Titus 2:4, “dan dengan demikian mendidik perempuan-
perempuan muda mengasihi suami dan anak- anaknya.” Ayat 5, “hidup bijaksana dan suci, rajin me-ngatur
rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan
dihujat orang.” Tugas seorang Ibu bukan hanya melahirkan, merawat,
membesarkan anak-anaknya saja tetapi juga mendidik, bahkan menjadi model / contoh
/ teladan bagi seisi rumah tangganya terlebih dahulu, teru-tama dalam
hal spiritual. 2 Tim 1:5, “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas,
yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu
Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” Sudahkan kita para Ibu mengajarkan firman
Tuhan sejak dini / balita? Amsal 1:8, “Hai
anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.”
Sudahkah kita melatih talenta anak-anak kita sehingga maksimal? Mendisiplin &
mengasihi anak-anak kita? (Ibrani 12:4-11) Amsal 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa
tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Semangat
menjalankan peran sebagai seorang Ibu.
Respon 1
Kasih Yang Salah
Sasaran. 03/20/2014. Marvin Williams. Santapan Rohani. Baca: Mazmur 115. Berhala-berhala
mereka adalah perak dan emas,
buatan tangan manusia. Mazmur 115:4, Martin
Lindstrom, seorang penulis dan pembicara, beranggapan bahwa telepon seluler
(ponsel) tampaknya telah menjadi seperti sahabat baik bagi para pemiliknya.
Lindstrom menjelaskan pernyata-annya itu lewat penelitian yang diterapkannya
dengan menggunakan teknik MRI (Pencitraan Resonansi Magnetik). Ketika subjek
penelitian melihat atau mendengar ponselnya berdering, otak mereka memancarkan
sel-sel saraf di area yang berkaitan dengan rasa cinta dan belas kasih.
Lindstrom berkata, “Seolah-olah mereka sedang berada bersama seorang kekasih
atau anggota keluarga mereka.” Banyak hal yang bersaing untuk merebut rasa
sayang, waktu, dan perhatian kita, dan tampaknya kita harus selalu meninjau
ulang hal-hal yang telah menjadi pusat perhatian dalam hidup kita. Yosua
memerintahkan bangsa Israel untuk senantiasa takut akan Tuhan dan beribadah
hanya kepada-Nya (Yosua 24:14). Ini sangat berlawanan dengan berhala-berhala yang
disembah oleh bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Segala berhala itu terbuat
dari logam dan hanyalah buatan tangan manusia (Mazmur 115:4). Berhala-berhala
itu sama sekali tak berdaya jika dibandingkan dengan Tuhan. Oleh karena itu,
umat Allah dinasihati untuk menerima keselamatan dalam Allah dan bukan dalam
berhala mana pun (Hakim-Hakim 10:13-16). Yesus menekankan kembali hal itu dalam
pembahasan-Nya mengenai hukum yang terutama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan
segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”
(Matius 22:37). Hanya Tuhanlah penolong dan perisai kita (Mazmur 115:9). Kiranya
kita beribadah hanya kepada-Nya.
Respon 2
Shalom. Selamat pagi
Cik tiap hari ayatnya bagus-bagus. Gbu.
Respon 3
RENUNGAN PAGI. Kamis,
20 Maret 2014. Dan berkatalah Samuel kepada bangsa itu: “Jangan takut; memang
kamu telah melaku-kan segala kejahatan ini,tetapi janganlah berhenti mengikuti
TUHAN, melainkan beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu. (1Samuel
12:20). Mungkin saat ini kita sedang dalam penyesalan. Ada satu pelanggaran bahkan
pelanggaran besar pada Tuhan yang sudah kita lakukan. Namun, Haruskah kita
pergi meninggalkan Tuhan? Merasa tidak layak lagi untuk kembali? Memang benar mungkin
kita tidak layak lagi tapi bukankah memang sejak awal kita ini sesungguhnya
tidak layak. Bukankah hanya karena kasih-Nya kita ini dilayakkan dan kasih itu
pun saat ini masih ditawarkan pada kita. Adakah kita mau bertobat berbalik
pada-Nya, beribadah pada-Nya dengan segenap hati ataukah tetap pada pendirian
awal. Sekalian meninggalkan Dia mengabaikan
kasih-Nya
semua itu ada di tangan
kita. Tuhan Yesus memberkati.
Respon 4
Syalom. Amin. “Ia
membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.”
(Amsal 31:26). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas Tuhan memberkati Ibu dan
keluarga.
No comments:
Post a Comment