Thursday, 20 February 2014

20 Februari 2014 - Rencana Tuhan Dalam Keluarga



(Kejadian 2:18-25) Tuhan mempunyai tujuan bagi setiap keluarga yaitu menggenapi misi Allah dan menjadikan keluarga sebagai alat untuk memperlebar kerajaan surge (Kejadian 1:26-28). Sudahkah kita sebagai keluarga-keluarga Ilahi membangun hubungan dengan sesama lebih lagi? (Ulangan 6:4-9) Semangat menggenapi Rencana-Nya (menjadi saksi, memuridkan & bermultiplikasi). Amin.

Respon 1
Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. - demikianlah firman-Ku yang keluar  dari  mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia- sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. - Yesaya 55:6-7&11. Shalom selamat pagi, Tuhan memberkati. Gbu All.


Respon 2
Renungan Pagi. Kamis, 20 Februari 2014. Bahan: Imamat 16-18. Nats: Mengapa engkau melihat serpihan di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak engkau ketahui? (Lukas 6:41). TEMBOK KESOMBONGAN. Bacaan: Lukas 6:41-42. Seusai kebaktian, dua pemuda berjalan sambil bercakap-cakap. ”Keterlaluan sekali Bapak yang duduk di depan kita tadi! Sudah tidur, dengkurannya keras lagi.” Pemuda pertama mengomel. Tak mau kalah, pemuda kedua juga ikut mengomel, “Bapak tadi memang keterlaluan, dengkurannya membuat saya terbangun.” Melihat kelemahan orang lain memang mudah, tetapi tak mudah menyadari kesalahan sendiri. Banyak orang kristiani juga mengomel dan mengeluhkan kelemahan orang lain atau mencela mereka yang berbuat salah. Tanpa disadari mereka juga bisa melakukan kesalahan yang sama. Mari kita belajar untuk berhenti menghakimi dan mencari-cari kesalahan orang lain, sebab jika hal ini terus kita lakukan, kita tidak akan pernah memiliki waktu untuk menilai diri sendiri. Itu bisa menjadikan, kita munafik, seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang dikecam oleh Tuhan Yesus. Hal ini kelihatannya sepele, tetapi kalau tidak cepat diatasi, tanpa sadar kita membangun tembok kesombongan yang tinggi. Kita akan selalu merasa paling benar, paling suci, paling rohani. Firman Allah hari ini menasihati; daripada kita mencari-cari kesalahan orang lain yang dapat dikritik dan dihakimi, lebih baik kita melihat keberadaan diri sendiri di hadapan Allah. Kita harus belajar menyadari bahwa   tidak  ada  manusia  yang  sempurna, tidak ada manusia yang tak pernah berbuat salah. Kalau kita mau jujur, bukankah kita juga pernah salah? Kalau kita sendiri kadang juga berbuat salah, mengapa kita sibuk mencari-cari kesalahan orang lain? Lebih mudah menemukan kesalahan kecil orang lain daripada menyadari kesalahan besar diri sendiri. Tuhan Yesus memberkati.


Respon 3
Jangan kamu khawatir, karena: Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (Matius 6:27). Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Petrus 5:7).

No comments:

Post a Comment