Friday, 14 March 2014

14 Maret 2014 - Memelihara Keluarga II.


Efesus 5:21-33, “dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menem-patkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa  itu,  tetapi  supaya  jemaat  kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” Bagi keluarga orang percaya cinta segita bukan adanya PIL maupun WIL dalam pernikahan, tetapi Kristus sebagai pihak ketiga & terpen-ting dalam sebuah pernikahan. Sudahkah kita menghadirkan Kristus sebagai kepala (Pihak Ke-3) dalam setiap rumah tangga kita masing-masing? Adakah kita (suami / istri) saling menasehati (Roma 15:14) satu dengan yang lain? Amin.

Respon 1
Renungan pagi ini mengingatkan kita semua, bahwa tidak ada pria yang sempurna dan wanita yang sempurna. Semua orang punya kekurangan dan kelebihan. Pria dan wanita dijadikan adalah untuk saling melengkapi, saling menasehati, saling mengisi. Ini aku bicara sebagai istri ya kalau suami lagi berbuat salah (karena tidak sempurna jadi bisa salah) ya kita harus bisa membuat suami kita berjalan di jalan yang benar lagi. Tapi kadang suami kalau di nasehati itu tidak mau karena merasa dia lebih tahu dan lebih pinter dari si istri, ya tidak apa-apa. Ada cara lain yang lebih manjur daripada nasehat yaitu doa. Doakan suami kita, biar Tuhan sendiri yang ngomongi. Suami juga gitu, seringnya istri / aku ini merasa pemikirannya lebih masuk akal dari pada suami karena biasanya perempuan itu berpikir lebih jauh ke depan, jadi menganggap suami itu lebih ceroboh dan itu membuat istri / aku merasa lebih benar dan tidak tunduk pada suami. Ini Tugas suami yaitu memimpin istri dengan kasih, dan mendoakan. Aku tahu semua pasangan di komsel ini tidak ada yang sempurna tapi smua pasti mau disempurnakan. Ayo sama-sama belajar ya. Untuk belajar melakukan firman Tuhan ini memang butuh kerendahan hati dan kemauan yang keras. Yang suami ayo mulai belajar lebih mengasihi istri walaupun istri kadang sok pinter, istri ayo belajar tunduk pada suami walaupun kadang suami maunya sendiri. Ya belajar saling menerima kekura-ngan pasangan dan belajar lebih mengasihi. Bersama Tuhan pasti bisa.


Respon 2
Mazmur 86:17, ‘Lakukanlah kepadaku suatu tanda  kebaikan,   supaya   orang-orang  yang membenci aku melihat dengan malu, bahwa Engkau ya Tuhan, telah menolong dan menghiburkan aku.’ Hanya YESUS yang bisa menolong, menghibur dan memberkati kita! Samuel Sianto (SS) - YESTOYA Malang.


Respon 3
Syalom. Amin. “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas TUHAN memberkati Ibu dan keluarga.

Respon 4
Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu member-kati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. (1Petrus 3:9). Kalau bisa berbuat baik kenapa memilih yang jahat? Kalau bisa memberkati mengapa harus mengutuki? Kalau bisa memberi mengapa harus menuntut? Kita dipanggil untuk menjadi berkat.


JESUS BLESS
 

No comments:

Post a Comment