Mazmur 91:7. “Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah
kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Pemeliharaan Tuhan itu sungguh ada,
jangan pernah ragu untukk menjalani kehidupan ini karena Tuhan sendiri yang
menjamin hidup kita.” (Mazmur 37:25). Dahulu aku muda, sekarang telah
menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak
cucunya meminta-minta roti. Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya
asalkan IMAN kita tetap kepadaNya,
Amin! Percayakah saudara Tuhan yang kita sembah bukanlah Tuhan yang tidur? Ia bertanggung
jawab atas kelangsungan hidup kita & menyiapkan jalan keluar yang TERBAIK?
Amin.
Respon 1
Syalom. “Barangsiapa
mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus
telah hidup.” (1 Yohanes 2:6). Selamat pagi Ibu Siu, selamat berakitvitas TUHAN
memberkati Ibu dan Keluarga.
Respon 2
Terpujilah Tuhan!
Hari demi hari Ia menang-gung bagi kita, Allah adalah keselamatan kita. Blessed
be the Lord who DAILY load us with BENEFITS, the God of our salvation ! - NKJV
(Mazmur 68:20). Tiap hari Tuhan mengisi hidup kita dengan hal-hal yang baik,
berfaedah, menguntukungkan, berguna, ber-manfaat. Halleluyah.
Respon 3
ketika hidup kita
berjalan dengan mulus, itu bukan terjadi begitu saja, ada campur tangan TUHAN yang
bekerja tanpa kita sadari, iman adalah landasan yang
membuat kita yakin bahwa pemeliharaan TUHAN itu sungguh ada, iman memampukan
kita menembus pekatnya kabut kehidupan untuk melihat secercah terang diujung
sana, shalom Siu, pagi terima kasih.
Respon 4
Jumat, 24 Januari
2014. Bacaan: Lukas 18:9-14. Setahun: Keluaran 38-39. Nats: Sebab siapa saja
yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan
diri, ia akan ditinggikan. (Lukas 18:14) MERASA LEBIH. Ketika media massa
banyak menyoroti peristiwa kecelakaan lalu-lintas yang memakan korban jiwa,
saya dan teman-teman sempat membicarakannya. Salah satu pernyataan yang sering
terlontar, “Sekarang ini susah. Kita sudah berhati-hati, masalahnya orang lain
ceroboh, kita jadi korban.” Orang itu bermaksud mengatakan bahwa dirinya sudah
mengemudi dengan lebih hati-hati. Nyatanya,
hampir semua orang pernah mengemudi dengan kurang hati-hati sehingga menabrak
atau menyenggol sesuatu. Ada kecenderungan merasa diri kita lebih baik dari
orang lain. Paling parah jika sikap ini berkaitan dengan dosa. Orang Farisi
dalam perumpamaan Yesus merasa diri benar karena memiliki kedudukan terhormat
dalam masyarakat (ay. 11). Ia juga berupaya melakukan aktivitas keagamaan
dengan ketat (ay. 12). Ia mengira dirinya diterima Allah. Padahal, ia sama saja
dengan pemungut cukai itu: sama-sama berdosa dan tidak layak di hadapan Allah
yang kudus. Dan, pemungut cukai itu dibenarkan karena tidak membenar-kan diri,
melainkan memiliki hati yang han-cur. Merasa diri lebih baik dari sesama itu
sikap yang pongah. Sikap ini merintangi kita menghampiri hadirat Tuhan. Kita
akan sulit mengucap syukur atas anugerah pengam-punan dan pengurbanan Tuhan
Yesus, seolah kekudusan dapat kita peroleh melalui aktivitas ibadah dan perbuatan
baik. Sebaliknya, Tuhan berkenan akan ibadah kita bila kita meng-hampiri-Nya
dengan kerendahan hati, dengan menyadari bahwa hanya oleh anugerah-Nya kita
dapat dikuduskan. --Heman Elia. Hampirilah hadiratNya dengan kerendahan hati, dan
biarlah anugerahNya menguduskan kita.
No comments:
Post a Comment