Saturday, 31 October 2015

Prakata

Prakata

            “Uang itu punya sayap, jangan pernah dipegang erat-erat. Itu ada tertulis di Kitab Amsal (baca Amsal 23:5),” ucap seorang pria berbadan gemuk dan agak tua seraya tertawa, mengajarkan saya bagaimana seharusnya kita memperlakukan mamon dalam hidup kita. Ya, pria berbadan gemuk tersebut adalah Pak Tjoek Handojo.
            Saya teringat ketika pertama kali saya bekerja, saya ada di bawah bimbingan Bp. Tjoek Handojo, beliau adalah manager saya kala itu. Bukan hanya belajar banyak dari beliau, tapi saya juga belajar banyak dari istrinya yang luar biasa, yang kebetulan berada ada di satu kantor, Ibu Siu Siang.
            Terkadang di waktu-waktu senggang, Pak Tjoek Handojo akan mengajarkan kebenaran-kebenaran firman Tuhan. Bukan berupa khotbah, namun perkataan-perkataan sederhana seperti yang saya ceritakan di atas. Saya sungguh bersyukur dapat mengenal dan belajar mengenai prinsip-prinsip keuangan, pekerjaan, pelayanan, kesetiaan dengan dasar firman Tuhan dari beliau.
            Ketika saya mendengar berita bahwa Pak Tjoek Handojo sakit, saya hanya sempat berkunjung satu hari, di hari Sabtu. Berikutnya, di hari Senin sungguh mengagetkan saya bahwa beliau sudah tiada. Saya merasakan imannya, hatinya untuk jiwa-jiwa, bayar harga beliau dan Ibu Siu Siang tidak akan pernah sia-sia. Waktu saya datang ke acara penghiburan terakhir di hari Jumat, saya melihat Pak Tjoek Handojo dalam sebuah video yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk ditayangkan pada acara Komsel Day (kalau tidak salah ingat) di hari Sabtu, namun Tuhan punya rencana lain. Pak Tjoek Handojo telah berpulang terlebih dahulu. Kesedihan pasti ada ketika melihat video tersebut, namun disaat yang sama mimpi dan  pengharapan juga muncul. Menonton video tersebut, membuat saya bermimpi. Bermimpi suatu saat bila saya sudah tidak muda lagi, saya ingin seperti Bapak ini di hadapan Tuhan. Menjadi seperti yang Tuhan mau dan bukan yang dunia mau. Saya bermimpi untuk menjadi pasangan seperti Pak Tjoek Handojo & Ibu Siu Siang, yang selalu melayani jiwa-jiwa dengan sepenuh hati.
            Sekalipun Pak Tjoek Handojo sudah tiada, saya percaya iman dan kasih yang beliau tinggalkan turun ke anak-anaknya, sekali lagi tidak ada yang sia-sia di dalam Kerajaan Allah.
            Selamat tinggal Pak Tjoek Handojo. Selamat tinggal Mentor yang dikasihi Allah. Kini engkau di sisi Allah, hidup bahagia tanpa ada air mata di dalamnya.
            “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Tim 4:7).


                                                                        Regards,

                                                                        Lionita Lianel

No comments:

Post a Comment