Friday, 2 October 2015

2 Oktober 2015

NO ISOLATION




Yohanes 17:20-23, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 21supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. 22Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: 23Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Tuhan Yesus tidak berdoa supaya pengikutNya ‘menjadi satu’ tetapi agar mereka ‘SATU ADANYA’ (terus menerus bersatu). Yang didoakan adalah Kesatuan Hati: tujuan, pikiran & kehendak bagi mereka yang sungguh-sungguh mengabdi kepada Kristus. Demikian pula “kemuliaan” para pengikutNya adalah kesediaan untuk menderita bagi Kristus yang akan membawa kemuliaan sejati. Amin.

Respon 1
Pada suatu pesta Golden Anniversary, si ibu tua menjawab pertanyaan... MC: Apakah Ibu merasa suami Ibu ada kekurangannya? Si Ibu: Sebanyak bintang di langit! Tidak sanggup menghitung semuanya! MC: Apakah kebaikan suami Ibu juga banyak sekali? Si Ibu: Sedikit sekali! Bagaikan matahari di langit! MC: Trus kenapa Ibu bisa hidup bersamanya setengah abad dan tetap saling menyayangi? Si Ibu: Karena begitu matahari terbit, semua bintang di langit jadi tidak kelihatan! “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.” (Amsal 10:12). (GNCC)

Respon 2
“Pada akhirnya, kebahagiaan bersamalah yang benar-benar bisa kita rasakan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Jumat, 2 Oktober 2015. BELAS KASIHAN. Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan (Matius 15:32). Salah satu kawan saya memiliki kebiasaan memberi nasi bungkus kepada para tunawisma, pemulung, dan anak jalanan. Saya bertanya apa yang mendorongnya berbuat demikian, ia menjawab karena belas kasihan. Waktu kecil ia pernah jadi tunawisma dan pemulung. Ia tahu rasanya lapar dan tak bisa makan seharian. Ia pernah terpaksa makan makanan yang dibuang di tong sampah. Beruntung, ia kemudian diangkat anak oleh salah satu saudaranya. Apa yang terjadi saat hati Yesus berbelaskasihan? Mukjizat terjadi! Alkitab mencatat Yesus sering melakukan mukjizat karena terdorong belas kasihan. Dia berbelaskasihan melihat orang banyak yang membutuhkan keselamatan (Mat. 9:35-38). Dia berbelaskasihan melihat orang sakit (Mat. 14:14; Mat. 20:34; Mrk. 1:41), melihat orang kelaparan (ay. 32) sehingga Dia tidak mau menyuruh mereka pulang dengan perut lapar, nanti mereka pingsan di jalan. Ya, pada urusan perut pun Yesus peduli! Dia memastikan perut empat ribu orang ini kenyang, barulah mereka disuruh pulang (ay. 39). Dia juga berbelaskasihan melihat seorang janda menangis karena anak tunggalnya meninggal (Luk. 7:13). Saat ini, solidaritas terasa menipis di tengah masyarakat. Masihkah kita menangis atau sedih melihat kesusahan orang lain dan tergerak untuk menolongnya? Atau, kita merasa biasa saja dan berlalu pergi tanpa berbuat apa-apa? Marilah berbelaskasihan bukan hanya dalam ucapan, namun dalam tindakan nyata. Jadilah perpanjangan tangan Tuhan untuk mengasihi —RTG. BELAS KASIHAN MENGGERAKKAN ORANG UNTUK MENGASIHI DAN MENGULURKAN TANGAN PADA MEREKA YANG MEMERLUKAN BANTUAN. Happy Friday. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:

Post a Comment