NO ISOLATION
Mengapa Penting Berkomunitas? Pengkhotbah 4: 9-10, 12, “9Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. 10Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! 12Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” Amin. ‘Bertumbuh itu tidak bisa sendiri’, kalimat yang sering saya bagikan kepada saudara-saudara yang ada di komsel ya J. Artinya harus ada orang lain sebagai mentor bagi pertumbuhan spiritual kita J. Firman Tuhan juga sangat jelas: “Berdua itu lebih baik daripada seorang diri.” Oleh karena itu kita perlu tertanam dalam Komunitas Sel J. Dalam Komsel Gabungan semalam, Citraland 1-8, secara pribadi saya sangat diberkati: sharing yang dibagikan tidak hanya tentang seri Billionares, tetapi ada banyak kesaksian bahwa kita semua BISA BERTUMBUH itu karena kita semua punya saudara-saudara seiman yang mendukung. (1) Kesaksian Eddy Zhu (pendatang dari Palembang/Komsel CL5). Saat menanti kelahiran putra yang ke 3 di tanggal 17 September yang lalu, tidak punya keluarga yang ada di Surabaya atau perantau: sangat diberkati karena ada keluarga rohani yang mendampingi J. (2) Kesaksian Ibu Titik/CL3. Melalui Komsel beliau belajar berdoa, belajar membaca Firman bahkan punya saudara-saudara yang senantiasa mensupport J. (3) Kesaksian Ibu Maria Betty (Maumere). Jemaat baru, 2 bulan bergabung di Komsel CL8, sangat diberkati melalui Komsel: “Mengalami Pertumbuhan”, bahkan bisa mengerti arti membawa Persembahan Persepuluhan bagi Tuhan (melalui sharing dengan saudara-saudara seiman). Amin. Masihkah kita ragu dengan Berkomunitas Sel/bertumbuh & bersekutu bersama-sama dalam spiritual kita?? Pilihan ada di tangan Saudara.. J
Respon 1
Amen. Thank you
Cik. Gbu. Benar Cik, lewat komsel kami di sini bertumbuh bersama yang awalnya
cuma 4 orang, sekarang sudah 30 orang, bahkan gereja-gereja yang lain mengikuti
gaya-gaya kami berkomsel, luarbiasa saya sangat diberkati lewat angota komsel
yang tadinya nggak bisa apa-apa, sekarang mereka mulai terlibat dalam
pelayanan, cara pikir cara pandang mereka diubahkan Tuhan. (Ibu Erna – Malinau)
Respon 2
Terima kasih Bapa
dan kami tahu bahwa keluarga menjadi yang utama bagiMu Bapa. Terima kasih untuk
setiap keluarga yang harmonis. Segala kuasa yang mencoba menguasai keluarga
kami, kami bersatu hati kami tolak patahkan hanya in Your name Lord. Ada
benteng-Mu yang terus memagari keluarga kami. Rumah tangga, usaha dan pelayanan
setiap kami dan suami diberkati. Apapun yang kami lakukan berkelimpahan. Dalam
nama Yesus. Amin. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 3
JANGAN MENDAYUNG.
Bacaan: Efesus 3:14-21. NATS: Supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya,
menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu (Efesus 3:16).
Selama acara piknik pada hari yang sangat panas di sebuah danau di Wisconsin,
tunangan Ole, yaitu Bess, mengutarakan betapa nikmatnya es krim di hari sepanas
itu. Karena itu, imigran Norwegia yang masih belia ini dengan senang hati
menempuh perjalanan memutar sejauh 8,5 kilometer dengan perahu dayung untuk
membeli es krim bagi tunangannya. Ketika ia kembali dengan satu kontainer es
krim yang telah meleleh, Ole berkata pada dirinya sendiri bahwa pasti ada cara
yang lebih baik daripada ini. Ia mengerahkan kemampuannya di bidang mesin, dan
setahun kemudian, tahun 1907, Ole Evinrude menguji mesin kecilnya yang dapat
dipasang di perahu-perahu kecil. Ia menikahi Bess, dan ketika motor-motor
tempel itu diproduksi untuk dipasarkan, Bess menulis sebuah slogan promosi:
“Jangan Mendayung! Buang Dayung Anda!” Ole Evinrude bukan pria pemalas, tetapi
ia tahu batas kekuatan manusia. Kini kita sering memakai mesin untuk pekerjaan
sehari-hari. Namun, kita kerap dengan keras kepala bersandar pada kekuatan diri
sendiri saat mencoba melayani Allah. Dalam Efesus 3, Rasul Paulus menulis
tentang cara yang lebih baik, “Supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya,
menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu” (ayat 16).
