Saturday, 10 October 2015

10 Oktober 2015

NO ISOLATION




1 Petrus 4:10, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” Amin. Saat kita mengalami pertumbuhan rohani, maka Tuhan akan memberkati kita dengan karunia-karunia rohaniNya (Roma 12:6-8 & 1 Kor 12:8-10), dengan tujuan DIA menginginkan dari pemberian karunia-karunia tersebut, kita dapat melayani sesama kita & memakai karunia tersebut untuk memaksimal-kannya. Amin. Melalui Komunitas Sel mari kita mempraktek-kan ‘karunia-karunia’ yang sudah Tuhan berikan sehingga Komsel benar-benar merupakan sarana yang telah Tuhan sediakan untuk kita MELAYANI saudara-saudara kita. Amin.

Respon 1
“Tanpa Tuhan, siapa pun tidak akan mampu bertahan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
Mat 14:35-36 – maka semua orang yang sakit dibawa kepada YESUS dan semua yang menjamah-NYA menjadi SEMBUH! YESUS sumber KESEMBUHANku. Datang pada-NYA sekarang! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 3
SAAT TEDUH. Sabtu, 10 Oktober 2015. Kekeringan Rohani. Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: ‘Berikanlah air kepada kami supaya kami dapat minum.’ Tetapi Musa berkata kepada mereka: ‘Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?’ (Keluaran 17:2). Ketika masih kuliah saya mengalami kemarau panjang yang sangat merepotkan. Ketika itu saya tinggal di kos bersama lima orang teman. Kami harus sangat berhemat agar persediaan air cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Demi menghemat air, kami antara lain makan dengan menggunakan kertas makan, bukan piring. Sungguh tersiksa kami saat itu. Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan kita. Bahkan saat menghabiskan waktu untuk melakukan aktivitas ringan pun, kita membutuhkan air untuk minum. Wajar jika masalah kekurangan air yang dialami oleh bangsa Israel di padang gurun membuat mereka resah. Tetapi, yang membuat tidak wajar adalah ketika mereka bersungut-sungut dan kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Mereka tidak hanya mengalami kekeringan secara jasmani, namun juga rohani. Mereka telah mengalami penyertaan dan pemeliharaan Tuhan di sepanjang perjalanan dari tanah Mesir. Tetapi, mereka belum juga belajar bersandar kepada Tuhan. Di balik dahaga jasmani yang mereka alami, sesungguhnya bangsa Israel mengalami dahaga rohani. Hal inilah yang menjadikan mereka merasa lebih baik tinggal di Mesir. Mereka tidak memahami arti kemerdekaan dari perbudakan. Kekeringan rohani membutakan mereka akan kehadiran Tuhan yang menyegarkan hidup, yang menjanjikan hari depan penuh harapan. Apakah kita mengalami kekeringan rohani? Jangan biarkan jiwa kita mengalami gejala kekeringan dan dahaga. Mari segarkan dahaga kita dengan meminum air hidup yang Tuhan sediakan!—EBL. MINUMLAH AIR HIDUP YANG TUHAN SEDIAKAN! NISCAYA KITA TIDAK AKAN PERNAH DAHAGA SELAMANYA. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
Kasih karunia Tuhan bisa disalahgunakan! Rasul Yudas mengatakannya dalam suratnya di ayat ke-4. Sesungguhnya, ia memberikan peringatan, akan ada orang-orang yang masuk secara halus & tersembunyi di tengah-tengah jemaat lalu menyampaikan sesuatu yang nyatanya bertentangan dengan ajaran yang sehat & sejati dari Kristus. Yaitu bahwa karena pada kita diberikan kasih karunia, itu lalu menjadi jaminan terbebas dari hukuman atas perbuatan-perbuatan dosa kita. Dan dengan demikian, mereka membolehkan orang-orang percaya hidup dalam dosa di hadapan Tuhan. Ayat yang sama memberitahukan kita bagaimana kasih karunia itu disalahgunakan: 1- dengan hidup dalam kefasikan (ungodly) daripada kekudusan (Yud. 4c). Yang tampaknya saleh belum tentu dari Tuhan tapi mereka yang mengabdikan dirinya pada Yang Mahakudus pasti menjadi orang-orang yang saleh -yang artinya hidup dalam suatu standard kekudusan yang benar di hadapan Tuhan. Bersih dari dalam batinnya & memiliki gaya hidup yang taat pada petunjuk-petunjuk firman dalam kesehariannya di hadapan Tuhan (bukan hanya yang dilihat orang). 2- dengan melepaskan & melampiaskan hawa nafsunya (Yud. 4d) ketimbang mengendalikannya. Yesus mengajarkan supaya setiap orang berdosa berbalik kepada-Nya & tidak berbuat dosa lagi -yang artinya tidak terus berbuat dosa & terikat kembali pada dosa-dosanya (Yoh. 5:14;8:11). Hawa nafsu sudah seharusnya disalibkan sebagai bagian dari apa yang disebut “menyangkal diri” dalam mengikut Yesus. Makin mengenal Tuhan seharusnya makin rohani, bukan duniawi. 3- dengan menyangkal Yesus sebagai Penguasa & Tuhan dalam hidupnya (Yud. 4e). Bukan dengan perkataan -sebab orang-orang ini ada di antara anak-anak Tuhan & beribadah- tapi dengan perbuatan mereka menampilkan suatu gaya hidup ‘semau gue’ daripada meminta Tuhan yang menuntun tiap langkah, keputusan-keputusan penting & tujuan hidupnya. Tidak tunduk pada kehendak Tuhan namun mengharap kebaikan, keuntungan, berkat & keselamatan dari Tuhan. Tuhan tahu siapa-siapa yang menyalahgunakan kasih karunia-Nya. Pastikah bahwa itu bukan Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 5
Tuhan, Sang Penyelamat. Mazmur 38. Penyebab utama orang Kristen tidak bertumbuh dengan sehat secara rohani karena dosa yang tidak dibereskan di hadapan Tuhan. Semakin dosa itu disembunyikan, semakin jauh pula dirinya dari Tuhan, sehingga mengakibatkan ia menjadi tidak peka lagi terhadap kehendak Tuhan dalam hidupnya. Tidak demikian dengan pemazmur. Pada bacaan firman hari ini, kita lihat bagaimana pemazmur dalam pergumulan dengan dosa, bersedia terbuka terhadap Allah. Selain itu, kita melihat bagaimana pemazmur dipenuhi dengan perasaan ngeri akan kemarahan Tuhan (2-4), perasaan sedih karena ditinggalkan oleh orang-orang yang dekat dengannya (12), perasaan takut akan intrik-intrik dan perbuatan jahat dari para musuhnya (13, 20, 21). Ditambah lagi, tubuhnya didera sakit penyakit (4-10, 11, 14, 18). Meski ia menyadari bahwa semua itu dialaminya akibat dosanya sendiri, semua itu “...terlalu berat bagiku” (5) kata pemazmur. Indahnya, pemazmur tidak menjauh dari Allah. Ia tidak menjadi putus asa terhadap Allahnya yang penuh kasih setia. Dalam ketakutan dan segala penderitaannya, ia justru memilih mendekat kepada Allah (1, 10, 16, 22-23). Ia mengakui kesalahan dan dosanya (4-6, 19). Dengan penuh keterbukaan, ia menerima segala penderitaannya sebagai cara Allah menyucikannya dari dosa. Ia tidak berhenti berharap kepada-Nya (16) dan menyebut Allah sebagai “keselamatanku” (23). Dalam pergumulan atas dosa, bagaimanakah sikap kita? Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 1:9 berkata demikian: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Mari meneladani pemazmur, yang di tengah pergumulan dosa tidak menjauh dari Tuhan. Jangan menjauh dari Tuhanmu! Berserulah kepada-Nya dan tetaplah berharap pada pertolongan-Nya! Karena Ia adalah keselamatan kita. (Bp. Budi – PT. MPU)

No comments:

Post a Comment