NO ISOLATION
Yohanes 17:20-21, “20Dan
bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang
percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 21supaya mereka semua
menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam
Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah
yang telah mengutus Aku.” Komunitas Sel adalah Sekolah Kehidupan,
bukan saja tempat kita mempraktekkan kata ‘saling’ tetapi juga wadah dimana kita
bisa bersaksi/sharing pengalaman hidup kita masing-masing. Bergabunglah dalam
Komunitas Sel yang terdekat dengan rumah saudara, jadikan Komsel tempat
bertumbuh bersama, melayani & menyaksikan kebaikan Tuhan dalam setiap aspek
hidup kita! Miliki kerinduan untuk tertanam, bertumbuh & berbuah dalam
Sekolah Kehidupan/Komsel. Amin.
Respon 1
Pencobaan-pencobaan
yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan
manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU DICOBAI
melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai IA AKAN MEMBERIKAN KEPADAMU JALAN
KE LUAR, SEHINGGA KAMU DAPAT MENANGGUNGNYA (1 Korintus 10:13). Tuhan tidak
memberi pencobaan, tetapi jalan keluar dan kekuatan untuk menanggungnya. (GNCC)
Respon 2
“Melangkah dengan
ringan menyingkirkan banyak hambatan.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
Yohanes 17:20-21
Tuhan Yesus berdoa supaya kita menjadi satu... Masing-masing individu punya
kepribadian berbeda, kebiasaan berbeda, jalan berpikir yang berbeda, semua pasti
tidak ada yang sama dan untuk dibuat menjadi SATU itu susah banget. Tapi Tuhan
ingin kita anak-anakNya ini menjadi satu. Prakteknya ya lewat keluarga, komsel.
Dalam kehidupan berkeluarga dan berkomsel. Kita belajar untuk bisa mendengar,
bisa menghargai pendapat orang lain, bisa mengerti perasaan orang lain, belajar
rendah hati, belajar mengasihi dll. Di dalam keluarga dan komsel kita diajar
untuk memiliki kesatuan hati. Meski kadang ada konflik tapi kita belajar untuk
menyelesaikannya dengan baik dan ketika konflik itu berhasil diselesaikan kita
akan semakin solid. Keluarga dan komsel adalah tempat belajar yang sangat baik
untuk bisa mewujudkan keinginan Tuhan, yaitu kita semua menjadi SATU. (Ibu Rita
– PKS CL 8)
Respon 4
Bertumbuh dan
Berbuah. 1 Tesalonika 1:1-10. Setiap orang yang menanam pohon pasti
mengharapkan pohon itu bertumbuh dengan sehat, yang pada akhirnya berbuah
sehingga bisa menikmatinya. Inilah yang rasul Paulus dengar dan saksikan dari
jemaat di Tesalonika, yang bukan hanya berakar tetapi juga bertumbuh dan
berbuah. Ia bersyukur kepada Allah dan ia selalu menyebut mereka dalam doanya.
Mengapa Paulus berbuat demikian? Sebab jemaat di Tesalonika telah menjadi
jemaat yang sehat dan bertumbuh. Iman mereka terus menghasilkan perbuatan baik,
kasih mereka terwujud secara nyata dan mereka terus bertekun dalam pengharapan
akan kedatangan Kristus yang kedua kali. Hal menunjukkan bahwa mereka
sungguh-sungguh umat pilihan Tuhan dan Tuhan mengasihi mereka (4). Mereka
menjadi umat pilihan-Nya karena menerima Injil yang disampaikan Paulus. Bukan
dengan kata-kata hikmat, kefasihan lidah, kecakapan, kemampuan, dan kharisma
seseorang, tetapi dengan kuasa Roh Kudus yang turut bekerja di dalam hati para
pendengar. Respons jemaat di Tesalonika luar biasa, yaitu mereka menerima Injil
dengan sukacita, meskipun dalam penindasan yang berat (lih. Kis 17:1-9). Injil
bukan hanya mengubah hidup mereka dari penyembah berhala menjadi pelayan Allah
yang hidup dan benar, melainkan membuat mereka menjadi jemaat yang taat (6),
bertumbuh dan berbuah (8-9), penuh kasih (9) dan pengharapan akan kedatangan
Kristus kembali (10). Hal-hal ini telah menjadi teladan dan kesaksian bagi
jemaat-jemaat lain di sekitar mereka (7-9), sehingga di mana-mana orang-orang
membicarakan tentang iman dan perbuatan mereka dalam menyambut Tuhan Yesus.
Bagaimana dengan kita? Apakah iman kita bertumbuh, kasih kita nyata dengan
melayani sesama, pengharapan kita teguh dan hidup kita menghasilkan buah yang
menjadi berkat bagi sesama? Marilah kita menjadi umat pilihan yang demikian,
agar melalui kehadiran kita orang lain senantiasa bersyukur kepada Allah dan
mendapatkan berkat. (Bp. Budi – PT. MPU)
Respon 5
Salah satu hal yang
paling disalahmengerti oleh dunia maupun anak-anak Tuhan ialah bagaimana
memandang kekayaan (materi) dalam suatu perspektif yang tepat -sebagaimana
Allah memandangnya. Pandangan-pandangan yang keliru telah menyesatkan
sedemikian banyak orang menjauh dari Tuhan & mendedikasikan hidupnya demi
tujuan-tujuan bendawi semata. Tak terhitung pula anak-anak Tuhan yang
menyimpang dari iman sejati sebab hatinya terikat pada harta dunia lebih
daripada khazanah sorga. Tidak bisa dipungkiri, bagi mereka yang kaya, harta
mereka bagaikan kota berkubu yang kuat, bagaikan tembok pelindung yang tinggi (Ams.
10:15;18:11). Tidak heran jika kemudian kekayaan menjadi sesuatu yang
diandalkan; sesuatu yang menjadi sandaran & tempat bergantung dalam hidup.
Di titik ini, kekayaan bisa berarti segalanya yang diperlukan dalam hidup,
menggantikan posisi Tuhan sendiri. Itulah sebabnya begitu banyak orang yang
mengabdikan hampir seluruh hidupnya demi memiliki harta sebanyak-banyaknya.
Demi memperoleh jaminan hidup. Meski demikian, kota yang kuat & tembok yang
tinggi bukan berarti kota yang tak terkalahkan & benteng yang tak dapat
roboh. Jelas dinyatakan pula dalam Amsal “mereka yang mempercayakan diri pada
kekayaan akan jatuh” (11:28). Mereka yang ingin cepat kaya akan dihukum
(28:20). Dan “tiada perlu bersusah payah untuk menjadi kaya” (23:4). Sebab dari
Tuhanlah kekayaan itu datang (10:22). Demikian pula, ada yang lebih baik
daripada menjadi kaya, yaitu memiliki nama baik & dikasihi orang
(22:1;28:6). Meski kekayaan lebih baik dari kemiskinan namun kerinduan Tuhan
ialah kita hidup dalam kebenaran-kebenaran abadi & bagi kemuliaan-Nya. Dia
ingin melihat kita ‘bersusah payah’ mengejar perkara-perkara di atas seperti
mengejar harta (Ams. 2:1-4). Dan jika kita beroleh hikmat ilahi itu maka akan
dianugerahkan-Nya segala kekayaan, kehormatan & segala kebahagiaan dalam
hidup (3:13-18) yang jauh lebih baik daripada sekedar menjadi kaya. Jadi
rindukah Anda menjadi kaya dalam perkara-perkara sorgawi lebih daripada secara
duniawi? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment