Saturday, 3 October 2015

3 Oktober 2015

NO ISOLATION




Kejadian 1:26-27, “Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. 27Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 2:18, “TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’” Amin. Tidak ada makluk ciptaan lain yang menyandang Gambar & RupaNya, dari semua makluk ciptaan Allah lainnya. Hanya manusia yang menerima nafas kehidupan yang sebenarnya dari Allah. Umat manusia memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada makluk hidup lainnya yang tidak tertandingi bahkan oleh teknologi komputer sekalipun J. Tuhan juga mempunyai tujuan mengapa manusia diciptkan? Ayat 28, agar manusia Bermanusia, ‘berkomunitas’/tidak sendiri. Apakah kita menyadari bahwa sebenarnya kita butuh “komunitas”?

Respon 1
Membayangkan ulang peristiwa kehadiran Tuhan di atas gunung Sinai sebagaimana dicatat dalam Keluaran 19 menimbulkan kengerian tersendiri di hati kita. Betapa tidak, kesalahan kecil saja (sekedar melihat-lihat kondisi sekitar gunung itu & melewati begitu saja pembatas yang diberikan) dapat berakibat fatal yaitu kematian. Tidak heran apabila kemudian tua-tua & seluruh rakyat Israel meminta Musa sendiri yang menghadap Tuhan (Ul. 5:23-27). Dapat dikatakan sebagai sesuatu yang sama sekali tidak mudah menghampiri TUHAN yang dahsyat itu. Itu sebabnya ketika dikatakan dalam Keluaran 33:1, “…TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya...” maka hal itu merupakan suatu kasih karunia. Satu dari sekian ratus ribu orang yang diberikan kesempatan bercakap-cakap begitu dekatnya dengan Tuhan. Kini, kasih karunia itu diberikan kepada setiap kita. Kesempatan itu dibuka seluas-luasnya. Kita dapat menghampiri tahta Allah kapan saja. Dengan darah Anak Domba, ada pada kita maka setiap waktu dimana saja gerbang hadirat-Nya terbuka bagi kita. Kita berkesempatan berbicara dalam keintiman dengan Bapa kita di sorga! Persoalannya ialah, seberapa banyakkah di antara kita yang mau, rindu & berniat bercakap-cakap dengan Dia? Sejak masa lampau dari zaman Kejadian hingga Perjanjian Baru, nyatanya hanya sedikit yang memilih bergaul dengan Tuhan. Dibandingkan jumlah orang-orang yang mengaku dirinya Kristen di masa kasih karunia & bekerjanya Roh Penolong itu, pribadi-pribadi yang berhasrat untuk menjadi sahabat-sahabat Tuhan terhitung sedikit. Namun, menjelang akhir segala zaman, keadaan ini akan segera berubah. Merasakan perjumpaan & kebersamaan bersama Tuhan jauh lebih mulia & diberkati dibandingkan sekedar pertemuan atau suatu hubungan dengan seorang tokoh, selebriti atau pemimpin adidaya sekalipun. Hari ini, masih tak berartikah tirai bait yang terbelah dua itu? Masihkah kita menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekat & menikmati persekutuan dengan Tuhan sendiri? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 2
Ayat bacaan: Amsal 28:1-7. Nats: Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda (Amsal 28:1). Lari Atau Tetap Tenang? Menurut Anda, apakah sarana transportasi yang relatif aman? Sebagian orang menganggap kereta api paling aman, setidaknya bila dibandingkan dengan bus atau moda transportasi laut dan udara. Apalagi sejak diterapkan sejumlah kebijakan oleh petinggi PT. KAI yang berusaha memberikan fasilitas yang paling aman dan nyaman kepada para penumpang. Memang tidak ada sarana transportasi yang benar-benar aman. Namun, ketika ada pilihan sarana transportasi yang dianggap paling aman, orang akan cenderung memilihnya. Nats hari ini juga berbicara mengenai rasa aman yang dialami orang fasik dan orang benar. Orang benar digambarkan seperti singa muda yang memiliki rasa aman dalam dirinya. Setidaknya ada dua faktor yang membuat seekor singa muda merasa aman. Pertama, ia tidak pernah luput dari perhatian atau pengawasan induknya. Kedua, ia meyakini bahwa induknya akan segera menolongnya jika sampai terjadi sesuatu yang mengancam keselamatannya. Bagaimana dengan kita selaku orang percaya? Kita juga bisa mendapatkan rasa aman karena, pertama, hidup kita tak pernah luput dari perhatian dan pengawasan Tuhan. Kedua, Dia pasti bergerak menolong ketika hidup kita ada dalam bahaya. Dalam hidup ini, setiap manusia bisa mengalami kondisi yang gawat, intimidasi, atau kegelisahan yang mendadak menyergap, tetapi mereka yang menaruh rasa aman dalam Tuhan akan tetap tenang. Sudahkah kita meletakkan rasa aman kita di tempat yang tepat, yakni hanya di dalam Dia, bukan di tempat lain? Semangat pagi, salam sukses. Tuhan memberkati. (Bp. Budi – PT. MPU)

Respon 3
“Jarang orang mengerti betapa saktinya kata ini untuk kepuasan sejati, yaitu saat kita bisa berkata, ‘Cukup!’” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment