Hal Penting yang perlu kita berikan kepada anak-anak kita:
Tidak cukup 3 kata saja: I Love You J. Tetapi ucapan terima
kasih / thank you J kepada setiap anak-anak kita akan sangat
mengimpartasi hidup mereka kelak apabila mereka menjadi menjadi orang tua J.
2 Tawarikh 20:21, “Setelah ia berun-ding
dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk
TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka
keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: ‘Nyanyikanlah nyanyian
syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!’”
Respon 1
Syalom. Amin... “Ya TUHAN,
Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendiri-lah yang
meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.” (Mazmur 16:5). Terima kasih ibu
Siu, selamat beraktivitas TUHAN memberkati Ibu dan Keluarga.
Respon 2
Pengkhotbah 3:14, “Aku tahu bahwa segala sesuatu yang
dilakukan Allah akan tetap ada selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat
dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.”
Respon 3
Kel 15:26, “AKU TUHANlah yang menyem-buhkanmu!” Sakit?
Jasmani ato rohani (bang-krut, masalah keluarga, pelayanan, sekolah, dll)?
Hanya YESUS yang bisa tolong, datang kepada-NYA sekarang. Mujizat pasti
terjadi! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 4
“The most dangerous strategy in spiritual realm is Satan's
Scheme and Snares!” Xavier Quentin Pranata.
Respon 5
SAAT TEDUH. Selasa, 4 Nov 2014. Alam Dan Manusia. “...
terkutuklah tanah karena engkau... semak duri dan rumput duri yang akan
dihasilkannya bagimu.” (Kejadian 3:17-18) Terusirnya manusia dari Taman Eden
adalah konsekuensi dari dosa yang tidak diakui dan diselesaikan. Selain merusak
hubungan Allah-manusia dan antarmanusia, dosa juga merusak hubungan antara
manusia dan alam tempat tinggalnya. Bumi menjadi tempat yang terkutuk—bahkan
menumbuhkan semak duri. Bencana alam mewakili betapa tak bersahabatnya bumi
terhadap manusia penghuninya. Sungguh, sangat kontras dengan keadaan Eden yang
indah dan nyaman. Manusia juga berulah mengeksploitasi bumi.
Dengan
rakus mereka mengeruk isi perut bumi hingga bumi semakin rusak dan semakin
panas. Belum lagi terjadi efek rumah kaca, banjir karena penebangan hutan yang
tak bertanggung jawab, sungai yang penuh sampah, juga pencemaran laut dan bumi
oleh limbah zat logam berat. Manusia tidak menjalankan mandat untuk
mengeksplorasi bumi demi kesejahteraan bersama, melainkan menjadikannya sasaran
eksploitasi serakah demi memuaskan hawa nafsu mereka. Sebagai orang yang sudah
ditebus oleh Kristus dan menjadi ciptaan baru, mari kita menjaga bumi ini
dengan cara-cara sederhana. Misalnya, dengan tidak membuang sampah, apalagi oli
bekas dan residu bahan kimia, secara sembarangan. Menebang pohon secara
bertanggung jawab. Menghemat hasil bumi yang tak terbarukan, seperti bahan
bakar minyak. Karena bumi ini bukan milik pribadi yang kita wariskan ke anak
cucu. Bumi adalah milik Sang Pencipta, yang dipercayakan kepada kita dalam tanggung jawab kepada-Nya dan kepada keturunan
kita. BUMI BUKAN MILIK KITA YANG BOLEH DIPERLAKU-KAN SEENAKNYA. TUHAN MENGARU-NIAKAN
BUMI AGAR KITA NYAMAN TINGGAL DI DALAMNYA.
Respon 6
Selasa, 4 November 2014. Bacaan: Lukas 12:13-21. Setahun:
Yohanes 9-10. Nats: Kata-Nya lagi kepada mereka, 'Berjaga-jagalah dan
waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah
hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaan-nya itu.' (Lukas 12:15). PERSETERUAN.
“Kalau harta dan kuasa sudah menutupi mata hati, tetangga, teman, saudara
biarpun seiman tidak ada artinya. Toleransi di wilayah sempit tidak ada, yang
ada menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Sekalipun menyebakan orang lain menderita.” Demikian komentar salah
seorang pembaca Kompas 08/11/2011 untuk berita: Pembangunan pelabuhan Kuwait
picu ketegangan dengan Irak. Perseteruan di antara bangsa-bangsa, suku bangsa,
sahabat, bahkan saudara kandung sekalipun sudah setua usia manusia (bdk. Kej
4:1-16).
Ketika terjadi perseteruan dalam satu keluarga yang sedang berebut
warisan, mereka membawa perseteruan itu pada Yesus yang saat itu dianggap
pemimpin yang berkarisma untuk membelanya. Tanggapan Yesus? “Siapa yang
mengangkat Aku menjadi pembela atau perantara atas kamu? Berjaga-jaga dan
waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab hidup seseorang tidak bergantung
kepada hartanya yang melimpah itu” (ay. 15). Melalui perumpamaan, Dia mengajari
mereka yang sedang bertengkar itu dengan contoh si kaya yang tamak. Ia selalu
memperbesar lumbung-nya untuk menampung kelimpahan hasil panennya. Yang
dipikirkan hanya kepentingan pribadinya dan mungkin jaminan hidup sampai tujuh turunan. Tetapi, ia lupa bahwa harta yang
dikumpulkannya itu tak berdaya menolong ketika nyawanya diambil Sang Empunya
Hidup malam itu juga. Meng-ilah-kan ketamakan akan harta hanya akan
membinasakan yang terpenting dalam hidup kita, yaitu nyawa kita sendiri.
Waspadalah, jika saat ini kita tengah dililit nafsu ketamakan. --Susanto. HATI
YANG TAMAK HARTA MEMBAWA KEBINASAAN, HATI YANG PENUH KASIH MENGGU-NAKANNYA
UNTUK KEMULIAAN PEM-BERINYA.
No comments:
Post a Comment