Wednesday, 20 August 2014

19 Agustus 2014 - Melayani Keluarga

Efesus 5:23, “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.”



Melayani keluarga adalah pelayanan / pembelajaran sebelum kita melayani orang lain. Peran seorang Istri dalam keluarga sangat penting. Sudahkah Istri menghargai Suami sebagai Kepala Keluarga? Efesus 5:23.
Adakah Istri tunduk kepada suami? Kolose 3:18, “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.” Dan apakah Istri dengan sepenuh hati mengasihi Suami? Titus 2:4, “dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya.” Bahkan menjadi penolong yang sepadan & setia? Kej 2:18, “TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’” Sudahkah para Suami menjadi Imam dalam keluarga? Ber-fungsi & maksimal sebagai Kepala Keluarga? Ayub 1:4-5, “Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka. Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: ‘Mungkin anak-anakku  sudah  berbuat  dosa  dan  telah   mengutuki Allah di dalam hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” Minta hikmat & tuntunan Tuhan agar kita dimampukan melayani keluarga terlebih dahulu sebelum melayani orang lain! Amin.
Respon 1 :
Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? (Lukas 6:41). MENYALAHKAN ORANG LAIN. Seorang anak menangis dengan nya-ring sambil memarahi temannya. Rupanya ia baru saja terjatuh saat berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Ia tidak melihat ada tas di sana. Ibu guru mencoba menenangkan dan mengingatkannya untuk tidak lagi berlari saat menuruni tangga. Alih-alih menjadi tenang, anak ini terus menangis sambil mengatakan bahwa pemilik tas tersebutlah yang seharus-nya bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpanya.  Betapa  mudah melihat kesalahan orang lain dan menganggap diri lebih baik dari orang lain. Hal ini juga yang Tuhan ajarkan kepada banyak orang, termasuk para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka mudah menghakimi dan melihat kesalahan orang lain (ay. 37). Mereka menganggap diri saleh dan merasa tahu banyak kebenaran, padahal sebenarnya tidak. Tuhan mengibaratkannya seperti orang buta yang menuntun orang buta (ay. 38) dan menyebut mereka sebagai orang munafik (ay. 42b). Perintah yang tegas diberikan oleh Tuhan kepada mereka: “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas.” Seberapa mudahkah kita menghakimi dan melihat kesalahan orang lain? Saat mulut kita akan mengeluarkan kata-kata penghakiman atau celaan, berhentilah sejenak. Mari dengan kerendahan hati kita minta supaya Tuhan sendiri yang senantiasa menunjukkan kepada kita dosa yang perlu diakui, kebiasaan buruk yang  perlu dibuang. Dan alih-alih berdoa meminta agar Tuhan mengubah orang lain, min-talah terlebih dahulu agar Tuhan mengubah kita. ORANG YANG RENDAH HATI TIDAK MUDAH MENGHAKIMI, TETAPI MUDAH MENGAKUI KESALAHAN DIRI. Selamat pagi. Jbu all.
Respon 2 :
Mengikuti Sang Tuan— Jennifer Benson Schuldt. Baca: Bilangan 9:15-23. “Atas titah Tuhan mereka berkemah dan atas titah Tuhan juga mereka berangkat.” —Bilangan 9:23. Pada sebuah pertunjukan anjing di dekat rumah saya, saya menyaksikan penampilan seekor anjing jenis corangi Cardigan Welsh bernama Trevor. Sesuai perintah sang tuan, Trevor berlari beberapa meter jauhnya dan kemudian kembali secepatnya, melompati sejumlah rintangan, dan mengenali benda-benda dengan menggunakan indera pen-ciumannya. Setelah menyelesaikan setiap perintah, Trevor pun duduk di dekat kaki sang tuan dan menunggu perintah selanjutnya. Perhatian Trevor yang cermat pada instruksi tuannya itu mengingatkan saya pada pengabdian yang Allah inginkan dari umat-Nya ketika mereka mengikuti Dia di sepanjang padang gurun. Allah memimpin mereka dengan cara yang unik, yakni hadir sebagai tiang awan. Jika awan naik, berarti Dia menghendaki umat-Nya berangkat dan pindah ke daerah lain. Jika awan turun, di sanalah mereka tinggal dan berkemah. “Atas titah Tuhan mereka berkemah dan atas titah Tuhan juga mereka berangkat” (Bil. 9:23). Bangsa Israel menaati instruksi itu siang dan malam, tanpa tahu berapa lama mereka harus tinggal di suatu tempat. Allah bukan hanya sekadar menguji bangsa Israel; Dia sedang memimpin mereka menuju Tanah Perjanjian (10:29). Allah ingin membawa mereka menuju ke tempat yang lebih baik. Begitu juga dengan kita, ketika Allah memanggil kita untuk  mengikuti-Nya.  Dia  ingin  memimpin kita menuju pada suatu persekutuan yang lebih erat dengan-Nya. Firman Allah memberi kita jaminan bahwa dengan penuh kasih dan kesetiaan, Dia memimpin setiap orang yang rela mengikuti kehendak-Nya. O, betapa senang hidup dalam terang, beserta Tuhan di jalan-Nya. Jika mau mendengar serta patuh benar. Dan tetap berpegang pada-Nya. —Sammis (Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 116) Allah meminta anak-anak-Nya untuk mengikuti Sang Pemimpin.
Respon 3 :
Hari ini renungannya berjudul melayani keluarga. Kadang buat aku masak itu adalah pekerjaan yang sangat-sangat membosankan, tapi ketika aku jarang masak dan kalau anak dan suami sampai makan dengan membuat mie instan... Hehehe... Jujur aja dalam hati aku merasa sangat bersalah karena menurut aku mie instan itu makanan yang malah meracuni tubuh jadi kalau ada anak dan suami makan mie instan aku merasa aku sudah meracuni mereka dan aku bukan istri dan ibu yang baik, sudah dikasih uang belanja cukup kok nggak ada yang bisa dihidangkan untuk dimakan. Hehehehe... Firman Tuhan selalu menegur dan memperbaiki kesalahan. Melayani keluarga itu seharusnya bukan suatu paksaan tapi itu adalah melakukan Firman karena di Firman Tuhan sudah jelas posisi dan Tugas untuk masing-masing anggota keluarga. Mari kita melayani keluarga kita dengan hati yang penuh sukacita seperti kita melayani Tuhan.
Respon 4 :
Syalom. Amin... “Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah.” (Mazmur 86:10). Terima kasih Ibu Siu, selamat beraktivitas, TUHAN memberkati.
 

 JESUS BLESS

No comments:

Post a Comment