Melayani keluarga adalah
pelayanan / pembelajaran sebelum kita melayani orang lain. Peran seorang Istri
dalam keluarga sangat penting. Sudahkah Istri menghargai Suami sebagai Kepala
Keluarga? Efesus 5:23.
Adakah Istri tunduk kepada
suami? Kolose 3:18, “Hai isteri-isteri,
tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.” Dan
apakah Istri dengan sepenuh hati
mengasihi
Suami? Titus 2:4, “dan dengan demikian
mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya.” Bahkan
menjadi penolong yang sepadan & setia? Kej 2:18, “TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri
saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’”
Sudahkah para Suami menjadi Imam dalam keluarga? Ber-fungsi & maksimal
sebagai Kepala Keluarga? Ayub 1:4-5, “Anak-anaknya
yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut
giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum
bersama-sama mereka. Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub
memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi,
bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka
sekalian, sebab pikirnya: ‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan
telah
mengutuki Allah di dalam hati.’
Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” Minta hikmat &
tuntunan Tuhan agar kita dimampukan melayani keluarga terlebih dahulu sebelum
melayani orang lain! Amin.
Respon
1 :
Mengapa
engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam
matamu sendiri tidak engkau ketahui? (Lukas 6:41). MENYALAHKAN ORANG LAIN.
Seorang anak menangis dengan nya-ring sambil memarahi temannya. Rupanya ia baru
saja terjatuh saat berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Ia tidak
melihat ada tas di sana. Ibu guru mencoba menenangkan dan mengingatkannya untuk
tidak lagi berlari saat menuruni tangga. Alih-alih menjadi tenang, anak ini
terus menangis sambil mengatakan bahwa pemilik tas tersebutlah yang seharus-nya
bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpanya. Betapa mudah melihat kesalahan
orang lain dan menganggap diri lebih baik dari orang lain. Hal ini juga yang
Tuhan ajarkan kepada banyak orang, termasuk para ahli Taurat dan orang Farisi.
Mereka mudah menghakimi dan melihat kesalahan orang lain (ay. 37). Mereka
menganggap diri saleh dan merasa tahu banyak kebenaran, padahal sebenarnya
tidak. Tuhan mengibaratkannya seperti orang buta yang menuntun orang buta (ay.
38) dan menyebut mereka sebagai orang munafik (ay. 42b). Perintah yang tegas
diberikan oleh Tuhan kepada mereka: “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu,
maka engkau akan melihat dengan jelas.” Seberapa mudahkah kita menghakimi dan
melihat kesalahan orang lain? Saat mulut kita akan mengeluarkan kata-kata
penghakiman atau celaan, berhentilah sejenak. Mari dengan kerendahan hati kita
minta supaya Tuhan sendiri yang senantiasa menunjukkan kepada kita dosa yang
perlu diakui, kebiasaan buruk yang perlu
dibuang. Dan alih-alih berdoa meminta
agar Tuhan mengubah orang lain, min-talah terlebih dahulu agar Tuhan mengubah
kita. ORANG YANG RENDAH HATI TIDAK MUDAH MENGHAKIMI, TETAPI MUDAH MENGAKUI
KESALAHAN DIRI. Selamat pagi. Jbu all.
Respon
2 :
Mengikuti Sang Tuan— Jennifer Benson Schuldt. Baca: Bilangan
9:15-23. “Atas titah Tuhan mereka berkemah dan atas titah Tuhan juga mereka
berangkat.” —Bilangan 9:23. Pada sebuah pertunjukan anjing di dekat rumah saya,
saya menyaksikan penampilan seekor anjing jenis corangi Cardigan Welsh bernama
Trevor. Sesuai perintah sang tuan, Trevor berlari beberapa meter jauhnya dan
kemudian kembali secepatnya, melompati sejumlah rintangan, dan mengenali
benda-benda dengan menggunakan indera pen-ciumannya. Setelah menyelesaikan
setiap perintah, Trevor pun duduk di dekat kaki sang tuan
dan menunggu perintah selanjutnya. Perhatian Trevor yang cermat pada instruksi
tuannya itu mengingatkan saya pada pengabdian yang Allah inginkan dari umat-Nya
ketika mereka mengikuti Dia di sepanjang padang gurun. Allah memimpin mereka
dengan cara yang unik, yakni hadir sebagai tiang awan. Jika awan naik, berarti
Dia menghendaki umat-Nya berangkat dan pindah ke daerah lain. Jika awan turun,
di sanalah mereka tinggal dan berkemah. “Atas titah Tuhan mereka berkemah dan
atas titah Tuhan juga mereka berangkat” (Bil. 9:23). Bangsa Israel menaati
instruksi itu siang dan malam, tanpa tahu berapa lama mereka harus tinggal di
suatu tempat. Allah bukan hanya sekadar menguji bangsa Israel; Dia sedang
memimpin mereka menuju Tanah Perjanjian (10:29). Allah ingin membawa mereka
menuju ke tempat yang lebih baik. Begitu juga dengan kita, ketika Allah
memanggil kita untuk mengikuti-Nya. Dia ingin
memimpin kita
menuju pada suatu persekutuan yang lebih erat dengan-Nya. Firman Allah memberi
kita jaminan bahwa dengan penuh kasih dan kesetiaan, Dia memimpin setiap orang
yang rela mengikuti kehendak-Nya. O, betapa senang hidup dalam terang, beserta
Tuhan di jalan-Nya. Jika mau mendengar serta patuh benar. Dan tetap berpegang
pada-Nya. —Sammis (Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 116) Allah meminta
anak-anak-Nya untuk mengikuti Sang Pemimpin.
Respon
3 :
Hari
ini renungannya berjudul melayani keluarga. Kadang buat aku masak itu adalah
pekerjaan yang sangat-sangat membosankan, tapi ketika aku jarang masak dan
kalau anak dan suami sampai makan dengan membuat mie instan... Hehehe... Jujur
aja dalam hati aku merasa sangat bersalah karena menurut aku mie instan itu
makanan yang malah meracuni tubuh jadi kalau ada anak dan suami makan
mie instan aku merasa aku sudah meracuni mereka dan aku bukan istri dan ibu
yang baik, sudah dikasih uang belanja cukup kok nggak ada yang bisa dihidangkan
untuk dimakan. Hehehehe... Firman Tuhan selalu menegur dan memperbaiki
kesalahan. Melayani keluarga itu seharusnya bukan suatu paksaan tapi itu adalah
melakukan Firman karena di Firman Tuhan sudah jelas posisi dan Tugas untuk
masing-masing anggota keluarga. Mari kita melayani keluarga kita dengan hati
yang penuh sukacita seperti kita melayani Tuhan.
Respon
4 :
Syalom.
Amin... “Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri
saja Allah.” (Mazmur 86:10). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas, TUHAN
memberkati.
No comments:
Post a Comment