RICH FAMILY-POOR
FAMILY
PART
1: Ideal Tuhan vs Normal Kita
(Diambil
dari Khotbah Ps. Ezra Soetopo,
16
Februari 2014)
Hari ini adalah pendahuluan
dari serial kita, yang akan kita jalani selama 40 hari. Di bagian awal ini kita
akan berbicara tentang the tension
antara what’s real (normal kita) dan what’s ideal (ideal Tuhan).
Topik tentang family, selalu menarik dan menantang,
karena: kita tidak punya pilihan.
Ada yang berasal dari keluarga tradisional, ada yang berasal dari keluarga yang
campur, ada beberapa yang dalam penikahan ke 2 atau ke 3, beberapa Anda sedang
dalam transisi dari pernikahan Anda sebelumnya. Beberapa ada ynag harus
membesarkan anak yang bukan anak Anda. Beberapa Anda harus membesarkan anak
sendirian. Beberapa Anda mungkin mengapdosi anak.
Sehingga, ada begitu besar diversity
(perbedaan) pembicaraan soal keluarga. Sangat menantang, TETAPI di saat yang
bersamaan sangat relevan. Dan kita mencoba memikirkan, dari semua perbedaan
ini, apa kesamaan yang kita miliki?
Kita
menemukan 2 kesamaan kita semua, ketika kita berbicara soal keluarga. Yang pertama, asal muasal / kita tidak
punya pilihan. Itu kesamaan yang kita semua miliki. Yang kedua, tidak seorang
pun yang terhubung dengan kita. Di sebuah titik dalam hidup kita, Anda
pasti pernah berpikir seperti ini soal anggota keluarga kita.
Yang membuat
makin menantang, ketika kita buka Alkitab dan lihat ayat firman Tuhan, apa yang
kita pelajari tentang KELUARGA? Sangat
aneh, karena di Alkitab, tidak ada contoh cerita keluarga yang baik. Misalnya:
keluarga Adam dan Hawa, keluarga Abraham, keluarga Daud. Lalu, sesuatu yang
luar biasa terjadi, Anda pergi ke Perjanjian
Baru. Di Perjanjian Baru, ketika Rasul Paulus meng-gunakan pengajaran Yesus
(yang baru, asing, tapi revolusioner) dan menggunakannya dalam budaya Romawi
dan Yunani, dia mulai memasukkan dan menggunakan ide-ide Yesus tentang
bagaimana keluarga berfungsi.
Rasul Paulus merangkumnya
dan meyampaikan pesan ini kepada masyarakat dan budaya:
Efesus 6:1-2, hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan,
karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu, ini adalah suatu
perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini.
Efesus 5:22, Hai
isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.
Efesus 5:25, Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus
telah mengasihi jemaat!
Efesus 6:4, Bapa-bapa,
janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka
di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
1 Petrus 3:7, Suami-suami,
hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah
mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu
jangan terhalang.
Dalam ringkasan inilah
pesannya:
SUAMI,
KASIHI ISTRIMU DAN HIDUPLAH BIJAKSANA DENGAN ISTRIMU
ISTRI
TUNDUKLAH KEPADA SUAMIMU
ANAK-ANAK,
HORMATILAH ORANG TUAMU
BAPA-BAPA,
JANGAN BANGKITKAN AMARAH DALAM HATI ANAK-ANAKMU
Perhatikan ini! Ini membawa
kita kepada tension (ketegangan)
kepada semua yang kita bahas. Karena tidak semua orang datang dari keluarga ideal. Sehingga,
ada
Normal Kita (realitas) vs Ideal Tuhan
(standard Tuhan). YESUS mengarahkan
dan menunjukkan kepada apa yang ideal, tetapi Dia menolak merendahkan orang
yang jauh dari ideal.
Ketegangan dan tantangannya
bagi kita adalah untuk membuat keputusan:
-Are we willing to embrace an ideal that may never be a reality in our
current family? (maukah kita merangkul idealnya Tuhan walaupun itu bukan
realitas dalam kondisi keluarga kita saat in?
-Or will be tempted to lose sight of the ideal to feel better about
where we actually are?
(atau akankah kita tergoda
untuk sengaja mengabaikan idealnya
Tuhan, supaya kita merasa baik dengan kondisi kita yang sekarang?)
Maukah kita
merangkul idelanya Tuhan? Atau kita bisa
melakukan yang gampang, mengabaikan idealnya Tuhan dan mengang-gap bahwa
kondisi kita ini normal?
Ada tension (ketegangan)
disini, tetapi Yesus sangat nyaman dengan tension
(ketega-ngan ini).
MATIUS 19:3, Yesus
menunjukkan kepada mereka apa yang ideal, walaupun Dia menyadari realitas yang
dihadapi beberapa orang, dan Yesus nyaman dengan tension itu. Anda pun juga
harus demikian. Yesus mengundang dan memerintahkan kita, untuk menanggung
kerumitan keluarga dan menyadari adanya ketegangan antara apa yang REAL (Normal kita) dan apa yang IDEAL (Idealnya Tuhan), yang
kelihatannya hanya beberapa orang yang bisa mengerti.
Pertanyaannya, akankah
kita merangkul standard yang banyak dari kita tidak bisa memenuhi atau akankah
kita me-redefenisi standard baru, supaya kita bisa merasa nyaman dengan keadaan
kita sekarang?
Maukah kita merangkul
pengajaran Yesus tentang keluarga ideal seperti itu apa? Dan walaupun kita
tidak bisa sampai setinggi yang
diharapkan, kita tidak akan melepaskan pandangan kita dari apa idealnya
Tuhan?
Banyak yang berusaha menjauh
dan meninggalkan ajaran ini. Tapi banyak yang makin merangkul. Supaya tidak
seorangpun di korbankan dalam keluarga.
Jadilah Rich Family – dengan
memandang Ideanya Tuhan di depan mata kita!
No comments:
Post a Comment