Nyaman di “Nggak Nyaman”
(Khotbah Ps. Elisa
Soetopo, Gembala Gereja AOC)
Comfortable in UnComfortable
“Sacrifice is one of the purest and most selfless way to
love something/someone. Practice it daily.”
Nggak Nyaman jadi Nyaman… Hal ini terjadi ketika LOVE IT,
karena cinta. One Word, LOVE. Karena LOVE / CINTA kita bisa berani berkorban.
Kita berani untuk merasa tidak nyaman, and get dirty. Kalau terhadap BARANG,
orang berani tidak nyaman, dan berani sacrifice – menderita untuk itu.
Matius 20:28, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi
tebusan bagi banyak orang.” Tuhan sangat mengasihi manusia, Dia tidak hanya
ngomong saja tetapi BERTINDAK. Ternyata Tuhan mengajarkan kita sesuatu: kalau
kamu sayang sesuatu, kamu pasti bertindak untuk hal yang kamu sayangi. Kamu
bisa berkorban tanpa rasa sayang, tapi nggak mungkin kamu sayang tanpa
berkorban.
Lukas 22:26, “Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang
terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin
sebagai pelayan.”
Orang yang di dapur (kitchen) adalah orang yang punya
hubungan dekat (closer relationship) daripada hanya duduk di ruang tamu. Anda
bisa berpindah dari ruang tamu ke ruang makan, kemudian ke dapur ketika Anda
punya hubungan yang sangat dekat. The deeper relationship is, the dirtier it
gets. You don’t have to just die for people you love, you need to live for them
too.
Terkadang, kita bisa menjadi orang yang tidak berani repot.
Terhadap keluarga, pasangan, papa mama, kakak adik, bahkan Tuhan. Itu mungkin
adalah sebuah signal agar kita menenggelamkan diri kita lebih dalam. DEEPER in
a relationship, with God and / or with others.
Bagaimana kalau memang kurang sayang?
1.
Pikirkan, apakah yang Anda cintai berharga atau
tidak untuk kita meluangkan waktu untuk itu.
2.
Beradalah di antara orang-orang yang mengasihi
yang benar.
3.
Melangkahlah untuk berani sedikit lebih kotor
untuk hal yang Anda perlu lebih cintai.
No comments:
Post a Comment