Thursday, 1 October 2015

1 Oktober 2015

NO ISOLATION



Mengapa Penting Berkomunitas? Pengkhotbah 4: 9-10, 12, 9Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. 10Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! 12Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” Amin. ‘Bertumbuh itu tidak bisa sendiri’, kalimat yang sering saya bagikan kepada saudara-saudara yang ada di komsel ya J. Artinya harus ada orang lain sebagai mentor bagi pertumbuhan spiritual kita J. Firman Tuhan juga sangat jelas: “Berdua itu lebih baik daripada seorang diri.” Oleh karena itu kita perlu tertanam dalam Komunitas Sel J. Dalam Komsel Gabungan semalam, Citraland 1-8, secara pribadi saya sangat diberkati: sharing yang dibagikan tidak hanya tentang seri Billionares, tetapi ada banyak kesaksian bahwa kita semua BISA BERTUMBUH itu karena kita semua punya saudara-saudara seiman yang mendukung. (1) Kesaksian Eddy Zhu (pendatang dari Palembang/Komsel CL5). Saat menanti kelahiran putra yang ke 3 di tanggal 17 September yang lalu, tidak punya keluarga yang ada di Surabaya atau perantau: sangat diberkati karena ada keluarga rohani yang mendampingi J. (2) Kesaksian Ibu Titik/CL3. Melalui Komsel beliau belajar berdoa, belajar membaca Firman bahkan punya saudara-saudara yang senantiasa mensupport J. (3) Kesaksian Ibu Maria Betty (Maumere). Jemaat baru, 2 bulan bergabung di Komsel CL8, sangat diberkati melalui Komsel: “Mengalami Pertumbuhan”, bahkan bisa mengerti arti membawa Persembahan Persepuluhan bagi Tuhan (melalui sharing dengan saudara-saudara seiman). Amin. Masihkah kita ragu dengan Berkomunitas Sel/bertumbuh & bersekutu bersama-sama dalam spiritual kita?? Pilihan ada di tangan Saudara.. J

Respon 1
Amen. Thank you Cik. Gbu. Benar Cik, lewat komsel kami di sini bertumbuh bersama yang awalnya cuma 4 orang, sekarang sudah 30 orang, bahkan gereja-gereja yang lain mengikuti gaya-gaya kami berkomsel, luarbiasa saya sangat diberkati lewat angota komsel yang tadinya nggak bisa apa-apa, sekarang mereka mulai terlibat dalam pelayanan, cara pikir cara pandang mereka diubahkan Tuhan. (Ibu Erna – Malinau)

Respon 2
Terima kasih Bapa dan kami tahu bahwa keluarga menjadi yang utama bagiMu Bapa. Terima kasih untuk setiap keluarga yang harmonis. Segala kuasa yang mencoba menguasai keluarga kami, kami bersatu hati kami tolak patahkan hanya in Your name Lord. Ada benteng-Mu yang terus memagari keluarga kami. Rumah tangga, usaha dan pelayanan setiap kami dan suami diberkati. Apapun yang kami lakukan berkelimpahan. Dalam nama Yesus. Amin. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 3
JANGAN MENDAYUNG. Bacaan: Efesus 3:14-21. NATS: Supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu (Efesus 3:16). Selama acara piknik pada hari yang sangat panas di sebuah danau di Wisconsin, tunangan Ole, yaitu Bess, mengutarakan betapa nikmatnya es krim di hari sepanas itu. Karena itu, imigran Norwegia yang masih belia ini dengan senang hati menempuh perjalanan memutar sejauh 8,5 kilometer dengan perahu dayung untuk membeli es krim bagi tunangannya. Ketika ia kembali dengan satu kontainer es krim yang telah meleleh, Ole berkata pada dirinya sendiri bahwa pasti ada cara yang lebih baik daripada ini. Ia mengerahkan kemampuannya di bidang mesin, dan setahun kemudian, tahun 1907, Ole Evinrude menguji mesin kecilnya yang dapat dipasang di perahu-perahu kecil. Ia menikahi Bess, dan ketika motor-motor tempel itu diproduksi untuk dipasarkan, Bess menulis sebuah slogan promosi: “Jangan Mendayung! Buang Dayung Anda!” Ole Evinrude bukan pria pemalas, tetapi ia tahu batas kekuatan manusia. Kini kita sering memakai mesin untuk pekerjaan sehari-hari. Namun, kita kerap dengan keras kepala bersandar pada kekuatan diri sendiri saat mencoba melayani Allah. Dalam Efesus 3, Rasul Paulus menulis tentang cara yang lebih baik, “Supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu” (ayat 16). Bukannya bersandar pada kekuatan sendiri, Paulus justru mendorong orang kristiani menemukan kekuatan dalam “Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita” (ayat 20). Jangan mendayung! Terima dan gunakanlah kekuatan Allah. KITA DAPAT MELAKUKAN APA PUN YANG ALLAH KEHENDAKI. JIKA KITA BERGANTUNG PADA KEKUATAN-NYA. (Bp. Budi – PT. MPU)

Respon 4
Ya... Selama ini aku rasakan bagaimana sebelum dan sesudah terlibat dalam Komsel. Ternyata banyak hal positif yang aku dapatkan. Aku bersyukur kepada Tuhan karena telah diberi kesempatan untuk bisa beribadah, berkomsel dsb. Thank you Cik yang slama ini telah berusaha untuk memberi semangat dan mengarahkan aku untuk berkomsel dsb. Jbu all too... (Ibu Sintawati – CL 3)

Respon 5
Shalom pagi Cik Siu Siang apa kabar? Thank you ya untuk bukunya sudah Yenny terima. Puji Tuhan Cik melalui Komsel Citraland banyak jiwa-jiwa yang dimenangkan. Selamat beraktivitas. Jesus bless you. (Ibu Jenny Wong – Pakuwon Indah)

Respon 6
Manusia diciptakan serupa dengan diri Tuhan sendiri, yang berarti merupakan ciptaan terunggul & tertinggi derajatnya di antara ciptaan-ciptaan lain di muka bumi. Meski begitu pada setiap ciptaannya, Tuhan menitipkan hikmat-Nya pada masing-masing mereka. Ada sidik jari Tuhan, Pencipta yang penuh dengan hikmat & kreativitas itu, di tiap makhluk-makhluk hidup yang dijadikan-Nya itu. Karena itulah, jika kita cukup rendah hati untuk belajar, ada yang dapat kita pelajari dari ciptaan yang tampak paling tak berarti sekalipun. Amsal 30:25 merupakan hasil penelitian Agur atas semut: “binatang yang tidak kuat, tapi menyediakan makanannya di musim panas.” Dan bukan sekali ini, semut yang kecil & lemah, menjadi pembelajaran hikmat (lihat Ams. 6:6-8). Itu artinya, meski tampak tidak ada apa-apanya, Tuhan bisa mengajar jalan-jalanNya melalui semua itu pada kita. Masalahnya, rindukah hati kita akan petunjuk-petunjukNya itu? Dari semut, kita bisa belajar pentingnya mempersiapkan diri untuk waktu-waktu yang susah. Belajar bekerja keras bagi masa depan yang lebih baik. Tidak bermalas-malasan barang sedikitpun demi memiliki kelangsungan hidup di waktu yang akan datang. Tidak takabur & ceroboh menjalani hari-hari kehidupan dengan membuang-buang waktu & sumber daya untuk bersenang-senang & menikmati segala sesuatu lebih dahulu tanpa memikirkan risiko di kemudian hari. Semutlah yang benar-benar memahami arti ‘bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian’. Berkaitan dengan kerohanian, ini berbicara mengenai makanan rohani maupun harta sorgawi. Di saat-saat krisis, hanya mereka yang “persediaan roti” firmannya berlimpah, yang akan bertahan & tetap setia pada Tuhan. Rohaninya tetap hidup. Tidak lemah lalu mati. Pula, jika harta di dunia ini lenyap & tak lagi berguna, mereka yang mengumpulkan ‘simpanan’ di sorga yang memiliki hidup sampai selama-lamanya. Seperti semut yang lemah namun tak kenal lelah mengumpulkan bekal bagi masa depannya, demikianlah kerinduan Tuhan bagi kita selama di dunia. Akankah Anda lebih berhikmat dari semut? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment