Sunday, 11 October 2015

11 Oktober 2015

NO ISOLATION




Matius 9:10, “Kemudian ketika Yesus ‘makan’ di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.” Sikap ramah dan bersahabat sangat diperlukan dalam kehidupan kita. Belajar seperti apa yang Tuhan lakukan saat duduk ‘makan di rumah Matius’, banyak pemungut cukai dan orang berdosa yang duduk makan bersama DIA. Berarti disaat duduk bersama-sama dengan teman-teman kita maupun saudara-saudara kita yang lain, tunjukkan sikap ramah & bersahabat. Bahkan bangun hubungan lebih lagi dengan mereka ‘bersaksi’ tentang kasih Tuhan dsbnya. Sehingga kita bisa menjangkau mereka untuk percaya & menerima Tuhan sebagai JuruselamatNya. Amin.

Respon 1
Mereka yang sungguh-sungguh mencari Tuhan mendapat janji dari Tuhan sendiri bahwa mereka akan berjumpa dengan Tuhan. “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku,” (Yer. 29:13-14a). Jika hati kita tulus, seperti Kornelius (Kisah 10), Tuhan memiliki banyak cara (yang tidak kita ketahui) untuk menarik kita kepada-Nya. Anda cukup memulainya dengan memanjatkan doa pribadi dari lubuk hati terdalam untuk mengenal Dia & mengalami perjumpaan pribadi dengan Dia dengan segala kesungguhan. Dalam 2 Tawarikh 34, kita membaca tentang Yosia, salah satu raja Yehuda yang terkenal karena kebangunan rohaninya. Di usia 16 tahun (setara pelajar SMA kelas 1), ia telah mencari Tuhan dari bapa leluhurnya, Daud. Dalam waktu 4 tahun saja (usia 20 tahun), ia mulai menghapuskan penyembahan berhala -dewa-dewi apapun- yang disembah di seluruh Yehuda bahkan di kota-kota yang dulunya bagian dari kerajaan 10 suku Israel yang telah ditinggalkan penduduknya setelah ditawan oleh bangsa Asyur. Yang perlu kita garisbawahi ialah bahwa dalam masa 4 tahun saja, Yosia tahu siapa Allahnya. Ia telah mengenalnya dengan baik sehingga bisa membedakan mana Allah yang sejati & yang manakah berhala-berhala itu. Tidak ada keraguan mengenai itu sehingga dengan berani ia membersihkan bangsanya dari penyembahan berhala. Dari sanalah kemudian dimulai suatu masa kasih karunia, pemulihan & kebangunan rohani besar sekitar 11 tahun lamanya. Yosia gugur dalam perang pada usia muda (39 tahun). Tapi hidupnya tidak pernah sia-sia karena telah mencari Allah & ia menemukan (atau tepatnya ditemukan) Tuhan sejati. Setelah bertahun-tahun, adakah Anda masih meraba-raba akan keberadaan Tuhan? Masih samar-samarkah pribadi-Nya bagi Anda? Mungkinkah itu karena satu dua jam saja di tempat ibadah, dengan setengah hati tertuju pada Tuhan? Jadi, maukah Anda mencari Dia dengan segenap hati demi suatu perjumpaan & persahabatan terindah dengan sang penguasa jagad raya itu? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 2
SAAT TEDUH. Minggu, 11 Oktober 2015. Merawat Hati. Sebab pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya (1 Raja-Raja 11:4). Merawat sesuatu biasanya tidak mudah, seperti dialami kolektor tanaman hias langka berharga mahal. Begitu sayang kepada tanamannya, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk merawatnya. Membersihkan daun, menyirami, memberikan pupuk, bahkan mengamati dengan teliti setiap lembar daun kalau-kalau ada hama, dilakukannya dengan tekun. “Tanaman-tanaman ini begitu berharga, sedikit saja kita lalai, tanaman itu bisa rusak!” ujarnya. Hati yang semula tulus tidak dijamin akan tulus terus seumur hidup bila tidak dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Merawat hati memerlukan ketegasan untuk hidup berdasarkan prinsip firman Tuhan. Salomo mungkin merasa yakin bahwa imannya tak akan goyah bila ia bergaul dan menikahi perempuan kafir. Bahkan, Salomo mungkin juga yakin bahwa dirinya yang akan memengaruhi istri-istrinya. Ternyata, ia keliru! Istri-istrinyalah yang memengaruhi dirinya. Salomo tidak sanggup mempertahankan ketulusan hatinya. Hatinya mulai condong kepada ilah lain setelah ia menjadi tua. Ia jatuh dalam dosa karena mengabaikan petunjuk Tuhan (Kel. 34:16; Ul. 7:3-4). Firman Tuhan adalah terang dan pelita yang akan menerangi hati dan langkah kita. Tindakan mengabaikan firman-Nya adalah celah bagi Iblis untuk mencondongkan hati kita kepada dosa. Marilah membuang jauh-jauh pikiran bahwa diri kita begitu kuat dan kebal terhadap pengaruh dosa. Kehadiran firman Tuhan setiap harilah yang mampu menjaga dan merawat hati kita tetap benar di hadapan-Nya —SYS. TANPA KOMITMEN UNTUK HIDUP MENURUT PRINSIP FIRMAN ALLAH, HATI KITA AKAN MUDAH TERGODA UNTUK MELAKUKAN KEJAHATAN. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:

Post a Comment