#Terima kasih Tuhan, Engkau sudah tempatkan kami di sebuah Gereja Lokal#. Sangat bersyukur kami boleh bertumbuh bersama-sama, terlebih berbuah-buah #Terima kasih sudah menjadi bagian keluarga rohani di Gereja lokal... (AOC) #Terima Kasih Tuhan Thank You saudara-saudaraku semua Kolose 3:15-17,
“Hen-daklah damai sejahtera Kristus
memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu
tubuh. Dan ber-syukurlah. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala
kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan
menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian
dan nyanyian rohani, kamu me-ngucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan
perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur
oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”
Respon 1
Maz 103:13, Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya,
demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan DIA! Kita istimewa
dihadapan-NYA. Cintai DIA. Terima kasih YESUSku! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Malang.
Respon 2
Matius 8:17, “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang
disampaikan oleh nabi Yesaya: 'Dialah yang memikul kelemahan kita dan
menanggung penyakit kita.'” Menanggung. BASTAZO artinya mengambil dengan tangan
atau mencabut dan dipindahkan. Di kayu salib Yesus telah mencabut, memindahkan
dengan tanganNya sendiri penyakit kita ke dalam tubuhNya.
Respon 3
SAAT TEDUH. THANKS GOD IT FRIDAY. 6 November 2014. Saat
Semua Tampak Indah Maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan,
yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan (Ulangan
6:12) Bagi banyak orang, hidup ini tampak menyenangkan. Pekerjaan mereka
berhasil. Rumah atau apartemen tidak butuh diperbaiki. Rekening uang di bank
mereka surplus. Keluarga sehat dan bahagia. Teman-teman pun setia. Akan tetapi,
saat yang menyenangkan dapat menimbulkan bahaya. Pada saat seperti itu,
kenyamanan dan kesenangan duniawi dapat menjadi sangat penting sehingga kita
tidak memberi banyak tempat bagi Allah dalam pikiran kita. Kesejahteraan dapat
segera menjadi tolok ukur kepuasan hidup. Allah tahu bahwa hal seperti di atas
dapat terjadi pada anak-anak-Nya pada saat mereka memasuki Tanah Perjanjian.
Oleh sebab itu, Dia mengingatkan mereka agar tidak melupakan sumber dari
segala anugerah yang mereka terima (Ulangan 6:12). Dia memberi perintah yang
jelas agar mereka: takut kepada Tuhan (ayat 13); melayani Dia (ayat 13); tidak
berpaling kepada ilah-ilah lain (ayat 14); tidak mencobai Tuhan (ayat 16);
berpegang pada perintah-perintah-Nya (ayat 17); dan melaku-kan apa yang baik
dan benar (ayat 18). Para sejarawan pernah berujar bahwa dorongan iman biasanya
menurun pada saat-saat yang sejahtera. Namun, hal itu tak perlu terjadi pada
kita jika kita belajar dari pengalaman orang Israel dan patuh pada
perintah-Nya. Marilah kita selalu mengingat Allah, terutama ketika semua terasa
indah. KESEJAH-TERAAN DAPAT MENJADI ALAT PE-NGUJI KARAKTER YANG LEBIH BAIK
DARIPADA KEMISKINAN.
Respon 4
“If you are afraid to
face the future, meet face to face with the holder of future.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 5
Ada 4 lilin yang menyala,
sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah
percakapan mereka: Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak
mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah
sedikit demi sedikit sang lilin padam. Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.”
“Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak
ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin
memadamkannya. Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.”
“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan
mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang
mencintainya, membenci keluar
ganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin
ketiga. Tanpa terduga… Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat
ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa
yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!” Lalu ia
mengangis tersedu-sedu. Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata: Jangan
takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat
selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya: “Akulah HARAPAN.” Dengan mata bersinar,
sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin
lainnya. Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati
kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak
tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai,
Cinta dengan HARAPAN-nya! Amin.
Respon 6
Terima kasih untuk saudara-saudara seiman yang telah
memanggil untuk berada dalam satu keanggotaan jemaat gereja yang mana selama
ini banyak memberi masukan positif dalam segala hal. Terima kasih Tuhan karena
saya akhirnya menemukan tempat di mana saya beroleh damai. Amin. Thank you Cik
and Jbu all too.
No comments:
Post a Comment