Bukannya bersandar pada kekuatan sendiri, Paulus justru mendorong orang
kristiani menemukan kekuatan dalam “Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak
daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang
bekerja di dalam kita” (ayat 20). Jangan mendayung! Terima dan gunakanlah
kekuatan Allah. KITA DAPAT MELAKUKAN APA PUN YANG ALLAH KEHENDAKI. JIKA KITA
BERGANTUNG PADA KEKUATAN-NYA. (Bp. Budi – PT. MPU)
Respon 4
Ya... Selama ini
aku rasakan bagaimana sebelum dan sesudah terlibat dalam Komsel. Ternyata banyak
hal positif yang aku dapatkan. Aku bersyukur kepada Tuhan karena telah diberi
kesempatan untuk bisa beribadah, berkomsel dsb. Thank you Cik yang slama ini
telah berusaha untuk memberi semangat dan mengarahkan aku untuk berkomsel dsb.
Jbu all too... (Ibu Sintawati – CL 3)
Respon 5
Shalom pagi Cik Siu
Siang apa kabar? Thank you ya untuk bukunya sudah Yenny terima. Puji Tuhan Cik
melalui Komsel Citraland banyak jiwa-jiwa yang dimenangkan. Selamat
beraktivitas. Jesus bless you. (Ibu Jenny Wong – Pakuwon Indah)
Respon 6
Manusia diciptakan
serupa dengan diri Tuhan sendiri, yang berarti merupakan ciptaan terunggul
& tertinggi derajatnya di antara ciptaan-ciptaan lain di muka bumi. Meski
begitu pada setiap ciptaannya, Tuhan menitipkan hikmat-Nya pada masing-masing
mereka. Ada sidik jari Tuhan, Pencipta yang penuh dengan hikmat &
kreativitas itu, di tiap makhluk-makhluk hidup yang dijadikan-Nya itu. Karena
itulah, jika kita cukup rendah hati untuk belajar, ada yang dapat kita pelajari
dari ciptaan yang tampak paling tak berarti sekalipun. Amsal 30:25 merupakan
hasil penelitian Agur atas semut: “binatang yang tidak kuat, tapi menyediakan
makanannya di musim panas.” Dan bukan sekali ini, semut yang kecil & lemah,
menjadi pembelajaran hikmat (lihat Ams. 6:6-8). Itu artinya, meski tampak tidak
ada apa-apanya, Tuhan bisa mengajar jalan-jalanNya melalui semua itu pada kita.
Masalahnya, rindukah hati kita akan petunjuk-petunjukNya itu? Dari semut, kita
bisa belajar pentingnya mempersiapkan diri untuk waktu-waktu yang susah.
Belajar bekerja keras bagi masa depan yang lebih baik. Tidak bermalas-malasan
barang sedikitpun demi memiliki kelangsungan hidup di waktu yang akan datang.
Tidak takabur & ceroboh menjalani hari-hari kehidupan dengan membuang-buang
waktu & sumber daya untuk bersenang-senang & menikmati segala sesuatu
lebih dahulu tanpa memikirkan risiko di kemudian hari. Semutlah yang
benar-benar memahami arti ‘bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian’.
Berkaitan dengan kerohanian, ini berbicara mengenai makanan rohani maupun harta
sorgawi. Di saat-saat krisis, hanya mereka yang “persediaan roti” firmannya
berlimpah, yang akan bertahan & tetap setia pada Tuhan. Rohaninya tetap
hidup. Tidak lemah lalu mati. Pula, jika harta di dunia ini lenyap & tak
lagi berguna, mereka yang mengumpulkan ‘simpanan’ di sorga yang memiliki hidup
sampai selama-lamanya. Seperti semut yang lemah namun tak kenal lelah
mengumpulkan bekal bagi masa depannya, demikianlah kerinduan Tuhan bagi kita
selama di dunia. Akankah Anda lebih berhikmat dari semut? Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment