Amsal 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang
patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada
jalan itu.” Sudahkah kita sebagai orang tua mendidik anak-anak kita dengan
disiplin rohani? Sehingga mereka mengalami perjum-paan pribadi dengan Dia? Mari
berikan disiplin, latihan, pembinaan secara rohani bahkan bangun hubungan
persahabatan dengan anak-anak kita niscaya mereka akan membawa ketentraman kepada
kita sebagai orang tua! Amsal 29:17, “Didiklah
anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman ke-padamu, dan mendatangkan
sukacita kepada-mu.” Amin.
Respon 1
Kemarin aku dapat rhema
dari khotbahnya Ps. Ezra: Orang tua adalahah model. Biasanya yang jadi model
itu orang yang cantik, gan-teng dan gaya mereka akan kita tiru. Sekarang musimnya K-pop. Banyak orang niru gaya rambutnya, gaya
pakaiannya bahkan gaya ngomongnya. Nah, jadi orang tua itu seperti jadi model
buat anak-anak kita. Apakah kita sudah menjadi model yang menginspirasi mereka
jadi orang yang berkenan dihadapan Tuhan? Kenapa kok istri di suruh tunduk? Karena
sejak dari awal mulanya wanita itu semaunya sendiri (Hawa tahu buah yang
dilarang untuk dimakan tapi tetap dilakukan bahkan malah nyuruh Adam ikut
makan). Kenapa kok suami disuruh mengasihi istri? Karena pria itu cenderung
kasar. Anak akan melihat kita memperlakukan pasangan kita sehari-hari dan itu
akan jadi contoh buat mereka. Memang tidak ada orang tua yang sempurna di dunia
ini. Kemarin saja aku merasa jadi orang tua yang benar-benar tidak layak. Waktu
Ps. Ezra cerita dia merasa kesakitan yang luar biasa ketika dihajar dengan
rotan, sabuk dll, aku ingin nangis karena aku juga pernah mukuli
Kevin dan Celyn. Aku juga
bertengkar di depan mereka yang menunjukan aku tidak menghormati ayah mereka.
Aku bener-benar merasa jadi orang tua yang tidak patut dicontoh. Ya puji Tuhan,
firman Tuhan selalu mengingatkan aku dan menegur aku. Sekarang saatnya aku
belajar untuk berubah.
Respon 2
Syalom. Amin. “Hai saudara-saudara
yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar,
tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;” (Yakobus 1:19).
Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas Tuhan memberkati Ibu dan keluarga.
Respon 3
Brian Dyson, mantan
CEO Coca Cola, pernah menyampaikan pidato yang sangat menarik. Katanya, “Bayangkan
hidup itu seperti pemain akrobat dengan lima bola di
udara.
Kita bisa menamai
bola-bola itu dengan sebutan: pekerjaan, keluarga, kesehatan, sahabat, dan
semangat. Kita harus menjaga semua bola itu tetap di udara dan jangan sampai
ada yang terjatuh. Kalaupun situasi mengharuskan anda melepaskan salah satu di
antara lima bola tersebut, lepaskanlah peker-jaan karena pekerjaan adalah bola
karet. Pada saat anda menjatuhkannya, suatu saat ia akan melambung kembali.
Namun empat bola lain seperti keluarga, kesehatan, sahabat, dan semangat adalah
bola kaca. Jika anda menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal!” Kemudian,
Dyson mencoba mengajak kita hidup secara seimbang. Pada kenyataannya, kita terlalu
menjaga pekerjaan (bola karet). Bahkan kita mengorbankan keluarga, kesehatan,
sahabat, dan semangat demi me-nyelamatkan bola karet tersebut. Contohnya: demi
uang atau pekerjaan, kita mengabaikan keluarga, demi meraih sukses dalam peker-jaan,
kita tidak
memperhatikan kesehatan.
Demi uang atau
pekerjaan, kita rela menghan-curkan hubungan dengan sahabat baik. Bukan berarti
pekerjaan tidak penting! Tapi jangan sampai uang atau pekerjaan menjadi berhala
dalam hidup kita. Baiklah diingat, kalaupun kita kehilangan, uang selalu bisa
dicari lagi. Tapi jika keluarga sudah terjual, ke mana kita bisa membelinya
lagi? Apakah kita bisa membeli sahabat ? Apakah kesehatan kita bisa kembali
normal, jika kita terkena penyakit kritis? Mari kita jaga agar prioritas hidup
berimbang.
No comments:
Post a Comment