Wednesday, 19 March 2014

19 Maret 2014


Efesus 6:4, “Dan kamu, bapa- bapa, jangan-lah bangkitkan amarah di dalam hati anak- anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Melalui pem-bacaan kita pagi ini Rasul Paulus meminta agar para Bapak terus mendidik, memelihara, membesarkan hingga dewasa, menghargai, memberikan / menyediakan makanan (memenuhi kebutuhan anak-anaknya) baik jasmani maupun rohani, Amin. Sudahkan kita para Bapak mempunyai peran sebagai  seorang kepala keluarga yang baik? Sudahkah kita para Bapak memberikan teladan kepada anak-anak kita khususnya dalam hal-hal spiritual? Ingat saat orang tua tidak mengasihi & memimpin anak-anak (keluarga) dengan benar, citra / gambar Allah akan rusak! Amin.


Respon 1
Dengarlah, hai orang Israel! Kamu sekarang menghadapi pertempuran melawan musuhmu; janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka, (Ulangan 20:3). Hari ini mungkin banyak hal yang harus dihadapi dan diselesaikan, jangan sampai semua membuatmu lemah, takut dan gentar. Yesus Allah Imanuel besertamu!


Respon 2
Surga Bersukacita! 03/19/2014 — Anne Cetas. Santapan Rohani. Baca: Lukas 15:1-10, Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat. Lukas 15:10 Joann dibesarkan dalam suatu keluarga Kristen. Namun ketika kuliah, ia mulai memperta-nyakan keyakinannya dan akhirnya menjauh dari Allah. Setelah lulus kuliah, ia bepergian ke sejumlah negara dengan niat untuk mencari kebahagiaan, tetapi ternyata kepuasan tidak juga ia temukan. Lewat kesulitan demi kesulitan yang dialaminya, ia menyadari bahwa Allah sedang mengejar dirinya dan ia memang membutuhkan Allah. Dari Jerman, Joann menelepon orang-tuanya di Amerika Serikat dan berkata, “Aku telah menyerahkan hidupku kepada Kristus, dan Dia sedang me-ngubah hidupku! Maafkan aku kalau selama ini aku membuat kalian khawatir.” Orang tua Joann  begitu  gembira  sehingga  mereka mengundang anak-anak yang lain beserta pasangan mereka untuk berkumpul dengan segera agar berita tersebut dapat disampaikan langsung kepada mereka. “Saudara kalian telah menerima Kristus!” ucap mereka, sambil menitikkan airmata tanda sukacita. Dalam Lukas 15, seorang wanita yang menemukan kembali dirham miliknya memanggil para sahabat dan tetangganya untuk bersukacita bersamanya (ayat 9). Yesus menceritakan kisah itu, dan kisah-kisah mengenai seekor domba yang hilang dan seorang anak yang hilang, kepada para pemuka agama di masa-Nya untuk menunjukkan bagaimana Dia datang ke dunia untuk mencari manusia berdosa yang terhilang. Ketika kita menerima anugerah keselamatan dari Allah, ada suka-cita di bumi dan di surga. Yesus berkata, “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (ay.10). Betapa indahnya  ketika  Yesus  menjangkau kita dan surga bersukacita ketika kita menanggapinya! Ku terhilang, Yesus temukanku. Temukanku domba yang tersesat, dekapku dengan tangan kasih-Nya, bawaku kembali ke jalan-Nya. Para malaikat bersukacita ketika kita bertobat.

Respon 3
RENUNGAN PAGI. Rabu, 19 Maret 2014. Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara ke-ras kepada mereka, karena ia ingin melepas-kan Yesus. Tetapi mereka berteriak memba-lasnya, katanya: “Salibkanlah Dia! Salibkan-lah Dia!” (Lukas 23:20-21). Salibkan Dia! Salibkan Dia! Ya salibkan Dia! Bagaimana teriakan itu terngiang dalam hati kita. Namun mengapa sering kita kembali turut meneriak-kannya? Saat memandang rendah penebusan-Nya, saat menganggap remeh kasih-Nya, saat menganggap itu tidak pernah terjadi dan kem-bali hidup dalam dosa. Haruskah Ia disalibkan lagi hanya untuk menebus dosa kita? Tidak, bukan? Tuhan Yesus memberkati.

Respon 4
Syalom. Amin. Orang yang slalu bersyukur akan sanggup menanggung permasalahan hidupnya. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah. (1Tesalonika 5:18). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas Tuhan memberkati Ibu dan keluarga.
 



No comments:

Post a Comment