NO ISOLATION
Yohanes 17:20-23, “Dan
bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang
percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 21supaya mereka semua
menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam
Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah
yang telah mengutus Aku. 22Dan Aku telah memberikan kepada mereka
kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama
seperti Kita adalah satu: 23Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam
Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang
telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau
mengasihi Aku.” Tuhan Yesus tidak berdoa supaya pengikutNya ‘menjadi
satu’ tetapi agar mereka ‘SATU ADANYA’ (terus menerus bersatu). Yang
didoakan adalah Kesatuan Hati: tujuan, pikiran & kehendak
bagi mereka yang sungguh-sungguh mengabdi kepada Kristus. Demikian pula “kemuliaan”
para pengikutNya adalah kesediaan untuk menderita bagi Kristus yang akan
membawa kemuliaan sejati. Amin.
Respon 1
Pada suatu pesta
Golden Anniversary, si ibu tua menjawab pertanyaan... MC: Apakah Ibu merasa
suami Ibu ada kekurangannya? Si Ibu:
Sebanyak bintang di langit! Tidak sanggup menghitung semuanya! MC: Apakah
kebaikan suami Ibu juga banyak sekali? Si Ibu: Sedikit sekali! Bagaikan
matahari di langit! MC: Trus kenapa Ibu bisa hidup bersamanya setengah abad dan
tetap saling menyayangi? Si Ibu: Karena begitu matahari terbit, semua bintang
di langit jadi tidak kelihatan! “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi
kasih menutupi segala pelanggaran.” (Amsal 10:12). (GNCC)
Respon 2
“Pada akhirnya,
kebahagiaan bersamalah yang benar-benar bisa kita rasakan.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Jumat,
2 Oktober 2015. BELAS KASIHAN. Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang
banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai
makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka
pingsan di jalan (Matius 15:32). Salah satu kawan saya memiliki kebiasaan
memberi nasi bungkus kepada para tunawisma, pemulung, dan anak jalanan. Saya
bertanya apa yang mendorongnya berbuat demikian, ia menjawab karena belas
kasihan. Waktu kecil ia pernah jadi tunawisma dan pemulung. Ia tahu rasanya
lapar dan tak bisa makan seharian. Ia pernah terpaksa makan makanan yang
dibuang di tong sampah. Beruntung, ia kemudian diangkat anak oleh salah satu
saudaranya. Apa yang terjadi saat hati Yesus berbelaskasihan? Mukjizat terjadi!
Alkitab mencatat Yesus sering melakukan mukjizat karena terdorong belas
kasihan. Dia berbelaskasihan melihat orang banyak yang membutuhkan keselamatan
(Mat. 9:35-38). Dia berbelaskasihan melihat orang sakit (Mat. 14:14; Mat.
20:34; Mrk. 1:41), melihat orang kelaparan (ay. 32) sehingga Dia tidak mau
menyuruh mereka pulang dengan perut lapar, nanti mereka pingsan di jalan. Ya,
pada urusan perut pun Yesus peduli! Dia memastikan perut empat ribu orang ini
kenyang, barulah mereka disuruh pulang (ay. 39). Dia juga berbelaskasihan
melihat seorang janda menangis karena anak tunggalnya meninggal (Luk. 7:13).
Saat ini, solidaritas terasa menipis di tengah masyarakat. Masihkah kita
menangis atau sedih melihat kesusahan orang lain dan tergerak untuk
menolongnya? Atau, kita merasa biasa saja dan berlalu pergi tanpa berbuat
apa-apa? Marilah berbelaskasihan bukan hanya dalam ucapan, namun dalam tindakan
nyata. Jadilah perpanjangan tangan Tuhan untuk mengasihi —RTG. BELAS KASIHAN
MENGGERAKKAN ORANG UNTUK MENGASIHI DAN MENGULURKAN TANGAN PADA MEREKA YANG
MEMERLUKAN BANTUAN. Happy Friday. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam
Ossy)

No comments:
Post a Comment