Tuesday, 17 September 2013

17 September 2013


17 September 2013
Hidup yang Berdampak. Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Efesus 5:15-16, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Filipi 4:8, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Baik tidaknya kehidupan seseorang tidak ditentukan oleh lamanya ia hidup, tetapi dampak apa yang ia berikan bagi banyak orang. Bagaimana membangun kehidupan yang memberi kepuasan, penuh arti dan membawa dampak positif yang maksimal bagi dunia? Rasul Paulus mengajarkan kepada jemaat di Efesus dengan memberikan hidup yang membawa perbedaan atau hidup yang berdampak positif bagai sesama! Sudahkah kita menjadi anak-anak Tuhan yang berdampak positif bagi sesama kita?

Respon 1
Belajar percaya. Yohanes 11:5-15. Ayat ini bercerita mengenai apa sebenarnya kehendak Tuhan dari semua peristiwa yang kita alami. Supaya kita belajar percaya, jika seakan Tuhan berdiam diri dan sepertinya tidak peduli pada masalah kita, bukan berarti Ia tidak mengasihi kita. Ia hanya sedang menguji kualitas kepercayaan kita. Apa kita tetap memepercayaiNya? Have a nice day.

Respon 2
RENUNGAN PAGI. Selasa, 17 September 2013. “Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.” (Habakuk 2:4). Kalau kita ini diingat Tuhan, kalau kkita ini ditolong Tuhan, kalau kita ini dipakai Tuhan, dan doa kita didengarm mukjizat dan terobosan pasti datang. Itu bukan karena kita lebih hebat dari yang lain, lebih rohani dari yang lain, lebih suci dari yang lain, lebih layak dan bertalenta dibanding yang lain. Siapakah kita ini? Sampai berpikir demikian? Sadarilah bukan karena kuat dan gagah kita sendiri. Jangan ada yang memegahkan diri. Tetapi karena kasihNYA, kemurahanNYA, janjiNYA, keberadaanNYA yang adalah Tuhan Allah yang maha besar, maha pengasih dan maha penyayang. Jadi, mengapa harus sombong? Mengapa harus menepuk dan membusungkan dada, kalau semua asalnya dari Tuhan. Karena saat kesombongan itu datang, hati kita tidak lurus, iman menjadi tidak tulus, perkenan-Nya pun tergerus. Akankah kita biarkan demikian? Tuhan Yesus memberkati.

Respon 3
Amin, jadilah dampak. Sebagai lilin yang member penerangan atau sebagai mercusuar yang ada di atas bukit memberi penerangan pada gelapnya ruangan atau gelapnya malam. Thank you.

Respon 4
“Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.” (Amsal 26:11) Setiap kita dapat melakukan kesalahan, tetapi suatu kebodohan ketika kita terus mengulangi kesalahan yang sama. “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah,  —  yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit  — , maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (Yakobus 1:5)

No comments:

Post a Comment