Thursday, 20 March 2014

20 Maret 2014 - Tugas Seorang Ibu


Titus 2:4, “dan dengan demikian mendidik perempuan- perempuan muda mengasihi suami dan anak- anaknya.” Ayat 5, “hidup bijaksana dan suci, rajin me-ngatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.” Tugas seorang Ibu bukan hanya melahirkan, merawat, membesarkan anak-anaknya saja tetapi juga mendidik, bahkan menjadi model / contoh / teladan bagi seisi rumah tangganya terlebih dahulu, teru-tama  dalam  hal  spiritual. 2 Tim 1:5, “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” Sudahkan kita para Ibu mengajarkan firman Tuhan sejak dini / balita? Amsal 1:8, “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” Sudahkah kita melatih talenta anak-anak kita sehingga maksimal? Mendisiplin & mengasihi anak-anak kita? (Ibrani 12:4-11) Amsal 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Semangat menjalankan peran sebagai seorang Ibu.


Respon 1
Kasih Yang Salah Sasaran. 03/20/2014. Marvin Williams. Santapan Rohani. Baca: Mazmur 115. Berhala-berhala mereka adalah perak   dan   emas,   buatan  tangan  manusia. Mazmur 115:4, Martin Lindstrom, seorang penulis dan pembicara, beranggapan bahwa telepon seluler (ponsel) tampaknya telah menjadi seperti sahabat baik bagi para pemiliknya. Lindstrom menjelaskan pernyata-annya itu lewat penelitian yang diterapkannya dengan menggunakan teknik MRI (Pencitraan Resonansi Magnetik). Ketika subjek penelitian melihat atau mendengar ponselnya berdering, otak mereka memancarkan sel-sel saraf di area yang berkaitan dengan rasa cinta dan belas kasih. Lindstrom berkata, “Seolah-olah mereka sedang berada bersama seorang kekasih atau anggota keluarga mereka.” Banyak hal yang bersaing untuk merebut rasa sayang, waktu, dan perhatian kita, dan tampaknya kita harus selalu meninjau ulang hal-hal yang telah menjadi pusat perhatian dalam hidup kita. Yosua memerintahkan bangsa Israel untuk senantiasa takut akan Tuhan dan beribadah hanya kepada-Nya (Yosua 24:14). Ini sangat berlawanan dengan berhala-berhala yang disembah oleh bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Segala berhala itu terbuat dari logam dan hanyalah buatan tangan manusia (Mazmur 115:4). Berhala-berhala itu sama sekali tak berdaya jika dibandingkan dengan Tuhan. Oleh karena itu, umat Allah dinasihati untuk menerima keselamatan dalam Allah dan bukan dalam berhala mana pun (Hakim-Hakim 10:13-16). Yesus menekankan kembali hal itu dalam pembahasan-Nya mengenai hukum yang terutama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37). Hanya Tuhanlah penolong dan perisai kita (Mazmur 115:9). Kiranya kita beribadah hanya kepada-Nya.


Respon 2
Shalom. Selamat pagi Cik tiap hari ayatnya bagus-bagus. Gbu.


Respon 3
RENUNGAN PAGI. Kamis, 20 Maret 2014. Dan berkatalah Samuel kepada bangsa itu: “Jangan takut; memang kamu telah melaku-kan segala kejahatan ini,tetapi janganlah berhenti mengikuti TUHAN, melainkan beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu. (1Samuel 12:20). Mungkin saat ini kita sedang dalam penyesalan. Ada satu pelanggaran bahkan pelanggaran besar pada Tuhan yang sudah kita lakukan. Namun, Haruskah kita pergi meninggalkan Tuhan? Merasa tidak layak lagi untuk kembali? Memang benar mungkin kita tidak layak lagi tapi bukankah memang sejak awal kita ini sesungguhnya tidak layak. Bukankah hanya karena kasih-Nya kita ini dilayakkan dan kasih itu pun saat ini masih ditawarkan pada kita. Adakah kita mau bertobat berbalik pada-Nya, beribadah pada-Nya dengan segenap hati ataukah tetap pada pendirian awal. Sekalian meninggalkan   Dia   mengabaikan  kasih-Nya 

semua itu ada di tangan kita. Tuhan Yesus memberkati.

Respon 4
Syalom. Amin. “Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.” (Amsal 31:26). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas Tuhan memberkati Ibu dan keluarga.





No comments:

Post a Comment