Satu hal yang menjadi tujuan Allah adalah untuk membawa
kasih & keselamatanNya ke seluruh ujung bumi & GEREJA. Kita
adalah AlatNya, melalui gereja semua kepenuhan Allah dinyatakan. Efesus
1:23, “Jemaat yang adalah tubuh-Nya,
yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” Allah
mengerjakan rencana kekekalanNya bagi dunia melalui gereja / kita! Amin.
Thank you for local church, sangat bersyukur J. Sudah menjadi bagian
dalam sebuah Gereja Lokal yang sudah Tuhan tetapkan melalui kegiatan-kegiatan
yang berdampak positif bagi sekeliling, menginspirasi dunia, bahkan akan
terus memultiplikasi jiwa-jiwa bagi Kerajaan-Nya, thank you. #MyChurhMyHome
#AOC, Church for sinners
Respon 1
SAAT TEDUH. Minggu, 30 Nov
2014. Kemarahan yang Kudus. Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua
orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar
uang dan bangku-bangku pedagang merpati (Matius 21:12). Orang kerap berkata,
“Jangan marah. Dosa.” Namun, Alkitab mencatat sejumlah kemarahan Yesus Kristus.
Dalam perikop hari ini, Dia sedemikian geram sehingga membalikkan meja-meja
para pedagang di halaman Bait Allah. Di tempat lain, Dia melontarkan perkataan
keras, “Hai kamu, keturunan ular beludak!” (Lukas 3:7). Sebuah kemarahan, jika
muncul karena alasan yang benar, diungkapkan secara jitu, pada saat yang tepat,
dan kepada orang yang layak menerimanya, sejatinya dapat membawa kemuliaan bagi
nama-Nya. Lihatlah amarah Yesus. Dia marah karena ketidakadilan atau perbuatan
dosa. Kemarahan yang kudus diperlukan untuk menghentikan perbuatan yang melukai hati-Nya dan
merusak ciptaan-Nya. Sebagai pengikut Kristus, kita dapat menun-jukkan
kemarahan yang suci karena kita dipanggil untuk melakukan hal yang benar, yaitu
menyenangkan hati-Nya. Anak buah Anda malas dan tak kunjung rajin walau sudah
ditegur berkali-kali? Beberapa kalimat amarah yang dilontarkan dengan kasih
bisa membuatnya sadar bahwa pekerjaan yang ia jalani adalah amanat dari Tuhan.
Pasangan Anda kecanduan games? Kemarahan yang dilontarkan secara proporsional
dengan alasan konkret yang logis mungkin bisa membuatnya sadar bahwa hidup
terlalu berharga untuk digunakan hanya di depan komputer. Bisakah kita marah
seperti Yesus Kristus? Karena Kristus berdiam di dalam hati kita, kita
dimampukan untuk mengasah kepekaan terhadap ketidakadilan dan dosa di sekitar
kita serta meresponsnya selaras dengan keku-dusan-Nya. AMARAH
DAPAT MENJADI SARANA UNTUK MELURUSKAN KETIDAKADILAN. Selamat pagi. Selamat
beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.
Respon 2
Ul 28:13, TUHAN akan mengangkatmu men-jadi KEPALA dan bukan
ekor, tetap NAIK bukan turun asal firman-NYA kamu lakukan dengan SETIA! Yuk,
alami sendiri. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 3
Tirai bait suci terbelah
dua pada saat kematian Yesus di Golgota. Itulah perlambang bahwa sejak itu
setiap orang beroleh jalan masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan. Ada yang
mengajarkannya secara tidak seimbang de-ngan penekanan khusus bahwa kapan saja
kita menghampiri Dia dengan cara sesuka hati kita & mengklaim berkat²Nya, pasti itu diberikan hampir-hampir
secara otomatis Mazmur 65:5, mengingatkan kita bahwa tidak semua orang
diperkenankan datang mendekat, mengham-piri & berdiam di pelataran Tuhan
-apalagi menikmati kebaikan-kebaikanNya yang berlimpah. Meski semua dipanggil
untuk datang & bersekutu dengan Tuhan, Dialah yang menentukan siapa yang
layak & pantas untuk diterima-Nya. Apakah Tuhan pilih kasih? Tentu saja
tidak. Bukankah tidak begitu saja sembarang orang bisa masuk ke dalam rumah
kita -lebih-lebih Tuhan, yang adalah Raja yang agung penuh kemuliaan. Sudah
seharusnya kita datang dalam sikap yang takut akan Dia. Dalam batin maupun
sikap tubuh kita. Hanya melalui persekutuan dengan Kristus, melalui korban
darah-Nya kita beroleh jalan masuk ke tahta Bapa. Dan darah-Nya membasuh kita
saat kita mengaku dosa (1 Yoh.1:7-9), datang dalam pertobatan di hadapan-Nya.
Suatu kehidupan yang tidak memegahkan
kebenaran diri tapi datang dalam kerendahan hati & takut akan Tuhan. Satu lagi. Dalam
perjamuan kawin Anak Domba disebutkan pengantin-Nya mengenakan lenan halus yang
berkilau & putih bersih, lambang perbuatan-perbuatan yang benar dari
orang-orang kudus (lihat Wah. 19:8). Jelaslah pada sisi lain, kita yang telah
dibasuh dengan darah Yesus harus memperagakan suatu kehidupan yang benar &
kudus di hadapan Tuhan. Itulah artinya menyembah di dalam roh & kebenaran.
Jadi karena pembenaran oleh darah Yesus serta iman yang hidup, yang nyata
sebagai pelaku firman -orang-orang inilah yang akan dipilih & disuruh-Nya
mendekat di hadirat-Nya. Saat kita mencari-Nya dalam pertobatan &
kekudusan, kita akan dikenyangkan dengan segala yang baik di rumah sang raja.
Maukah Anda? Salam revival!
No comments:
Post a Comment