacaAlkitab
#Keren
#IniAsupanImanku
#ManaAsupanImanmu
#JBUall
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Keluaran 31,32,33
PB:
Matius 22:1-22
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Jumat, 3 Februari 2017. JANGAN SAMPAI TERBALIK. Maka
berkatalah Abram kepada Lot: “Janganlah kiranya ada perkelahian
antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu,
sebab kita ini kerabat...” (Kejadian 13:8). Seorang lelaki membeli
mobil baru. Disayangnya, dipandangnya, dan dibersihkannya setiap
hari. Suatu hari, puteranya yang berusia 6 tahun bermain di halaman
rumah. Dilemparkannya benda-benda di tangannya ke sana kemari. Bruk!
O, salah satunya membentur mobil baru sang ayah! Setelah tahu
benturan itu merusak cat mobilnya, ayah itu dengan berang memukuli
anaknya. Tanpa disadarinya pukulan itu mematahkan beberapa tulang
jari-jemari si anak dan meninggalkan cacat seumur hidup. Hubungan
antar manusia rentan berselisih karena persoalan harta-benda.
Begitulah yang terjadi ketika baik Abram maupun Lot, kemenakannya,
sudah menjadi kaya (ay. 2 dan 6). Sekalipun kala itu perselisihan
masih pada taraf para gembala ternak mereka (ay. 7), Abram mulai
waspada. Baginya hubungan kekerabatan lebih utama daripada
harta-benda. Sebelum konflik berkembang lebih jauh, diajaknya Lot
berunding demi mengatur perpisahan di antara mereka (ay. 8-9). Abram
bijaksana. Ia tahu cara memperlakukan manusia dan harta benda. Cerita
kekonyolan si ayah di atas sebenarnya merupakan cerminan sikap
manusia dewasa ini. Ada kelekatan hati yang amat kuat pada benda dan
harta. 'Cinta'nya pada barang (dan uang) melebihi apa pun. Demi
'sayang'nya pada materi segalanya bisa ia lakukan. Termasuk menipu,
merugikan, memperalat, bahkan mencelakakan orang. Bahkan dilakoni
juga manakala harus ditebus dengan hancurnya hubungan dengan
keluarga, sahabat, rekan, dan sesama. Masihkah kebijaksanaan Abram
kita warisi di zaman berkuasanya materi ini? Semoga “masih ada”.
MANUSIA, SUBYEK UNTUK DISAYANG; HARTA BENDA HANYA ALAT. JANGAN
DIBALIK. Selamat Pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible - Bacaan
Setahun: Keluaran 31,32,33 & Matius 22:1-22.
Xavier
Quentin Pranata
“Saat
kita menilai harga diri kita terlalu tinggi dan mulai tinggi hati,
kita lupa bahwa kita adalah debu dan tanah yang lemah tanpa tiupan
nafas ilahi.” Xavier Quentin Pranata.
GNCC
Happy
Friday. Sebelum Tuhan mengubah yang di luar, Tuhan akan ubah yang di
dalam dahulu. #gncc
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggul
BERBAHAGIALAH...
Jika seseorang kesulitan menghirup oksigen, pasti bukan karena
oksigennya sudah langka, melainkan karena telah terjadinya gangguan
di dalam sistem pernafasannya. Begitu juga jika kita kesulitan untuk
Berbahagia, pasti bukan karena stok Kebahagiaan sudah langka,
melainkan karena telah terjadinya gangguan di dalam sistem kejiwaan
kita. Penyebab Konflik dengan diri kita sendiri, antara lain :
»
Pikiran & Perasaan,
»
Kemauan & Keyakinan,
»
Sikap & Perbuatan.
»
Iman & Godaan.
»
Harapan & Kenyataan.
Harmonisasikan
konflik yang ada pada diri kita sendiri dengan cara:
«
Penerimaan Diri
«
Mawas Diri
«
Mudah Memaafkan
«
Selalu Rendah Hati
«
Mengubur Sakit Hati
Langkah
pertama untuk Bahagia adalah Berhenti Membandingkan Diri kita dengan
orang lain & Belajar Mengucap Syukur dalam segala hal. Orang yang
tau Cara Bersyukur adalah orang yang bisa Menikmati Keindahan Dunia &
Arti Kebahagiaan Hidup. Jadikan Hati kita selalu Damai, agar kita
bisa Membahagiakan Diri kita sendiri & Membahagiakan Sesama.
KEBAHAGIAAN AKAN DIPEROLEH JIKA KITA DAPAT MEMBEBASKAN DIRI DARI
KEKUATIRAN yang BERLEBIHAN. Beginilah firman Tuhan, Penebusmu, Yang
Mahakudus, Allah Israel: “Akulah Tuhan, Allahmu, yang mengajar
engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan
yang harus kautempuh. Sekiranya engkau memperhatikan
perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang
tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti
gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti” (Yesaya
48:17-18). God bless you all.
Bp.
Peter – Worship Center Surabaya
*”JANGANLAH
KAMU BODOH…”* (Efesus 5:17). Pesan pengajaran untuk 2017 - Bagian
2 (SELESAI). Dalam Efesus 5:17, Paulus menyampaikan supaya jemaat
Tuhan JANGAN MENJADI BODOH tetapi USAHAKANLAH SUPAYA MENGERTI
KEHENDAK TUHAN. Sangat menarik mengetahui Paulus menyebutkan bahwa
supaya tidak menjadi bodoh kita harus mengerti kehendak Tuhan.
Perhatikanlah. Lawan dari kebodohan di hadapan Tuhan bukanlah
kepandaian dalam berpikir, berprestasi serta penuh gelar di bidang
akademis atau memiliki pengetahuan yang luas mengenai berbagai macam
hal di dunia ini. Bahkan lawan dari bodoh, di pemandangan Tuhan,
bukanlah menjadi jenius. Seseorang tak lagi bodoh di mata Tuhan
KETIKA ia memahami kehendak Allah. Dengan demikian tidak semua orang
pandai itu pandai menurut Allah. Tidak semua orang berpengetahuan itu
berhikmat di pemandangan Tuhan. Orang yang diakui secara luas sebagai
orang bijak dan memiliki pengetahuan yang mumpuni di bumi belum tentu
berpengertian menurut ukuran Kristus. Untuk tidak menjadi bodoh
selama hidup kita di dunia, kita memerlukan satu hal mendasar yang
harus ada di hati kita yaitu: KITA MENGETAHUI KEHENDAK ALLAH bagi
hidup kita. Itulah sebabnya dikatakan oleh Salomo bahwa “permulaan
hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah
pengertian” (Amsal 9:10) dan ”takut akan TUHAN adalah permulaan
pengetahuan” (Amsal 1:7). Tanpa pengenalan akan Tuhan, manusia
tetaplah makhluk-makhluk yang berada dalam kebodohan dan tinggal di
sana sampai pada kebinasaannya -sekalipun mereka merasa pandai dan
bijak. Hanya dengan mengenal Dia yang menyatakan diri melalui
kehadiran Yesus Kristus maka manusia menemukan hikmat yang sejati,
juga jati dirinya dimana kemudia hidupnya berada di jalur yang benar
sesuai tujuan penciptaan-Nya. “…yang bodoh dari Allah lebih besar
hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari
pada manusia. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk
memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia,
dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak
terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang
tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti”
supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan
Allah” (1 Korintus 1:25, 27-29). Jika kita tidak mengetahui apa
yang diinginkan-Nya atas kita maka kita pasti tersesat. Adam dan Hawa
yang tahu bahwa Tuhan melarang mereka makan buah pohon pengetahuan
tentang yang baik dan jahat, nyatanya masih mengambil jalan yang
salah dengan tidak taat kepada Tuhan. Betapa celakanya kita jika kita
tidak tahu membedakan mana yang benar dan salah, baik dan jahat di
mata Tuhan. Dan itu belum termasuk membedakan yang benar dan hampir
benar! Bayangkanlah bagaimana celakanya kita jika kita tidak
mengetahui (atau tidak mau mengenal) mana yang seharusnya kita
lakukan dan mana yang tidak sesuai petunjuk Sang Khalik Pencipta
kita? Betapa sesatnya jalan kita jika kita tidak tahu (atau tidak mau
tahu) jalan mana yang harus kita tempuh sepanjang hari-hari kita di
dunia yang dipenuhi jebakan dan siasat si jahat ini? Bukankah kita
semua telah tahu dan paham bahwa “malu bertanya maka kita akan
sesat di jalan”? Ya. Manusia melakukan banyak perbuatan bodoh oleh
karena mereka berhasil dibodohi tanpa mereka sadari atau secara sadar
tetap memilih tinggal dalam kebodohan. Tanpa hikmat dan pikiran Tuhan
yang menjadi pedoman kita maka kita akan berpikir bodoh, berkata-kata
bodoh dan berlaku bodoh -tak peduli seberapa pun kita menyebutnya
cerdik atau memandang diri kita bijak. Itu sebabnya langkah pertama
kita untuk mendapat hikmat bagi hidup di dunia ini dan tidak menjadi
bodoh ialah pertama-tama mengetahui dan melakukan kehendak Bapa yang
paling mendasar bagi kita yaitu PERCAYA KEPADA YESUS: “Lalu kata
mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami
mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”” Jawab Yesus
kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu
hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yohanes
6:28-29). Lagi, “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap
orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup
yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman”
(Yohanes 6:40). Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup.
Mempercayakan hidup kita kepada-Nya, maka kita akan menemukan jalan
yang benar dan yang menuju pada hidup sejati lagi kekal. Dengan
mengikut Dia kita akan berjalan di jalan Sang Hikmat itu sendiri.
Mengikuti petunjuk-Nya sama dengan menerima dan melaksanakan nasihat
terbaik yang pernah kita terima (bukankah Yesus bergelar Penasihat
dalam Yesaya 9:5?). Memahami dan melaksanakan perintah-Nya adalah
cara hidup terbaik yang bisa kita lakukan mengingat betapa
terbatasnya pengetahuan dan kemampuan kita. Menyadari akan hal ini,
Daud dengan jujur mengakui bahwa dia memerlukan seorang Gembala Yang
Baik (Mazmur 23). TUHAN adalah Gembala Yang Baik Itu. Dialah yang
rindu dan selalu akan membawa kita -jika kita mau menjadi
domba-domba-Nya- kepada jalan yang benar, kepada air yang tenang
penuh damai sejahtera, kepada rumput yang hijau penuh kelimpahan dan
kecukupan dimana di sana kita tidak akan kekurangan apapun juga!
Semua kebaikan, pemeliharaan, perlindungan serta keselamatan hingga
kita sampai di rumah Tuhan kita terima saat kita mengikut Yesus
sebagai pembimbing dan pemimpin hidup kita. Ketika Sang Hikmat
menuntun kita yang mau membuka hati untuk mengikuti petunjuk-Nya,
mustahil kita masih berada di jalan kebodohan.
*YANG
DIMAKSUD MENGERTI KEHENDAK TUHAN*
Jalan-jalan
Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah. Ada jurang yang mahalebar yang
memisahkan kita yang hidup di tubuh jasmaniah yang fana ini dengan
Tuhan yang adalah roh. Itu sebabnya kita perlu dilahirkan kembali dan
menjadi manusia baru, yang tak lagi hidup hanya mengikuti sifat-sifat
tu tubuh jasmani dan nafsu jiwani melainkan mengikuti tabiat baru
yaitu yang rohani yang memiliki sifat-sifat ilahi, dimana roh kita
akhirnya hidup dan aktif. Roh yang dimampukan untuk berhubungan
bahkan berkomunikasi secara intim dengan Tuhan sendiri. Oleh karena
pembaharuan inilah maka kita disanggupkan untuk memahami
pikiran-pikiran Allah serta mengetahuinya. Malahan lebih dari itu,
kita akan dapat membedakan berbagai kehendak Allah (Rom. 12:2; 1 Kor.
2:10-16). Sebaliknya daripada menjadi bodoh, kepada kita diajarkan
supaya MENGERTI KEHENDAK TUHAN. 'Mengerti' yang dimaksud berasal dari
kata Yunani yang artinya “menyusun atau mengumpulkan bersama-sama”
yang juga berarti “menata atau menyusun bersama-sama dalam
pikiran”. Dari sini kita dapat memperkirakan seperti bagaimana
sesungguhnya seseorang akhirnya beroleh pengertian itu:
1)
ia harus memiliki bukan hanya satu melainkan beberapa atau banyak
data untuk disusun;
2)
berusaha untuk memahami merupakan suatu proses yang terkadang cukup
panjang; jarang terjadi secara spontan atau tiba-tiba meskipun tampak
seperti itu;
3)
ia harus merangkaikan satu persatu dengan mempertimbangkan semuanya
secara tepat dan benar sehingga susunan yang terbentuk benar dan
jelas;
4)
apa yang terbentuk atau disatukan dalam pikiran itu sebaiknya
dicocokkan kembali dengan cara dikomunikasikan dengan yang lain
supaya tercapai suatu pengertian yang lebih akurat atau lebih tajam.
Menggunakan
poin-poin pengertian di atas dalam hubungannya dengan memahami
kehendak Tuhan maka jelas bahwa sekalipun mengetahui kehendak Tuhan
itu dimungkinkan tetapi prosesnya bukan seperti membalikkan telapak
tangan begitu saja. Memahami pribadi orang yang telah hidup
bersama-sama dengan kita berpuluh tahun lamanya terasa sukar,
lebih-lebih memahami jalan-jalan Tuhan yang tak terselami dan penuh
misteri itu. Itu sebabnya kita senantiasa memerlukan pertolongan Roh
Kudus, roh hikmat dan wahyu itu untuk menolong kita mengenal Tuhan
dengan benar dan memimpin kita kepada seluruh kebenaran sejati (Ef. 1
:17; Yoh. 16:13). Sungguh berbahaya ketika dengan gampangnya (tanpa
menguji dan menyelidiki diri dengan seksama) seseorang mengklaim
menerima petunjuk dari Tuhan, menerima pesan khusus dan pribadi dari
Tuhan lalu mengaku sebagai seseorang yang menyampaikan kehendak Tuhan
dimana ia kemudian dianggap mengerti akan kehendak Tuhan.
Kenyataannya, untuk menangkap apa yang menjadi kehendak Tuhan
seringkali memerlukan perenungan yang mendalam, dengan menyelidiki
dan mencocokkan apa yang kita terima dengan ajaran dan prinsip firman
Tuhan yang benar, juga dengan menghubungkan dengan tepat pada situasi
dan keadaan kita sekarang lalu mengujinya kembali dalam doa serta
melakukan diskusi dengan rekan-rekan di dalam Tuhan yang juga tulus
mencari kehendak Tuhan. Membayangkan ini sepertinya proses yang
dilalui tampak terlalu lama namun dengan berjalannya waktu, kita akan
semakin terlatih untuk bergerak secara roh seiring makin pekanya kita
akan kehadiran dan gerakan Tuhan di hati dan roh kita maupun
kedalaman pengenalan kita akan jalan-jalan Tuhan (Ibr. 5:14). Oleh
karena diperlukan waktu untuk mencerna apa yang Tuhan sampaikan
kepada kita maka sikap hati kita seharusnya DIJAGA SUPAYA SENANTIASA
SIAP MENGOLAH DENGAN BENAR APA YANG KITA TERIMA DARI TUHAN DALAM ROH
KITA. Dengan cara apa? Dengan cara lebih banyak waktu berdiam diri;
merenungkan firman dan jalan-jalan Tuhan. Mencari kesepadanan antara
apa yang kita rasa telah kita terima dari Tuhan dengan
prinsip-prinsip yang tertulis dalam Alkitab kita. Roh Kudus akan
menjadi guru penuntun kita saat kita melakukannya dengan sepenuh hati
di dalam ketulusan serta lapar dan haus akan kebenaran. Dengan cara
apa lagi? Dengan membiasakan diri untuk tidak memberikan
respon-respon yang sifatnya emosional, meledak-ledak, sok pintar,
merasa lebih tahu dari yang lain apalagi mengolok-olok, mencaci maki
hingga menghujat apa yang disampaikan atas nama Tuhan (dimana hal ini
semakin umum terjadi dengan fenomena berkembangnya media sosial yang
memudahkan orang yang mungkin tak akan berkomentar dalam pergaulan
langsung menyampaikan komentar dan pendapatnya sebebas-bebasnya).
Seberapa pun sebuah pesan yang diterima dan disampaikan saudara kita
dalam Tuhan, jika itu disampaikan atas nama Tuhan sudah seharusnya
itu disimak dan dipikirkan terlebih dahulu dan alangkah baiknya jika
mungkin, dicari tahu apa yang melatarbelakangi pesan tersebut.
Apabila kemudian ternyata itu merupakan pesan yang jauh dari
kebenaran firman yang murni, sudah menjadi beban dan tanggung jawab
kita untuk mencari cara dan menjadi sarana supaya rekan atau saudara
kita itu boleh memiliki pemahaman yang tepat dan kembali mengenal
jalan yang benar di dalam Tuhan (Gal. 6:1-4). Masih ada lagikah? Satu
lagi. Dengan senantiasa menjaga hati kita bersih dari segala ambisi
dan keinginan duniawi. Mengapa harus demikian? Sebab hati kita yang
tidak murni akan dengan mudah disusupi oleh pikiran-pikiran asing,
yang bukan dari Tuhan, yang akhirnya mencampuri atau lebih tepatnya
mencemari kehendak Tuhan yang sebenarnya. Oleh karena Hawa tak mampu
menjaga hatinya dari keinginan untuk menjadi makhluk yang luar biasa
seperti Allah, maka iblis berhasil membujuknya dan melakukan
kebalikan dari yang dikehendaki Tuhan. Ini bagian yang paling tidak
mudah. Tetapi jika kita bersedia melakukannya, kita akan beroleh
harta terindah yaitu mutiara-mutiara hikmat dimana saat kita
menghidupinya kita akan menjadi orang-orang paling beruntun dan
berbahagia di bumi. Saat kita mengenali kehendak Tuhan, maka kita
akan dijauhkan dari kesesatan dan apa yang bertentangan dengan
kerinduan-Nya. Kita dimampukan untuk menyenangkan hati-Nya dan tetap
berada di jalur yang benar yang membawa kita lebih dekat lagi pada
Tuhan. Kita pun akan terlatih untuk membedakan mana yang
sungguh-sungguh dari Tuhan dan mana yang bukan. Mengetahui mana yang
benar dan mana yang hampir-hampir benar atau yang tamaknya benar
namun bukan berasal dari Allah. Kita akan menjadi orang-orang yang
melakukan sebenar-benarnya kehendak Bapa, bukan hanya seolah-olah
melakukan perintah Tuhan. Puncak dari semuanya ini, kita akan
mendengar Tuhan berkata kepada kita, “Baik sekali perbuatanmu itu,
hai hambaku yang baik dan setia; ..Masuklah dan turutlah dalam
kebahagiaan tuanmu” (Mat. 25:21) daripada kemudian Ia berkata
dengan terus terang pada kita, “Aku tidak pernah mengenal kamu!
Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat.
7:23) walaupun kita telah merasa melayani Tuhan dan mengadakan
tanda-tanda ajaib demi nama Tuhan (Mat. 7:21).
*KEGAGALAN
PETRUS*
Bukan
suatu rahasia jika Petrus adalah murid Yesus yang paling vokal. Dia
yang terdepan dalam menyikapi segala sesuatu. Paling cepat
berkomentar. Paling bersemangat dalam menyampaikan jawaban. Seorang
yang penuh spontanitas dan kepercayaan diri. Karena kebiasaannya ini,
ia mendapat pujian sekaligus teguran dari Yesus. Ada dua peristiwa
(walaupun sebenarnya lebih dari dua) yang akan kita bahas di sini.
Semuanya menunjukkan bagaimana seorang anak Tuhan dapat terperosok
dalam kejatuhan yang dalam oleh karena gagal membedakan mana yang
benar dan mana yang hampir benar. Yang pertama. Dalam Matius 16:13-17
dikisahkan:
“Setelah
Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada
murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab
mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang
mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah
seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi
apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau
adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya:
“Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang
menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” Betapa
bangganya Petrus. Ketika semua murid yang lain kesulitan memberikan
jawaban, Petrus menjawab dengan segera dan jawabannya tepat
sebagaimana yang Yesus harapkan. Berkat pun diberikan bagi Petrus
sebab jawaban yang menyenangkan hati Tuhan. Pas dengan hati-Nya.
Sayangnya, itu tidak bertahan lama. Saat Yesus menceritakan bagaimana
setelah itu Ia akan menanggung derita yang sangat, dianiaya, bahkan
dibunuh (Mat. 16:21), Petrus pun merespon lebih dahulu. Menanggapi
pemberitahuan Yesus, inilah sikap Petrus: -Tetapi Petrus menarik
Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah
menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau”
(Mat. 16:22). Bukankah reaksi Petrus sangat masuk akal, penuh
perhatian dan kasih serta memiliki dasar yang kuat. Secara logika,
mungkinkah Yesus yang telah melakukan perbuatan-perbuatan yang luar
biasa itu disiksa, menderita sengsara lalu mati dibunuh dengan keji?
Tidakkah Bapa di sorga akan melindungi hamba-hamba dan nabi-nabi-Nya,
apalagi Mesias yang merupakan orang pilihan-Nya? Bukankah pendukung
dan murid-murid Yesus banyak? Juga pastilah segenap sorga dan
pemilik-Nya ada di belakang Yesus untuk membela, mengamankan dan
memenangkan Dia mengatasi segala ancaman dan marabahaya? Mari kita
simak tanggapan Yesus atas sikap Petrus itu: “Maka Yesus berpaling
dan berkata kepada Petrus: “*Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu
sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan
Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia*” (Mat. 16:23). Apakah
Yesus tidak keliru? Pendukung terbesarnya yang seblumnya disebut
'berbahagia' dan 'pada pikiran, hati dan mulutnya ditaruhkan pikiran
Bapa' kini dalam tempo tak begitu lama kini disebut sebagai
'iblis','batu sandungan bagi Yesus' dan 'keliru pemikirannya'? Wow,
sesuatu yang sangat serius. Maukah kita jujur mengakui fakta-faktanya
berikut ini? Dalam pemikiran tertentu, seorang anak Tuhan mungkin
saja berpikir secara benar dan sesuai dengan kerinduan Tuhan tapi
mengenai satu atau dua hal yang lain, pikiran manusianyalah yang
bekerja sehingga kemudian ia dipimpin atau digerakkan oleh pemikiran
manusiawinya daripada kehendak Tuhan.. Pikiran dari Allah sudah pasti
benar. Pikiran dari manusia bisa jadi tidak selalu benar dimana yang
benar terlihat salah dan salah terlihat benar. Sedangkan pemikiran
iblis pastilah tidak benar tapi ditampilkan selalu sebagai yang
hampir benar. Dan dalam menanggapi Yesus, Petrus merespon karena
pengaruh pikiran iblis dan manusiawinya. Betapa rentannya pikiran
manusia jika dalam waktu yang singkat bisa dipengaruhi oleh tiga
oknum yang berbeda! Betapa sesatnya kita saat kita tidak tahu
membedakan mana pikiran Tuhan, pikiran manusiawi kita lebih-lebih
mana yang pikiran dari setan! Betapa kita akan melangkah dalam arah
yang berlawanan dengan kehendak Tuhan saat kita merasa pikiran kita
benar. Jalan yang kita tempuh bisa sangat keliru saat kita percaya
pada apa yang tampaknya benar dan baik padahal itu merupakan umpan
iblis yang gemar mengakali manusia dengan apa yang hampir benar.
Petrus, meski mengetahui kebenaran bahwa Yesus itu Mesias, rupanya
gagal mengetahui untuk apa dan bagaimana Mesias itu menunaikan
misi-Nya. Petrus memikirkan jalan-jalan dan rancangan-rancangan di
hati Tuhan sebatas dengan apa yang dinilai baik dan benar menurut
PEMAHAMANNYA SENDIRI. Bukannya mencoba menyelami, mendalami dan
menanyakan pada Yesus apa maksud perkataan Sang Guru, Petrus
mengikuti apa yang “dirasanya benar” apalagi toh baru saja ia
telah mendapat pujian bahwa pikirannya dipimpin oleh Allah Bapa
sendiri. Sebenarnya wajarkah Yesus menegur Petrus demikian keras?
Jika direnungkan lebih lagi, bagi Yesus yang mengetahui apa yang
terjadi pada Petrus, tidaklah mengejutkan jika Yesus tahu bahwa
iblislah yang mengilhami Petrus untuk menyampaikan bahwa Yesus tidak
perlu dan tidak mungkin mengalami penderitaan yang sedemikian. Itu
disusupkan dengan halus melalui Petrus seperti ular yang menyusupkan
ide-ide yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Pikiran manusia yang
tidak mau mencari dan mengerti kehendak Tuhan merupakan habitat yang
subur untuk berkembangbiaknya benih-benih pikiran yang ditaburkan
kuasa-kuasa kegelapan yang pada akhirnya akan menentang, menghalangi
dan merusak rencana Allah yang sempurna atas hidup kita. Yesus yang
mengetahui bahwa pikiran Petrus melawan kehendak Bapa memberikan
suatu teladan bagi kita untuk bersikap tegas menolak dan menentang
segala pikiran yang bukan dari Tuhan. Yesus tidak memberikan
kesempatan sedikitpun bagi kemungkinan pikiran-pikiran yang melawan
kehendak Bapa-Nya (Ef. 4:27). Sebaliknya, yang dialami Petrus menjadi
peringatan bagi kita supaya kita tidak mudah-mudahnya mengikuti emosi
di hati serta mengikuti kecenderungan pikiran-pikiran manusiawi yang
tidak mendasarkan diri pada prinsip-prinsip kebenaran serta yang
melalaikan pencarian kehendak Tuhan namun kemudian meyakini dan
menyampaikan semua itu sebagai kehendak Tuhan. Kita harus
berhati-hati dalam hal memutuskan apa yang benar-benar kehendak Tuhan
dan yang sepertinya kehendak Tuhan. Jika tidak demikian, kita
berpotensi besar untuk mengikuti tuntunan yang keliru dimana dengan
begitu kita justru melawan kehendak Tuhan yang sesungguhnya! Tapi
kisah Petrus belum berakhir. Kegagalannya memastikan mana yang benar
dan hampir benar belum mencapai titik terendahnya. Pikirannya belum
tersadarkan untuk belajar mengetahui hati Tuhan. Itu masih
diulanginya pada saat-saat terakhir Yesus hingga kegoncangan yang
besar lalu menyadarkannya. Injil mencatat dalam perjamuan terakhir
Yesus bersama dua belas murid-Nya, Petrus beberapa kali melontarkan
pernyataan-pernyataan yang lagi-lagi terlihat benar namun semuanya
tidak tepat sesuai yang Tuhan inginkan. Dalam Yohanes 13, dicatat
suatu peristiwa di perjamuan itu. Yesus merendahkan diri untuk
membasuh kaki murid-murid-Nya. Sesuatu yang mengejutkan semua tetapi
tidak ada satupun yang berani berbicara. Selain Petrus. “Maka
sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan,
Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang
Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya
kelak.” Kata Petrus kepada-Nya: “Engkau tidak akan membasuh
kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus: “Jikalau Aku tidak
membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata
Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi
juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa
telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh
kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih,
hanya tidak semua” (Yoh. 13:6-10). Yesus mengatakan dengan tegas
bahwa Petrus tidak akan memahami apa yang dilakukan-Nya tapi kelak
sang murid akan mengerti. Namun, alih-alih taat pada perkataan Yesus,
Petrus 'mengusulkan' hal-hal lain yang sepertinya lebih baik daripada
yang hendak dilakukan Yesus. Pertama, ia menolak untuk dibasuh
kakinya (yang menurut pikiran umum bukankah pantas dan baik jika
seorang murid menolak dibasuh kakinya oleh gurunya dan bukankah
sebaliknya yang harus dilakukan yaitu murid membersihkan kaki
gurunya?). Setelah ditolak dan dijawab tegas oleh Yesus, Petrus
menyarankan sesuatu yang lain. Yaitu meminta Yesus membasuh tangan
dan kepalanya juga. Inipun meleset dari maksud Yesus yang
sesungguhnya. Beruntunglah kemudian Petrus tidak meneruskan ulahnya.
Meski demikian, sikap semacam itu tak lama kemudian membawa Petrus
dalam masalah yang lebih serius. Usai perjamuan, Yesus bersama
muri-murid-Nya beranjak ke Bukit Zaitun. Keempat injil mencatat
percakapan berikut ini: “Sesudah mereka menyanyikan nyanyian
pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun. Lalu Yesus berkata kepada
mereka: “Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku
akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai. Akan
tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.”
Kata Petrus kepada-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya,
aku tidak.” Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua
kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Tetapi dengan lebih
bersungguh-sungguh Petrus berkata: “Sekalipun aku harus mati
bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Semua yang lain
pun berkata demikian juga” (Markus 14:26-31). Petrus lagi-lagi
menjadi yang terdepan di antara rekan-rekannya. Yesus berkata,
“Kalian semua akan tergoncang imannya” tapi Petrus menjawab,
“Biarpun semua tergoncang imannya, aku tidak.” Daripada memilih
merenungkan yang Yesus sampaikan, menanyakan lebih jauh dan
mengoreksi diri sendiri, Petrus mempercayai pikiran dan penilaiannya
sendiri lalu dengan yakin berkata bahwa ia akan teguh berdiri dan
tidak akan tergoncang. Petrus mulai menggunakan pikiran manusianya
sambil percaya bahwa itu pasti kehendak Tuhan dan tentunya akan
menyukakan hati Yesus. Jawaban Yesus dapat dipandang sebagai sebuah
tamparan bagi kepercayaan diri Petrus. Yesus menjawab dengan
perkataan nubuat, “Sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga,
sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga
kali.” Ya. Berkebalikan dari yang dikatakan Petrus, Yesus tanpa
keraguan berkata bahwa malam itu juga Petrus akan menyangkal Dia. Ia
akan tidak mengakui Yesus sebagai gurunya dan menyangkal dirinya
sebagai murid Yesus. Bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Bagaimana
jika Anda menjadi Petrus? Perkataan Yesus terasa menggelikan, bukan?
Tampak sekali meremehkan dan merendahkan komitmen serta keberanian
Petrus sebagai murid-Nya. Begitu juga nubuatan-Nya. Tentu banyak yang
hari ini setuju bahwa sebuah nubuatan yang isinya pesan yang buruk
dan sifatnya mengutuki seseorang seperti itu harus dipertanyakan
kebenarannya. Bukankah nubuat seharusnya membangun, menasihati dan
menghibur? Mengapa Yesus seolah menjatuhkan mental Petrus? Mengapa
Yesus justru menolak pembelaan dari murid-Nya yang siap memberikan
dukungan pada-Nya malah justru meramalkan sesuatu yang jahat sebagai
kebalikan pernyataan keteguhan hati sang murid? Inilah mengapa jika
hari ini Yesus di tengah-tengah kita, sangat mungkin banyak di antara
kita tidak akan mengenali-Nya -jika kita sering berusaha menemukan
kehendak Tuhan SEMATA-MATA melalui pikiran-pikiran manusiawi kita
sendiri, lebih daripada berusaha memahami kehendak Tuhan yang
sesungguhnya melalui pencarian yang tulus dan seksama di hadapan
Tuhan. Kenyataannya, Petrus tetap bersikeras. Suatu sikap yang
kemudian memancing murid-murid yang lain untuk melakukan hal yang
sama. “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan
menyangkal Engkau,” demikian klaim Petrus yang didukung rekan-rekan
lainnya. Terbukti pemikirantpemikiran manusiawi kerap mendapat
dukungan orang-orang yang juga memakai pikiran-pikiran manusiawinya
daripada menyelidiki kehendak Tuhan. Dengan menyatakan itu,
sesungguhnya mereka TIDAK PERCAYA dan MENOLAK apa yang disampaikan
Yesus. Bukannya berusaha mencerna dan memahami apa maksud Yesus
menyampaikan pesan itu, mereka justru memikirkan dan meyakini
kebalikan perkataan Yesus itu. Akibatnya sangat fatal. Alih-alih
menyiapkan mental dan meminta kekuatan untuk menanggung ujian yang
menanti di depan mereka, murid-murid dan terutama Petrus menepuk dada
dan menilai diri mampu menghadapi kegoncangan itu. Bandingkanlah ini
dengan puluhan ribu orang Israel yang berperang melawan Filistin di
bawah pimpinan Hofni dan Pinehas. Membawa tabut Tuhan, mereka
berdeklarasi dan sangat yakin Tuhan memberikan kemenangan. Karena
tidak mencari kehendak Tuhan sejati mereka dipermalukan. Hari itu
tewaslah kira-kira 33.000 orang Israel sebagai tambahan dari 4.000
orang yang gugur sebelumnya pada pertempuran yang pertama (1 Sam.
