NO ISOLATION
Kejadian 1:26-27, “Berfirmanlah
Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan
manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di
laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas
segala binatang melata yang merayap di bumi. 27Maka Allah
menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya
dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”
Kejadian 2:18, “TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu
seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan
dia.’” Amin. Tidak ada makluk ciptaan lain yang menyandang Gambar &
RupaNya, dari semua makluk ciptaan Allah lainnya. Hanya manusia yang menerima
nafas kehidupan yang sebenarnya dari Allah. Umat manusia memiliki nilai yang
jauh lebih tinggi daripada makluk hidup lainnya yang tidak tertandingi bahkan
oleh teknologi komputer sekalipun J. Tuhan juga mempunyai tujuan mengapa manusia diciptkan? Ayat 28, agar
manusia Bermanusia, ‘berkomunitas’/tidak sendiri. Apakah kita menyadari
bahwa sebenarnya kita butuh “komunitas”?
Respon 1
Membayangkan ulang
peristiwa kehadiran Tuhan di atas gunung Sinai sebagaimana dicatat dalam
Keluaran 19 menimbulkan kengerian tersendiri di hati kita. Betapa tidak,
kesalahan kecil saja (sekedar melihat-lihat kondisi sekitar gunung itu &
melewati begitu saja pembatas yang diberikan) dapat berakibat fatal yaitu
kematian. Tidak heran apabila kemudian tua-tua & seluruh rakyat Israel
meminta Musa sendiri yang menghadap Tuhan (Ul. 5:23-27). Dapat dikatakan
sebagai sesuatu yang sama sekali tidak mudah menghampiri TUHAN yang dahsyat
itu. Itu sebabnya ketika dikatakan dalam Keluaran 33:1, “…TUHAN berbicara
kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada
temannya...” maka hal itu merupakan suatu kasih karunia. Satu dari sekian ratus
ribu orang yang diberikan kesempatan bercakap-cakap begitu dekatnya dengan
Tuhan. Kini, kasih karunia itu diberikan kepada setiap kita. Kesempatan itu
dibuka seluas-luasnya. Kita dapat menghampiri tahta Allah kapan saja. Dengan
darah Anak Domba, ada pada kita maka setiap waktu dimana saja gerbang
hadirat-Nya terbuka bagi kita. Kita berkesempatan berbicara dalam keintiman
dengan Bapa kita di sorga! Persoalannya ialah, seberapa banyakkah di antara
kita yang mau, rindu & berniat bercakap-cakap dengan Dia? Sejak masa lampau
dari zaman Kejadian hingga Perjanjian Baru, nyatanya hanya sedikit yang memilih
bergaul dengan Tuhan. Dibandingkan jumlah orang-orang yang mengaku dirinya
Kristen di masa kasih karunia & bekerjanya Roh Penolong itu,
pribadi-pribadi yang berhasrat untuk menjadi sahabat-sahabat Tuhan terhitung
sedikit. Namun, menjelang akhir segala zaman, keadaan ini akan segera berubah.
Merasakan perjumpaan & kebersamaan bersama Tuhan jauh lebih mulia &
diberkati dibandingkan sekedar pertemuan atau suatu hubungan dengan seorang
tokoh, selebriti atau pemimpin adidaya sekalipun. Hari ini, masih tak
berartikah tirai bait yang terbelah dua itu? Masihkah kita menyia-nyiakan
kesempatan untuk mendekat & menikmati persekutuan dengan Tuhan sendiri?
Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)
Respon 2
Ayat bacaan: Amsal
28:1-7. Nats: Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi
orang benar merasa aman seperti singa muda (Amsal 28:1). Lari Atau Tetap
Tenang? Menurut Anda, apakah sarana transportasi yang relatif aman? Sebagian
orang menganggap kereta api paling aman, setidaknya bila dibandingkan dengan
bus atau moda transportasi laut dan udara. Apalagi sejak diterapkan sejumlah
kebijakan oleh petinggi PT. KAI yang berusaha memberikan fasilitas yang paling
aman dan nyaman kepada para penumpang. Memang tidak ada sarana transportasi
yang benar-benar aman. Namun, ketika ada pilihan sarana transportasi yang
dianggap paling aman, orang akan cenderung memilihnya. Nats hari ini juga
berbicara mengenai rasa aman yang dialami orang fasik dan orang benar. Orang
benar digambarkan seperti singa muda yang memiliki rasa aman dalam dirinya.
Setidaknya ada dua faktor yang membuat seekor singa muda merasa aman. Pertama,
ia tidak pernah luput dari perhatian atau pengawasan induknya. Kedua, ia
meyakini bahwa induknya akan segera menolongnya jika sampai terjadi sesuatu
yang mengancam keselamatannya. Bagaimana dengan kita selaku orang percaya? Kita
juga bisa mendapatkan rasa aman karena, pertama, hidup kita tak pernah luput
dari perhatian dan pengawasan Tuhan. Kedua, Dia pasti bergerak menolong ketika
hidup kita ada dalam bahaya. Dalam hidup ini, setiap manusia bisa mengalami
kondisi yang gawat, intimidasi, atau kegelisahan yang mendadak menyergap,
tetapi mereka yang menaruh rasa aman dalam Tuhan akan tetap tenang. Sudahkah
kita meletakkan rasa aman kita di tempat yang tepat, yakni hanya di dalam Dia,
bukan di tempat lain? Semangat pagi, salam sukses. Tuhan memberkati. (Bp. Budi
– PT. MPU)
Respon 3
“Jarang orang
mengerti betapa saktinya kata ini untuk kepuasan sejati, yaitu saat kita bisa
berkata, ‘Cukup!’” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment