Tuesday, 11 March 2014

11 Maret 2014



1 Korintus 13:4, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak meme-gahkan diri dan tidak sombong.” Ayat 5, “Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” Ayat 6, “Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebe-naran.” Ayat 7, “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan sega-la sesuatu, sabar menanggung segala sesua-tu.” Ayat 8a, “kasih tidak berkesudahan”. Amin! Tuhan Yesus adalah teladan sempurna dari kasih yang digambarkan dalam 1 Korintus 13, dengan melihat teladan-Nya kita menyadari bahwa kita anak yang dikasihi & kita belajar untuk membalas kasih-Nya, mela-lui  keluarga  dimana kita sudah ditempatkan.
Adakah kita Sabar? Murah hati? Penuh kasih? Sehingga suka cita dalam keluarga boleh dipulihkan & kita rasakan? Amin. Semangat untuk mengasihi keluarga & sesama.

Respon 1
Syalom. Amin. “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.” (Mazmur 28:7). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas Tuhan memberkati Ibu dan keluarga.

Respon 2
Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah. (Mazmur 89:35). Dia yang berjanji adalah setia, tetap percaya!

Respon 3
Selasa, 11 Maret 2014. Bacaan: Efesus 5:15-21. Setahun: Ulangan 29-31. Nats: Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif (Efesus 5:15). BUKAN MONOPOLI. Seandainya hidup itu sebuah permainan monopoli tentu enak. Dalam waktu singkat, kita dapat memiliki banyak uang, tanah, rumah, dan hotel. Nyatanya, hidup tidak bisa seperti itu. Hidup berjalan bukan tergantung pada angka dadu yang muncul. Hidup itu harus direncanakan, dijalani dengan hati-hati, dan dievaluasi dengan tekun. Alkitab memandang masa hidup sebagai pemberian Tuhan, yang kita terima karena anugerah-Nya. Dalam Efesus 5:15-16, Paulus menegaskan, sebagai anak-anak terang (ayat 1-14) semestinya kita tidak menjalani hidup dengan sembrono seperti orang yang tidak bijaksana, melainkan hidup dengan benar dan baik secara konsisten. Untuk itu, kita perlu mengevaluasi pengguna-an  masa  hidup  yang kita lalui.  Socrates, seorang filsuf Yunani, berkata, “Hidup yang tidak pernah dievaluasi adalah hidup yang tidak layak dihidupi.” Masalahnya, di dunia yang penuh kesibukan ini, kita kerap merasa tidak punya kesempatan untuk rehat sebentar dan mulai memikirkan dengan sungguh-sungguh: “Apakah yang menjadi prioritas saya?”; “Apakah tujuan Tuhan mengarunia-kan hidup ini kepada saya?”; "Sudahkah yang saya kerjakan menyenangkan hati-Nya?” Sebagai anak terang, kita bukan semata-mata berusaha meraih pencapaian yang dianggap membanggakan, namun rindu untuk semakin mengenal Tuhan dalam setiap bagian dari hidup kita. Kita rindu agar hidup yang sedang kita jalani ini bukan kesia-siaan untuk pemuasan nafsu duniawi, melainkan merupa-kan pelayanan yang memuliakan Tuhan. -- Dewi Kurnianingsih. Menyia-nyiakan waktu berarti mendukakan sang pemberi waktu


Respon 4
RENUNGAN PAGI. Selasa, 11 Maret 2014. Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya. Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Iapun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Lalu mengertilah Eli, bahwa Tuhanlah yang memanggil anak itu. Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya. (1 Samuel 3:7-9). Hari ini atau mungkin kemarin atau bahkan dulu mungkin Tuhan pernah memanggil kita dan mungkin saat itu kita belum mengerti. Mungkin kita katakana “Ah itu kan kata Pendeta”, “Ah itu kan kata dia”. Dan sampai saat ini kita pun masih sama seperti dahulu. Coba  mari  kita  renungkan.  Kita  uji  dengan firman Tuhan benarkah panggilan yang dulu itu, tegoran itu hanya kata seorang Pendeta? Hanya kata dia? Hanya kata sepenggal renungan? Atau Tuhan sudah pakai siapa pun, Tuhan sudah pakai apa pun untuk menegor kita? Untuk memanggil kita? Dapatkah pagi ini kita buka hati kita dan kita katakan “berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar”? Tuhan Yesus Memberkati.


JESUS BLESS
 

No comments:

Post a Comment