4:1-!!). Sungguh fatal jika kita melangkah mengikuti penilaian dan
pemikiran kita sendiri tapi tidak mencari pimpinan yang benar dari
Tuhan. Kembali pada malam terakhir Yesus. Ketika peristiwa itu
terjadi dimana Getsemani didatangi segerombolan pasukan, murid-murid
barulah tersadar betapa mereka telah luput dalam menangkap kehendak
Tuhan. Iman mereka goncang dan mereka melarikan diri dalam kengerian
saat satu persatu yang pernah disampaikan Yesus tentang
penderitaan-Nya mulai menjadi kenyataan. Murid-murid berpisah jalan
dan menyembunyikan diri. Secara tidak langsung mereka mengingkari
perkataan mereka sendiri yang akan berdiri membela Yesus sekalipun
harus mati. Iman mereka goyah dan selanjutnya teror menghantui
mereka. Bagaimana dengan Petrus? Petrus jatuh lebih parah.
Pertama-tama ia menjadi emosi di sela-sela penangkapan Yesus. Secara
membabi-buta ia mencabut pedang yang ia tidak pernah tahu cara
memakainya. Daun telinga seorang dari rombongan penangkap Yesus pun
putus. Apakah Yesus memuji dan membela Petrus? Lagi-lagi Yesus
menegurnya. Berlawanan dengan yang dilakukan Petrus, Ia mengembalikan
daun telinga orang itu ke tempatnya dan menyembuhkannya. Masih dalam
usahanya membuktikan diri, Petrus mengikut Yesus dari kejauhan (Mat.
26:58). Terlihat ia masih menolak nubuat yang Yesus sampaikan. ia
mencoba mengawal persidangan Yesus. Celakanya, di sanalah ia
mengalami kejatuhan begitu dalam. Di halaman rumah Imam Besar Kayafas
dimana Yesus diadili dengan keji, Petrus harus berhadapan dengan
realita yang menyakitkan. Di sanalah ia tahu siapa dirinya yang
sesungguhnya, tersadar betapa tak jujurnya ia terhadap dirinya
sendiri dan betapa tak percaya serta bebalnya ia terhadap pesan
Yesus, guru yang sebenarnya dikasihinya itu. Sebelum ayam berkokok
dua kali, hampir tak dapat dipercaya tapi itulah faktanya, Petrus
BENAR-BENAR menyangkal Yesus yang telah menjadi panutannya selama
tiga tahun ini. Ia meninggalkan tempat pengadilan Yesus dengan
berurai air mata dengan kehancuran yang amat sangat di hatinya.
Tatapan mata Yesus telah menyadarkannya bahwa ia telah menyangkal
Yesus daripada membelanya hingga titik darah terakhir. Petrus bukan
sekedar goncang imannya malam itu. Ia kehilangan segala yang
dibanggakannya sebagai murid Yesus. “Lalu berpalinglah Tuhan
memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata
kepadanya: Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga
kali menyangkal Aku.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan
sedihnya” (Lukas 22:61-62). Orang yang mulanya tampaknya paling
berani, paling memahami Yesus, paling mendukung dan paling berhikmat
di antara semua murid di malam kelam itu berubah menjadi murid yang
paling keji dan melakukan perbuatan paling bodoh di antara yang
lainnya. Ini karena ia luput mengenali kehendak Tuhan yang
sesungguhnya telah disampaikan kepadanya tetapi ia tidak mau berusaha
lebih lagi menangkap isi hati Tuhan.
*PENUTUP*
Kebodohan
bukan sekedar tidak berpendidikan atau kurang pengetahuan. Di hadapan
Allah, orang paling berhikmat sekalipun akan menjadi bodoh jika tidak
mengetahui kehendak Tuhan. Dialah Sang Hikmat itu sendiri, yang
olehnya alam semesta ini diciptakan dan ada serta ditopang maupun
dijalankan dalam keteraturan yang menakjubkan. Mengenal Dia berarti
memiliki hikmat. Di dalam Kristus, pengertian akan asal usul kita
hingga tujuan akhir hidup kita didapatkan. “Usahakanlah kamu
mengerti kehendak Tuhan” adalah perintah yang penting. Sayangnya
justru ini yang sering diabaikan oleh anak-anak Tuhan. Mungkinkah ini
karena meski mengaku mengikut Tuhan, kita lebih suka mengikuti
pikiran dan kehendak kita sendiri? Jika memang demikian, tentu kita
bukan penyembah Tuhan yang sebenar-benarnya. Sebab jika Tuhan yang
harus mengikuti cara berpikir kita dan bukan sebaliknya, maka kita
masih memegang kendali atas hidup kita dan menjadi tuan atas hidup
kita sendiri. Kebodohan dan kejatuhan terbesar manusia tetap sama
hingga kini. Keinginan mereka tidak berubah sejak di taman Eden yaitu
ingin menjadi seperti Allah dan hidup bahagia tanpa terikat pada
Allah dan peraturan-peraturan-Nya. Tidak heran jika iblis tetap
berhasil menipu manusia dengan memanipulasi firman Tuhan DEMI
KEPENTINGAN MANUSIA sehingga manusia merasa telah melakukan yang
benar padahal yang diyakininya hanyalah sesuatu yang hampir benar
saja. Saat kita gagal mengenali kehendak Tuhan dalam bidang apapun di
hidup kita maka saat itulah posisi kita rentan terhadap kesesatan dan
penyimpangan. Jika kita bersikeras tidak mau mencari Tuhan dan
mengoreksi hidup kita sesuai dengan yang diinginkan-Nya, kita akan
jatuh dalam kebodohan atau lebih buruk lagi, mersngkul kebebalan. Dan
apa yang ditaburkan dalam kebodohan akan dituai dalam kerugian,
kecelakaan dan malapetaka. Karena Harun tidak mencari kehendak Tuhan
tapi takut kepada manusia, maka ia membuat patung lembu emas yang
mengakibatkan puluhan ribu orang Israel dibinasakan. Karena tidak
mengakui Musa sebagai pemimpin sejati atas Isrsel, Korah beserta
Datan, Abiram dan kaum keluarganya ditelan oleh bumi. Karena tidak
melakukan yang Tuhan perintahkan untuk berkata pada bukit batu
mengeluarkan air tetapi memukulnya dengan tongkat dalam kegeraman,
Musa tak dapat memasuki tanah Kanaan. Karena tidak mencari kehendak
Tuhan atas orang-orang Gibeon, Yosua dan tua-tua Israel membuat
seluruh bangsa terikat perjanjian membebani mereka selamanya. Karena
Daud tidak mencari jalan yang benar setelah berzinah dengan Batsyeba,
Daud mengorbankan perwiranya yang tidak bersalah dan melakukan
kejahatan keji yang merupakan kebodohannya sebagai raja yang besar.
Dan daftar ini terus berlanjut. Mungkin juga berbagai kebodohan ada
dalam catatan perjalanan hidup kita. Meski demikian, selagi Tuhan
masih memberikan nafas kehidupan, selalu ada kesempatan untuk
memeriksa diri dan memperbaiki hidup kita. Itulah kasih karunia untuk
belajar serta bertumbuh dalam kasih karunia dan pengenalan akan Tuhan
(2 Pet. 3:18). Dan akan jauh lebih baik kita belajar mengenali
kehendak Tuhan dan taat kepada pimpinan-Nya itu walaupun belum
memahami jesleuruhan rahasia rencana Tuhan daripada belajar melalui
pengalaman pahit saat kerugian dan kesakitan yang besar menimpa kita.
Doa saya kiranya Indonesia menggenapi takdirnya yaitu menjadi salah
satu bangsa yang mengetahui kehendak Tuhan dengan tepat sebagaimana
disebutkan dalam 2 Tawarikh 12:32, “Dari bani Isakhar orang-orang
yang mempunyai *pengertian tentang saat-saat yang baik, sehingga
mereka mengetahui apa yang harus diperbuat orang Israel*: dua ratus
orang kepala dengan segala saudara sesukunya yang di bawah perintah”.
Semuanya hanya mungkin terjadi jika gereja Tuhan di Indonesia
memutuskan untuk meninggalkan segala kebodohan (yaitu mengikuti
pikiran dan kehendak sendiri) lalu berkomitmen untuk selanjutnya
rajin mencari dan menguji apa yang menjadi kehendak Tuhan lalu hidup
di dalamnya. Saat hati kita tertuju pada Tuhan untuk melakukan
kehendak-Nya, Sang Hikmat menjadi sahabat kita dan kita akan
dituntun-Nya untuk berjalan dalam jalan kemenangan dan keberhasilan
sehingga kita semua bersinar terang ketika kegelapan melanda dunia
(Yes. 60:1-2). Benarlah kemudian yang disampaikan pemazmur supaya
kita merenungkan firman Tuhan siang dan malam. Yaitu supaya akhirnya
kita tidak tinggal dalam kebodohan tetapi dipenuhi dengan hikmat
Tuhan yang nyata dalam ketetapan-ketetapan Tuhan. Saat kita tak lagi
hidup dalam kebodohan, kita akan beroleh ganjaran keberhasilan dan
hidup kita menjadi saluran berkat yang besar. Itukah yang menjadi
kerinduan Anda? “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut
nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan
yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya
ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan
buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang
diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:1-3). “Hanya, kuatkan dan
teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, *bertindaklah hati-hati
sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh
hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri,* supaya
engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. *Janganlah engkau lupa
memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan
malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang
tertulis di dalamnya*, sebab dengan demikian perjalananmu akan
berhasil dan engkau akan beruntung” (Yosua 1:7-8). SALAM REVIVAL!
INDONESIA BAGI KEMULIAAN TUHAN.

No comments:
Post a Comment