Efesus 5:23, 25, “karena suami adalah kepala isteri sama
seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Hai
suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah
menyerahkan diri-Nya baginya.” Efesus 6:4, “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati
anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
Maleakhi 4:6, “Maka ia akan membuat hati
bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya
supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.” Sebagai Keluarga
kita tidak mungkin hidup harmonis & saling mengasihi apabila kita tidak
mempunyai hubungan yang intim dengan
Tuhan? Sudahkah kita bersekutu dengan
Tuhan pagi ini? Dia mendesign kita agar suami/istri saling mengasihi, orang tua
& anak saling menyaya-ngi, Dia mendesign keluaraga sedemikian rupa (Rukun
Harmonis) agar keluarga diberkati secara luar biasa! Semangat menjadi suami/istri
idaman & menjadi anak-anak yang hidup sesuai Firman (Mazmur 119:9). Amin!
Respon 1
Ia membaringkan aku
di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia
menyegarkan jiwaku. Ia menuntukun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
(Mazmur 23:2-3) Nikmati kedamaian dan tuntunan dari sang Gembala yaitu Yesus
Kristus Tuhan ditengah gejolak dunia ini Dia baik!
Respon 2
SAAT TEDUH. Rabu, 26
Februari 2014. UJIAN UNTUK
NAIK. Ulangan 28:13
mungkin merupakan
ayat favorit kita. Setiap orang menginginkan hal itu. Sayangnya banyak orang
hanya ingin naik tapi lupa bahwa naik selalu ada konsekuensinya. Tahukah anda
bahwa naik punya kaitan erat dengan berat? Pernahkah anda naik gunung? Apa yang
anda rasakan? Berat! Semakin dekat puncak, semakin berat perjalanan. Tipisnya
oksigen, terjalnya jalan, pengaruh gravitasi membuat perjalanan menuju puncak
terasa berat. Sebelum naik kelas akan selalu ada ujian. Tidak ada seorang pun yang
naik kelas dengan begitu saja tanpa ujian. Hidup bekerja dengan prinsip seperti
itu juga. Jika ingin dibawa Tuhan naik, berarti kita harus siap di uji. Semakin
tinggi kita dibawa Tuhan naik, semakin berat ujian yang harus kita lalui. Banyak
anak Tuhan yang ingin dibawa Tuhan naik, tapi mereka tak bersedia menghadapi
beratnya ujian. Makanya tak heran kalau hidupnya begitu-begitu saja. Hal ini bukan karena
Tuhan tidak membawanya naik, tapi karena ia
sendiri yang tidak siap untuk menghadapi beratnya ujian. Daud dibawa naik oleh
Tuhan sedemikian tinggi. Dari gembala domba menjadi gembala Israel. Dari rakyat
biasa menjadi raja. Apakah hal itu terjadi dengan begitu saja? Daud kenyang dengan
drama kehidupan. Dia harus menghadapi berbagai ujian hidup yang berat.
Difitnah, disalah mengerti, dibenci, melakukan yang baik tapi dibalas dengan
jahat, bahkan dikejar-kejar Saul untuk dibunuh. Semua rangkaian ujian tersebut
justru membuat Daud memiliki kepribadian yang kuat. Setelah kualitas teruji,
bukankah akhirnya Tuhan mendudukan Daud menjadi raja atas seluruh Israel?
Bagaimana dengan kita? Siapkah kita untuk diuji? Bukan Tuhan tidak membawa
naik, tapi karena kita sendiri yang tidak siap menghadapi beratnya ujian.
Selamat pagi sahabat. Tuhan Yesus member-kati.
Respon 3
Pengenalan akan
Tuhan yang dipelihara di tiap keluarga, akan mewariskan Iman yang bertumbuh
pada generasi berikutnya, Shalom selamat pagi, Tuhan memberkati GBU All.
No comments:
Post a Comment