Tuesday, 6 October 2015

6 Oktober 2015

NO ISOLATION




Yohanes 17:20-21, 20Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 21supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Komunitas Sel adalah Sekolah Kehidupan, bukan saja tempat kita mempraktekkan kata ‘saling’ tetapi juga wadah dimana kita bisa bersaksi/sharing pengalaman hidup kita masing-masing. Bergabunglah dalam Komunitas Sel yang terdekat dengan rumah saudara, jadikan Komsel tempat bertumbuh bersama, melayani & menyaksikan kebaikan Tuhan dalam setiap aspek hidup kita! Miliki kerinduan untuk tertanam, bertumbuh & berbuah dalam Sekolah Kehidupan/Komsel. Amin.

Respon 1
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU DICOBAI melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai IA AKAN MEMBERIKAN KEPADAMU JALAN KE LUAR, SEHINGGA KAMU DAPAT MENANGGUNGNYA (1 Korintus 10:13). Tuhan tidak memberi pencobaan, tetapi jalan keluar dan kekuatan untuk menanggungnya. (GNCC)

Respon 2
“Melangkah dengan ringan menyingkirkan banyak hambatan.” Xavier Quentin Pranata.


Respon 3
Yohanes 17:20-21 Tuhan Yesus berdoa supaya kita menjadi satu... Masing-masing individu punya kepribadian berbeda, kebiasaan berbeda, jalan berpikir yang berbeda, semua pasti tidak ada yang sama dan untuk dibuat menjadi SATU itu susah banget. Tapi Tuhan ingin kita anak-anakNya ini menjadi satu. Prakteknya ya lewat keluarga, komsel. Dalam kehidupan berkeluarga dan berkomsel. Kita belajar untuk bisa mendengar, bisa menghargai pendapat orang lain, bisa mengerti perasaan orang lain, belajar rendah hati, belajar mengasihi dll. Di dalam keluarga dan komsel kita diajar untuk memiliki kesatuan hati. Meski kadang ada konflik tapi kita belajar untuk menyelesaikannya dengan baik dan ketika konflik itu berhasil diselesaikan kita akan semakin solid. Keluarga dan komsel adalah tempat belajar yang sangat baik untuk bisa mewujudkan keinginan Tuhan, yaitu kita semua menjadi SATU. (Ibu Rita – PKS CL 8)

Respon 4
Bertumbuh dan Berbuah. 1 Tesalonika 1:1-10. Setiap orang yang menanam pohon pasti mengharapkan pohon itu bertumbuh dengan sehat, yang pada akhirnya berbuah sehingga bisa menikmatinya. Inilah yang rasul Paulus dengar dan saksikan dari jemaat di Tesalonika, yang bukan hanya berakar tetapi juga bertumbuh dan berbuah. Ia bersyukur kepada Allah dan ia selalu menyebut mereka dalam doanya. Mengapa Paulus berbuat demikian? Sebab jemaat di Tesalonika telah menjadi jemaat yang sehat dan bertumbuh. Iman mereka terus menghasilkan perbuatan baik, kasih mereka terwujud secara nyata dan mereka terus bertekun dalam pengharapan akan kedatangan Kristus yang kedua kali. Hal menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh umat pilihan Tuhan dan Tuhan mengasihi mereka (4). Mereka menjadi umat pilihan-Nya karena menerima Injil yang disampaikan Paulus. Bukan dengan kata-kata hikmat, kefasihan lidah, kecakapan, kemampuan, dan kharisma seseorang, tetapi dengan kuasa Roh Kudus yang turut bekerja di dalam hati para pendengar. Respons jemaat di Tesalonika luar biasa, yaitu mereka menerima Injil dengan sukacita, meskipun dalam penindasan yang berat (lih. Kis 17:1-9). Injil bukan hanya mengubah hidup mereka dari penyembah berhala menjadi pelayan Allah yang hidup dan benar, melainkan membuat mereka menjadi jemaat yang taat (6), bertumbuh dan berbuah (8-9), penuh kasih (9) dan pengharapan akan kedatangan Kristus kembali (10). Hal-hal ini telah menjadi teladan dan kesaksian bagi jemaat-jemaat lain di sekitar mereka (7-9), sehingga di mana-mana orang-orang membicarakan tentang iman dan perbuatan mereka dalam menyambut Tuhan Yesus. Bagaimana dengan kita? Apakah iman kita bertumbuh, kasih kita nyata dengan melayani sesama, pengharapan kita teguh dan hidup kita menghasilkan buah yang menjadi berkat bagi sesama? Marilah kita menjadi umat pilihan yang demikian, agar melalui kehadiran kita orang lain senantiasa bersyukur kepada Allah dan mendapatkan berkat. (Bp. Budi – PT. MPU)

Respon 5
Salah satu hal yang paling disalahmengerti oleh dunia maupun anak-anak Tuhan ialah bagaimana memandang kekayaan (materi) dalam suatu perspektif yang tepat -sebagaimana Allah memandangnya. Pandangan-pandangan yang keliru telah menyesatkan sedemikian banyak orang menjauh dari Tuhan & mendedikasikan hidupnya demi tujuan-tujuan bendawi semata. Tak terhitung pula anak-anak Tuhan yang menyimpang dari iman sejati sebab hatinya terikat pada harta dunia lebih daripada khazanah sorga. Tidak bisa dipungkiri, bagi mereka yang kaya, harta mereka bagaikan kota berkubu yang kuat, bagaikan tembok pelindung yang tinggi (Ams. 10:15;18:11). Tidak heran jika kemudian kekayaan menjadi sesuatu yang diandalkan; sesuatu yang menjadi sandaran & tempat bergantung dalam hidup. Di titik ini, kekayaan bisa berarti segalanya yang diperlukan dalam hidup, menggantikan posisi Tuhan sendiri. Itulah sebabnya begitu banyak orang yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya demi memiliki harta sebanyak-banyaknya. Demi memperoleh jaminan hidup. Meski demikian, kota yang kuat & tembok yang tinggi bukan berarti kota yang tak terkalahkan & benteng yang tak dapat roboh. Jelas dinyatakan pula dalam Amsal “mereka yang mempercayakan diri pada kekayaan akan jatuh” (11:28). Mereka yang ingin cepat kaya akan dihukum (28:20). Dan “tiada perlu bersusah payah untuk menjadi kaya” (23:4). Sebab dari Tuhanlah kekayaan itu datang (10:22). Demikian pula, ada yang lebih baik daripada menjadi kaya, yaitu memiliki nama baik & dikasihi orang (22:1;28:6). Meski kekayaan lebih baik dari kemiskinan namun kerinduan Tuhan ialah kita hidup dalam kebenaran-kebenaran abadi & bagi kemuliaan-Nya. Dia ingin melihat kita ‘bersusah payah’ mengejar perkara-perkara di atas seperti mengejar harta (Ams. 2:1-4). Dan jika kita beroleh hikmat ilahi itu maka akan dianugerahkan-Nya segala kekayaan, kehormatan & segala kebahagiaan dalam hidup (3:13-18) yang jauh lebih baik daripada sekedar menjadi kaya. Jadi rindukah Anda menjadi kaya dalam perkara-perkara sorgawi lebih daripada secara duniawi? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment