Efesus 1:4-5, “Sebab di dalam
Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak
bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh
Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya / DIADOPSI (terjemahan asli: NIV) sesuai dengan kerelaan
kehendak-Nya.” Perhatikan sifat dari PERTUKARAN
ini, kita telah DIPILIH oleh Allah
& DIADOPSI sebagai anak-anak-Nya,
baik pria maupun wanita. Melalui ADOPSI,
kini kita memilki hubungan yang sama sekali baru dengan Allah. Diadopsi oleh
Allah berarti kita diharapkan memiliki
kehidupan yang sama / searah dengan tujuan-Nya,
kerinduan-Nya, & karakter-Nya! Sudahkah kita mengucap syukur karena sudah
dipilihNya? Tahukah saudara, Allah mengasihi
setiap kita begitu rupa seolah-olah kitalah satu-satunya insan di dunia?
Respon 1
05 Januari 2014, Minggu.
Mengampuni atau Menyalahkan. Kolose 3:12-17. “Itu bukan salah saya” adalah
sikap yang lazim dalam budaya kita. Untuk menghindari tanggung jawab atas
tindakan mereka, orang akan menyalahkan orang lain: “Saya tidak akan sering
berteriak pada anak saya seandainya ibu saya sendiri lebih mengasihi saya” atau
“Saya tidak akan mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang atasan saya
seandainya saja ia menghormati saya.” Kebencian memuncak sampai sang korban
buta terhadap segala sesuatu, kecuali tentang bagaimana hidupnya dipengaruhi
oleh perilaku seseorang yang menyakitkan. Kemudian, melempar kesalahan jadi
mudah untuk dilakukan. Namun Allah memiliki tantangan untuk para orang percaya:
ampunilah mereka yang melukai engkau. Doa Tuhan Yesus menyebutkan beberapa tugas
Allah namun hanya menyebutkan satu bagi orang percaya: mengampuni mereka yang
berbuat salah (Matius
6:12). Perumpamaan mengenai utang menggambarkan tentang dosa dengan baik. Orang
yang disakiti seringkali merasa bahwa pihak yang bertanggung jawab berhutang
sesuatu kepadanya, contohnya permintaan maaf atau kompensasi. Namun dengan
menunjukkan belas kasihan kepada orang yang telah berdosa, Anda mencap
kewajibannya kepada Anda “lunas terbayar.” Perbaikan maupun ganti rugi tidak
lagi diperlukan. Terkadang luka kita begitu dalam sehingga pengampunan tidak
datang dengan mudah. Ingatlah bahwa Yesus menanggung luka dosa orang lain juga,
dan Roh Kudus-Nya memampukan orang percaya untuk melaksanakan tugas yang sukar
ini. Saat Allah mengampuni, Ia tidak lagi mengingat kesalahan itu (Yeremia
31:34).- SH.
Respon 2
06 Januari 2014,
Senin. Pilihan yang Kita Buat. Matius
7:13-14. Seperti kebanyakan orang masa kini, bangsa Israel pada zaman Yesus juga
percaya bahwa mereka ditakdirkan masuk surga. Mereka salah berpikir bahwa untuk
masuk ke dalam keluarga Allah, per-buatan baik dan iman yang intelek merupakan
hal yang Ia minta. Untuk menolong kita memahami kebenaran tentang memasuki
kerajaan Bapa-Nya, Yesus menggambarkan dua jalan, yang membawa kepada arah yang
berlawanan. Yang satu jalan yang luas, dimana kebanyakan orang menjalaninya.
Itu adalah perjalanan yang mudah, yang membutuhkan komitmen yang sedikit dan
mengijinkan segala macam filosofi. Oleh karena segala sesuatu diterima, orang
bebas untuk memanjakan diri sendiri dan memilih apa yang mereka pikir hal
terbaik. Jalan yang luas berjanji untuk memberikan kepada kita apapun yang kita
inginkan, namun pada akhirnya, ia tidak memberikan hal yang memiliki nilai
kekal. Yesus menggambarkan jalan lainnya sebagai jalan yang sempit. Jalan ini memiliki pintu
yang kecil, sebab hanya ada satu cara untuk diperdamaikan dengan Allah—melalui
iman di dalam Kristus. Menjalani jalan ini menuntut komitmen kepada sang
Juruselamat dan gaya hidup yang bergantung, penuh pengorbanan dan kepercayaan
kepada-Nya. Begitu kita menjadi milik Yesus, Roh Kudus memampukan kita untuk
melakukan segala sesuatu yang dituntut di jalan kebenaran: mengasihi Tuhan
dengan sepenuh hati kita, mengasihi sesama kita, dan melaksanakan maksud Tuhan.
Rancangan-Nya adalah menjadi yang lebih utama dari-pada rancangan kita.
Berbanding dengan kekecewaan di jalan yang luas, disini setiap janji ilahi
terjamin. Setiap kita harus memilih jalan mana yang hendak diambil: yang luas,
yang berakhir pada tidak adanya pengharapan dan terpisah selamanya dari Tuhan,
atau jalan sempit yang menuntun pada hidup kekal.- Sentuhan Hati.
Respon 3
Amin Siu, terima
kasih aku mau taat, terima kasih udah diingatkan, Gbu.
Respon 4
Praise God. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar,
yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, yang disebut
kebajikan & patut dipuji pikir-kanlah semuanya itu” (Filipi 4:8). “Kehila-ngan
Fokus yang Benar akan megakibatkan Kehilangan Masa Depan / Hari-hari yang penuh
dengan keadaan Baik yang dijanjikan & disediakan Tuhan.” Kita tidak mungkin
mampu mengatasi masalah-masalah yang akan kita jumpai di depan, yang datang
bertubi-tubi dalam hidup kita atau tidak mungkin dapat tetap berdiri tegak ketika
per-gumulan & ujian datang atau tidak mungkin sanggup tetap teguh saat
keadaan membuat kita putus asa jika kita tetap berfokus pada hal-hal yang tidak seharusnya
(kelemahan, keadaan, orang lain,
diri sendiri). Kita harus terus melatih diri untuk berfokus & mengarah kepada
Allah. “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin
kita dalam Iman & yang mem-bawa Iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan
mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi
Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibr 12:2-4). Melatih
diri berfokus pada yang benar bukan pada impian-impian yang tak nyata, jauh dari
jangkauan tapi pada hal-hal yang benar, nyata & valid. Bukan pada hal-hal yang
murahan, sembrono & dangkal tapi pada hal-hal yang berharga di mata Allah.
Bukan pada hal-hal yang salah, negatif & tidak adil, mengkritik, menuduh tapi
pada hal-hal yang benar & berkenan. Bukan pada pikiran-pikiran jasmani
& cabul tapi pada pikiran-pikiran yang suci & sehat. Bukan pada hal-hal
yang mendorong perbantahan, perlawanan dalam diri orang lain tapi pada hal-hal
manis & Ilahi. Bukan pada fitnah, gosip, penghinaan, tapi pada informasi yang
baik, membangun & mengalirkan anugerah. Yuk, jaga fokus makin tajam. Good
Luck! Selamat pagi.
Respon 5
Syalom. “Sesungguhnya,
Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau
memberitahukan hikmat kepadaku." (Mazmur 51:8). Selamat pagi ibu Siu, selamat
beraktivitas TUHAN YESUS memberkati Ibu dan Keluarga.
No comments:
Post a Comment