Prakata
“Uang itu punya sayap, jangan pernah
dipegang erat-erat. Itu ada tertulis di Kitab Amsal (baca Amsal 23:5),” ucap
seorang pria berbadan gemuk dan agak tua seraya tertawa, mengajarkan saya
bagaimana seharusnya kita memperlakukan mamon dalam hidup kita. Ya, pria
berbadan gemuk tersebut adalah Pak Tjoek Handojo.
Saya teringat ketika pertama kali
saya bekerja, saya ada di bawah bimbingan Bp. Tjoek Handojo, beliau adalah
manager saya kala itu. Bukan hanya belajar banyak dari beliau, tapi saya juga
belajar banyak dari istrinya yang luar biasa, yang kebetulan berada ada di satu
kantor, Ibu Siu Siang.
Terkadang di waktu-waktu senggang,
Pak Tjoek Handojo akan mengajarkan kebenaran-kebenaran firman Tuhan. Bukan
berupa khotbah, namun perkataan-perkataan sederhana seperti yang saya ceritakan
di atas. Saya sungguh bersyukur dapat mengenal dan belajar mengenai
prinsip-prinsip keuangan, pekerjaan, pelayanan, kesetiaan dengan dasar firman
Tuhan dari beliau.
Ketika saya mendengar berita bahwa
Pak Tjoek Handojo sakit, saya hanya sempat berkunjung satu hari, di hari Sabtu.
Berikutnya, di hari Senin sungguh mengagetkan saya bahwa beliau sudah tiada.
Saya merasakan imannya, hatinya untuk jiwa-jiwa, bayar harga beliau dan Ibu Siu
Siang tidak akan pernah sia-sia. Waktu saya datang ke acara penghiburan
terakhir di hari Jumat, saya melihat Pak Tjoek Handojo dalam sebuah video yang
telah dipersiapkan sebelumnya untuk ditayangkan pada acara Komsel Day (kalau
tidak salah ingat) di hari Sabtu, namun Tuhan punya rencana lain. Pak Tjoek
Handojo telah berpulang terlebih dahulu. Kesedihan pasti ada ketika melihat
video tersebut, namun disaat yang sama mimpi dan pengharapan juga muncul. Menonton video
tersebut, membuat saya bermimpi. Bermimpi suatu saat bila saya sudah tidak muda
lagi, saya ingin seperti Bapak ini di hadapan Tuhan. Menjadi seperti yang Tuhan
mau dan bukan yang dunia mau. Saya bermimpi untuk menjadi pasangan seperti Pak
Tjoek Handojo & Ibu Siu Siang, yang selalu melayani jiwa-jiwa dengan
sepenuh hati.
Sekalipun Pak Tjoek Handojo sudah
tiada, saya percaya iman dan kasih yang beliau tinggalkan turun ke
anak-anaknya, sekali lagi tidak ada yang sia-sia di dalam Kerajaan Allah.
Selamat tinggal Pak Tjoek Handojo.
Selamat tinggal Mentor yang dikasihi Allah. Kini engkau di sisi Allah, hidup
bahagia tanpa ada air mata di dalamnya.
“Aku telah mengakhiri pertandingan
yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2
Tim 4:7).
Regards,
Lionita
Lianel
No comments:
Post a Comment