Monday, 17 March 2014

17 Maret 2014



Amsal 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Sudahkah kita sebagai orang tua mendidik anak-anak kita dengan disiplin rohani? Sehingga mereka mengalami perjum-paan pribadi dengan Dia? Mari berikan disiplin, latihan, pembinaan secara rohani bahkan bangun hubungan persahabatan dengan anak-anak kita niscaya mereka akan membawa ketentraman kepada kita sebagai orang tua! Amsal 29:17, “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman ke-padamu, dan mendatangkan sukacita kepada-mu.” Amin.

Respon 1
Kemarin aku dapat rhema dari khotbahnya Ps. Ezra: Orang tua adalahah model. Biasanya yang jadi model itu orang yang cantik, gan-teng dan gaya mereka akan kita tiru. Sekarang musimnya K-pop. Banyak orang niru gaya rambutnya, gaya pakaiannya bahkan gaya ngomongnya. Nah, jadi orang tua itu seperti jadi model buat anak-anak kita. Apakah kita sudah menjadi model yang menginspirasi mereka jadi orang yang berkenan dihadapan Tuhan? Kenapa kok istri di suruh tunduk? Karena sejak dari awal mulanya wanita itu semaunya sendiri (Hawa tahu buah yang dilarang untuk dimakan tapi tetap dilakukan bahkan malah nyuruh Adam ikut makan). Kenapa kok suami disuruh mengasihi istri? Karena pria itu cenderung kasar. Anak akan melihat kita memperlakukan pasangan kita sehari-hari dan itu akan jadi contoh buat mereka. Memang tidak ada orang tua yang sempurna di dunia ini. Kemarin saja aku merasa jadi orang tua yang benar-benar tidak layak. Waktu Ps. Ezra cerita dia merasa kesakitan yang luar biasa ketika dihajar dengan rotan, sabuk dll, aku ingin nangis karena  aku  juga  pernah  mukuli  Kevin  dan Celyn. Aku juga bertengkar di depan mereka yang menunjukan aku tidak menghormati ayah mereka. Aku bener-benar merasa jadi orang tua yang tidak patut dicontoh. Ya puji Tuhan, firman Tuhan selalu mengingatkan aku dan menegur aku. Sekarang saatnya aku belajar untuk berubah.


Respon 2
Syalom. Amin. “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;” (Yakobus 1:19). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas Tuhan memberkati Ibu dan keluarga.

Respon 3
Brian Dyson, mantan CEO Coca Cola, pernah menyampaikan pidato yang sangat menarik. Katanya, “Bayangkan hidup itu seperti pemain  akrobat  dengan  lima  bola  di  udara.

Kita bisa menamai bola-bola itu dengan sebutan: pekerjaan, keluarga, kesehatan, sahabat, dan semangat. Kita harus menjaga semua bola itu tetap di udara dan jangan sampai ada yang terjatuh. Kalaupun situasi mengharuskan anda melepaskan salah satu di antara lima bola tersebut, lepaskanlah peker-jaan karena pekerjaan adalah bola karet. Pada saat anda menjatuhkannya, suatu saat ia akan melambung kembali. Namun empat bola lain seperti keluarga, kesehatan, sahabat, dan semangat adalah bola kaca. Jika anda menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal!” Kemudian, Dyson mencoba mengajak kita hidup secara seimbang. Pada kenyataannya, kita terlalu menjaga pekerjaan (bola karet). Bahkan kita mengorbankan keluarga, kesehatan, sahabat, dan semangat demi me-nyelamatkan bola karet tersebut. Contohnya: demi uang atau pekerjaan, kita mengabaikan keluarga, demi meraih sukses dalam peker-jaan,   kita   tidak   memperhatikan  kesehatan.  

Demi uang atau pekerjaan, kita rela menghan-curkan hubungan dengan sahabat baik. Bukan berarti pekerjaan tidak penting! Tapi jangan sampai uang atau pekerjaan menjadi berhala dalam hidup kita. Baiklah diingat, kalaupun kita kehilangan, uang selalu bisa dicari lagi. Tapi jika keluarga sudah terjual, ke mana kita bisa membelinya lagi? Apakah kita bisa membeli sahabat ? Apakah kesehatan kita bisa kembali normal, jika kita terkena penyakit kritis? Mari kita jaga agar prioritas hidup berimbang.

 

No comments:

Post a Comment