1 Korintus 13:4, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia
tidak cemburu. Ia tidak meme-gahkan diri dan tidak sombong.” Ayat 5, “Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan
tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan
kesalahan orang lain.” Ayat 6, “Ia
tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebe-naran.” Ayat 7, “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala
sesuatu, mengharapkan sega-la sesuatu, sabar menanggung segala sesua-tu.”
Ayat 8a, “kasih tidak berkesudahan”. Amin!
Tuhan Yesus adalah teladan sempurna dari kasih yang digambarkan dalam 1 Korintus
13, dengan melihat teladan-Nya kita menyadari bahwa kita anak yang dikasihi
& kita belajar untuk membalas kasih-Nya, mela-lui keluarga dimana kita sudah ditempatkan.
Adakah kita Sabar?
Murah hati? Penuh kasih? Sehingga suka cita dalam keluarga boleh dipulihkan
& kita rasakan? Amin. Semangat untuk mengasihi keluarga & sesama.
Respon 1
Syalom. Amin. “TUHAN
adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab
itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.” (Mazmur
28:7). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas Tuhan memberkati Ibu dan keluarga.
Respon 2
Aku tidak akan
melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah.
(Mazmur 89:35). Dia yang berjanji adalah setia, tetap percaya!
Respon 3
Selasa, 11 Maret 2014. Bacaan: Efesus 5:15-21. Setahun: Ulangan
29-31. Nats: Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup,
janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif (Efesus 5:15). BUKAN
MONOPOLI. Seandainya hidup itu sebuah permainan monopoli tentu enak. Dalam
waktu singkat, kita dapat memiliki banyak uang, tanah, rumah, dan hotel.
Nyatanya, hidup tidak bisa seperti itu. Hidup berjalan bukan tergantung pada
angka dadu yang muncul. Hidup itu harus direncanakan, dijalani dengan
hati-hati, dan dievaluasi dengan tekun. Alkitab memandang masa hidup sebagai
pemberian Tuhan, yang kita terima karena anugerah-Nya. Dalam Efesus 5:15-16,
Paulus menegaskan, sebagai anak-anak terang (ayat 1-14) semestinya kita tidak
menjalani hidup dengan sembrono seperti orang yang tidak bijaksana, melainkan
hidup dengan benar dan baik secara konsisten. Untuk itu, kita perlu
mengevaluasi pengguna-an masa hidup yang kita lalui. Socrates, seorang filsuf Yunani,
berkata, “Hidup yang tidak pernah dievaluasi adalah hidup yang tidak layak
dihidupi.” Masalahnya, di dunia yang penuh kesibukan ini, kita kerap merasa
tidak punya kesempatan untuk rehat sebentar dan mulai memikirkan dengan sungguh-sungguh:
“Apakah yang menjadi prioritas saya?”; “Apakah tujuan Tuhan mengarunia-kan
hidup ini kepada saya?”; "Sudahkah yang saya kerjakan menyenangkan
hati-Nya?” Sebagai anak terang, kita bukan semata-mata berusaha meraih
pencapaian yang dianggap membanggakan, namun rindu untuk semakin mengenal Tuhan
dalam setiap bagian dari hidup kita. Kita rindu agar hidup yang sedang kita
jalani ini bukan kesia-siaan untuk pemuasan nafsu duniawi, melainkan merupa-kan
pelayanan yang memuliakan Tuhan. -- Dewi Kurnianingsih. Menyia-nyiakan waktu
berarti mendukakan sang pemberi waktu
Respon 4
RENUNGAN PAGI. Selasa,
11 Maret 2014. Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah
dinyatakan kepadanya. Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga
kalinya. Iapun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: “Ya, bapa,
bukankah bapa memanggil aku?” Lalu mengertilah Eli, bahwa Tuhanlah yang
memanggil anak itu. Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: “Pergilah tidur dan
apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini
mendengar.” Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya. (1 Samuel
3:7-9). Hari ini atau mungkin kemarin atau bahkan dulu mungkin Tuhan pernah
memanggil kita dan mungkin saat itu kita belum mengerti. Mungkin kita katakana
“Ah itu kan kata Pendeta”, “Ah itu kan kata dia”. Dan sampai saat ini kita pun
masih sama seperti dahulu. Coba mari kita renungkan.
Kita uji dengan firman Tuhan
benarkah panggilan yang dulu itu, tegoran itu hanya kata seorang Pendeta? Hanya
kata dia? Hanya kata sepenggal renungan? Atau Tuhan sudah pakai siapa pun,
Tuhan sudah pakai apa pun untuk menegor kita? Untuk memanggil kita? Dapatkah
pagi ini kita buka hati kita dan kita katakan “berbicaralah, Tuhan, sebab
hamba-Mu ini mendengar”? Tuhan Yesus Memberkati.
JESUS BLESS
No comments:
Post a Comment