Friday, 17 February 2017

17 Februari 2017

RICH FAMILY POOR FAMILY SERIES




Rich Family Poor Family – Day 17.
F = Father
A = And
M = Mother
I = I (ai)
L = Love
                         Y = You
Menjadi KeluargaNya. Kita semua rindu menjadi bagian dari sebuah keluarga, DIKASIHI dan DITERIMA, kerinduan yang sangat wajar. Karena kita memang diciptakan untuk memiliki hubungan satu dengan yang lainnya. Betapa Firman Tuhan menghibur kita dengan memberitahu bahwa Allah telah memanggil kita sebagai anak-anakNya dan DIA menantikan kita datang untuk menjadi bagian dari keluargaNya. Ketika kita menerima undangan Allah untuk menjadi bagian dari keluargaNya kita menerima ROH-Nya yang baru. Roma 8:15, “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'” Betapa luar biasanya kita bisa memanggil Pencipta dunia ini dengan sebutan BAPA. Dan sebagai anak-anakNya kita dipelihara seperti biji mataNya (Maz 17:8). Ketika kita memiliki hubungan pribadi dengan Bapa, kita dapat tenang mengetahui bahwa Bapa kita di surga mengasihi kita lebih dari orang tua kita di dunia yang mengasihi kita. DIA akan selalu menyertai kita bahkan dalam saat-saat yang paling sulit sekalipun. Keluarga seperti apa yang kita idamkan? Bapa memanggil kita hari ini. Apapun latar belakang kita DIA mengasihi kita dengan KASIH yang kekal & DIA ingin agar kita menjalani hidup bersamaNya. Maukah kita datang kepadaNya? Dan menjadi keluargaNya? Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#RichFPoorFSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Imamat 21-22
PB: Matius 28
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved

GNCC
Happy Friday. Daud adalah seorang yang sederhana dan tidak memiliki apa-apa, tetapi yang mencuri perhatian Tuhan adalah HATINYA. Amsal 4:23 – Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. #gncc #ariseshine #edisihati

Ibu Caroline – Bandung
[RENUNGAN HARIAN]. Jumat, 17 Februari 2017. Bacaan: Lukas 2:39-52. Setahun: Bilangan 10-11. Nas: Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya (Lukas 2:40). Pencuri Muda dan Ibunya. Seorang pemuda melakukan pencurian besar, hingga pengadilan menjatuhkan hukuman mati. Sebagai permintaan terakhir, ia minta ibunya datang. Saat sang ibu tiba, ia berkata, “Bu, aku ingin membisikkan sesuatu padamu.” Begitu ibunya mendekat, si pemuda menggigit telinga ibunya kuat-kuat. Semua orang terkejut. Namun ia berkata, “Ini hukuman untuknya. Sebab, waktu saya kecil dan mencuri barang sepele, Ibu tidak memarahi atau menghukum saya. Ia malah tertawa dan berkata, 'Kamu tidak akan ketahuan.' Itulah yang membuat saya berdiri di sini saat ini.” Betapa keras kisah fabel Aesop ini menegur orangtua agar memberi didikan yang tepat pada anaknya! Alkitab tak banyak memberi tahu kita tentang masa kecil Yesus. Namun sejarah dan tradisi Yahudi saat itu memberi kita gambaran tentang bagaimana Maria dan Yusuf mendidik anak. Bagi orang Yahudi, agama sangat penting. Maka, di setiap rumah orang tua banyak mengajarkan Kitab Suci pada anak-anak mereka. Bila malam cerah dan udara gerah, mereka akan naik ke atap rumah dan bercerita tentang para tokoh Perjanjian Lama di sana. Pada hari Sabat, mereka ke sinagoga untuk mendengar para guru menjelaskan Kitab Suci. Esok harinya mereka ke sinagoga lagi untuk menyanyi dan berdoa. Yesus juga mengikuti sekolah untuk anak laki-laki di sinagoga. Di sana anak-anak belajar dan menghafal Taurat Tuhan. Tak heran, saat di bait Allah Dia sudah tahu banyak tentang Kitab Suci. Apa pendidikan terpenting buat anak kita? Takut akan Tuhan memberinya hikmat untuk hidup benar menurut kehendak-Nya. Investasikan waktu dan energi kita untuk mengajarkannya --AW/Renungan Harian. SETIAP ANAK SELALU DIPERCAYAKAN PADA SEPASANG ORANGTUA SEBAB IA BUTUH PEMANDU YANG BISA MENGAJAR DAN MELATIHNYA.

Xavier Quentin Pranata
Orang yang menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan lupa bahwa tujuannya satu: neraka.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment