Tuesday, 4 November 2014

4 November 2014 - Hal Penting yang Perlu Kita Berikan Kepada Anak-Anak Kita



Hal Penting yang perlu kita berikan kepada anak-anak kita: Tidak cukup 3 kata saja: I Love You J. Tetapi ucapan terima kasih / thank you J kepada setiap anak-anak kita akan sangat mengimpartasi hidup mereka kelak apabila mereka menjadi menjadi orang tua J. 2 Tawarikh 20:21, “Setelah ia berun-ding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: ‘Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!’”


Respon 1
Syalom. Amin... “Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendiri-lah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.” (Mazmur 16:5). Terima kasih ibu Siu, selamat beraktivitas TUHAN memberkati Ibu dan Keluarga.

Respon 2
Pengkhotbah 3:14, “Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.”

Respon 3
Kel 15:26, “AKU TUHANlah yang menyem-buhkanmu!” Sakit? Jasmani ato rohani (bang-krut, masalah keluarga, pelayanan, sekolah, dll)? Hanya YESUS yang bisa tolong, datang kepada-NYA sekarang. Mujizat pasti terjadi! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.


Respon 4
“The most dangerous strategy in spiritual realm is Satan's Scheme and Snares!” Xavier Quentin Pranata.

Respon 5
SAAT TEDUH. Selasa, 4 Nov 2014. Alam Dan Manusia. “... terkutuklah tanah karena engkau... semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu.” (Kejadian 3:17-18) Terusirnya manusia dari Taman Eden adalah konsekuensi dari dosa yang tidak diakui dan diselesaikan. Selain merusak hubungan Allah-manusia dan antarmanusia, dosa juga merusak hubungan antara manusia dan alam tempat tinggalnya. Bumi menjadi tempat yang terkutuk—bahkan menumbuhkan semak duri. Bencana alam mewakili betapa tak bersahabatnya bumi terhadap manusia penghuninya. Sungguh, sangat kontras dengan keadaan Eden yang indah dan nyaman. Manusia  juga  berulah mengeksploitasi bumi. 


Dengan rakus mereka mengeruk isi perut bumi hingga bumi semakin rusak dan semakin panas. Belum lagi terjadi efek rumah kaca, banjir karena penebangan hutan yang tak bertanggung jawab, sungai yang penuh sampah, juga pencemaran laut dan bumi oleh limbah zat logam berat. Manusia tidak menjalankan mandat untuk mengeksplorasi bumi demi kesejahteraan bersama, melainkan menjadikannya sasaran eksploitasi serakah demi memuaskan hawa nafsu mereka. Sebagai orang yang sudah ditebus oleh Kristus dan menjadi ciptaan baru, mari kita menjaga bumi ini dengan cara-cara sederhana. Misalnya, dengan tidak membuang sampah, apalagi oli bekas dan residu bahan kimia, secara sembarangan. Menebang pohon secara bertanggung jawab. Menghemat hasil bumi yang tak terbarukan, seperti bahan bakar minyak. Karena bumi ini bukan milik pribadi yang kita wariskan ke anak cucu. Bumi adalah milik Sang Pencipta, yang dipercayakan kepada kita dalam tanggung jawab kepada-Nya dan kepada keturunan kita. BUMI BUKAN MILIK KITA YANG BOLEH DIPERLAKU-KAN SEENAKNYA. TUHAN MENGARU-NIAKAN BUMI AGAR KITA NYAMAN TINGGAL DI DALAMNYA.



Respon 6
Selasa, 4 November 2014. Bacaan: Lukas 12:13-21. Setahun: Yohanes 9-10. Nats: Kata-Nya lagi kepada mereka, 'Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaan-nya itu.' (Lukas 12:15). PERSETERUAN. “Kalau harta dan kuasa sudah menutupi mata hati, tetangga, teman, saudara biarpun seiman tidak ada artinya. Toleransi di wilayah sempit tidak ada, yang ada menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Sekalipun menyebakan orang   lain  menderita.”  Demikian  komentar salah seorang pembaca Kompas 08/11/2011 untuk berita: Pembangunan pelabuhan Kuwait picu ketegangan dengan Irak. Perseteruan di antara bangsa-bangsa, suku bangsa, sahabat, bahkan saudara kandung sekalipun sudah setua usia manusia (bdk. Kej 4:1-16). 

Ketika terjadi perseteruan dalam satu keluarga yang sedang berebut warisan, mereka membawa perseteruan itu pada Yesus yang saat itu dianggap pemimpin yang berkarisma untuk membelanya. Tanggapan Yesus? “Siapa yang mengangkat Aku menjadi pembela atau perantara atas kamu? Berjaga-jaga dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab hidup seseorang tidak bergantung kepada hartanya yang melimpah itu” (ay. 15). Melalui perumpamaan, Dia mengajari mereka yang sedang bertengkar itu dengan contoh si kaya yang tamak. Ia selalu memperbesar lumbung-nya untuk menampung kelimpahan hasil panennya. Yang dipikirkan hanya kepentingan pribadinya dan mungkin jaminan hidup sampai tujuh turunan. Tetapi, ia lupa bahwa harta yang dikumpulkannya itu tak berdaya menolong ketika nyawanya diambil Sang Empunya Hidup malam itu juga. Meng-ilah-kan ketamakan akan harta hanya akan membinasakan yang terpenting dalam hidup kita, yaitu nyawa kita sendiri. Waspadalah, jika saat ini kita tengah dililit nafsu ketamakan. --Susanto. HATI YANG TAMAK HARTA MEMBAWA KEBINASAAN, HATI YANG PENUH KASIH MENGGU-NAKANNYA UNTUK KEMULIAAN PEM-BERINYA.

JESUS BLESS


No comments:

Post a Comment