Monday, 4 August 2014

4 Agustus 2014 - Wujud dari Sebuah Penyembahan

Mazmur 139:23-24, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”

1.) Sudahkah kita sebagai Penyem-bah mempunyai keberanian untuk mengakui dosa-dosa kita? (Seperti halnya Raja Daud?) 2.) Sudahkah kita memotivasi orang lain un-tuk menjadi Penyembah? Kita perlu menga-kui dosa kita, bagaimanapun juga kita takkan bisa  menyembunyikan  dari  Allah,   sehingga hidup kita dimampukan menjadi berkat untuk memotivasi orang lain menjadi Penyembah dalam Roh & Kebenaran. Amin



Respon 1 :


Transformasi dimulai ketika kita mengenal Kristus yang menjadikan budi atau cara berpikir kita berubah dan diperbaharui (Roma 12:2).


Respon 2 :

Renungan Pagi. Senin 04 Agustus 2014. Bahan: Yesaya 19-21. “Firman yang didengar itu tidak berguna bagi mereka, karena mereka tidak dipersatukan dalam iman dengan orang-orang yang mendengarkannya.” (Ibrani 4:2) KUPING PANCI. Bacaan: Bilangan 14:40-45. Waktu kecil, bila saya membandel dan tidak menyimak perintah orangtua, mereka akan berkomentar, 'Kuping itu jangan jadi kuping panci, cuma ditempel di kepala, tapi tidak  dipakai  untuk  mendengarkan.' Makna-
nya sama dengan ungkapan: 'masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.' Menunjukkan ke-sembronoan kita dalam mendengar, yang bisa berakibat fatal. Ini pula yang membuat bangsa Israel gagal menghadapi persoalan, terutama ketika melintasi padang gurun. Mereka tidak mendengarkan dengan baik. Bacaan kita me-muat contoh bagaimana mereka tak memedu-likan teguran Musa; tetap nekad masuk ke Kanaan, dan gagal. Kesungguhan kita dalam mendengar dan menanggapi firman Tuhan akan menentukan pertumbuhan iman kita (Roma 10:17). Tak ada rumus baku serta cara pintas mengenai cara membuang 'kuping panci' dan memiliki telinga yang peka mendengar suara Tuhan. Satu-satunya cara adalah dengan melatih telinga rohani secara tekun dan teratur. Kita perlu mengambil waktu untuk menyendiri dan mencari suasana sunyi, agar kita punya situasi kondusif untuk mendengarkan suara Tuhan yang lembut. Selanjutnya, dalam kesunyian ini, jangan biarkan pikiran menjadi kosong. Gunakan waktu tersebut untuk mengambil suatu bagian kecil firman Tuhan, dan merenungkannya. 'Cerna' bagian tersebut sungguh-sungguh dan gali maknanya sedalam mungkin. Bila perlu, bandingkan dengan bagian-bagian lain yang serupa dalam Alkitab sebagai referensi, kemudian ambillah penerapan praktis dalam hidup Anda. Ketika kita terlatih untuk mendengarkan Tuhan, kita akan semakin memahami pola pikir dan kehendak Allah bagi kita. MENDENGARKAN ADALAH PINTU MENUJU PENGERTIAN. Tuhan Yesus memberkati.
Respon 3 :
Syalom. Amin... “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yohanes 4:16). Terima kasih ibu Siu, selamat
beraktivitas TUHAN memberkati.
Respon 4 :
Sangat sedikit orang yang memiliki watak untuk menghormati tanpa iri hati pada seorang teman yang berhasil (1 Samuel 18:3-4) - Rev. John Hartman.

JESUS BLESS




 
 

No comments:

Post a Comment