Wednesday, 26 February 2014

26 Februari 2014 - Tuhan Mendesign Keluarga



Efesus 5:23, 25, “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Efesus 6:4, “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Maleakhi 4:6, “Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.” Sebagai Keluarga kita tidak mungkin hidup harmonis & saling mengasihi apabila kita tidak mempunyai hubungan  yang intim dengan Tuhan? Sudahkah kita bersekutu dengan Tuhan pagi ini? Dia mendesign kita agar suami/istri saling mengasihi, orang tua & anak saling menyaya-ngi, Dia mendesign keluaraga sedemikian rupa (Rukun Harmonis) agar keluarga diberkati secara luar biasa! Semangat menjadi suami/istri idaman & menjadi anak-anak yang hidup sesuai Firman (Mazmur 119:9). Amin!


Respon 1
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntukun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. (Mazmur 23:2-3) Nikmati kedamaian dan tuntunan dari sang Gembala yaitu Yesus Kristus Tuhan ditengah gejolak dunia ini Dia baik!

Respon 2
SAAT TEDUH. Rabu, 26 Februari 2014. UJIAN    UNTUK    NAIK.   Ulangan   28:13

mungkin merupakan ayat favorit kita. Setiap orang menginginkan hal itu. Sayangnya banyak orang hanya ingin naik tapi lupa bahwa naik selalu ada konsekuensinya. Tahukah anda bahwa naik punya kaitan erat dengan berat? Pernahkah anda naik gunung? Apa yang anda rasakan? Berat! Semakin dekat puncak, semakin berat perjalanan. Tipisnya oksigen, terjalnya jalan, pengaruh gravitasi membuat perjalanan menuju puncak terasa berat. Sebelum naik kelas akan selalu ada ujian. Tidak ada seorang pun yang naik kelas dengan begitu saja tanpa ujian. Hidup bekerja dengan prinsip seperti itu juga. Jika ingin dibawa Tuhan naik, berarti kita harus siap di uji. Semakin tinggi kita dibawa Tuhan naik, semakin berat ujian yang harus kita lalui. Banyak anak Tuhan yang ingin dibawa Tuhan naik, tapi mereka tak bersedia menghadapi beratnya ujian. Makanya tak heran kalau hidupnya begitu-begitu saja. Hal ini  bukan  karena Tuhan tidak membawanya naik, tapi karena ia sendiri yang tidak siap untuk menghadapi beratnya ujian. Daud dibawa naik oleh Tuhan sedemikian tinggi. Dari gembala domba menjadi gembala Israel. Dari rakyat biasa menjadi raja. Apakah hal itu terjadi dengan begitu saja? Daud kenyang dengan drama kehidupan. Dia harus menghadapi berbagai ujian hidup yang berat. Difitnah, disalah mengerti, dibenci, melakukan yang baik tapi dibalas dengan jahat, bahkan dikejar-kejar Saul untuk dibunuh. Semua rangkaian ujian tersebut justru membuat Daud memiliki kepribadian yang kuat. Setelah kualitas teruji, bukankah akhirnya Tuhan mendudukan Daud menjadi raja atas seluruh Israel? Bagaimana dengan kita? Siapkah kita untuk diuji? Bukan Tuhan tidak membawa naik, tapi karena kita sendiri yang tidak siap menghadapi beratnya ujian. Selamat pagi sahabat. Tuhan Yesus member-kati.


Respon 3
Pengenalan akan Tuhan yang dipelihara di tiap keluarga, akan mewariskan Iman yang bertumbuh pada generasi berikutnya, Shalom selamat pagi, Tuhan memberkati GBU All.
 



No comments:

Post a Comment