Saturday, 20 January 2018

20 Januari 2018

#DIRECTION






Hari: Sabtu, 20 Jan 2018
#DIRECTIONSERIES
Benih yang Ditabur

Seperti Tuhan Yesus, kita juga harus menaburkan benih yang baik kapan dan di mana saja. Tuhan saja yang mengatur di mana benih itu akan jatuh dan bagaimana pertumbuhannya. Yang penting adalah kita menabur. Tuhan tidak menginginkan kita menuai kehancuran, jadi Dia ingin kita menaburkan yang baik dan benar (Ams. 11:18).

Rasul Paulus menguraikan perumpamaan tersebut ketika ia memperingatkan orang percaya untuk tidak menaburkan benih kebinasaan. Sebaliknya, kita harus menabur benih yang akan menghasilkan tuaian hidup yang kekal (Gal. 6:8).

 “Apa yang kamu tabur?
 “Taburlah yang ingin kita tuai.”Untuk menuai buah yang baik dalam hidupmu, mulailah dengan menaburkan benih-benih kebaikan. Amin.

Benih ditanam, buah dituai; hidup yang ditabur bagi sesama akan menuai buah yang kekal.

Amsal 11:18b (TB), “tetapi siapa MENABUR  kebenaran, mendapat pahala yang tetap.” Amin.

Yang menabur gagasan, akan menuai perbuatan;
Yang menabur perbuatan, akan menuai kebiasaan;
Yang menabur kebiasaan, akan menuai karakter;
Yang menabur karakter, akan menuai masa depan —NN.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#DirectionSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini: 
PL: Kejadian 49-50 dan Mazmur 8
PB: -

#LoveGod
#lovepeople
#lovethebible
#IM Favored
#HappyWeekend
#HappyWithUrFam

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 20 Januari 2018. JANGAN MENGERASKAN HATI. Amsal 28:1-14. Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka (Amsal 28:14). Lima anak muda mendaki gunung. Setelah hampir tiga jam, mereka sadar bahwa mereka salah jalan. Situasi rute yang mereka tempuh tidak sesuai dengan gambaran yang disebutkan dalam panduan. “Kita kembali”, mereka bersepakat, dan segera turun ke base camp. “Beruntung kalian menyadari kekeliruan kalian”, kata petugas di sana. “Rute tadi menuju area longsor yang belum stabil. Sangat berbahaya.” Boleh jadi, kita punya pengalaman serupa: Beberapa saat setelah suatu tindakan kita mulai, kita melihat tanda bahwa tindakan kita keliru atau akan keliru, dan kita segera “kembali ke base camp”. Tetapi, orang bisa bersikap lain. Meski tahu bahwa langkahnya salah atau akan salah, orang tetap melanjutkan langkahnya yang salah. Orang tahu bahwa menyuap itu salah. Namun tetap saja, orang menyuap. Orang tahu ketidaksetiaan menghancurkan keluarga, terutama anak-anak. Namun tetap saja, orang mempermainkan kesetiaan. Mengeraskan hati adalah dengan sadar mengabaikan semua tanda yang dilihat dan dimengerti, dan bersikukuh melanjutkan langkah meski tahu langkah itu salah. Amsal 28:14 mengingatkan, mengeraskan hati hanya akan menyeret kita kepada malapetaka. Menyadari bahwa sesuatu salah atau akan salah adalah cara Tuhan untuk mengingatkan kita, untuk menghindarkan kita dari hal-hal buruk. Mengeraskan hati terhadap kesadaran itu, dan bersikukuh untuk berjalan pada arah yang kita tahu kita salah, adalah mencelakakan diri, dan merendahkan kebaikan Tuhan. Saya kira, kita tidak menginginkan itu. MENYADARI BAHWA SESUATU SALAH ATAU AKAN SALAH ADALAH CARA TUHAN UNTUK MEMBERI PENCERAHAN, DAN MENJAUHKAN KITA DARI HAL-HAL BURUK. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Kejadian 49-50 dan Mazmur 8.

Bp. Anto - Citraland
RENUNGAN PAGI:
Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat, ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya; “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya” (Lukas 11:1).

Sepertinya agak janggal, kok murid-murid Tuhan meminta Tuhan mengajarkan mereka berdoa, apakah mereka belum bisa berdoa? Atau doa mereka salah? Menurut tradisi Yahudi, berdoa sudah menjadi bagian hidup mereka sejak kecil, mereka melakukannya hari demi hari.
Dalam buku, “Tuhan, ajarlah kami berdoa”, ada ungkapan yang mengatakan bahwa begitu anak-anak Yahudi mulai bisa berbicara, mereka telah bisa berdoa dan ketika menghembuskan nafas terakhirpun, kata-kata terakhir mereka adalah sebuah doa.

Namun ada makna dalam permohonan, Tuhan ajarlah kami berdoa. Menunjukkan bahwa masih ada orang-orang yang percaya akan kegunaan atau faedah doa, walaupun banyak juga yang berpikir bahwa doa tidak mengubah apa-apa. Orang yang tidak mempercayai manfaat doa adalah orang yang sangat malang, karena mereka hanya bisa bergantung kepada kemampuan otak atau ototnya, tidak berkuasa berbuat apa-apa lagi, begitu otak dan ototnya keok tak berdaya.

Juga menyiratkan pengakuan bahwa setiap orang perlu terus-menerus belajar dan diajar berdoa, belajar bagaimana berdoa dengan benar. Berdoa itu seperti berkomunikasi atau berbicara dan untuk berkomunikasi dengan baik dan benar, orang harus belajar terus-menerus seumur hidup, tak seorangpun dilahirkan jebrol sebagai orator. Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment